
Sinar rembulan di keheningan malam yang menyelimuti alam tampak begitu indah dan mengundang sejuta pesona. Namun sayang, rembulan yang bersinar penuh itu tak mampu lagi mengundang minat penduduk desa itu untuk menikmatinya Mereka telah berangkat dan berlabuh di alam mimpi, kecuali seorang pemuda tampan yang berdiri menatap ke luar dari jendela kamar penginapannya yang terbuka lebar.
Dengan matanya yang bersinar bening, pemuda itu memandang wajah sang rembulan yang memancarkan sinar keemasan. Sesekali terdengar desahan napasnya yang terdengar panjang dan berat
"Sejak tadi kau berdiri di situ. Ada yang mengganggu pikiranmu, Kakang?" suara Pandan Wangi yang lembut memecah kesunyian kamar penginapan itu.
Pemuda tersebut membalikkan tubuhnya membelakangi jendela, seulas senyum bermain di bibimya. Matanya memandang Pandan Wangi yang tergolek di pembaringan. Rambut hitam lebat panjang, terurai indah menambah pesona yang telah dimiliki gadis itu. Pandan Wangi membalas senyuman itu, dan sinar matanya menampakkan kehangatan. Kebersamaan yang selalu dilaluinya, membuat gadis itu tak lagi merasa malu dan kikuk berduaan di kamar bersama pemuda tampan yang tak Iain adalah Rangga. Dia merasa tak memiliki jarak lagi dengan lelaki tersebut. Dia juga tak akan menolak jika Rangga mencumbunya. Namun setiap kali perasaan itu bergejolak dan menggoda di dadanya setiap kali itu pula dia harus menelan kekecewaannya. Rangga seolah tak punya keinginan sedikit pun untuk melakukannya.
Pandan Wangi menggerakkan tubuhnya. Gerakan tubuh yang gemulai itu sedikit membuat jantung Rangga berdetak kencang. Pandan Wangi seperti sengaja berbaring miring, hingga lekuk pinggulnya begitu indah dipandang mata. Seperti sengaja pula, gadis itu mem-biarkan bagian belahan baju di dadanya sedikit terbuka. Buah dadanya yang mengembung mengintip ke luar mengundang gairah.
"Kalau sudah mengantuk, tidur saja," kata Rangga mencoba mengalihkan perasaannya.
"Kau tidak tidur, Kakang?" lembut suara Pandan Wangi
"Tidak," Rangga menjawab pelahan.
Pendekar Rajawali Sakti itu membalikkan tubuhnya, kembali menatap ke luar.
"Sejak kembali siang tadi, kau kelihatan berubah. Aku yakin ada sesuatu yang kau pikirkan," kata Pandan Wangi seraya beringsut. Dia duduk memeluk lututnya di tepi pembaringan.
"Kau yakin?" tanya Rangga sambil membalikkan badannya kembali
"Apa aku harus menebak?"
Rangga mengangkat bahunya, dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap jendela. Kedua tangannya ber-topang pada kayu jendela yang terbuka. Apa yang tersirat di hatinya adalah mengakui kebenaran dugaan Pandan Wangi.
Peristiwa yang dialami Ki Sukirah masih membekas dan membayang di hatinya, belum lagi sikap anak gadisnya yang ketus dan seperti tak menganggap apa yang telah dia lakukan untuk ayahnya.
Dan semua yang mengganggu pikirannya, diperhatikan benar oleh Pandan Wangi. Gadis itu mempunyai naluri dan perasaan yang tajam. Kebersamaan telah membuahkan perasaan seperti itu di antara mereka.
"Sore tadi aku mendengar ada beberapa orang mencarimu, Mereka memang tidak menyebutkan namamu, tapi dari ciri-ciri yang mereka katakan, aku yakin, Kakanglah yang telah mereka cari!" kata Pandan Wangi.
"Berapa orang?" tanya Rangga tetap memandang ke luar lewat jendela.
"Banyak juga, ada sekitar sepuluh orang."
Gadis itu bangkit dan menghampiri Rangga. Dia berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Pandangannya juga mengarah ke luar yang diliputi sinar rembulan yang tampak mulai redup. Sunyi, tak terlihat seorang pun di luar sana. Hanya pelita kecil saja yang kelihatan berkelap-kelip dari rumah-rumah di sekitar penginapan ini.
Kesunyian malam itu mendadak terpecah oleh suara derap langkah kaki kuda. Dan tempat Rangga dan Pandan Wangi berdiri, terlihat jelas serombongan orang berkuda seperti mengontrol dan mengawasi keadaan di sekitarnya.
Rombongan orang berkuda itu berhenti tepat di depan penginapan. Terlihat oleh dua pendekar muda itu, salah seorang dari mereka melompat turun dari punggung kudanya. Laki-laki tua yang berbaju merah itu melangkah masuk ke penginapan. Sementara yang lainnya menunggui di atas punggung kudanya masing masing. Beberapa saat lamanya suasana di luar penginapan itu hening. Rangga terus memperhatikannya hingga lelaki itu ke luar lagi diringi pemilik penginapan.
"Ayo, kita kembali. Anak setan itu tidak ada di sini!" kata laki-laki tua berbaju merah yang tak lain Demung Pari. "Ingat, Ki Parung. Kalau kau melihat orang yang telah ku-sebutkan ciri-cirinya tadi, cepat kau beritahu aku, mengerti?!"
"Hamba pasti akan melaporkannya, Gusti," sahut Ki Parung, pemilik rumah penginapan itu.
Demung Pari melompat ringan ke atas punggung kuda-nya. Rombongan yang berjumlah sepuluh orang itu segera menggebah kudanya meninggalkan Ki Parung yang masih berdiri memandang kepergian mereka.
"Mereka mencarimu, Kakang," kata Pandan Wangi yang sejak tadi turut memperhatikan.
"Hm...," Rangga hanya bergumam pendek.
Dalam keremangan cahaya rembulan, Rangga masih bisa mengenali kalau salah seorang di antara mereka adalah orang yang sempat bentrok dengannya, setelah gagal menganiaya Ki Sukirah. Rangga mengerutkan keningnya. Dilihat dari pakaiannya, mereka seperti para prajurit kerajaan.
Apakah mereka orang-orang kerajaan? Kerajaan mana? Perkampungan ini tak lebih dari sebuah kadipaten.
"Tentu ada persoalan, hingga mencarimu," kata Pandan Wangi setengah bergumam.
__ADS_1
"Memang...," desah Rangga pelahan.
"Kenapa tidak kau ceritakan?"
Rangga lagi lagi tersenyum, senyum yang menampakkan godaan. Seolah-olah memberikan teka-teki yang harus ditebak sendiri oleh Pandan Wangi. Dia berbalik dan me-langkah mendekati pembaringan. Sambil mendesah panjang, Pendekar Rajawali Sakti itu membaringkan tubuh-nya di pembaringan yang beralaskan kain merah muda.
"Besok aku ceritakan, sekarang aku mau tidur," kata Rangga seraya memejamkan matanya.
"Hehhh...," Pandan Wangi menaikkan pundaknya. Dia pun segera melangkah mendekati pembaringan.
********************
Sementara itu di rumah Ki Sukirah, hujan tangis terdengar memilukan. Wulan menangis di tempat tidurnya, juga Nyi Sukirah yang terduduk di tepi pembaringan. Orang yang begitu mereka cintai dan menjadi tumpuan hidup mereka, diseret paksa oleh orang orang Wira Perakin.
Ki Sukirah tak berdaya. Dia mencoba menentang apa yang diperbuat Kebo Rimang yang menyuruhnya menghadap Wira Perakin, dan akibatnya, tubuh laki-laki tua itu tak henti-hentinya menerima pukulan dan tendangan.
"Itu semua gara-gara aku...," rintih Wulan di sela-sela tangisnya.
"Sudahlah, Wulan," Nyi Sukirah terisak. "Kau benar, kita memang orang kecil. Tapi kita punya harga diri. Ibu sendiri sebenarnya tidak rela kalau kau menerima pinangan Gusti Wira Perakin."
"Tapi, Bu.... Ayah...," suara Wulan tersekat di tenggorokan.
"Ayahmu memang laki-laki ksatria. Dia rela mati demi membela kehormatan keluarganya. Sebaiknya kita berdoa saja agar ayahmu selamat," kata Nyi Sukirah mencoba tabah.
"Bu...," Wulan bangkit dan memeluk ibunya. Kembali tangisnya pecah di pelukan ibunya.
Nyi Sukirah membiarkan anak gadisnya menangis. Sementara air mata Nyi Sukirah kering sudah, tak ada lagi yang bisa mengalir membasahi pipinya. Pengalaman hidup dan penderitaan panjang yang telah dilaluinya bersama suaminya, membuatnya tak bisa lagi menangis terlalu lama!
Perlahan-lahan Wulan melepaskan pelukannya. Dia menyusut air matanya dengan ujung baju. Mata yang sembab memerah, menatap lurus ke bola mata perempuan tua yang telah melahirkan dan membesar-kannya. Tak terdengar lagi isak tangis dari bibirnya. Ketabahan hati ibunya seolah menyadarkannya bahwa nasib tak perlu ditangisi, melainkan harus diubah sekuat tenaga dengan kemampuan sendiri!
"Keringkan air matamu, Wulan. Tegarkan hatimu menerima cobaan hidup. Ibu yakin, Tuhan Yang Maha Kuasa akan menolong umatnya yang Iemah," kata Nyi Sukirah pelan. Bibirnya yang keriput pucat, menyunggingkan senyum bergetar.
"Maafkan Wulan, Bu," desah Wulan lirih.
"Sudahlah, cepat atau lambat Wira Perakin pasti akan membawamu juga."
"Tidak! Lebih balk aku mati daripada menjadi istri tua bangka Wira Perakin," geram Wulan.
"Itu bukan jalan yang terbaik, Wulan. Apa pun alasanmu perbuatan nekad seperti itu jelas tak akan membuat lega orang yang kau tinggalkan."
"Lalu, apa yang harus kuperbuat, Bu?"
"Entahlah, Wulan. Mungkin yang terbaik berserah diri pada kekuasaan Tuhan."
"Aku akan melawan mereka, Bu," tegar nada suara Wulan.
"Dengan cara apa?" tanya Nyi Sukirah.
Wulan terdiam. Dia sendiri tidak tahu apa yang diperbuatnya. Dia sadar benar siapa dirinya, seorang gadis dusun yang tak punya kekuatan dan kesaktian apa-apa. Nyi Sukirah pun terdiam. Dia memaklumi benar kalau ucapan anaknya keluar dari hatinya yang kalut.
Wulan bangkit dari pembaringan. Dia melangkah mendekati jendela yang terbuka sebagian. Tangannya mendorong daun jendela agar terbuka lebih lebar. Kedua bola matanya menatap lurus pada sang dewi malam yang ber-sinar penuh memancarkan cahaya indah keemasan. Namun di mata Wulan, cahaya bulan itu begitu redup, seakan ikut berduka akan nasib yang menimpa dirinya.
"Kang Dimas...," Wulan mendesis lirih.
Gadis itu teringat satu nama. Ya..., hanya pada Dimas dia bisa mengadu. Hanya pada pemuda yang dicintainya itu dia bisa berlindung. Hanya Dimas satu-satunya harapan Wulan yang akan bisa mengatasi kemelut yang kini tengah menimpa dirinya.
"Bu...," panggil Wulan seraya berbalik.
__ADS_1
Nyi Sukirah memandang wajah putrinya yang kini mulai nampak bersinar dan ada cahaya harapan. Dia sudah mantap dengan kata-kata hatinya yang mendadak saja muncul begitu nama Dimas bergetar di lidahnya.
"Ada apa?" tanya Nyi Sukirah lembut.
"Kira-kira Kang Dimas di mana ya?" Wulan seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Untuk apa kau bertanya begitu?" Nyi Sukirah bertanya tak mengerti. Tapi hati perempuan itu sudah bisa meraba ke mana arah ucapan anaknya.
"Aku ingin mencarinya, Bu," kata Wulan.
"Wulan...," Nyi Sukirah menggeleng-gelengkan kepalanya. Naluri keibuannya begitu tersentuh oleh tekad anaknya yang muncul tiba-tiba.
Hubungan antara Wulan dan Dimas memang bukan rahasia lagi. Semua orang tahu itu. Juga mereka tahu sejarah hidup Dimas yang kelam. Kakak perempuan satu-satunya pengganti orang tuanya yang telah tiada, mati ter-bunuh setelah lebih dulu diperkosa secara bergiliran oleh lima laki-laki berandal. Tidak ada yang melihat kejadi-an itu, kecuali Dimas sendiri.
Sejak peristiwa naas yang menimpa kakak perempuan satu-satunya itu, Dimas lantas menghilang dari desa ini. Dan saat orang sudah melupakan peristiwa lima belas tahun yang silam itu, Dimas muncul kembali. Dia datang pada Ki Sukirah dan keluarganya, keluarga yang memberinya hidup, meskipun hanya untuk sekedar sesuap nasi.
Ki Sukirah puluhan tahun silam memang termasuk orang yang cukup berada dan terpandang di desanya. Namun nasib hidupnya benar benar bagai roda pedati yang berputar. Nasib tragis menimpa dirinya, dia jatuh miskin setelah hartanya dirampas oleh Wira Perakin dan orang-orangnya. Dia tak punya daya untuk melawan. Rumahnya kini dijadikan tempat tinggal Wira Perakin, dan terpaksa Ki Sukirah dan keluarganya menempati gubuk reot yang dulunya ditempati Dimas dan kakak perempuannya.
Mengingat kejadian itu, hati Nyi Sukirah kembali terasa remuk redam. Ingin rasanya dia berbuat yang sama seperti yang diinginkan anaknya, mati meninggalkan dunia yang begitu kejam menderanya. Dan itu memang kesalahan suaminya, Ki Sukirah kalah main judi dengan Wira Perakin, terus kalah dan kalah, hingga kemiskinan kini setia menemani kehidupannya. Dan kini keganasan siap menerkam mereka, keangkaramurkaan Wira Perakin atas penolakan pinangannya pada Wulan...
********************
Sepanjang malam yang larut hingga menjelang dini hari, tak sekejap pun Wulan bisa memejamkan matanya. Seperti ada kekuatan dan dorongan yang menggerakkan hatinya, manakala benaknya terisi oleh bayangan Dimas, kekasih hatinya. Ya, kekuatan dan dorongan untuk lari dari kenyataan yang tak berapa lama lagi akan dihadapinya, menjadi istri Wira Perakin.
Tepat ketika terdengar oleh telinganya suara ayam jantan berkokok, Wulan merangkak turun dari pembaringan. Sebentar dia duduk di tepi pembaringan, ke-mudian melangkah turun mendekati lemari kayu. Pelan-pelan Wulan membuka lemari pakaiannya, lalu mengeluar-kan beberapa potong pakaian, dan membuntalnya dengan kain. Hatinya sudah bulat, dia harus meninggalkan tanah kelahlrannya, meninggalkan kedua orang tua yang teramat dicintainya!
Pelan-pelan Wulan melangkah ke luar dari kamarnya. Buntalan pakaian dan sedikit bekal tersandang di bahunya. Dia terus melangkah dan berhenti di depan kamar ibunya. Wulan sejenak terpaku di depan pintu kamar itu.
"Maafkan Wulan, Bu. Terpaksa Wulan meninggalkan Ibu," bisiknya pelan.
Gadis itu menempelkan tangannya pada daun pintu, kemudian dia berbalik dan melangkah ke luar. Udara dingin berseiimut kabut menyongsong tubuh gadis ramping itu, begitu kakinya menjejak tanah di luar rumah. Dengan kebulatan hatinya, Wulan berjalan cepat-cepat meninggalkan rumahnya.
Sebentar dia berhenti dan menoleh ke belakang, kemudian terus berlari ke arah Utara, ke arah mana dulu kekasihnya pergi. Pergi meninggalkan dirinya untuk membalaskan kematian kakaknya.
Kegelapan malam masih menyelimuti sekitarnya. Matahari belum lagi menampakkan diri. Wulan melangkah pelan begitu sampai di tepi hutan yang meng hadang di depan. Kakinya bergetar begitu melangkah memasuki hutan yang lebat dan terselimuti kabut tebal.
"Grrr...!"
"Akh...!" Wulan terpekik ketika tiba-tiba terdengar suara menggeram keras. Gadis itu berdiri terpaku. Kedua matanya membelalak lebar menembus kegelapan malam di pagi buta ini. Seluruh tubuhnya gemetaran bersimbah peluh. Suara menggeram itu semakin keras dan jelas, seakan-akan begitu dekat dengan dirinya.
"Oh!" Wulan semakin ketakutan begitu dari semak belukar terlihat sepasang bola mata bersinar bergerak maju ke arahnya.
Semakin lama semakin jelas terlihat. Dua bola mata yang bersinar itu ternyata sepasang mata seekor harimau besar! Binatang buas itu menggeram beberapa kali, membuat Wulan semakin lemas gemetaran. Harimau itu mendekam, tapi sepasang bola matanya tetap menatap Wulan yang semakin lemas ketakutan.
Wulan menguatkan hatinya untuk melangkah mundur, tapi raja hutan itu menggeram bangun melihat calon mangsanya bergerak. Lagi-lagi gadis itu memekik tertahan. Kedua lututnya terasa lemas tak bisa digerakkan. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Wulan sudah pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya.
"Auuummm...!" Harimau itu mengaum dahsyat.
"Tolooong...!" jerit Wulan melengking. "Tolooong...," Wulan merasakan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dia benar-benar takut melihat harimau itu berjalan menghampirinya. Lalu...
Binatang buas itu benar-benar melompat kearah Wulan yang sudah sangat ketakutan! Dan... gadis itu terjatuh lemas sebelum sang raja rimba mencapai tubuhnya...
Bug!
Sebuah baru sebesar kepala bayi menimpa kepala harimau, tepat ketika cakarnya nyaris merobek kulit tubuh Wulan yang tergeletak pingsan! Si raja rimba itu menggeram sesaat, lalu tubuhnya terjajar ke samping, dan secepat kilat sesosok bayangan putih berkeiebat menyambar tubuh Wulan.
"Grrr...!" Harimau itu menggeram keras.
__ADS_1
********************