Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Naga Merah Eps. 05 Bag. 1


__ADS_3

DESA Jatiwangi tidak seperti biasanya. Umbul-umbul dan macam-macam hiasan bertebaran di seluruh desa. Tampak semarak sekali. Keceriaan tercermin di setiap wajah penduduknya Berbondong-bondong mereka menuju panggung hiburan yang ada di setiap sudut desa.


Sebenarnya bukan hanya penduduk desa Jatiwangi saja yang kelihatan ceria penuh kegembiraan. Desa-desa di sekitarnya pun juga tidak luput dari suasana ceria itu. Tidak sedikit orang dari desa tetangga yang tumplek di desa yang penuh dengan panggung hiburan. Tentu saja kegembiraan ini juga sangat dirasakan oleh Kepala Desa Jatiwangi.


Ki Rangkuti tersenyum bangga menyaksikan warga desanya bergembira. Sepasang bola matanya berbinar-binar merayapi sekelilingnya. Kepala desa yang sudah berumur lanjut tapi masih terlihat gagah itu, duduk didampingi dua orang tamu istimewa yang diundang khusus. Yang duduk di sebelah kanannya adalah seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun. Wajahnya masih kelihatan tampan dan gagah. Di punggungnya bertengger sebilah pedang bergagang emas. Senjata itulah yang membuat dirinya dikenal sebagai Dewa Pedang Emas.


Sedangkan yang duduk di sebelah kiri Ki Rangkuti seorang tua berambut putih. Pakaiannya pun serba putih bersih. Matanya bercahaya menandakan seorang yang arif bijaksana. Kelihatannya dia tidak menyandang senjata sebuah pun. Semua orang pasti akan mengenalnya. Laki-laki tua berpenampilan penuh wibawa ini dikenal dengan nama Bayangan Malaikat.


Pada saat itu tiba-tiba seorang laki-laki muda dengan tombak panjang di tangan menghampiri. Pandangan mata Ki Rangkuti langsung tertuju padanya.


“Ada apa, Darmasaka?” tanya Ki Rangkuti.


“Ada seorang wanita tua ingin bertemu, Ayah,” sahut Darmasaka yang ternyata putra kepala desa itu.


“Siapa dia?” tanya Ki Rangkuti sambil mengernyitkan alisnya. Sepengetahuannya dia tidak pernah mengundang tamu seorang perempuan.


“Dia tidak mau menyebutkan namanya. Katanya Ayah pasti sudah mengenalnya,” sahut Darmasaka.


“Hm...,” Ki Rangkub bergumam.


“Apakah dia menyandang senjata?" tanya Dewa Pedang Emas.


“Tidak,” sahut Darmasaka cepat.


“Pakaiannya serba biru dan hanya membawa tongkat berkepala ular.”


“Dia menunggang kuda putih dengan garis hitam pada lehernya?” tanya Bayangan Malaikat.


“Benar!” jawab Darmasaka.


“Tidak salah lagi, pasti si Ular Betina," gumam Dewa Pedang Emas.


“Kau mengundangnya juga Rangkuti?” tanya Bayangan Malaikat menatap Ki Rangkuti yang sejak tadi diam saja.


Ki Rangkuti yang sejak tadi sudah menduga siapa yang datang, hanya menggeleng perlahan. Dia tidak menyangka sama sekali kalau si Ular Betina akan datang tanpa diundang. Sementara Darmasaka hanya memandang tidak mengerti. Hatinya bertanya-tanya melihat perubahan pada wajah Ayahnya yang seperti tidak menyukai kehadiran perempuan tua yang berjuluk Ular Betina itu.


Saat mereka terdiam, tiba-tiba terdengar suara ringkikan dan derap kaki kuda. Tampak seekor kuda putih yang ditunggangi seorang perempuan tua berpakaian serba biru memasuki halaman rumah kepala desa yang luas. Kuda itu berhenti tepat di depan serambi depan, tempat empat orang laki-laki itu berdiri.


Perempuan tua yang tidak lain adalah si Ular Betina. Dengan tangkas dan ringan sekali dia melompat dari kudanya seolah ingin memamerkan ilmu meringankan tubuh yang indah pada keempat laki-laki di depannya. Manis sekali kakinya menjejak tanah setelah berputar di udara dua kali.


“Kau mengadakan pesta besar, kenapa tidak mengundangku, Rangkuti?" suara si Ular Betina kecil namun terdengar nyaring tinggi.


“Maafkan kelalaianku, Ular Betina,” sahut Ki Rangkuti pelan penuh wibawa. “tidak seorang pun dari orang-orangku mengetahui di mana tempat tinggalmu.”


“Hik hik hik..,” si Ular Betina tertawa kecil. “Aku tidak mempersoalkan orang-orangmu, Rangkuti. Aku datang ke sini hanya ingin menikmati pesta besarmu.”


Ki Rangkuti menarik napas panjang dan berat. Ada sedikit kelegaan di dadanya. Jika kedatangan si Ular Betina hanya sekedar menikmati pesta, tidak ada masalah baginya. Hanya yang dikhawatirkan kedatangan perempuan tua itu bisa menghancurkan semua rencana yang sudah disiapkannya berbulan-bulan dengan penuh perhitungan.


“Kau tidak mempersilakan aku duduk di kursi undangan, Rangkuti?” kata si Ular Betina.


“Silakan. Pilihlah tempat di mana kau suka,” Ki Rangkuti merentangkan kedua tangannya.


Sambil tertawa mengikik kecil, si Ular Betina melangkah menaiki beranda rumah itu. Dia kemudian duduk di samping Dewa Pedang Emas. Ki Rangkuti masih berdiri meskipun ketiga tamunya sudah duduk di tempat masing-masing. Masih ada delapan bangku lagi yang kosong. Berarti belum semua undangan yang hadir. Padahal rencananya hari ini adalah puncak semua pesta besar yang telah terlaksana.


Ki Rangkuti memberi isyarat pada Darmasaka untuk mendekat. Tanpa membuang-buang waktu lagi, putra kepala desa itu maju mendekati ayahnya. Dia mengangguk kecil pada ketiga tamu undangan Ki Rangkuti. Darmasaka berdiri di samping ayahnya membelakangi Bayangan Malaikat.


“Kau urus kuda Ular Betina dengan baik, kemudian tambahkan satu kursi lagi di sini,” kata Ki Rangkuti memerintah.


“Baik Ayah,” sahut Darmasaka.


Darmasaka langsung melangkah menghampiri kuda putih milik si Ular Betina. Kemudian dituntunnya ke belakang. Dua kuda lainnya milik Bayangan Malaikat dan Dewa Pedang Emas telah tertambat di sana.


“Benar-benar anak yang berbakti, Rangkuti,” kata Ular Betina setelah Darmasaka lenyap di belakang rumah.


Ki Rangkuti hanya tersenyum, lalu duduk di kursinya sendiri. Hatinya masih belum bisa tenang dengan kehadiran si Ular Betina yang tidak diundang itu. Dia belum bisa memperkirakan maksud kedatangan si Ular Betina yang sebenarnya. Hatinya hanya berharap benar-benar Ular Betina hanya ingin menikmati pesta besar di Desa Jatiwangi ini.

__ADS_1


Tidak lama berselang datang satu per satu undangan Dari penampilan mereka jelas kalau semuanya adalah tokoh-tokoh sakti kaum rimba persilatan. Mereka semua adalah laki-laki, kecuali si Ular Betina saja. Mereka duduk pada tempatnya masing-masing, menghadap panggung besar yang berdiri di tengah halaman rumah kepala desa ini.


Para penduduk pun sudah mulai berdatangan memenuhi halaman sekitar panggung. Dalam waktu yang tidak lama, halaman rumah Kepala Desa Jatiwangi penuh sesak dipenuhi manusia. Mereka semua ingin menyaksikan puncak acara pesta besar itu.


Pesta apa sebenarnya yang tengah berlangsung di desa Jatiwangi? Sebenarnya bukan pesta merayakan sesuatu tapi Ki Rangkuti mengadakan pesta ini untuk menyambut berdirinya Padepokan Jatiwangi yang baru didirikan dengan mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan.


Tampak pada bagian kanan panggung berdiri berjajar puluhan anak-anak muda yang mengenakan seragam kuning keemasan. Mereka semua menggenggam tombak panjang. Merekalah murid pertama Padepokan Jatiwangi. Pada barisan depan duduk lima orang guru pengajar. Dari penampilan kelima orang itu dapat diukur kalau mereka memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.


Suara riuh penuh sorak-sorai seketika berhenti ketika terdengar suara gong dipukul tiga kali. Ki Rangkuti berdiri dengan sikap penuh wibawa. Langkahnya pelan dan tegap menuju ke panggung. Semua mata memandang ke arah laki-laki tua yang penuh daya pancar pesona itu. Ki Rangkuti berdiri tegak di tengah-tengah panggung. Sebentar matanya menyapu ke arah warga desanya.


“Saudara-saudara sekalian, saya gembira Pada hari yang sangat bersejarah bagi seluruh warga Desa Jatiwangi. Berkat restu Yang Maha Kuasa jualah maksud luhur kita semua bisa tercapai hari ini. Pada hari yang bahagia ini, saya selaku Kepala Desa Jatiwangi akan meresmikan berdirinya satu-satunya Padepokan Jatiwangi di desa yang kita cintai ini,” pelan dan teratur kata-kata Ki Rangkuti namun terdengar menggema ke seluruh pelosok.


Semua mata masih tertuju pada laki-laki yang penuh wibawa ini. Tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.


“Pada hari ke tujuh bulan Sanga, saya atas nama seluruh warga Desa Jatiwangi meresmikan berdirinya Padepokan Jatiwangi!”


Suara sorak-sorai dan tepuk tangan meriah terdengar menggemuruh begitu Ki Rangkuti menyelesaikan kata-katanya Dengan gegap-gempita semua orang yang hadir menyambut berdirinya Padepokan Jatiwangi yang hanya satu -satunya di desa ini.


Ki Rangkuti hanya tersenyum gembira menerima sambutan hangat seluruh warga desanya. Dadanya terasa hampir pecah menyaksikan sambutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rencana mendirikan Padepokan Jatiwangi ternyata berjalan lancar tanpa sedikit pun mendapat gangguan yang berarti. Ki Rangkuti baru bisa bernapas lega sebentar, ketika tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat cepat ke arah panggung.


Suara-suara menggumam terkejut terdengar begitu bayangan hitam tadi sudah berada di atas panggung. Ternyata seorang perempuan tua dengan wajah penuh keriput sudah berdiri tegak di depan Ki Rangkuti. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat hitam yang meliuk-liuk bagai ular. Bagian kepala tongkat itu bulat tidak rata.


“Iblis Tongkat Hitam...,” gumam Ki Rangkuti begitu mengenali perempuan yang berdiri di depannya.


“Hik hik hik..., rasanya tidak mudah mendirikan satu padepokan. Aku datang hanya ingin tahu, apakah Desa Jatiwangi sudah pantas memiliki padepokan silat?” suara Iblis Tongkat Hitam terdengar pelan, namun penuh dengan ejekan yang menyakitkan.


“Rasanya aku tidak mengundangmu, Iblis Tongkat Hitam. Satu kehormatan besar bagiku kau berkenan hadir pada peresmian berdirinya Padepokan Jatiwangi,” kata Ki Rangkuti.


“Aku tidak suka acara ramah-tamah. Aku datang ke sini untuk menguji pantas tidaknya Padepokan Jatiwangi berdiri!” dengus Iblis Tongkat Hitam.


Panas kuping Ki Rangkuti mendengarnya. Tapi sebagai guru besar Padepokan, sekaligus Kepala Desa Jatiwangi, dia harus bisa mengendalikan diri. Belum sempat ia menjawab tantangan itu, tiba-tiba Darmasaka melompat ringan. Tahu-tahu dia sudah berdiri di depan ayahnya.


“Ijinkan aku yang memberi pelajaran kepada perempuan yang tidak tahu sopan-santun init Ayah,” kata Darmasaka.


"Hati-hatilah. Dia sangat licik dan tinggi tingkat kepandaiannya,” kata Ki Rangkuti bijaksana.


Itulah sulitnya jadi guru besar padepokan Dia harus bisa menahan segala bentuk perasaan. Kebijaksanaan selalu menyertai dalam setiap sikap dan tindakannya.


“He, bocah! Untuk apa kau berdiri di situ?” bentak Iblis Tongkat Hitam sengit.


“Aku akan membungkam mulutmu yang jelek!”dengus Darmasaka ketus.


"Hik hik hik..., sebaiknya kau turun. Aku tak mau mengotori tangan dengan bocah bau kencur macammu,” ejek Iblis Tongkat Hitam.


"Kami tidak mengundangmu datang ke sini. Aku juga malas mengusirmu seperti anjing kalau kau tidak lekas-lekas minggat!” balas Darmasaka tidak kalah sengitnya.


“Bocah setan! Tajam sekali mulutmu!” geram Iblis Tongkat Hitam.


“Lebih tajam lagi ujung tombakku!”


“Setan! ****** kau!”


Iblis Tongkat Hitam tidak bisa lagi menahan amarahnya mendengar kata-kata Darmasaka yang menyakitkan. Seketika saja dia melompat sambil mengebutkan tongkat hitamnya yang meliuk-liuk bagai ular. Angin sambaran tongkat itu menderu keras di atas kepala Darmasaka yang merunduk. Dan bersamaan dengan itu, ujung tombak Darmasaka menyodok ke arah perut lawan.


Iblis Tongkat Hitam menarik kembali tongkatnya, dan dengan kecepatan bagai kilat dikebutkan ke bawah. Darmasaka tidak mau mengambil resiko dengan membenturkan tombaknya dengan tongkat hitam itu. Buru-buru ditarik tombaknya pulang. Iblis Tongkat Hitam menggeram sengit karena serangan pertamanya gagal total, bahkan hampir-hampir kecolongan.


Sorak-sorai bergemuruh mengelu-elukan Darmasaka yang berhasil mengimbangi serangan pertama dari Iblis Tongkat Hitam Tentu saja ha1 ini membuat perempuan tua berbaju hitam itu semakin geram.


Segera dia menyiapkan serangan yang kedua. Matanya memerah penuh amarah menatap Darmasaka yang hampir saja membuatnya malu. Kali ini Iblis Tongkat Hitam tidak lagi menganggap enteng lawannya. Meskipun masih muda Darmasaka memiliki ilmu silat yang cukup tinggi juga.


“Terima seranganku bocah!” teriak Iblis Tongkat Hitam.


Darmasaka menarik tubuhnya menghindari sodokan tongkat hitam perempuan tua itu. Pemuda itu langsung berputar ke belakang. Tapi sodokan tongkat hitam yang gagal diteruskan dengan kebutan ke arah dada. Dengan satu lentingan indah, anak muda itu berhasil keluar dari serangan beruntun Iblis Tongkat Hitam.


Baru saja ditapakkan kakinya di papan panggung, mendadak Iblis Tongkat Hitam kembali menyerang dengan mengibaskan tongkat hitam ke arah iga. Darmasaka yang baru saja menjejakkan kakinya tidak bisa lagi mengelak. Terpaksa ditangkisnya tongkat hitam itu dengan tombaknya.

__ADS_1


Trak!


Darmasaka terpental dua tindak ke belakang Matanya membeliak melihat tombaknya patah jadi dua. Sambil menggeram kesal dibuangnya tombak patah itu ke luar panggung. Sementara Iblis Tongkat Hitam berdiri tegak dengan sikap jumawa. Tawanya mengikik kecil mengejek lawannya. Suara-suara riuh dari bawah panggung memberi dorongan semangat pada Darmasaka.


“Ayo, keluarkan lagi senjatamu. Aku tidak pernah melawan orang tanpa senjata!U seru Iblis Tongkat Hitam.


Sret!


­Tanpa sungkan-sungkan lagi Dannasaka. mencabut pedangnya yang sejak tadi tergantung di pinggang. Senjata itu berkilatan tertimpa sinar Matahari. Iblis Tongkat Hitam hanya mengikik menyaksikan hal itu. Baginya sebatang pedang bukanlah hal yang patut diperhitungkan. Sudah terlalu banyak lawan yang menggunakan pedang disikat habis olehnya.


“Majulah. Kuberi kau kesempatan menyerang,” kata Iblis tongkat Hitam meremehkan.


“Phuih!” Darmasaka meludah sengit.


Sambil mengeluarkan teriakan panjang Darmasaka melompat deras seraya mengibaskan pedangnya ke arah leher lawannya. Masih dengan suara mengikik, Iblis Tongkat Hitam hanya menarik sedikit bagian lehernya ke belakang, dan ujung pedang Darmasaka lewat begitu saja di depan leher Iblis Tongkat Hitam.


Mendapati serangan pertamanya gagal, Darmasaka cepat membelokkan arah pedangn­a ke kaki lawan tanpa menariknya lagi. Iblis Tongkat Hltam menaikkan sedikit kaki kanannya dan pedang itu lewat di bawah telapak kakinya. Darmasaka kembali melancarkan serangan tanpa henti, namun Iblis Tongkat Hitam dengan mudahnya mampu mengelak.


Sementara itu di serambi depan rumah Kepala Desa Jatiwangit Ki Rangkuti memperhatikan jala­nya pertarungan dengan mata tidak berkedip. Hanya semakin diliputi kecemasan melihat putranya tidak dapat lagi mengendalikan hawa amarah Dalam beberapa gebrakan lagi Dannasaka diramalkan akan kalah.


Dan baru saja Ki Rangkuti berkata begitu dalam hati. Tiba-tiba Iblis Tongkat Hitam memekik keras. Tongkat hitamnya berkelebat cepat mengarah kepala Darmasaka. Gerakan yang cepat dan tiba-tiba ini sangat mengejutkan anak muda itu. Tidak mungkin lagi untuk menghindar. Terpaksa disambutnya dengan menangkis.


Trak!


Tangan Darmasaka bergetar keras ketika pedangnya menangkis tongkat hitam yang mengancam kepalanya. Dan belum sempat dia menguasai diri, mendadak...


“Lepas!"


Iblis Tongkat Hitam melayangkan kakinya menghantam pergelangan tangan Darmasaka yang menggenggam pedang. Darmasaka tersentak kaget. Mendadak saja pergelangan tangannya terasa nyeri seperti remuk Dia tidak tahu lagi ke mana pedangnya mencelat.


Belum sempat Darmasaka berpikir lebih jauh satu tendangan keras kembali menghantam dadanya dengan telak Darmasaka terjengkang ambruk ke luar panggung dan jatuh di depan kaki ayahnya sendiri. Dari sudut bibir anak muda itu mengalir darah segar. Dia berusaha bangkit berdiri tapi tangan Ki Rangkuti lebih cepat menahan pundaknya.


“Semadilah, kau terluka dalam,” kata Ki Rangkuti.


“Perempuan iblis itu, Ayah...,” Darmasaka akan protes.


“Kau sudah kalah. Anggap saja semua ini sebagai pelajaran. Nah! Bersemadilah,” potong Ki Rangkuti tegas.


Darmasaka beringsut bangun, lalu duduk bersila. Dia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Kedua kelopak matanya terpejam. Dadanya masih terasa sakit dan napasnya juga jadi sesak. Sementara itu di alas panggung, Iblis Tongkat Hitam berdiri pongah. Sikapnya jelas-jelas menunjukkan tantangan bagi siapa saja yang berani melawannya. Matanya memerah, sangat tajam menatap Ki Rangkutl yang masih duduk tenang di kursinya.


“B­iarkan aku yang mengenyahkan iblis itu, Rangkuti,” kata Dewa Pedang Emas setengah berbisik.


“Jangan. Kau tamuku. Tidak pantas turun tangan,” Ki Rangkuti menolak halus tanpa menyinggung perasaan Dewa Pedang Emas. “Lagipula dia bukan lawanmu. Kau masih jauh di atas tingkat kepandalannya.”


Dewa Pedang Emas tidak membantah Memang benar apa yang dikatakan Ki Rangkuti tadi. Dalam tiga jurus saja dia mampu menundukkan Iblis Tongkat Hitam. Dulu pun iblis itu pernah dikalahkannya hanya dalam satu gebrakan saja. Dan dilihat dari caranya bertarung melawan Darmasaka, tampaknya belum ada perubahan dari jurus-jurusnya. Entah kalau dia menyimpannya untuk menghadapi lawan yang berat.


"Siapa lagi jago-jago Jatiwangi? Apakah nyali kalian hanya sebesar tahi ayam?” Iblis Tongkat Hitam menantang dengan pongahnya.


“Aku lawanmu,” Iblis jelek!


Dari deretan kursi depan di samping panggung melompat seorang laki-laki berpakaian serba putih yang ketat Dua kali dia berputar di udara, kemudian dengan Manis kedua kakinya menapak di papan panggung. Iblis Tongkat Hitam terkekeh melihat lawannya yang kali ini tampak lebih tua dari Darmasaka.


Bukan itu saja kelebihannya. Tanpa memperdengarkan suara sedikitpun dalam melompat, tahu-tahu sudah berada di atas panggung tanpa terdengar suara. Pertanda kalau dia memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari Darmasaka.


“Ijinkan aku bermain-main sedikit dengan Iblis Tongkat Hitam, Kakang Rangkuti?”


“Silakan Mahesa ******,” sahut Ki Rangkuti seraya merentangkan tangan kanannya ke depan.


Mahesa ****** menggeser kakinya mendekati Iblis Tongkat Hitam. Dia berhenti setelah jaraknya kira-kira satu batang tombak lagi di depan perempuan tua berpakaian longgar serba hitam itu.


“Berikan aku sedikit pelajaran, nenek tua,” Mahesa ****** menjura hormat.


“Hik hik hik...,” Iblis Tongkat Hitam jadi risih juga dengan sikap Mahesa ****** yang penuh aturan dan tata-krama. “Jangan kau sungkan-sungkan Keluarkan semua kesaktianmu!”


“Bersiaplah!”

__ADS_1


********************


__ADS_2