Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Lembah Tengkorak bag 6


__ADS_3

Pradya Dagma atau Pendeta Murtad dari Selatan mengebutkan tasbih mutiaranya. Setiap kebutan menimbulkan suara menderu bagai angin topan. Tatra Pari yang sudah merasakan sabetan tasbih mutiara itu tak sungkan-sungkan lagi. Dicabut pedangnya kembali, lalu diserangnya lawan ke bagian-bagian yang mematikan.


Namun pendeta cebol itu dengan gesit dapat meng-hindar dari sabetan dan tusukan pedang lawannya. Bahkan dibalasnya serangan-serangan Tatra Pari dengan tasbih mutiaranya. Dalam waktu singkat mereka telah melampaui sepuluh jurus.


Sementara itu pertarungan lain masih terus berlangsung sengit. Pertarungan antara Kala Srenggi dengan Langlang Pari telah berlangsung di luar kedai. Disusul oleh Kanta Pari, Dadap Pari, dan Baga Pari yang bertarung melawan Tiga Serangkai Rantai Baja.


"Jangan lari, Pendeta Murtad!" seru Tatra Pari melihat Pradya Dagma melompat menembus atap kedai.


Tatra Pari mengikutinya. Di atas atap kedai mereka kembali bertarung. Saka Lintang yang kini sudah berada di luar kedai, mengawasi pertarungan tanpa mengedipkan mata. Hatinya agak khawatir melihat salah seorang dari Tiga Serangkai Rantai Baja terpojok melawan Baga Pari.


Hingga tiba-tiba...."Crab!"


Pedang Baga Pari menembus lawannya. Darah muncrat bersamaan dengan limbungnya salah satu dari Tiga Serangkai Rantai Baja. Tanpa bersuara sedikit pun, orang itu ambruk tidak bergerak lagi.


Baga Pari berdiri tegang dengan pedang tergenggam erat di tangan kanannya. Ujung mata pedangnya berlumuran darah. Saat matanya melihat Tatra Pari bertempur melawan pendeta cebol itu, hatinya terkesiap. Pendeta Murtad dari Selatan bukan tandingan Tatra Pari. Kecuali jika mereka berlima bersama-sama menghadapi pendeta itu.


Namun sebagai pendekar sejati, Baga Pari tidak mau berlaku curang. Dia hanya memperhatikan saja setiap gerakan lawan. Bibirnya tersungging melihat saudaranya masih mampu menandingi pendeta cebol itu.


"Aaaakh...!"


Tiba-tiba terdengar jerit melengking disusul ambruk-nya seorang lagi dari Tiga Serangkai Rantai Baja yang melawan Dadap Pari. Dari dadanya yang koyak, menyembur darah segar. Dadap Pari melompat menghampiri saudaranya yang lebih dulu menyelesaikan pertarungannya. Mereka berdiri berdampingan dengan dada bergerak turun naik. Pedang berlumuran darah masih tergenggam.


Dilihat dari tingkatannya, memang Lima Pari Emas bukanlah tandingan Tiga Serangkai Rantai Baja. Tidak sampai sepuluh jurus, dua dari Tiga Serangkai itu telah tewas. Dan kini....


"******!


"Akh!"


Kanta Pari segera melompat mendekati dua saudaranya setelah menyelesaikan pertarungannya. Tuntas sudah Tiga Serangkai Rantai Baja. Kini hanya Langlang Pari yang berhadapan dengan Kala Srenggi, dan Tatra Pari yang bertarung di atas atap melawan Pendeta Murtad dari Selatan.


Pertarungan mereka telah sampai pada tingkat yang paling genting. Langlang Pari telah mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Kala Srenggi tak kalah dengan mengeluarkan jurus Pedang Kembarnya. Tubuh mereka telah tergulung oleh sinar pedang sehingga seperti tak nampak lagi.


Tiba-tiba Kala Srenggi mencelat ke atas. Setelah bersalto tiga kali di udara, dijejakkan kakinya di tanah sejauh dua tombak. Dengan sigap tangannya memasukkan pedang kembar ke dalam sarungnya. Segera dinaikkan tangannya ke atas, lalu turun perlahan-lahan, dan berhenti sejajar di ketiak.


"Racun Merah...," desis Langlang Pari.


Tiga saudara Langlang Pari yang tengah memper-hatikan, terkejut melihat Kala Srenggi mengeluarkan jurus 'Aji Racun Merah'. Langlang Pari segera memasukkan pedangnya. Bergegas dirapatkan kedua telapak tangannya ke depan dada. Sesaat kemudian tubuhnya telah menggigil seperti orang kedinginan.


Langlang Pari mengeluarkan aji pamungkasnya. Suatu ajian yang jarang dikeluarkan kecuali terpaksa. Melihat Kala Srenggi mengeluarkan Aji Racun Merahnya, tiga dari Lima Pari Emas segera berpegangan tangan. Ujung pedang mereka satukan, lalu diarahkan ke Langlang Pari.


Dari ujung pedang yang menyatu, keluar cahaya kuning keemasan. Cahaya itu segera menerpa Langlang Pari. Tiba-tiba tubuh Langlang Pari bergetar, dan secara perlahan-lahan berubah menjadi keemasan. Setelah tubuh Langlang Pari berubah warna, segera tiga saudaranya itu menurunkan pedangnya.


Bukan hanya Kala Srenggi yang terkejut. Saka Lintang pun terkesiap melihat ilmu yang dikeluarkan Lima Pari Emas. Sementara itu telapak tangan Kala Srenggi juga telah berubah merah. Disalurkan seluruh tenaga dalamnya setelah dia tahu kalau lawan mengerahkan 'Ajian Pari Emas' yang sangat dahsyat.


Kejadian itu tak luput dari perhatian Pradya Dagma dan Tatra Pari sehingga pertarungan mereka terhenti dengan seketika. Pradya Dagma segera melompat turun dan mendarat di samping Saka Lintang. Sementara Tatra Pari telah berdiri di antara saudara-saudaranya.


"Hiyaaa...!"


Dengan satu teriakan melengking, Kala Srenggi me-lompat bagai kilat menyambar menerjang Langlang Pari. Bersamaan dengan itu Langlang Pari pun tak kalah gesitnya. Tubuhnya melompat menerjang. Dalam sekejap mereka bertemu di udara.


Ledakan dahsyat pun terjadi ketika dua telapak tangan mereka bertemu. Tubuh Kala Srenggi terlontar ke belakang dengan keras. Dia jatuh berguling-guling lalu dengan cepat bangkit. Lain halnya dengan Langlang Pari. Tubuhnya hanya terdorong sedikit, dan dengan mulus kakinya terjejak di tanah.


"Edan!" Dengus Kala Srenggi melihat lawannya masih segar bugar.


"Keluarkan seluruh kesaktianmu, Kala Srenggi!" Ejek Langlang Pari.


Mendengar hal itu, muka Kala Srenggi merah padam. Ilmu andalannya ternyata tidak berarti apa-apa bagi Langlang Pari. Bahkan hampir saja dirinya sendiri yang roboh. Baru kali ini ditemukan lawan yang begitu tangguh dan mampu menandingi 'Aji Racun Merah' yang sangat dibangga-banggakannya.


"Kala Srenggi, mundur!" Bentak Pradya Dagma tiba-tiba.

__ADS_1


Kala Srenggi yang kembali bersiap-siap akan menyerang lagi, menoleh kepada pendeta cebol yang telah melangkah ke depan.


"Ajianmu tak dapat menandingi 'Pari Emas'," kata Pradya Dagma hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Kala Srenggi.


"Huh!" Kala Srenggi mendengus sengit


"Aku datang untuk memanggilmu, Kala Srenggi. Geti Ireng ingin bertemu dengan kau," kata pendeta cebol itu lagi.


"Aku selesaikan dulu setan keparat ini!" Dengus Kala Srenggi.


"Tidak ada waktu. Kau bisa celaka mengabaikan perintah Geti Ireng!"


Sambil bersungut-sungut, Kala Srenggi mundur dua tindak. Tanpa bicara lagi, dia langsung melompat ke atas kuda entah milik siapa. Yang jelas Kala Srenggi segera memacu kuda itu meninggalkan tempat itu.


"Pari Emas, di antara kita belum pernah punya urusan. Mengapa kalian memusuhi kami?" Tanya Pradya Dagma setelah Kala Srenggi tidak terlihat lagi.


"Lima Pari Emas selalu punya urusan dengan kejahatan. Siapa pun orangnya, berarti musuh kami!" lantang suara Langlang Pari menyahut.


"Hm..., kau cari perkara dengan Panji Tengkorak!" Gumam Pradya Dagma.


"Pari Emas memang ingin membasmi Panji Teng-korak!"


"Setan kutul! Kau tahu siapa Panji Tengkorak!" Panas telinga Saka Lintang.


"Tak peduli siapa, yang jelas Panji Tengkorak harus lenyap dari muka bumi!" Tegas suara Langlang Pari.


"Setan alas! Mulutmu harus dibungkam!" Dengus Pradya Dagma.


"Aku ingin memotong lidahmu yang busuk!" Ejek Tatra Pari yang masih penasaran.


"Jaga seranganku, bocah-bocah edan!" Geram Pradya Dagma.


Pradya Dagma diserang dari lima penjuru dengan arah yang mematikan. Serangan datang bagai gelombang laut, silih berganti tanpa henti. Sungguh hebat jurus 'Barisan Dewa Pari'. Satu serangan belum tuntas sudah disusul dengan serangan lain. Begitu seterusnya


Pendeta cebol itu terlihat kewalahan menghadapi serangan yang saling susul menyusul itu. Beberapa kali dia harus jatuh bangun menghindari serangan yang beruntun. Keringat membasahi wajah dan tubuhnya Tidak ada kesempatan untuk keluar dari kepungan yang rapat itu. Seakan-akan setiap celah telah tertutup rapat Hati pendeta cebol itu mulai getir.


Dalam waktu yang tidak lama, dua puluh jurus berlalu. Namun demikian Pradya Dagma belum bisa menyentuh lawannya. Bahkan selalu saja datang serangan dari arah lain. Pradya Dagma benar-benar kewalahan. Dia kuras seluruh tenaga dan kepandaiannya Kini digunakannya jurus 'Tasbih Sakti Memecah Gunung'.


Ternyata jurus itu juga tidak menolong banyak. Semua serangan Pradya Dagma patah sebelum mencapai tujuan. Dia segera menggantinya dengan jurus andalan lain yang lebih dahsyat Tetapi juga tidak berarti apa-apa. Pradya Dagma hampir putus asa. Lima Pari Emas seakan-akan dapat mengetahui kelemah jurus-jurusnya.


"Setan! ilmu apa yang mereka gunakan!" Rungut Pradya Dagma dalam hati.


Di tengah keputusasaan Pradya Dagma, tiba-tiba saja serangan-serangan Lima Pari Emas mendadak ngawur. Hal ini membuat pendeta cebol itu keheranan Matanya sempat melirik Saka Lintang. Gadis itu juga tengah keheranan tak mengerti.


Rasa heran juga menghinggapi Lima Pari Emas. Setiap gerakan yang dilancarkan ke arah Pradya Dagma, seperti terhalang oleh benteng kokoh yang tidak terlihat.


"Mundur!" Teriak Langlang Pari tiba-tiba.


Seketika Lima Pari Emas berlomparan mundur. Pedang mereka tetap melintang didepan dada dengan kedua kaki tetap kokoh menjejak tanah. Pradya Dagma tiba-tiba terkejut melihat seorang anak muda telah berdiri di sampingnya.


Anak muda itu mengenakan baju tanpa lengan dengan bagian dada terbuka. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang. Sebuah pedang bertengger di punggungnya. Celananya hanya sebatas lutut. Kumal sekali keadaannya, namun berwajah tampan dan kulit putih bagai pualam.


Pemuda itu adalah Rangga yang telah menyelesaikan semedinya di Gunung Kapur. Hati Rangga merasa tidak tega melihat laki-laki tua dikeroyok lima orang bersenjata pedang. Dia tidak tahu kalau laki-laki tua itu adalah seorang tokoh dari golongan hitam. Hati Rangga yang masih polos belum bisa membedakan nana kawan dan mana lawan.


"Kenapa mereka sampai mengeroyok kakek?" Tanya Rangga dengan sopan dan lembut.


"Mereka ingin membunuhku!" Sahut Pradya Dagma. Sekejap saja dia mampu mengukur kepandaian anak muda ini. Otaknya yang dipenuhi akal licik, segera memanfaatkan kehadiran Rangga yang polos itu.


"Apa salah kakek?" Tanya Rangga tidak menyadari kalau dirinya diperalat.

__ADS_1


"Mereka ingin mengambil putriku!"


Pandangan Rangga segera terarah pada Saka Lintang yang berdiri agak jauh. Hatinya tergetar ketika melihat gadis itu. Saka Lintang yang mendengar pembicaraan itu hanya tersenyum dalam hati. Sudah dapat ditebak maksud Pradya Dagma. Diam-diam hatinya tergetar juga melihat ketampanan Rangga.


"Sebaiknya kakek pulang saja, biar saya urus orang-orang jahat ini," Kata Rangga.


"Terima kasih, tapi ini urusanku. Biar kuselesaikan sendiri," Pradya Dagma pura-pura.


"Anak muda! Minggir! Aku tidak ada denganmu!" bentak Langlang Pari geram.


"Maaf, aku tidak bisa membiarkan kekejaman kejahatan berlangsung didepan mataku!" sahut Ranga kalem.


"Siapa yang jahat, siapa yang kejam?" Dengus Langlang Pari gusar. Dia sudah dapat menebak akal bulus Pradya Dagma.


Rangga menatap lurus pada Langlang Pari dan adik-adiknya. Kemudian ditatapnya pendeta cebol yang masih berdiri di sampingnya.


"Saka Lintang, cepat pulang. Nanti ayah menyusul!" kata Pradya Dagma meneruskan sandiwaranya. Dia tidak ingin kedoknya terbongkar. Baginya ini kesempatan untuk dapat meloloskan diri dari Lima Pari Emas. Bagaimanapun dia sadar tidak akan mampu menghadapi Lima Pari Emas sekaligus.


"Baik, Ayah!" sahut Saka Lintang segera melompat ke atas kudanya.


Rangga kagum melihat ketangkasan gadis itu dari caranya melompat dan melarikan kudanya dengan cepat.


Saka Lintang tahu kalau perintah itu hanya siasat aja, makanya dia menuruti saja perintah itu. Dan lagi dia memang tahu kalau pendeta cebol tidak sanggup lagi melawan Lima Pari Emas. Perintah itu juga bisa jadi suatu tanda kalau dia harus segera melapor pada ayahnya, Geti Ireng.


"Pendeta licik, hadapi aku!" geram Langlang Pari. Dia sudah bisa membaca maksud yang terkandung di benak Pradya Dagma.


"Anak muda, jangan terpancing dengan kelicikannya! Dia Pendeta Murtad dari Selatan" Seru Dadap Pari. Matanya yang jeli bisa melihat kalau Rangga belum mengerti tentang rimba persilatan.


"Ah, Anak Muda. Saya mohon diri. Terima kasih, telah menolongku," kata Pradya Dagma terburu-buru.


Rangga belum sempat mengeluarkan sepatah kata pun, tetapi Pradya Dagma telah melompat ke punggung kuda dan langsung menggepraknya. Kuda tinggi besar itu meluncur cepat. Sebentar saja sudah jauh neninggalkan tempat itu.


"Setan ! Licik!" umpat Langlang Pari kesal.


"Anak Muda, siapa kau sebenarnya? Kenapa membantu Pendeta Murtad itu?" Tanya Dadap Pari yang lebih besar dari lainnya.


"Aku Rangga," Sahut Rangga memperkenalkan diri. "Aku tidak bisa melihat kekejaman berlangsung di depan hidungku!"


Dadap Pari tersenyum mendengar kata-kata polos itu. Dia memasukkan pedang ke dalam sarungnya.


Dihampirinya Rangga yang tetap berdiri di tempatnya. Senyum masih terkembang di bibir Dadap Pari, bisa maklum kalau anak muda ini masih hijau dalam dunia persilatan.


Rangga mengernyitkan alisnya. Dia tidak mengerti kenapa orang yang semula dikira jahat justru berkata lemah lembut dan tidak menunjukkan permusuhan. Bahkan mereka semua memasukkan pedangnya kembali. Apakah salah penilaiannya?


"Kami lima bersaudara dengan julukan Lima Pari Emas. Kami berasal dari Gunung Cupu. Sedang pendeta gundul itu bergelar Pendeta Murtad di Selatan. Sudah lama dia kami cari untuk kami hentikan sepak terjangnya yang tidak berperikemanusiaan." Kata Dadap Pari menjelaskan. Rangga menatap lima orang yang berdiri di depannya satu persatu. Seakan-akan ingin memastikan kalau dia tadi salah menilai. Julukan Pendeta Murtad dari Selatan pernah dibacanya dari salah satu buku yang di goa Lembah Bangkai. Nama itu tercantum berikut nama-nama lain yang termasuk dalam golongan hitam.


Tetapi Rangga belum yakin. Sebab nama Pendeta Murtad dari Selatan sudah lenyap di tangan Pendekar Rajawali Sakti seratus tahun yang lalu. Apakah orang tua gundul cebol itu muridnya yang kini malang melintang di rimba persilatan dengan nama yang sama


"Dadap Pari, sebaiknya kita bicara di tempat lain saja!" Usul Langlang Pari.


Dadap Pari mengangguk. Dia mengerti maksud saudaranya. Sebentar lagi tentu kelompok Panji Teng-korak akan datang. Tanpa banyak bicara, Lima Panji Emas berlompatan ke atas punggung kuda masing-masing.


"Ayo, Rangga! Kita pergi dari sini," ajak Dadap Pari.


"Terima kasih!" sahut Rangga.


Ketika Dadap Pari akan membuka mulutnya, Rangga telah lebih dulu mencelat dan lenyap seketika dari pandangannya. Begitu cepatnya sehingga Lima Pari Emas terkesiap. Ke mana Rangga pergi?


********************

__ADS_1


__ADS_2