
Rangga tidak langsung kembali ke Kadipaten Karang Asem. Dia mengajak Pandan Wangi untuk melihat benteng yang sama persis di sebelah Timur Hutan Tarik ini. Keadaan hutan yang banyak lembah dan bukitnya memang sulit untuk dikenali bagian-bagiannya. Pendekar Rajawali Sakti itu tertegun sejenak memandang ke dasar lembah di depannya.
Tampak benteng yang kemarin malam dia lihat, kini sudah jadi puing-puing. Asap tipis masih mengepul dari bara api. Seluruh bangunan benteng itu hangus terbakar. Tapi anehnya, tidak ada satu mayat pun yang kelihatan. Rangga memandang Pandan Wangi yang berdiri di sebelahnya. Gadis itu juga memandang padanya.
"Mereka pasti sudah ada di Kadipaten Karang Asem sekarang," kata Pandan Wangi.
"Hebat! Ini pasti pekerjaan Iblis Wajah Seribu," gumam Rangga memuji.
"lblis Wajah Seribu...?!" Pandan Wangi mendelik kaget.
"Ya. beberapa kali aku sempat terkecoh. Kemarin malam pun aku dikecoh hingga sampai ke sini," Rangga mengakui.
"Jadi...!?"
"Dia menyamar jadi dirimu."
"Iblis!" geram Pandan Wangi. Sesaat mereka diam merenung. "Aku harus membunuh perempuan iblis itu, Kakang!" tekad Pandan Wangi.
Rangga hanya tersenyum saja. Dia tidak mengecilkan kepandaian Pandan Wangi. Tapi Iblis Wajah Seribu bukanlah tandingan gadis itu. Selain bisa merubah wajahnya, Iblis Wajah Seribu juga sangat tinggi tingkat kepandaiannya.
"Ayo, Kakang. Kita harus segera ke Kadipaten Karang Asem!" ajak Pandan Wangi.
"Tunggu..!" sentak Rangga tiba-tiba.
Pada saat itu, muncul Arya Duta dengan tergopoh-gopoh. Pakaiannya compang camping. Pemuda itu langsung terjatuh begitu sampai di depan Rangga dan Pandan Wangi. Rangga segera membantu Arya Duta berdiri.
"Ada apa?" tanya Rangga.
"Tolong, pasukanku habis terbantai di tepi hutan..," sahut Arya Duta tersendat-sendat.
Sejenak Rangga menatap Pandan Wangi. Tanpa bicara lagi, gadis itu segera melompat cepat meninggalkan kedua pemuda itu. Rangga langsung mengikuti. Tapi....
"Pandan, tunggu!" teriak Rangga keras.
Pandan Wangi langsung menghentikan larinya.
"Cepat kembali!" seru Rangga.
Secepat kilat, Rangga melompat ke tepi lembah di sebelah Timur Hutan Tarik. Pandan Wangi yang sempat kebingungan, langsung mengikuti. Mereka terperanjat, karena Arya Duta yang ditinggalkan, kini sudah tidak ada lagi. Sesaat mereka berpandangan.
"Sial! Iblis itu mengecohkan kita!" umpat Rangga.
Pandan Wangi menatap Rangga lekat-lekat.
"Ayo, kita langsung ke kadipaten. Dia pasti sengaja mau menghambat perjalanan kita!" kata Rangga.
Kedua pendekar itu segera melompat dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Sekejap saja tubuh mereka sudah lenyap seperti ditelan bumi. Sementara itu dari balik pohon besar, muncul seorang wanita cantik dengan mengenakan baju kuning. Ditangannya tergenggam selembar pakaian lusuh compang-camping. Bibirnya menyunggingkan senyum, lalu melenting kearah mana kedua pendekar itu pergi.
********************
Sementara itu di Kadipaten Karang Asem, Rakapati berhasil melumpuhkan pertahanan kadipaten, termasuk Braja Duta yang tewas setelah cukup lama bertahan menghadapi pasukan kepercayaan Rakapati. Setelah itu Rakapati menerobos masuk ke dalam bangunan utama kadipaten. Wajahnya menegang begitu pintu sebuah kamar berhasil didobrak. Tampak, Adipati Prahasta duduk tenang di tengah-tengah ruangan pribadinya. Rakapati mengayunkan langkahnya mendekati adipati itu yang juga ayah tirinya.
"Aku sudah menduga, kau yang ada di belakang semua kejadian ini," kata Adipati Prahasta pelan dan datar suaranya.
"Karang Asem sudah aku kuasai, dan sebentar lagi Kerajaan Karang Asem akan berdiri kembali. Akulah Raja Karang Asem yang syah! Dan kau, Prahasta, kau harus mati di tiang gantungan seperti penjahat!" dingin dan kedengaran tertekan suara Rakapati.
Rakapati menggerakkan tangannya. Dua orang berpakaian serba hitam segera masuk. Tanpa menunggu perintah lagi, mereka langsung meringkus Adipati Prahasta. Laki-laki gemuk itu tidak sedikitpun memberikan perlawanan. Tangan dan tubuhnya diikat tambang.
Baru saja Rakapati hendak menghampiri Adipati Prahasta, tiba-tiba seorang berpakaian hitam lainnya datang. Dia berbisik di telinga Rakapati. Sesaat Rakapati memandang ke arah Adipati Prahasta, kemudian dia menoleh pada orang yang berbisik di telinganya tadi.
"Suruh dia tunggu di Balai Agung," kata Rakapati.
Rakapati kemudian memerintahkan beberapa orang untuk menjaga Adipati Prahasta. Kemudian dia bergegas ke luar kamar itu. Langkahnya lebar-lebar dan terburu-buru menuju ke Balai Agung. Dia tidak menoleh sedikitpun saat memasuki ruangan besar yang indah itu. Rakapati langsung menuju ke kursi yang letaknya tinggi dengan ukiran berlapiskan emas. Dia duduk di kursi itu dengan sikap agung bagai seorang raja besar. Sesaat matanya merayapi sekitarnya, kemudian pandangannya menatap pada dua laki-laki yang duduk bersimpuh di depannya. Kedua orang laki-laki itu adalah Balungpati dan Welut Putih.
Balungpati dan Welut Putih memberikan sembah hormat. Rakapati mengangkat tangannya sedikit. Di belakang Balungpati dan Welut Putih, duduk empat orang berpakaian serba hitam. Mereka adalah Setan Cakar Racun, Iblis Kembar Teluk Naga dan Perempuan Iblis Peminum Darah.
Rakapati tersenyum lebar penuh kemenangan. Dia berhasil menguasai Kadipaten Karang Asem tanpa perlawanan yang berarti. Pasukannya terlalu tangguh bagi para pengawal kadipaten, sehingga dengan mudah dapat ditundukkan.
"Hamba membawa sekitar tiga ratus orang prajurit Gusti." kata Balungpati sambil menyembah.
"Hm, bagus!" dengus Rakapati gembira.
"Apakah mereka akan setia padaku?"
"Mereka orang-orang pilihan hamba. Dan sebagian besar adalah murid-murid dari Welut Putih," Balungpati menoleh pada Welut Putih yang duduk di sampingnya.
"Benar, Gusti. Hamba sudah lama sekali menunggu kesempatan ini. Hamba dan Kakang Balungpati memang sengaja menjadi prajurit di Kadipaten Karang Asem ini. Hamba selalu berharap dan mempersiapkan para pemuda dan prajurit-prajurit yang setia pada junjungan Gusti Prabu Sirandana. Mereka semua dapat diandalkan, Gusti. Hamba sendiri yang melatih mereka semua," kata Welut Putih menjelaskan.
"Terima kasih. Aku terharu sekali dengan kesetiaan Paman berdua. Maaf, kalau aku sempat mencurigai kalian dan membenci karena kalian mengabdi pada musuh," Rakapati bersikap berjiwa besar. "Aku janji, tidak akan melupakan jasa-jasa kalian yang telah banyak memberikan keterangan berharga padaku."
Balungpati dan Welut Putih segera memberi hormat.
"Nah, mulai sekarang, aku serahkan kepemimpinan prajurit pada paman berdua." kata Rakapati.
"Hamba laksanakan, Gusti." sahut Balungpati dan Welut Putih berbarengan.
"Atur penjagaan, dan sapu bersih setiap prajurit Limbangan yang ditemui."
Balungpati dan Welut Putih kembali memberikan sembah. Kemudian mereka beringsut pergi dari ruangan besar itu. Rakapati memandangi empat orang berpakaian serba hitam yang masih duduk bersimpuh di lantai. Mereka segera berdiri dan mengambil tempat duduk di kursi yang berjajar rapi di depan Rakapati duduk.
__ADS_1
"Aku minta kalian semua masih tetap tinggal di sini untuk beberapa saat. Aku khawatir Panglima Lohgender dan Arya Duta menyerang ke sini. Mereka harus mati, juga semua prajurit Limbangan harus mati." kata Rakapati.
"Jangan khawatir, tanpa prajurit pun aku sanggup menghabiskan mereka," kata Naga Hitam, salah satu dari Iblis Kembar Teluk Naga.
"Aku percaya, kalian adalah tokoh-tokoh sakti pilih tanding. Tapi jangan anggap remeh Panglima Lohgender. Dia juga sukar dicari tandingannya."
"Serahkan dia padaku!" Perempuan Iblis Peminum Darah menepuk dada sambil terkekeh.
Rakapati tersenyum senang. Kemudian dia bangkit berdiri, dan meninggalkan ruangan itu. Empat orang tokoh hitam rimba persilatan itu segera angkat kaki. Mereka membuka baju hitam yang dikenakan, dan membuangnya begitu saja. Mereka memang lebih senang mengenakan pakaian yang sudah menjadi ciri khas mereka sendiri-sendiri.
********************
Panglima Lohgender yang sudah bergabung dengan Arya Duta, tiba di perbatasan Kadipaten Karang Asem dengan Hutan Tarik. Hampir enam ratus orang prajurit mengikuti dari belakang. Mereka terus bergerak langsung menuju kediaman Adipati Prahasta. Panglima Lohgender merasakan suatu keanehan. Sepanjang jalan yang dilalui tampak sepi. Tak seorang penduduk pun dijumpai. Semua rumah tertutup rapat Arya Duta juga merasakan hal yang sama.
Arya Duta mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia melompat dari punggung kudanya diikuti para prajurit yang berada dibelakangnya. Keadaan ganjil ini membuat Arya Duta dan Panglima Lohgender bersikap lebih waspada. Panglima Lohgender memerintahkan sepuluh prajurit untuk memeriksa keadaan. Namun baru saja mereka melangkah beberapa depa, puluhan anak panah meluncur dengan cepat ke arah mereka, hingga tak ayal lagi tubuh-tubuh mereka roboh satu per satu dengan jeritan tertahan.
"Setan!" geram Arya Duta melihat sepuluh orang prajuritnya langsung tewas tertembus anak panah.
Seketika itu juga dari balik pepohonan dan rumah-rumah penduduk serta gerumbul semak belukar, bermunculan orang-orang berpakaian serba hitam. Mereka berlompatan dan berlarian menyerang.
"Serang...!" teriak Arya Duta keras.
Pertempuran tak dapat dihindari. Para prajurit Kerajaan Limbangan bertempur bagai singa lapar dan terluka. Setiap tebasan pedang atau hunjaman tombak, selalu meminta nyawa. Pekik peperangan dan jerit kematian berbaur jadi satu. Tubuh-tubuh bersimbah darah bergelimpangan tak tentu arah. Dekat perbatasan Kadipaten Karang Asem berubah jadi ajang pertempuran. Denting senjata dan desingan anak panah hiruk pikuk membelah udara. Tak terhitung lagi, berapa korban yang jatuh di kedua belah pihak.
"Welut Putih!" Arya Duta tersentak melihat Welut Putih datang dan langsung menyerang para prajurit Kerajaan Limbangan.
Arya Duta melentingkan tubuhnya ke arah Welut Putih. Pedangnya langsung berkelebat dengan cepat Welut Putih terperangah sejenak, langsung dia melompat menghindari tebasan pedang Arya Duta. Mereka berhadapan saling tatap dengan sinar mata merah membara.
"Pengkhianat!" geram Arya Duta.
"Hhh! Kau lupa, Arya Duta. Aku putra Karang Asem," balas Welut Putih mendesis.
"Seharusnya sejak semula aku mencurigaimu, Welut Putih."
"Terlambat, karena sebentar lagi kau akan mati! Juga seluruh prajuritmu!"
"Setan! Kubunuh kau, pengkhianat!" geram Arya Duta.
Arya Duta langsung menerjang dengan garang. Pedangnya berkelebatan cepat mengurung tubuh Welut Putih. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, keduanya telah mengerahkan puluhan jurus andalannya. Saat memasuki jurus ketiga puluh, tampak Welut Putih kelihatan mulai terdesak. Welut Putih memang bukan tandingan Arya Duta. Dia bisa berbangga di Kadipaten Karang Asem, tapi tingkat kepandaiannya masih berada di bawah anak angkat Panglima Kerajaan Limbangan itu.
"mampu kau..!" bentak Arya Duta tiba-tiba. Seketika kakinya melayang mengarah ke dada Welut Putih yang sedikit lowong. Welut Putih menangkis dengan mengibaskan senjatanya, namun rupanya tendangan itu hanyalah tipuan belaka, karena Arya Duta segera menarik kakinya dibarengi dengan kibasan pedang ke arah leher.
Crash!
"Aaakh...!" Welut Putih mengerang panjang. Darah langsung muncrat dari leher yang terbabat menganga lebar, lalu tubuh itu tersuruk jatuh ke tanah. Sebentar menggelepar, kemudian diam tak bergerak lagi. Welut Putih mati mengenaskan oleh tebasan pedang orang yang pernah menghormatinya dengan panggilan paman.
"Manusia buduk, aku lawanmu!" Terdengar bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam.
"He... he... he ... seharusnya aku serahkan pada Iblis Wajah Seribu dia pasti senang padamu." Setan Cakar Racun terkekeh melihat ketampanan wajah Arya Duta.
"Phuih! Jangan banyak bacot kau iblis! Majulah, kalau kau mau merasakan pedangku!" dengus Arya Duta.
Satu bayangan kuning tiba-tiba saja meluncur, dan men-dadak sudah berdiri di samping Setan Cakar Racun seorang perempuan cantik mengenakan baju kuning dengan bunga terselip di telinganya. Baju yang ketat, membentuk tubuh ramping indah, membuat mata Arya Duta tak sempat berkedip memandangnya.
"Ah, baru terniat di hatiku, kau sudah datang." sambut Setan Cakar Racun menyeringai melihat Klenting Kuning atau Iblis Wajah Seribu sudah berdiri di sampingnya.
"Terima kasih, kau tahu benar seleraku," sahut Klenting Kuning tersenyum manis.
Klenting Kuning menatap Arya Duta tak berkedip. Wajah tampan itu membuat seleranya bangkit penuh gejolak. Beberapa kali Klenting Kuning menelan ludahnya sendiri. Dia memang selalu bergairah jika melihat pemuda tampan, apalagi yang memiliki tingkal kepandaian tinggi, gairahnya langsung bangkit seketika.
"Aku tinggal dulu, Manis. Bersenang-senanglah kalian." kata Setan Cakar Racun langsung mencelat pergi. Suara terkekeh terdengar dari mulutnya yang tipis kecil.
"Hm..., siapa namamu, bocah bagus?" tanya Klenting Kuning lembut sambil mengulas senyum menggoda.
"Jangan coba-coba merayuku, perempuan iblis!" dengus Arya Duta. "Aku tidak peduli dengan kecantikan wajahmu, siapa saja yang berada di belakang Rakapati, harus ****** di ujung pedangku!"
"Ha... ha... ha...," Klenting Kuning tertawa renyah. "Aku suka pemuda tampan sepertimu"
"Phuih!"
Arya Duta langsung berteriak nyaring melengking. Tubuhnya melenting tinggi ke udara, lalu dengan cepat menukik sambil mengibaskan pedangnya beberapa kali. Klenting Kuning hanya memekik manja, dia memiringkan tubuhnya sedikit hingga pedang Arya Duta hanya menyambar angin.
Klenting Kuning masih menyunggingkan senyuman manis menggoda. Gerakan tubuhnya amat gemulai. Dia seolah menganggap remeh lawannya. Meskipun begitu, belum sedikitpun ujung pedang Arya Duta menyentuh ujung rambutnya. Setiap kali pedang Arya Duta berkelebat cepat. Klenting Kuning hanya berkelit sedikit dengan gerakan lemah gemulai. Tanpa terasa, pertarungan sudah berlangsung lebih dari sepuluh jurus.
"Hiyaaa...!" tiba-tiba Arya Duta berteriak nyaring. Sambil melompat, dia mengibaskan pedangnya dengan cepat. Klenting Kuning memekik manja, dia segera mundur, dan kibasan pedang Arya Duta kembali menemui tempat kosong. Pada saat tubuh pemuda itu masih berada di atas, seketika tangan Klenting Kuning mendorong ke arah tubuh pemuda itu. Seberkas sinar kehijauan meluncur deras.
"Akh!" Arya Duta memekik tertahan.
Tanpa dapat dicegah lagi. Jarum hijau yang dilepaskan Klenting Kuning menembus dadanya. Arya Duta langsung jatuh roboh tak berkutik. Tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Klenting Kuning semakin lebar senyumnya. Dia melangkah menghampiri tubuh pemuda itu. Hanya dengan sekali angkat saja, tubuh Arya Duta sudah berada di dalam kempitannya.
"Kita akan bersenang-senang dulu, bocah bagus," kata Klenting Kuning seraya mencelat kabur.
"Arya Duta...!" seru Panglima Lohgender.
Panglima Kerajaan Limbangan itu segera melompat hendak menyerang, namun beberapa orang berpakaian serba hitam sudah lebih dulu menghadangnya. Terpaksa Panglima Lohgender harus melayani para penyerangnya. Perhatiannya pada Arya Duta jadi terganggu.
********************
Saat itu Rangga dan Pandan Wangi sudah tiba di Kadipaten Karang Asem. Mereka terkejut melihat per-tempuran sudah berjalan sengit. Tampak Panglima Lohgender bertarung bagai banteng teriuka sambil berteriak-teriak memberi semangat pada para prajuritnya. Rangga menahan tangan Pandan Wangi yang mau terjun ke kancah pertempuran.
__ADS_1
"Ingat, Pandan. Jangan campuri urusan mereka. Kita baru terjun kalau ada tokoh rimba persilatan ikut campur," kata Rangga.
Belum juga Pandan Wangi membuka mulut, matanya langsung menangkap dua orang laki-laki kembar berkelebatan cepat menghajar para prajurit Kerajaan Limbangan.
Tanpa menunggu lagi, gadis itu segera mengibaskan cekalan tangan Rangga. Bagai anak panah lepas dari busurnya, Pandan Wangi langsung melentingkan tubuhnya ke arah dua orang kembar itu.
Kedatangan Pandan Wangi membuat Iblis Kembar Teluk Naga terkejut. Apalagi gadis itu langsung menyerangnya. Pandan Wangi sengaja membawa mereka ke luar dari arena pertempuran. Mereka bertarung di luar dari para prajurit yang saling baku hantam. Pandan Wangi bertempur dengan menggunakan kipas baja saktinya.
Beberapa kali si Kipas Maut itu mematahkan serangan-serangan Iblis Kembar Teluk Naga, sehingga membuat tokoh kembar itu kerepotan menghadapinya. Tapi pada jurus-jurus selanjutnya, kelihatan sekali kalau keadaan ber-balik. Pandan Wangi kini jadi kewalahan, dan selalu terdesak. Kerjasama tokoh kembar itu sangat rapi dan saling susul serangannya.
"Pandan, gunakan Pedang Naga Geni!" teriak Rangga.
Rangga yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan, bisa mengetahui kalau Pandan Wangi sudah sangat terdesak sekali. Tapi dia tidak mau ikut campur membela gadis itu. Rangga berpegang teguh pada prinsipnya sebagai seorang pendekar.
Sret!
Iblis Kembar Teluk Naga langsung melompat mundur begitu melihat pamor pedang Naga Geni. Udara di sekitar gadis itu mendadak jadi terasa panas.
Pandan Wangi bagaikan sosok malaikat pencabut nyawa dengan pedang Naga Geni di tangannya. Mendadak, Pandan Wangi merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya. Gadis itu merasakan tubuhnya jadi ringan bagaikan kapas. Dan nafsu untuk membunuh mengalir deras merasuk ke dalam tubuhnya tanpa terkendali. Pamor pedang Naga Geni mulai merasuki tubuh dan jiwa gadis itu.
Mendadak saja, Pandan Wangi berteriak nyaring, dan tubuhnya melenting tinggi ke udara. Pedang yang memancarkan sinar merah menyala bagai api itu ber-putar-putar cepat meluruk ke arah Iblis Kembar Teluk Naga.
Iblis Kembar Teluk Naga berlompatan begitu merasakan hawa panas menyambar tubuhnya. Mereka sampai terperangah merasakan kedahsyatan pedang itu. Namun Pandan Wangi tidak lagi memberi kesempatan lagi. Serangan pertama gagal, langsung disusul dengan serangan berikutnya yang tidak kalah cepatnya.
"Awas, Adi Naga Putih...!" teriak Naga Hitam tiba-tiba.
Saat itu Pedang Naga Geni sudah berkelebat cepat membabat ke arah dada Naga Putih. Begitu cepatnya tebasan pedang itu, sehingga membuat Naga Putih tak bisa berbuat apa-apa lagi, dan...
"Aaakh...!" Naga Putih memekik keras.
Darah langsung muncrat ke luar dari dada yang terbelah hangus terbabat pedang Naga Geni di tangan Pandan Wangi. Belum lagi tubuh Naga Putih ambruk ke tanah. Pandan Wangi sudah kembali melenting ke arah Naga Hitam. Tentu saja satu dari Iblis Kembar Teluk Naga itu ter-peranjat bukan main.
"Hih!" Naga Hitam mengangkat senjatanya.
Tring!
Dua senjata beradu keras memercikkan bunga api. Naga Hitam tersentak kaget, karena senjatanya buntung jadi dua bagian. Belum lagi hilang rasa kagetnya, tahu-tahu dia sudah terlempar tinggi ke udara. Kaki Pandan Wangi melayang di udara, secepat kilat Pandan Wangi mencelat mengejar.
"Hiya, hiyaaa...!"
"Aaakh...!" Naga Hitam menjerit melengking. Dua tebasan beruntun memotong tubuh Naga Hitam jadi tiga bagian. Tubuh yang terpotong-potong itu meluruk jatuh ke tanah. Pandan Wangi kembali meluruk turun, dan langsung menghajar orang-orang yang berpakaian hitam. Kegemparan langsung pecah, karena Pandan Wangi bagaikan malaikat pembantai yang sulit dibendung.
"Celaka!" desis Rangga yang selalu memperhatikan gadis itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung melompat menghampiri Pandan Wangi.
“Pandan! Cepat lepaskan pedang itu!" seru Rangga sambil berlompatan menghindari tebasan pedang Pandan Wangi.
"Tidak bisa, Kakang. Pedang ini bergerak sendiri mengendalikan diriku!" sahut Pandan Wangi sedikit terengah.
"Kalian semua menyingkir!" teriak Rangga menyuruh orang-orang yang ada di sekitar Pandan Wangi menyingkir.
Pandan Wangi benar-benar tidak bisa mengendalikan pedang Naga Geni. Dia kini malah menyerang Rangga yang berusaha membawanya menjauh dari arena pertempuran. Pada saat itu, dua sosok tubuh melayang menghampiri. Mereka adalah Perempuan Iblis Peminum Darah dan Setan Cakar Racun. Melihat Pandan Wangi tidak terkendalikan oleh pedangnya sendiri, kedua tokoh hitam itu memanfaatkannya.
"Setan alas! Kalian mau ******, heh!" bentak Rangga geram.
"He... he... he..., Setan Cakar Racun, kau hadapi yang betina. Biar aku yang melayani bocah bagus ini." kata Perempuan Iblis Peminum Darah.
"Tapi ingat, kau jangan membunuhnya. Serahkan dia pada Iblis Wajah Seribu sebagai hadiah," sahut Setan Cakar Racun.
"Phuih! Aku juga senang padanya, biar dia nanti bekasku!"
"Terserah kaulah!"
Setan Cakar Racun segera merangsek Pandan Wangi. Sementara Perempuan Iblis Peminum Darah, langsung menggempur Rangga. Hal ini membuat Pendekar Rajawali Sakti itu jadi muak. Sementara dia juga mengkhawatirkan keadaan Pandan Wangi yang tidak bisa lagi mengendalikan dirinya akibat pengaruh pedang Naga Geni.
Rasa geram yang sudah melanda Rangga, membuat Pendekar Rajawali Sakti itu tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Dia langsung mencabut pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Seketika itu juga cahaya biru berkilau menyemburat terang dari pedang itu. Perempuan Iblis Peminum Darah terkesiap melihat pamor pedang itu.
"mampu kau iblis, hiyaaa...!" teriak Rangga nyaring.
Secepat kilat Rangga mengayunkan pedangnya ke arah tubuh lawannya. Perempuan Iblis yang sempat terperangah, langsung melentingkan tubuhnya menghindar, tapi serangan Rangga yang begitu cepat, masih bisa melukai kaki wanita itu.
"Akh!" Perempuan Iblis Peminum Darah memekik tertahan.
Belum juga dia sempat menginjakkan kakinya ke tanah, Rangga sudah mengibaskan pedangnya kembali. Kali ini jeritan melengking terdengar dari mulut si Perempuan Iblis Peminum Darah. Rangga langsung menolehkan kepalanya ke arah Pandan Wangi.
"Hiya...!"
Pendekar Rajawali Sakti itu melompat cepat bagai kilat seraya mengibaskan pedangnya. Setan Cakar Racun yang tengah kerepotan membendung serangan Pandan Wangi, tidak sempat lagi menghindari terjangan Rangga. Dia menjerit keras begitu merasakan lehernya terbabat pedang.
"Ayo, Pandan. Cepat ikuti aku!" seru Rangga.
Rangga sengaja mengadukan pedangnya dengan pedang Naga Geni di tangan Pandan Wangi. Seketika itu juga, Pandan Wangi mengalihkan perhatiannya pada Rangga yang sudah mencelat pergi ke arah Hutan Tarik. Pandan Wangi yang sudah tidak bisa mengendalikan pengaruh Pedang Naga Geni, langsung saja melompat mengejar Pendekar Rajawali Sakti. Dua tubuh langsung berkejaran menuju ke Hutan Tarik.
Sementara pertarungan antara para prajurit Kerajaan Limbangan yang dipimpin langsung oleh Panglima Lohgender, terus berlangsung sengit. Tapi kini sudah kelihatan kalau para pengikut Rakapati mulai terdesak.
"Panglima, cepat cari Rakapati di dalam!" terdengar suara Rangga menggema, padahal orangnya sudah tidak ada lagi.
Panglima Lohgender tidak terkejut lagi. Dia paham kalau seorang pendekar digdaya, pasti mampu mengirimkan suara tanpa ujud. Segera saja dia melompat ke luar dari kancah pertempuran. Sejenak dia bisa melupakan Arya Duta yang dibawa Iblis Wajah Seribu.
__ADS_1
********************