
Rangga belum bisa memastikan, apakah dia akan membantu Panglima Lohgender atau tidak. Tidak mudah menentukan pihak yang benar dan salah dalam masalah ini. Rangga juga tidak bisa menyalahkan Rakapati seandainya memang benar dia ingin memberontak. Rakapati punya hak untuk mengembalikan kejayaan Kerajaan Karang Asem. Dan Panglima Lohgender juga punya hak untuk mempertahankan kelangsungan hidup Kadipaten Karang Asem.
Siang itu Rangga sengaja menjelajahi Hutan Tarik yang diduga menjadi markas gerombolan pengacau menurut Panglima Lohgender. Langkah kakinya pelan-pelan, namun matanya selalu tajam meneliti sekitarnya. Dia juga mengerahkan Ilmu pembeda gerak dan suara.
"Hm, ada orang di tengah hutan begini. Siapa dia...?" gumam Rangga dalam hati ketika matanya menangkap sesosok tubuh tidak jauh darinya.
Rangga melangkah menghampiri sosok tubuh bungkuk berbaju hitam lusuh itu. Sosok tubuh itu membelakanginya. Sepertinya dia tengah memunguti kayu-kayu kering yang banyak berserakan di sekitar hutan ini. Sosok tubuh itu menoleh saat mendengar langkah-langkah kaki menghampirinya.
"Sampurasun...," sapa Rangga ramah.
"Rampes...," sahut orang itu.
Sejcnak Rangga mengamati orang itu. Seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk kurus dengan rambut yang sudah memutih semua. Namun pancaran sinar matanya begitu tajam. Seikat kayu kering terkepit di ketiaknya.
"Tuan pasti seorang pendekar...," laki-laki tua bungkuk itu menebak langsung. Rangga hanya tersenyum saja.
"Tuan mencari sesuatu di hutan ini?" tanyanya seperti menyelidik.
"Mungkin, Ki...," sahut Rangga terputus.
"Panggil saja aku Ki Rumpung. Orang-orang biasanya memanggilku begitu."
"Ki Rumpung pernah melihat orang-orang berpakaian hitam di sekitar hutan ini?" tanya Rangga langsung.
"Sering, Tuan."
"Sering...?"
"Ya, mereka adalah pasukan budiman yang selalu membela rakyat jelata. Aki tidak merasa terganggu, bahkan mereka sering menolongku mencari kayu bakar atau memborong semua kayu bakar yang aku peroleh."
"Aki tahu siapa mereka?" kejar Rangga.
"Sudah aku katakan, mereka adalah orang-orang budiman yang suka membantu siapa saja yang lemah."
"Maksudku, tempat tinggal mereka...," ralat Rangga.
"Untuk apa kau cari mereka? Apakah kau suruhan dari Kerajaan Limbangan?" Ki Rumpung jadi curiga.
"Bukan, justru aku ingin lebih jelas mengetahui persoalannya sebelum memutuskan untuk berpihak pada yang mana, atau sama sekali tidak memihak keduanya," Rangga menjelaskan.
"Kau pasti Pendekar Rajawali Sakti."
"Dari mana kau tahu, Ki?"
"Semua orang sudah tahu, kalau Panglima Lohgender sedang mencari Pendekar Rajawali Sakti untuk meminta bantuan. Hm..., sayang sekali kau berada di pihak yang salah."
Rangga memandangi kakek tua itu semakin tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ki Rumpung segera berlalu. Rangga sedikit berkerut keningnya begitu melihat laki-laki tua itu berjalan seperti tidak menapak tanah saja.
"Hey...!" tiba-tiba Rangga tersentak.
Secepat kilat dia melompat, tapi saat itu juga tubuh laki-laki tua itu sudah lenyap seperti ditelan bumi. Rangga mengedarkan pandangannya berkeliling. Dia baru menyadari kalau kulit tangan kakek tua itu putih halus seperti tangan seorang wanita, meskipun wajahnya penuh keriput. Dan suaranya.
"Aku seperti pernah mendengar suara itu. Tapi di mana...? Kapan aku mendengar...?" Rangga bertanya-tanya sendiri.
Pendekar Rajawali Sakti itu kembali melanjutkan langkahnya pelan-pelan sambil berpikir terus tentang kakek tua yang ditemuinya tadi. Kata-kata laki-laki tua itu menjadikan beban pikirannya saat ini.
"Pasti dia bukan orang sembarangan. Hm..., siapa dia...?" gumam Rangga dalam hati bertanya-tanya.
Rangga kembali berhenti melangkah ketika sampai di tepi Hutan Tarik ini. Telinganya yang tajam setajam mata pisau, mendengar suara erangan lirih dari arah semak di depannya. Hanya dengan satu lompatan saja, Rangga sudah bisa mencapai semak belukar itu. Matanya mem-beliak lebar begitu menyaksikan seorang laki-laki berpakaian prajurit Kerajaan Limbangan tengah berusaha memperkosa seorang wanita.
"Binatang!" geram Rangga.
Buk!
Hanya sekali tendang saja, laki-laki berpakaian prajurit itu, langsung menggelimpang roboh tak bangun lagi. Dari mulutnya merembes darah kental kehitaman. Wanita muda dengan pakaian sudah sobek-sobek di sana sini, langsung beringsut bangun. Tangannya segera menutupi bagian dada dan beberapa bagian tubuhnya yang terbuka, tapi keadaan kain dan baju yang koyak, tidak bisa menyembunyikan kulit putih mulus dari pandangan Rangga.
"Kau tidak apa-apa...?" tanya Rangga.
"Tidak, terima kasih Tuan telah menyelamatkanku," sahut wanita itu seraya menyusut air matanya.
"Kenapa kau bisa sampai ke sini?" tanya Rangga melirik tubuh laki-laki berpakaian prajurit yang menggeletak tak bernyawa lagi. Rupanya Rangga tadi menendang dengan mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', sehingga membuat laki-laki itu langsung tewas tanpa bersuara lagi.
"Aku sedang mencari Ayahku. Katanya prajurit itu tahu dan mau mengantarkan. Tapi...," wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah, kau sudah selamat sekarang. Sebaiknya kau cepat pulang. Di mana rumahmu?"
"Tidak jauh dari sini. Itu dekat bukit batu," wanita itu menunjuk ke arah Selatan.
Rangga mengarahkan pandangannya ke arah bukit batu yang tidak jauh dari tepi Hutan Tarik ini. Tampak sebuah pondok kecil berdiri di antara batu-batu yang menggunung. Sejak dia berada di sekitar Hutan Tarik ini, sepertinya tidak ada satu rumah pun di bukit batu itu. Bahkan ketika dia ke sini tadi pagi, tidak ada pondok di situ.
Belum sempat Rangga menyadari apa yang terjadi, mendadak dia menoleh menatap wanita itu. Wanita cantik yang hampir diperkosa itu, melingkarkan tangannya pada Rangga. Tidak ada rasa ketakutan lagi. Senyumnya malah mengembang lebar, dan sikapnya manja menggoda. Rangga melepaskan tangan wanita itu yang memegangi lengannya. Dia melangkah mundur beberapa tindak.
"Kau telah menyelamatkan aku, Tuan. Sekarang aku milikmu, kau bisa berbuat apa saja pada diriku," kata wanita itu.
Rangga memandangi wanita itu dengan penuh selidik. Hari ini dia menemukan orang-orang yang dirasakan aneh. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung terlonjak mundur begitu matanya melihat satu noda hitam pada leher wanita itu. Dia pernah melihat noda itu sebelumnya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rangga.
Wanita itu tersenyum manis. Mendadak saja tubuhnya berputar cepat. Semakin lama putarannya semakin cepat, dan terlihat hanya sebuah bayangan saja.
"Iblis Wajah Seribu...." desis Rangga begitu putaran tubuh itu terhenti.
Kini di depan Rangga berdiri seorang wanita cantik mengenakan baju serba kuning. Wajahnya cantik dengan sekuntum bunga terselip di telinga. Rambutnya panjang terikat ke depan. Di pinggangnya terselip sebatang pedang pendek bergagang kepala tengkorak. Dialah Klenting Kuning atau yang lebih dikenal dengan julukan Iblis Wajah Seribu.
"Hebat! Tidak percuma kau dijuluki Pendekar Rajawali Sakti," puji Klenting Kuning mengumbar senyum.
"Untuk apa kau berada di sini, Klenting Kuning?" tanya Rangga ketus.
"Kau sudah bisa menjawab sendiri, Rangga," sahut Klenting Kuning kalem.
"Oh..., jadi kekacauan di Kadipaten Karang Asem, karena ulahmu...?"
"Aku hanya membela kebenaran."
"Kau bicara kebenaran, kebenaran apa yang kau bela?"
"Hak!"
Tanpa dijelaskan lagi, Rangga sudah bisa mengetahui maksud kata-kata Klenting Kuning. Dia kini mengerti kejadian di Kadipaten Karang Asem. Dugaannya sudah tidak bisa dibantah lagi. Rangga bisa memastikan kalau Rakapati yang ada di belakang semua peristiwa itu. Dan alasannya pun sudah pasti, Rakapati ingin merebut kembali Karang Asem, dan mendirikan Kerajaan Karang Asem. Sayangnya, maksud baik itu ditunggangi oieh tokoh-tokoh hitam rimba persilatan, seperti Klenting Kuning ini.
"Kau seorang pendekar yang tangguh dan bijaksana. Pikirkanlah sebelum kau mengambil keputusan membantu Panglima Lohgender!" kata Klenting Kuning.
Sebelum Rangga bisa mengeluarkan suara, Klenting Kuning sudah mencelat pergi. Dalam sekejap mata saja, wanita yang berjuluk Iblis Wajah Seribu itu sudah hilang dari pandangan. Beberapa saat lamanya Rangga masih berdiri mematung memandangi kepergian wanita itu. Kemudian kakinya terayun melangkah menuju ke Kadipaten Karang Asem.
Posisi Pendekar Rajawali Sakti kali ini memang sulit. Dia belum bisa memastikan siapa di antara kedua belah pihak yang bersalah? Hanya Rangga menyesalkan tindakan Rakapati yang bersekutu dengan tokoh-tokoh rimba persilatan golongan hitam. Pendekar Rajawali Sakti itu terus melangkah pelan-pelan dengan kepala dipenuhi ber-bagai macam pikiran.
********************
Dua bayangan berkelebatan di keheningan malam menuju ke arah Timur Hutan Tarik. Tepat di tepi sebuah lembah yang dalam dan lebar, dua sosok tubuh yang berkelebatan itu berhenti. Mereka berdiri tegak memandang ke dalam lembah itu. Tampak sebuah bangunan besar dikelilingi pagar tinggi tebal bagai benteng.
"Kau yakin itu sarang mereka, Pandan?"
__ADS_1
"Ya, begitulah keterangan yang aku dapatkan?"
Dua orang yang ternyata Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut itu terdiam sesaat. Mata mereka tak lepas memandang ke arah lembah itu.
"Hm..., seperti sarang gerombolan perampok," gumam Rangga setengah berbisik. "Pantas saja sulit ditemukan."
Rangga lalu memandangi keadaan sekitarnya. Daerah di bagian Timur Hutan Tarik ini memang sulit dicapai. Benteng itu dikelilingi oleh lembah besar dan dalam dengan bukit-bukit terjal dan berbatu. Tak satupun terlihat ada jembatan atau jalan menuju ke lembah itu.
"Dari mana kau peroleh keterangan itu, Pandan?" tanya Rangga.
"Seseorang yang patut dipercaya," sahut Pandan Wangi.
Rangga menatap gadis di sampingnya.
"Dia mengatakan kalau Rakapati menyusun kekuatan untuk memberontak, bahkan dia ingin membalas dendam pada Adipati Prahasta yang telah membunuh ayah kandungnya," lanjut Pandan Wangi tidak mempedulikan tatapan Rangga.
"Hm..., jadi benar Rakapati ingin mengembalikan Karang Asem menjadi sebuah kerajaan," gumam Rangga.
"Ya."
"Kalau begitu permasalahannya, kita tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Aku tidak tahu, mana yang benar dan mana yang salah," kata Rangga.
"Lalu, bagaimana dengan permintaan Panglima Lohgender?" tanya Pandan Wangi tersenyum tipis.
"Aku yang akan mengatakannya nanti, aku harap dia mau mengerti," sahut Rangga.
Pandan Wangi semakin lebar senyumnya. Dia tidak menyadari kalau Rangga memperhatikannya sejak tadi. Senyum Pandan Wangi langsung hilang ketika mereka mendengar suara gemerisik di belakang.
Belum lagi mereka dapat berbuat apa-apa, tiba-tiba dari balik semak dan pepohonan bermunculan tubuh-tubuh ter-balut kain hitam. Jumlah mereka tidak kurang dari dua puluh orang. Semuanya menghunus senjata berupa golok panjang yang besar dan berkilat. Tanpa bicara apa pun, mereka langsung menyerang.
"Hati-hati, Pandan...!" seru Rangga seraya melenting menghindari tebasan golok orang berbaju hitam itu.
Tidak kurang dari sepuluh orang langsung mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga tidak sempat lagi memperhatikan Pandan Wangi. Dia sibuk menghindar setiap serangan yang datang bagai hujan. Silih berganti tanpa henti, seakan-akan tidak memberikan kesempatan padanya untuk membalas.
"Sial! Aku harus menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'!" dengus Rangga dalam hati.
Seketika itu juga Rangga mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya segera terbentang lebar ke samping. Saat itu juga dia bergerak cepat mengibas-ngibaskan kedua tangannya bagai sayap seekor burung rajawali.
"Aaakh...!"
Satu jeritan melengking terdengar ketika tangan Rangga menghajar kepala penyerangnya. Belum lagi hilang suara jeritan itu, datang tagi jeritan lainnya, disusul rubuhnya sesosok tubuh hitam dengan kepala pecah.
"Heh! Di mana Pandan...?!" Rangga tersentak kaget ketika dia sempat melirik ke arah Pandan Wangi tadi berada.
Pendekar Rajawali Sakti itu tidak lagi melihat Pandan Wangi. Bahkan ketika dia berhasil menjatuhkan satu lawan lagi, terdengar suara siulan panjang melengking tinggi. Seketika itu juga orang-orang berpakaian hitam yang mengeroyoknya langsung berlompatan, lenyap di balik kegelapan dan kelebatan hutan ini.
"Pandan...!" teriak Rangga keras.
Tak ada sahutan sama sekali, hanya gema suaranya saja yang kembali terdengar memantul. Rangga mengedarkan pandangannya berkeliling. Suasana disekitar tempat ini sunyi sepi. Tak seorangpun terlihat. Hanya tiga sosok mayat saja yang menggeletak dekat kakinya.
"Aneh...," desis Rangga pelan.
Pendekar Rajawali Sakti itu tidak jadi melangkah. Telinganya yang tajam langsung mendengar suara langkah-langkah kaki yang mengusik semak dan daun-daun kering. Rangga langsung bersiaga menghadapi segala kemung-kinan.
"Oh...!"
********************
"Kebetulan sekali bertemu di sini," kata Arya Duta yang datang bersama dengan Balungpati dan Welut Putih.
Rangga tidak mempedulikan kata-kata Arya Duta. Pandangannya lurus menatap Pandan Wangi yang datang bersama ketiga laki-laki itu. Baru saja Pandan Wangi bersamanya, dan hilang ketika dia dikeroyok sepuluh orang berpakaian hitam. Kini gadis itu datang bersama Arya Duta dan kedua pendampingnya dari Kadipaten Karang Asem.
"Kenapa kau memandangku seperti itu, Kakang?" tanya Pandan Wangi jengah.
"Sejak pagi tadi kau tidak kelihatan, Pendekar Rajawali Sakti. Nini Pandan Wangi cemas, dan memintaku untuk mencarimu," kata Arya Duta.
"Hm...." Rangga hanya bergumam tak jelas.
"Kebetulan ada seseorang yang melihatmu di hutan ini, dan kami langsung mencarimu ke sini," sambung Balungpati.
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Rangga.
"Kami mendengar suara pertarungan tadi," Arya Duta melirik tiga mayat di dekat kaki Rangga.
Rangga memandang tiga sosok mayat itu sejenak, lalu perhatiannya mengarah pada lembah, di mana berdiri sebuah bangunan besar bagai benteng. Arya Duta, Balungpati, Welut Putih dan Pandan Wangi juga mengarahkan pandangan yang sama. Sesaat kemudian mereka saling berpandangan.
"Apakah itu sarang gerombolan pengacau?" tanya Arya Duta.
"Mungkin," sahut Rangga pelan, hampir tidak terdengar suaranya.
"Hal ini harus segera dilaporkan pada Panglima Lohgender," sambung Balungpati.
"Benar, Ayahanda Lohgender memang sedang menunggumu juga, Tuan Pendekar," kata Arya Duta.
Rangga tidak menyahuti. Ia masih disibukkan dengan kejadian-kejadian yang dialaminya sejak pagi sampai malam ini. Kemunculan Iblis Wajah Seribu memang bisa memusingkan kepala. Wanita cantik yang sebenarnya bernama Klenting Kuning itu bisa merubah-rubah wajahnya. Barusan saja Rangga kembali terkecoh, dan terjebak sampai ke sini.
Dia yakin kalau yang bersamanya tadi adalah si Iblis Wajah Seribu yang menyamar jadi Pandan Wangi. Rangga melangkah tanpa bicara lagi. Tangannya sempat menarik tangan Pandan Wangi. Sementara Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih mengiringi di belakang.
"Kau ada di penginapan sore tadi, Pandan?" tanya Rangga setengah berbisik.
"Tidak, aku ada di Kadipaten Karang Asem bersama Panglima Lohgender," sahut Pandan Wangi.
Rangga terdiam, tidak bertanya lagi. Jelas sudah kalau yang ditemuinya di penginapan tadi sore bukanlah Pandan Wangi, melainkan si Iblis Wajah Seribu. Dan yang mengajaknya kembali ke hutan ini sudah tentu si wanita iblis itu. Rangga mengumpat dalam hati karena tidak bisa membedakan, dan selalu terkecoh dengan penyamaran Klenting Kuning yang begitu sempurna.
"Hm..., aku tidak boleh lengah. Aku harus memperhatikan leher setiap orang," gumam Rangga dalam hati.
Rangga memang sudah bisa mengetahui kalau noda pada leher Klenting Kuning tidak bisa hilang, meskipun dia bisa merubah wajah seribu kali. Tanda itulah satu-satunya yang menjadi patokan Rangga. Tapi memang sulit, karena noda itu letaknya agak tersembunyi, dan bisa ditutupi dengan rambut.
********************
Panglima Lohgender menyambut kedatangan Rangga dan Pandan Wangi yang diiringi oleh Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih di depan pintu benteng penjara yang tinggi dan kokoh. Mereka kemudian masuk ke salah satu ruangan pengap yang hanya diterangi sebuah pelita kecil. Cuma Arya Duta yang ikut masuk, sedangkan Balungpati dan Welut Putih berjaga di depan pintu yang tertutup rapat.
Pandan Wangi menyipitkan matanya ketika seorang lelaki muda yang tangan dan kakinya terikat rantai besi di dinding ruangan. Keadaannya tampak begitu payah, seluruh tubuhnya jelas menampakkan luka bekas cambukan pecut yang menggaris merah. Darah kering menutupi hampir seluruh tubuhnya yang biru lebam.
Gadis itu bergidik merasa ngeri begitu menyadari mereka tengah berada di ruang penyiksaan. Dinding-dinding batu dipenuhi dengan rantai rantai yang bergayut dan darah kering yang mengotori. Di salah satu sudut, tampak sebuah lubang besar dengan sebuah tiang berbentuk palang pintu di atasnya. Seuntai tambang menjuntai melintang di palang tiang. Pandan Wangi tak kuasa lama memandangi lubang besar yang penuh ular berbisa. Meskipun dia seorang gadis pendekar, tapi ngeri juga melihat berbagai macam alat penyiksaan itu. Pandan Wangi langsung mengalihkan perhatiannya, dia tidak tega melihat sesosok tubuh tergantung yang sudah tidak utuh lagi, habis sudah disantap ular-ular lapar.
"Kakang...," bisik Pandan Wangi. Tangannya memeluk tangan kanan Rangga tanpa disadari.
"Ada keperluan apa Tuan Panglima memanggilku?" tanya Rangga setelah berbisik pada Pandan Wangi agar tenang.
"Lihat orang itu, Kisanak. Dialah salah seorang pengacau yang membuat resah Kadipaten Karang Asem," Panglima Lohgender menunjuk orang yang terikat di dinding.
Rangga tak bergeming untuk melihatnya. Matanya tetap tertuju pada Panglima Lohgender yang didampingi Arya Duta.
"Orang itu sudah mengakui semuanya, bahwa gerombolan mereka adalah gerombolan perampok yang terdiri dari orang-orang rimba persilatan yang sangat tinggi ilmunya. Dan yang terpenting lagi, sarang mereka ada di Hutan Tarik," Panglima Lohgender menjelaskan. Nada suaranya terdengar bangga.
"Lalu, apa maksud Tuan Panglima mengundangku ke sini?" tanya Rangga.
"Aku ingin meminta kesediaanmu menumpas gerombolan pengacau itu. Kau seorang pendekar pilih tanding yang sulit dicari bandingannya."
“Tuan Panglima percaya dengan keterangan itu?" Pandan Wangi ikut bertanya.
__ADS_1
"Dia memberikan pengakuan setelah merasakan pedihnya penyiksaan," sahut Panglima Lohgender.
"Apakah dia penduduk Kadipaten Karang Asem?" tanya Pandan Wangi lagi.
"Aku tidak tahu. Yang jelas dia salah satu dari pengacau-pengacau itu. Dia tertangkap saat hendak membunuh seorang bendahara kadipaten. Hm..., untung Arya Duta cepat mengetahui dan berhasil menangkapnya hidup-hidup, meski sayang, dua orang lainnya tewas."
“Bagaimana, Kakang?" Pandan Wangi meminta pendapat.
"Sebaiknya Paman Balungpati diminta mengenali orang ini. Dia kan penduduk asli dari Karang Asem ini, paling tidak dia bisa memastikan apakah orang itu penduduk Karang Asem atau bukan," kata Rangga tanpa mem-pedulikan pertanyaan Pandan Wangi.
"Balungpati...!" teriak Panglima Lohgender. Yang dipanggil segera masuk.
"Kau kenal dengan orang ini?" Panglima Lohgender mengangkat muka orang yang terikat rantai itu dengan ujung tongkatnya.
"Akh...!" Balungpati nampak terkejut. Wajahnya seketika memucat. Matanya tak berkedip menatap orang yang berwajah biru lebam di depannya.
"Kau kenal dia, Balungpati?" desak Panglima Lohgender.
"Dia..., dia...," Balungpati seperti tercekat suaranya di tenggorokan.
"Siapa dia Balungpati?"
"Dia Karman, Gusti Panglima. Salah seorang prajurit Kadipaten Karang Asem yang ditugaskan mengawal Gusti Ayu Puspa Lukita dan Gusti Rakapati ke Kadipaten Sedana," suara Balungpati terdengar gagap.
"Lihat sekali lagi, Paman. Mungkin Paman salah lihat." kata Arya Duta tidak percaya.
"Benar, Gusti. Dia Karman Prajurit kadipaten ini," sahut Balungpati yakin.
"Baiklah, Balungpati. Kau boleh ke luar," desah Panglima Lohgender.
Balungpati memberi hormat, lalu berbalik dan me-langkah ke luar. Pintu segera ditutup kembali oleh Arya Duta. Raut wajah Panglima Lohgender berubah begitu mendengar penuturan Balungpati. Sama sekali dia tidak menduga kalau orang yang telah disiksanya itu salah seorang prajurit pengawal yang ditugaskan ke Kadipaten Sedana.
Panglima Lohgender lalu teringat pembicaraannya dengan Pendekar Rajawali Sakti di balai agung kadipaten. Dia terpaksa mengakui dugaan pendekar itu yang semula tak ditanggapinya dengan serius. Dia memang tak mengenali satu per satu prajurit kadipaten yang merupakan salah satu kadipaten dari Kerajaan Limbangan.
"Arya Duta, siapkan seluruh prajurit. Berangkat malam ini juga ke Hutan Tarik!" perintah Panglima Lohgender.
"Tunggu dulu!" cegah Rangga sebelum Arya Duta sempat melangkah.
Panglima Lohgender dan Arya Duta memandang Pendekar Rajawali Sakti itu. "Apakah Tuan Panglima yakin kalau mereka ada di hutan itu?" tanya Rangga.
"Telik sandi yang kusebar ke sana sudah mengetahui letak sarang mereka dengan pasti. Dan aku sudah mendapat laporannya sore tadi," sahut Panglima Lohgender.
Rangga yang mulutnya sudah terbuka hendak berucap lagi, jadi mendengus karena Panglima Lohgender sudah memerintahkan Arya Duta untuk segera melakukan perintahnya. Arya Duta segera berlalu. Panglima Lohgender memandang ke arah Rangga dan Pandan Wangi sesaat, lalu beranjak ke luar dari ruangan pengap ini. Rangga langsung menarik tangan Pendan Wangi ke luar dari ruangan pengap berbau tidak sedap itu. Mereka sejenak berdiri di depan pintu memandang kepergian empat ekor kuda yang dipacu cepat menuju kembali ke kadipaten. Saat kedua pendekar itu hendak melangkah pergi, tiba-tiba salah seekor kuda itu berbalik dan menghampiri dengan cepat. Welut Putih langsung melompat turun begitu sampai di depan kedua pendekar itu.
"Gusti Panglima meminta Tuan dan Nini Pendekar mau ikut serta ke Hutan Tarik," kata Welut Putih.
"Baiklah, aku menyusul nanti." sahut Rangga.
"Akan kusampaikan."
Welut Putih langsung melompat naik kembali ke punggung kudanya. Secepat kilat dia menggebah kuda itu. Bagai anak panah lepas dari busur, kuda itu melesat cepat meninggalkan Rangga dan Pandan Wangi. Saat itu dua orang prajurit kadipaten datang, dan langsung berjaga-jaga di depan pintu penjara.
"Ayo kita pergi, Pandan," ajak Rangga Tanpa banyak bicara lagi, Rangga dan Pandan Wangi mencelat cepat. Dalam sekejap saja hilang dari pandangan mata.
"Edan! Orang apa dewa...?" dengus salah seorang penjaga.
"*****! Namanya juga pendekar!" sergah seorang penjaga lainnya.
"Hebat, ya...?!"
********************
Hutan Tarik yang semula sunyi senyap, kini tampak dipenuhi ratusan prajurit yang mengepung lembah yang mengelilingi benteng kokoh di seberangnya. Beberapa prajurit terlihat sibuk membuat jembatan dari bambu yang disambung-sambung sampai menjangkau seberang lembah sana.
Sementara Rangga dan Pandan Wangi hanya menyaksikan saja. Rangga melihat benteng itu sama persis dengan yang pernah dilihatnya di sebelah Timur Hutan Tarik ini, hanya bedanya, yang sekarang berada di sebelah Barat hutan ini. Dan letak benteng itu juga ada di seberang lembah, bukannya berada di dasar lembah.
Sementara itu sepuluh jembatan bambu sudah hampir terpasang. Dan kelihatannya cukup kuat untuk dilintasi dua puluh orang prajurit sekaligus. Panglima Lohgender yang didampingi Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih, tampak berdiri tegap memandang ke arah benteng di seberang sana.
"Kau lihat ada perbedaan pada benteng itu, Pandan?" tanya Rangga.
"Ya," sahut Pandan Wangi. “Tidak seperti kemarin malam."
"Aku tidak tahu, benteng mana yang asli," gumam Rangga.
"Serang...!" tiba-tiba terdengar perintah teriakan lantang dari Panglima Lohgender.
Pekik peperangan langsung menggema, disusul dengan berlariannya para prajurit melintasi jembatan bambu yang bergoyang goyang. Pasukan panah juga langsung beraksi memuntahkan anak-anak panah menghujani benteng itu.
Arya Duta melenting tinggi bagai burung melompati lembah, lalu dengan manis mendarat di seberang. Kemudian tubuhnya kembali melenting melewati pagar benteng. Tak lama kemudian dia keluar sambil melentingkan tubuhnya menyeberangi lembah. Dia langsung mendarat tepat di depan Panglima Lohgender.
"Kosong! Benteng itu kosong!" seru Arya Duta melaporkan.
"Apa ...?!"Panglima Lohgender tampak kaget tak percaya.
"Benteng itu kosong," Arya Duta mengulangi.
"Berhenti...!" teriak Panglima Lohgender seketika.
Seketika itu juga semua prajurit menghentikan aksinya. Sebagian lagi prajurit ke luar dari dalam benteng. Mereka langsung kembali menyeberangi lembah itu.
"Setan!" geram Panglima Lohgender. Wajah panglima itu merah padam.
"Balungpati, Welut Putih!"
"Hamba, Gusti," sahut Balungpati dan Welut Putih berbarengan.
"Bawa separuh prajurit ke kadipaten!" perintah Panglima Lohgender.
"Hamba laksanakan segera, Gusti Panglima."
Balungpati dan Welut Putih langsung menjalankan perintah itu. Mereka membawa tidak kurang dari tiga ratus orang prajurit untuk kembali ke Kadipaten Karang Asem.
"Arya Duta!"
"Ya, Ayahanda."
"Bawa seratus prajurit, geledah seluruh hutan ini!"
Arya Duta juga tidak membantah. Dia segera membawa seratus orang prajurit pilihan untuk menggeledah hutan ini. Panglima Lohgender menghampiri Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi yang masih tetap berdiri tak bergeming dari tempatnya. Wajah Panglima itu kelihatan tegang dan menahan geram yang amat sangat.
"Sebaiknya Panglima kembali ke kadipaten," kata Rangga mendahului sebelum Panglima Lohgender membuka suara.
"Hm...," Panglima Lohgender hanya bergumam.
"Benar, Panglima. Aku merasa mereka sengaja mendahului dan merebut Kadipaten Karang Asem di saat kosong," sambung Pandan Wangi.
"Pasti ada orang yang berkhianat!" dengus Panglima Lohgender geram.
"Ayo, Pandan. Kita pergi sekarang," ajak Rangga.
Pandan Wangi menurut saja. Mereka langsung melompat dan lenyap di balik kerimbunan pepohonan. Panglima Lohgender segera memerintahkan sisa pasukannya untuk kembali ke Kadipaten Karang Asem. Kata-kata kedua pendekar itu menjadi pertimbangannya juga. Memang ada kemungkinan para gerombolan pengacau itu mendahului di saat seluruh pasukan berada di Hutan Tarik.
__ADS_1
****************