
Senja telah merayap menjadi malam. Udara dingin. Angin berhembus agak kencang. Dinginnya udara malam menjadi tak terasa di dalam sebuah ruangan yang terang benderang oleh cahaya obor. Sebuah kedai makan yang telah penuh oleh orang-orang dari berbagai golongan masing-masing di mejanya.
Di salah satu sudut yang remang-remang, duduk Rangga menghadapi meja kecil. Hanya ada sebuah guci arak di atas mejanya. Matanya selalu mengawasi orang-orang yang keluar masuk kedai makan ini. Di kedai ini pun menyediakan kamar-kamar untuk menginap.
Mata Rangga tertumbuk pada salah satu meja yang jauh di depannya. Tampak Saka Lintang duduk di ke-lilingi empat orang laki-laki. Rangga sama sekali tak tahu kalau keempat laki-laki itu dari golongan hitam. Mereka adalah Kalingga, atau berjuluk Kakek Merah Bermata Elang. Duduk di sampingnya adalah Kala Srenggi. Di samping kanan Saka Lintang duduk seorang wanita dengan dandanan menor, persis badut. Wanita itu dijuluki Dewi Asmara Dara. Sebenarnya wanita ini cantik. Tubuhnya pun menggiurkan. Karena dandanannya yang berlebihan maka wanita ini jadi kurang simpatik. Kemudian yang seorang lagi wanita tua. Rambutnya yang putih digulung ke atas. Seba-gian rambutnya dibiarkan jatuh menjuntai. Walau kulitnya telah keriput, tapi sorot matanya masih menyimpan ketegaran. Dia dijuluki Dewi Jerangkong, karena tubuhnya yang kurus kering bagai tulang berbalut kulit.
Keadaan kedai tenang. Semua orang menikmati hidangan sambil bersenda gurau. Namun ketenangan ini tiba-tiba lenyap, ketika seorang laki-laki tersuruk-suruk masuk dengan tubuh beriumuran darah. Laki-laki itu menghampiri meja Saka Lintang.
"Hey! Ada apa?" Pekik Saka Lintang kaget.
"Teratai Putih...," Laki-laki itu tidak meneruskan kalimatnya. Dia telah ambruk tak bernyawa.
Belum lagi hilang rasa terkejut, tiba-tiba dari pintu berrmunculan orang-orang berpakaian serba putih dengan sulaman bunga teratai di dada. Bahkan beberapa orang muncul dari atas atap ruangan ini. Jumlah mereka semua tak lebih dari dua puluh orang.
Beberapa pengunjung segera berhamburan keluar menyelamatkan diri. Keadaan di kedai makan kian berubah panas dan tegang. Saka Lintang segera berdiri diikuti yang lainnya.
"Kalian datang langsung membuat onar. Apa maksud kalian?" dingin suara Saka Lintang. Matanya menatap tajam pada orang yang berdiri paling depan.
"Kami ingin menuntut balas atas kematian saudara-saudara kami!" Sahut laki-laki yang berdiri paling depan.
"Pragola, kenapa bukan Pasopati saja yang datang ke sini?!" Dengus Dewi Asmara Dara.
"Guruku terlalu suci berhadapan denganmu, perempuan liar!" Sahut Pragola sinis.
Merah padam muka Dewi Asmara Dara. Bukan rahasia lagi kalau antara dia dengan Begawan Pasopati pernah terjadi hubungan asmara sekian puluh tahun yang lalu, waktu mereka masih remaja. Sekarang mereka bermusuhan. Dewi Asmara Dara yang dahulu bernama Sutiragen memang bukan gadis baik-baik.
Dalam usia yang masih belia, Sutiragen telah berpengalaman menghadapi laki-laki. Tentu saja Pasopati kecewa setelah mengetahui kelakuan Sutiragen. Pasopati sendiri telah kalap membunuh orang tua Sutiragen karena merasa ditipu. Kedua orang tua Sutiragen telah menjebaknya untuk menikahi Sutiragen yang kedapatan telah mengandung.
Dari peristiwa itulah bibit permusuhan tumbuh subur. Mereka telah bersumpah akan membabat habis semua keturunan masing-masing. Oleh sebab itu mereka tidak menikah lagi sampai sekarang. Sutiragen sendiri makin liar, terlebih setelah dia men-dapat gemblengan dari seorang pertapa tua yang sakti. Mungkin otaknya memang telah dirasuki iblis, Sutiragen yang semula berjanji akan hidup baik-baik, telah membunuh pertapa itu dengan licik setelah dia menguasai seluruh ilmunya.
"Bocah sombong! Kau tahu, dengan siapa berhadapan!" Geram Dewi Asmara Dara.
"Nenek-nenek tak tahu diri yang merasa masih muda!" Ejek Pragola.
Dewi Asmara Dara tidak dapat lagi menguasai amarahnya yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Dengan sigap dia melompat dan menerjang Pragola. Anak muda itu berkelit sedikit, bahkan melayangkan kakinya ke perut Dewi Asmara Dara.
"Monyet jelek!" rungut Dewi Asmara Dara sambil melentingkan tubuhnya menghindari tendangan lanjutan Pragola. Amarah yang meluap membuat Dewi Asmara Dara jadi lengah.
Meskipun masih muda, Pragola tidak dapat dianggap enteng. Ilmunya sudah hampir menyamai gurunya sendiri. Dia memang masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyempurnakannya. Jurus-jurus Pragola sangat dahsyat dan sulit diterka arahnya, membuat lawan harus hati-hati menghadapinya.
Lawan yang dihadapi Pragola pun bukan tokoh sembarangan. Dia seorang tokoh tingkat tinggi yang sudah kenyang makan asam garam rimba persilatan. Pragola tahu siapa Dewi Asmara Dara. Oleh karena Itu, dilayaninya lawan dengan tenang dan penuh perhitungan.
"Awas kepalamu!" teriak Dewi Asmara Dara. Pragola tak mempedulikan peringatan lawannya. Tangannya yang dialiri tenaga dalam ditebaskan ke arah perut lawan. Dan memang benar, teriakan tadi hanya tipuan belaka. Justru sasaran sebenarnya adalah perut.
"Ih!" Dewi Asmara Dara terperanjat, cepat-cepat ditarik tangannya.
Sungguh tak disangka kalau Pragola mengetahui gerak silatnya, sehingga dapat ditebak arah mana yang dituju. Belum hilang rasa herannya, tiba-tiba Pragola menyerang secara beruntun. Wanita ini makin terkesiap. Dengan cepat dilentingkan tubuhnya mundur satu tombak.
"Kalau takut, sebaiknya kau menyingkir!" Pragola.
"Suruh si Pasopati ke sini! Biar dia tahu bagaimana mengajar muridnya yang ceriwis!" geram Dewi Asmara Dara atau Sutiragen ini.
"Jangan kau bawa-bawa nama guruku. Aku masih sanggup membeset mulutmu!" dengus Pragola tidak senang gurunya dihina.
"Bocah setan! Terima seranganku!" teriak Suti-ragen geram.
Wuuut!
Dengan kecepatan yang luar biasa, Sutiragen mengeluarkan senjatanya yang berupa selendang berwarna merah darah. Ujung selendang itu segera meluncur meliuk-liuk bagai ular naga ke arah Pragola. Ke mana Pragola menghindar, pasti selendang itu mengejar.
Sungguh luar biasa selendang itu. Meja, kursi, barang barang di sekitar situ hancur berantakan terkena sambarannya. Dewi Asmara Dara memainkan jari-jari tangannya dengan lincah membuat selendang itu seperti mempunyai nyawa. Pragola terlihat kewala-han menghadapi serangan Dewi Asmara Dara kali ini. Dia hanya bisa menghindar dan bersalto tanpa mampu mengirimkan serangan balasan.
"Perhatikan jari tangannya, gunakan senjata, cari bagian tengah!"
Pragola terkejut mendengar bisikan di telinganya. Dia tak mau berpikir panjang. Siapa pun orangnya pasti ingin membantu. Pragola segera meloloskan pedangnya yang tergantung di pinggang.
Sret!
Kali ini dihiraukan ujung selendang yang mengincar tubuhnya. Matanya menatap jari-jari tangan Dewi Asmara Dara. Benar! Arah selendang dapat diketahuinya dari jari-jari tangan yang bergerak lincah. Dengan mudah Pragola dapat menghindari ujung sendang tanpa melihatnya. Bahkan pedangnya beberapa kali hampir menebas selendang itu. Tapi sepertinya dia menebas sebongkah batu cadas yang sangat keras.
"Jangan buang tenaga! Pusatkan perhatian pada titik tengah!"
Terdengar lagi bisikan di telinga Pragola. Bisikan itu membuatnya bingung. Dia tidak tahu titik tengah mana yang dimaksud. Pragola tidak lagi membabatkan pedangnya pada selendang merah yang masih mengancam dirinya. Matanya tetap tidak lepas menatap ari-jari tangan Dewi Asmara Dara. Otaknya terus bekerja memecahkan maksud bisikan tadi.
Tiba-tiba Pragola berteriak nyaring. Tubuhnya mencelat ke udara. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia menukik tepat di tengah-tengah selendang. Dewi Asmara Dara terkejut, cepat-cepat ditarik selendangnya. Terlambat! Ujung pedang Pragola telah membabat tepat di tengah-tengah selendang merah itu.
"Setan!" maka Dewi Asmara Dara melihat selendang pusakanya terpotong jadi dua.
__ADS_1
Dewi Asmara Dara mencampakkan selendangnya. Dia segera menggerakkan tangannya, mengembang ke samping. Lalu dengan gerakan yang cepat, kedua tangannya melintang didepan muka.
Pragola terkejut. Tiba-tiba saja mata Dewi Asmara Dara berubah merah. Belum hilang rasa terkejutnya dari mata itu meluncur seberkas sinar merah me-ngarah dirinya. Dengan cepat Pragola mencelat meng-hindar. Satu berkas sinar lagi terpaksa ditangkisnya dengai pedang.
Trak!
Pragola terlempar sejauh dua tombak. Pedangnya patah menjadi dua bagian. Belum sempat bangun, dua berkas sinar merah kembali menyerang dirinya. Dengan cepat Pragola menggulingkan tubuhnya ke samping. Sinar merah itu menghantam lantai kedai makanan. Suara menggelegar terdengar disertai berlubangnya lantai yang keras itu.
"Mati aku!" dengus Pragola. Dia tahu kalau Asmara Dara mengeluarkan ilmu 'Seribu Mata Dewi'. Ilmu andalan yang sangat jarang digunakan Asmara Dara. Kemarahan yang memuncak karena selendang andalannya putus memancingnya untuk mengeluarkan ilmu 'Seribu Mata Dewi'.
"Jangan panik!" Terdengar lagi bisikan halus di telinga Pragola. "Hindari tatapan matanya. Gunakan ilmu peringan tubuh, putari tubuhnya.
Pragola segera bangkit dan berlari-lari memutari tubuh Dewi Asmara Dara dengan menggunakan ilmu peringan tubuh. Tentu saja Dewi Asmara Dara jadi kelabakan. Sinar-sinar merah yang dilontarkan selalu mengenai tempat kosong. Beberapa orang yang masih berada di kedai itu segera menyingkir, menghindari sinar merah yang tidak mustahil nyasar ke tubuh mereka.
"Gunakan senjata kecil, arahkan ke kaki," bisikan halus kembali terdengar.
Pragola kebingungan. Dia tidak memiliki senjata rahasia satu pun juga. Gurunya tak pernah membe-kali senjata rahasia. Menurut gurunya, senjata rahasia hanya digunakan oleh orang-orang berhati tele-ngas dan licik. Mereka tidak pantas disebut pendekar.
Di saat otaknya berpikir keras, mendadak matanya menangkap reruntuhan meja dan kursi. Bibirnya segera tersenyum. Sambil terus mengarahkan tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh, Pragola meraih beberapa potongan kayu. Diremasnya potongan kayu itu hingga menjadi serpihan.
Sementara itu Dewi Asmara Dara makin geram karena setiap serangannya selalu luput. Setiap kali dia memaksa Pragola untuk menatap matanya, pemuda Itu selalu memalingkan mukanya. Dewi Asmara Dara semakin sulit karena pengaruh ilmu 'Seribu Mata Dewi' tidak mempengaruhi Pragola.
"Awas kaki!" teriak Pragola tiba-tiba.
Dewi Asmara Dara terkejut. Kayu-kayu kecil berterbangan mengarah kakinya.
"Setan belang! Monyet buduk!" Dewi Asmara Dara mengumpat habis-habisan.
Kayu-kayu kecil yang dilemparkan Pragola dengan pengerahan tenaga dalam membuat wanita itu sibuk berlompatan ke sana kemari. Lebih-lebih Pragola me-lemparkannya sambil berlarian mengitari tubuhnya. Konsentrasi Dewi Asmara Dara terpecah.
Pada saat Dewi Asmara Dara tengah repot dengan serangan itu, tiba-tiba meluncur sebuah bayangan merah menahan arah lari Pragola. Seketika kayu-kayu kecil yang terlontar ke kaki Dewi Asmara Dara terhenti bersamaan dengan terhentinya lari Pragola. Di depan anak muda itu sudah berdiri seorang kakek tua berjubah merah.
"Kakek Merah Mata Elang!" bentak Pragola gusar "Kau melanggar aturan!"
"He he he...! Tidak ada aturan dalam rimba persilatan," Kakek Merah Bermata Elang terkekeh menyeringai. Matanya yang merah bagai mata elang menatap tajam Pragola.
"Biar aku yang menghadapi orang tua tidak tahu diri ini, Kakang!"
Tiba-tiba melompat seorang pemuda ke tengah-tengah arena pertempuran. Seorang anak muda berkulit putih dan bertubuh ramping. Garis-garis kejantanan tergambar jelas pada raut wajah yang halus dan tampan itu.
"Hati-hati Adik Barada, orang ini sangat kejam dan sakti," Pragola mengingatkan.
"Majulah, Kakek tua!" seru Barada lantang dan tenang. Setenang sikapnya.
"He he he.... Anak kemarin sore ingin menantangku. Apakah Teratai Putih tidak memiliki jago-jago andalan sehingga mengutus anak bau kencur ke sini. Kakek Merah Bermata Elang mengejek.
"Teratai Putih tidak perlu mengeluarkan jago-jagonya untuk membasmi Panji Tengkorak!" Tenang dan lembut suara Barada, namun menyakitkan di telinga.
"Bocah sombong! Jangan menyesal kalau aku memberi pelajaran padamu!" Geram Kakek Merah Bermata Elang.
"Silakan kalau kau mampu!"
"Setan! ****** kau!"
Pertempuran antara Kakek Merah Bermata Elang dengan Barada berlangsung sengit. Masing-masing menggunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi. Pragola pun sudah sibuk lagi melayani Dewi Asmara Dara. Di lain pihak, Kala Srenggi, dan Dewi Jerangkong juga telah menghajar orang-orang Teratai Putih lainnya.
Kedai makan berubah menjadi ajang pertempuran. Memang kelihatannya tidak seimbang. Dua puluh dari Teratai Putih melawan empat orang dari Panji Tengko-rak. Namun keempat orang-orang itu bukanlah orang-orang sembarangan. Malah kini terlihat dua orang anggota Teratai Putih sudah terjungkal. Kepalanya remuk terhajar tongkat Dewi Jerangkong.
Seorang lagi roboh di tangan Kala Srenggi. Lalu menyusul satu demi satu. Pragola yang melihat kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sendiri sibuk menahan gempuran Dewi Asmara Dara. Wanita itu sangat bernafsu ingin cepat membunuh lawannya. Dia merasa sudah dipermalukan oleh Pragola di muka umum.
"Tahan!"
Tiba-tiba suara menggeledek terdengar bagai petir di siang bolong. Seketika pertempuran itu terhenti. Anggota Teratai Putih tinggal enam orang saja. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Darah berceceran menyebarkan bau amis menusuk hidung.
Semua mata segera terarah pada Rangga yang duduk tenang di pojok. Tangannya memain-mainkan kendi arak. Lagaknya acuh dengan suasana kedai makan yang berantakan akibat pertarungan dua kelompok itu.
"Orang asing! Berani benar kau campuri urusan kami!" Bentak Dewi Asmara Dara gusar.
Seperti orang *****, Rangga celingukan mencari-cari sesuatu. Pelan-pelan dia bangkit dan berjalan melangkahi mayat-mayat yang bergelimpangan. Kepalanya menggeleng-geleng dengan mulut berdecak-decak seperti keheranan.
"Ck ck ck..., kasihan sekali. Nyawa satu-satunya dibuang percuma," gumam Rangga.
Rangga berhenti melangkah ketika di depannya berdiri menghadang Kakek Merah Bermata Elang. Rangga mengamati jari-jari tangan kakek tua itu yang penuh darah.
"Kenapa tangan Kakek? Luka?" Tanya Rangga seperti anak kecil.
"Luka tanganku bisa diobati oleh darahmu!" Dengus Kalingga atau Kakek Merah Bermata Elang geram.
__ADS_1
"Wah, hebat!" Seru Rangga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kisanak, apakah kau yang memberiku petunjuk tadi?" Tanya Pragola sopan dan lembut. Dia merasa yakin kalau bisikan-bisikan halus datang dari pemuda ini.
"Ah, aku hanya bicara sendiri tadi," Sahut Rangga merendah.
"Setan! Jadi kau yang membantu bocah edan ini!" Dengus Dewi Asmara Dara geram. Giginya gemelutuk dan tangannya mengepal erat.
"Siapa yang membantu? Sejak tadi aku duduk di sana," Sahut Rangga kalem.
"Kau harus ******!" Geram Dewi Asmara Dara.
Setelah berkata demikian Dewi Asmara Dara segera melompat menerjang dengan jurus andalannya. Rangga hanya berkelit sedikit dengan meliukkan tubuhnya. Serangan Dewi Asmara Dara hanya menge-nai angin kosong.
Kala Srenggi yang mengenali jurus-jurus Dewi Asmara Dara, terkesima melihat cara Rangga menghindari serangan. Merasa lawan hanya menghindar tanpa melangkah sedikit pun, Dewi Asmara Dara berang bercampur malu.
"Terima aji pamungkasku!" Teriak Dewi Asmara Dara.
Seketika seluruh tangan Dewi Asmara Dara mengepulkan asap kekuningan, lalu secepat kilat menyerang Rangga. Semua mata yang memandang menahan napas menyaksikan Rangga hanya tenang-tenang saja.
"Hiyaaa...!" Dewi Asmara Dara melengking keras dengan kedua tangan menjulur ke depan.
Saat jari-jari tangan Dewi Asmara Dara yang mengepulkan asap tepat di depan mata Rangga, anak muda itu hanya memiringkan kepalanya sedikit. Dengan menggunakan jurus 'Cakar Rajawali' dipapaknya punggung Dewi Asmara Dara.
"Akh!" Dewi Asmara Dara memekik tertahan. Tubuh-nya limbung sebentar lalu ambruk tidak bangun lagi.
Semua mata terbelalak lebar seakan tidak percaya. Hanya satu jurus saja Dewi Asmara Dara telah ambruk tak bernyawa! Sulit diukur tingginya ilmu anak muda ini.
"Bocah setan! Sebutkan namamu sebelum kukirim kau ke neraka!" Bentak Kakek Merah Bermata Elang dengan geram.
"Aku Pendekar Rajawali Sakti!" Jawab Rangga. Suaranya tenang namun menggema ke seluruh ruangan.
"Tidak mungkin!" Sentak Dewi Jerangkong sambil melompat ke depan.
Semua mata menatap nenek tua yang berdiri dengan tongkat saktinya.
"Jangan coba-coba menggertak kami dengan menyebut nama tokoh seratus tahun lalu!" Dengus Dewi Jerangkong.
"Kalau tidak percaya, lihat saja dia!" Rangga menunjuk mayat Dewi Asmara yang tengkurap kaku.
Dewi Jerangkong mendelik. Punggung Dewi Asmara Dara hangus! Ada goresan hitam di punggung yang membentuk cakar burung rajawali. Jelas, itu adalah salah satu hantaman jurus 'Cakar Rajawali'. Dan kini jurus maut itu dimiliki seorang pemuda yang mengaku sebagai Pendekar Rajawali Sakti!
"Bagaimana, Nenek tua? Percaya?"' Kalem dan tenang suara Rangga.
"Mustahil...," Gumam Dewi Jerangkong seraya menggeleng-gelengkah kepalanya.
Bukan hanya Dewi Jerangkong yang tidak percaya. Kakek Merah Bermata Elang pun demikian. Dua tokoh tua ini pernah mendengar sepak terjang Pende-kar Rajawali Sakti meski pada saat itu mereka belum dilahirkan. Kehebatan dan kesaktian pendekar Raja-wali Sakti pernah menjadi buah bibir di mana-mana. Semua orang selalu mengharapkan kemunculannya jika terjadi kerusuhan dan kejahatan.
Kini Pendekar Rajawali Sakti muncul kembali di tengah dunia persilatan yang goncang. Apakah ini pertanda Panji Tengkorak akan menghadapi sandungan?
"Dewi Jerangkong, mari kita hadapi bocah dungu ini," Seru Kakek Merah Bermata Elang atau Kalingga.
Setelah selesai kata-katanya, Kalingga segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus mautnya, diikuti oleh Dewi Jerangkong dengan jurus-jurus andalannya.
Nyali Rangga tak gentar sama sekali dikeroyok oleh dua tokoh sakti itu. Dia kelihatan tenang-tenang saja berkelit menghindari serangan-serangan dahsyat dan beruntun. Gerakan-gerakan Rangga memang cepat dan luar biasa sehingga membingungkan lawan. Serangan-serangan dua tokoh sakti itu selalu menemui tempat kosong.
"Maaf!" Ucap Rangga kalem.
Bersamaan dengan itu, tangan Rangga berkelebat cepat dan tepat mendarat di dada Dewi Jerangkong dan Kalingga.
"Akh!" Dewi Jerangkong hanya mengeluh pelan
"Ugh!" Kakek Merah Bermata Elang pun melenguh hampir bersamaan.
Secara bersamaan pula dua tubuh tokoh itu ambruk dan tak berkutik lagi. Di dada mereka tergambar sebuah cakar berwama hitam. Cakar seekor burung rajawali. Sekali lagi Rangga berhasil merobohkan dua tokoh sakti sekaligus hanya dalam satu jurus saja.
Kala Srenggi yang sejak tadi hatinya sudah ciut diam-diam kabur ketika melihat dua tokoh sakti itu limbung hanya dalam satu jurus saja. Saka Lintang pun tak nampak batang hidungnya lagi. Entah sejak kapan dia minggat.
"Terima kasih, Tuan Pendekar telah menolong kami," Pragola segera menghormat diikuti Barada dan empat anggota Teratai Putih yang tersisa.
Rangga hanya tersenyum lalu menepuk pundak Pragola.
"'Tuan Pendekar sangat hebat. Panji Tengkorak pasti bisa ditumpas," Ujar Barada penuh harapan.
"Boleh saya tahu, siapakah saudara-saudara semua?" Tanya Rangga yang telah berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.
"Kami murid-murid perguruan Teratai Putih. Kami ditugaskan untuk membendung gerakan liar Panji Tengkorak," Sahut Pragola menjelaskan.
__ADS_1
"Siapa Panji Tengkorak?" Tanya Rangga lagi.
"Gerombolan liar dan jahat. Mereka membunuh siapa saja yang menentangnya. Sudah banyak tokoh aliran hitam yang bergabung dengan mereka. Saat ini Panji Tengkorak boleh dikatakan hampir menguasai rimba persilatan," jelas Pragola rinci. Sejak tadi dia telah kagum dengan kehebatan Pendekar Rajawali Sakti.