Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Bidadari Sungai Ular Bag. 5


__ADS_3

Intan Kemuning makin kaget ketika orang itu telah menubruk dan memeluknya. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Tanpa menghiraukan jeritan, laki-laki itu menyeretnya masuk ke pondok. Rupanya perbuatan salah seorang anggota Bayangan Hitam menarik perhatian empat orang lainnya. Mereka kini tidak peduli dengan mayat gurunya. Segera mereka berlarian ke pondok.


Di dalam pondok, Intan Kemuning terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Tangannya memukuli tubuh lelaki kasar yang telah menindihnya. Intan Kemuning jadi lupa kalau dia telah belajar dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Rasa panik dan ketakutan yang amat sangat membuat dia lupa segalanya.


"Auh! Lepaskan...!" jerit Intan Kemuning.


Laki-laki itu makin liar merejam tubuh Intan Kemuning. Bahkan empat laki-laki anggota Bayangan Hitam lainnya telah mengelilingi serta menatap wajah dan tubuh yang indah itu.


Bret! "Auuuh...!" Intan Kemuning memekik ketika tangan laki-laki yang menindihnya, merobek bajunya.


Kini bagian dada yang membukit indah terbuka. Lima pasang mata menatap ke a rah dada yang putih mulus tanpa berkedip. Intan Kemuning cepat menutupi bagian dadanya yang terbuka, namun seorang laki-laki lainnya maju dan menarik tangan Intan Kemuning.


"Tidak...! Lepaskan!" jerit Intan Kemuning putus asa.


Bret! Lagi-lagi baju Intan Kemuning dirobek paksa. Tubuh Intan Kemuning seketika jadi polos. Hanya bagian bawah saja yang masih tertutup. Tangan-tangan kasar kini menelusuri bukit yang indah itu. Keempat orang yang sebelumnya hanya berdiri saja, tidak bisa menahan diri lagi. Mereka mendekat dan meraba-raba tubuh yang putih mulus itu.


Intan Kemuning benar-benar putus asa. Air bening mulai menitik dari sudut matanya. Dari mulutnya keluar rintihan memohon belas kasihan. Namun kelima orang sudah tidak peduli lagi. Tangan-tangan mereka makin liar menjelajah ke seluruh tubuh gadis cantik itu.


"Tidak, jangan...," rintih Intan Kemuning memelas.


Tepat ketika seorang laki-laki akan membuka bagian bawah pakaiannya, tiba-tiba...


Brak! Pintu pondok yang tertutup, hancur berantakan. "Binatang!" Patih Giling Wesi segera menerjang marah. Lima orang yang tengah dirasuki iblis itu terperangah. Pedang Patih Giling Wesi berkelebat cepat Seketika saja dua kepala telah terpisah dari tubuh.


Tiga orang lainnya segera melompat menyebar. Intan Kemuning cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali yang sudah tercabik-cabik itu. Air matanya makin deras mengalir. Dia bersyukur karena kelima laki-laki itu belum sempat merenggut kehormatannya.


"Binatang! ******, kalian semua!" teriak Patih Giling Wesi kalap. Pedangnya kian cepat berputar menyerang tiga orang laiki-laki itu. Mereka hanya bisa berkelit saja. Dengan terpaksa mereka melayani hanya dengan tangan kosong karena tidak memiliki senjata lagi.


"Aaaakh!" kematian kembali terdengar. Salah seorang dari tiga orang yang tersisa, ambruk dengan dada tergores panjang dan dalam. Darah segera membasahi lantai. Melihat tiga orang temannya telah tewas, segera dua orang anggota Bayangan Hitam itu mendobrak dinding pondok, kabur.


"Ayah...!"


Patih Giling Wesi yang hendak mengejar, berbalik ketika putrinya memanggil. Intan Kemuning berlari lalu menubruk ayahnya. Mereka saling berpelukan menumpahkan seluruh air mata dan rindu.


"Kau tidak apa-apa, Nduk?" tanya Patih Giling Wesi dengan suara tersendat.


"Tidak, Ayah," jawab Intan Kemuning tanpa melepaskan pelukannya.


"Oh, syukurlah," desah Patih Giling Wesi.


Kembali mereka terdiam sambil berpelukan. Ditumpahkan segala kerinduan dan kegembiraan karena dapat berkumpul lagi. Pelan-pelan Patih Giling Wesi melepaskan pelukannya. Sejenak ditatap putrinya. Jari-jari tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Intan Kemuning.


"Mereka tidak mengganggumu, Nak?" tanya patih itu masih diliputi perasaan cemas. Biar bagaimana pun juga, hatinya masih khawatir terhadap putrinya yang baru saja terbebas dari tawanan perompak itu.


"Mereka tidak ada yang menggangguku, Ayah," sahut Intan Kemuning. "Pemimpin perampok itu sangat baik. Dia mengangkatku sebagai adiknya."


"Maksudmu, Bidadari Sungai Ular itu?"


"Betul, Ayah. Kakak Lintang selalu melindungiku. Dia baik sekali padaku."


"Lalu, orang-orang itu?"


"Mereka bukan orang-orang Bidadari Sungai Ular. Mereka orang-orang Bayangan Hitam,"


Seketika Intan Kemuning tersentak. Dia ingat kalau pemuda tampan yang telah menggetarkan hatinya tengah bertempur di luar. Pemuda itu kini menghadapi dua tokoh sakti.


"Ada apa, Intan?" tanya Patih Giling Wesi.


"Pemuda itu...."


"Pemuda siapa?"


"Oh!" Intan seperti tersadar. Malu. Seketika kedua pipinya merah merona. Kepalanya tertunduk. Tanpa disadari dia telah mencemaskan pendekar muda yang sejak tadi menarik perhatiannya. Pendekar itu telah merebut sekeping hatinya.


Patih Giling Wesi terdongak begitu mendengar suara pertempuran di luar. Patih Giling Wesi tersadar. Rasa haru dan gembira telah membutakan mata dan menulikan telinganya, sehingga tidak tahu ada pertempuran di luar. Sekelebat memang dia melihat pertempuran itu, namun Patih Giling Wesi lebih terpusat pada suara rintihan wanita di dalam pondok itu. Dan ketika Intan Kemuning menyebut pemuda itu.


Patih Giling Wesi seolah baru sadar kalau putrinya telah menjadi seorang gadis remaja. Ah, apakah Intan Kemuning jatuh cinta? Apakah dengan pemuda tampan yang kini sedang bertarung melawan dua tokoh sakti itu? Kalau benar, siapakah pemuda itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak patih itu.


"Intan...," lembut suara Patih Giling Wesi.


Pelan-pelan Intan Kemuning mengangkat kepalanya.


"Ayo...." Patih Giling Wesi menggandeng anaknya ke luar pondok itu. Mereka berhenti melangkah di depan pintu yang sudah hancur. Mereka menyaksikan pertempuran antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah.


Namun Intan Kemuning melangkah terus, dan baru berhenti setelah berada dua tombak dari pondok. Patih Giling Wesi mengikutinya. Patih Giling Wesi tersenyum melihat Intan Kemuning tidak berkedip menatap setiap gerakan Rangga. Dalam hati dia merasa kagum juga terhadap pemuda tampan itu.

__ADS_1


********************


Pertempuran masih terus berlangsung di sungai Ular. Kini yang dihadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah hanya empat orang saja. Mayat menyebar di mana-mana. Bau anyir darah menyebar terbawa angin.


"He he he...!" Pengemis Sakti Tongkat Merah terkekeh. Cukup sekali gebrak saja, keempat orang yang memang tidak punya nyali lagi, dibuat tidak berkutik. Ujung tongkat Pengemis Sakti itu merobek-robek dada mereka. Darah segar menyembur disertai jeritan kesakitan saling susul. Keempat orang itu kini ambruk kehilangan nyawa. Kakek Pengemis Sakti kembali terkekeh.


"Kasihan, kalian hanya membuang nyawa sia-sia," gumam Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah. Pelan-pelan kakinya meninggalkan tempat pembantaian itu. Ironis sekali.


Tempat yang indah dan menyejukkan itu, kini jadi mengerikan. Bau anyir darah telah mengundang anjing-anjing hutan untuk menyantap mayat-mayat yang bergelimpangan. Tak luput, burung bangkai pun telah berkeliling di angkasa minta bagian. Aki Lungkur mengayunkan langkah menuju bukit Guntur. Langkah yang kelihatan pelan, tapi kenyataannya, sebentar saja kakek tua itu telah jauh melangkah. Kakinya seperti tidak menapak tanah. Itulah ilmu Sayiti Angin yang dikeluarkannya. Orang yang menguasai ilmu ini dapat meminjam hembusan angin untuk mendorong tubuhnya. Layaknya kapas yang dihembus angin.


"Mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti bisa mengatasi keadaan," gumam Aki Lungkur pelan.


"He he he...!"


Tiba-tiba terdengar suara terkekeh. Aki Lungkur menghentikan langkahnya. Suara itu jelas menggunakan tenaga dalam yang luar biasa. "Tidak disangka, Pengemis Sakti Tongkat Merah mau mengotori tangannya hanya untuk membantai cacing-cacing tanah," terdengar suara mengejek.


"Ah, aku malas main petak umpet," keluh Aki Lungkur terus melanjutkan langkahnya. Langkahnya baru tiga tindak, tiba-tiba di depan Aki Lungkur muncul seorang laki-laki gendut berkepala botak mengenakan jubah kuning. Untaian tasbih tergenggam di tangan kanannya.


"Rupanya kau, Pendeta Murtad," dengus Aki Lungkur.


"Aku rasa kau tidak perlu ke bukit Guntur, Aki Lungkur. Kau akan menambah kotor tanganmu saja," kata Pendeta Murtad yang nama aslinya Pradya Dagma.


"Aku rasa tanganmu tidak lebih bersih daripada tanganku," tenang sekali Aki Lungkur menyahut.


"Tapi aku tidak pernah usil dengan urusan orang lain."


"Dengan menghadang jalanku, kau sudah mencampuri urusan orang lain."


"Phih! Aku sengaja menghadangmu untuk mencegah agar kau tidak ikut campur urusan keponakanku!"


"Keponakan? Ha ha ha...! Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau punya keponakan!"


"Oh, mengapa kau lari dari Lembah Tengkorak waktu itu? Kenapa tidak kau bantu keponakanmu? Itukah paman yang baik?"


Merah padam wajah Pradya Dagma. Kata-kata Aki Lungkur tenang diucapkannya, tetapi sakit didengamya. Kata-kata itu baginya adalah penghinaan yang luar biasa.


"Ah, sudahlah! Aku tidak ada urusan denganmu," kata Aki Lungkur berusaha mengalah. Aki Lungkur melangkah melanjutkan perjalanan tanpa peduli.


Melihat hal ini, Pradya Dagma makin merasa terhina. Dengan cepat dia kembali menghadang.


"Sudah kukatakan, aku tidak ada urusan denganmu. Minggir, aku mau pergi!" dengus Aki Lungkur sedikit jengkel.


"Heh! Rupanya kau cari penyakit?"


"Kau yang cari kematian, Aki Lungkur!"


Aki Lungkur mendelik. Dia bersiap-siap ketika melihat Pendeta Murtad itu telah membuka jurus-jurus ampuhnya. Tanpa dapat dicegah lagi, dua tokoh sakti berlainan aliran itu bertempur dengan sengit. Diantara mereka berdua, sebenarnya tidak ada urusan apa-apa. Aki Lungkur sendiri sebenarnya tidak melayani meski pun Pendeta Murtad itu selalu cari perkara dengannya. Pengemis Tongkat Merah melayaninya dengan setengah-setengah. Padahal, Pendeta Murtad itu telah melancarkan serangan-serangan berbahaya. Kelihatannya dia ingin membunuh Pengemis Sakti ini.


"Pradya Dagma, hentikan semua ketololanmu!" bentak Aki Lungkur gusar.


"Jangan katakan aku kejam kalau kau kukirim ke neraka, Lungkur!" sahut Pradya Dagma keras. "Aku tidak peduli kau melawan atau tidak!"


Gigi Aki Lungkur beradu menahan geram. Pendeta Murtad ini rupanya benar-benar ingin membunuhnya. Dia masih mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Terpaksa Aki Lungkur harus menghadapinya dengan hati-hati. Dia tahu kalau Pradya Dagma sangat berbahaya, terutama tasbihnya yang menjadi andalan.


Antara Aki Lungkur dengan Pradya Dagma, sebenarnya masih saudara seperguruan. Mereka sama-sama murid Resi Brahespati. Akibat suatu perselisihan, rupanya Pradya Dagma masih menyimpan api dendam. Dia tidak mau mengakui keunggulan Aki Lungkur. Padahal setiap kali mereka bentrok, Aki Lungkur selalu bersikap mengalah. Dia masih memandang hormat pada Resi Brahespati. Sebab Pradya Dagma anak tunggal dari gurunya itu. Itulah sebabnya, mengapa Aki Lungkur selalu menolak setiap tantangan Pradya Dagma. Dia pun tak ingin mencampuri urusan Pradya Dagma meskipun tindakan dan perbuatan Pradya Dagma selalu merugikan orang lain.


"Maaf, aku masih ada urusan yang lebih penting," ujar Aki Lungkur masih berusaha mengalah. Segera dia melenting cepat.


"Hey, tunggu!" Pradya Dagma segera mengejar. Hanya beberapa kali lompatan saja, dia telah berhasil mengejar disertai satu pukulan dengan tenaga dalam yang penuh.


Aki Lungkur terkejut. Dia segera membuang diri ke tanah. Pukulan Pradya Dagma menghantam sebatang pohon besar. Seketika pohon itu tumbang disertai suara gemuruh. Aki Lungkur belum bersiap-siap, tiba-tiba datang serangan berikut. Aki Lungkur kembali bergulingan di tanah. Secepat itu pula, dia melenting dan berdiri di tanah dengan kokoh.


"Kelakuanmu sudah melampaui batas, Pradya Dagma!" geram Aki Lungkur.


"Kalau kau laki-laki, jangan hanya bisa menghindar!" ejek Pradya Dagma.


"Kau memang sudah tidak bisa di beri hati. Seluruh pikiran dan hatimu sudah tertutup iblis.


"Kau pun akan senang tinggal di neraka bersama iblis."


"Demi Resi Brahespati, aku tidak menurunkan tangan kejam padamu!"


Rupanya Aki Lungkur sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dibukanya jurus Tongkat Sakti. Pradya Dagma terkekeh melihat Aki Lungkur mulai terpancing kemarahannya. Dia pun segera mengerahkan jurus Tasbih Sakti. Kedua tokoh itu mempergunakan jurus yang didapat dari sumber yang sama. Mereka sama-sama telah mengenal jurus masing-masing. Setelah mereka saling pandang, maka menyusullah suara teriakan keras. Dua tokoh sakti itu pun saling menyerang.


Kali ini Aki Lungkur tidak main-main lagi. Kemauan saudara seperguruannya dilayani dengan sungguh-sungguh. Bahkan serangan-serangan balasannya tidak tanggung-tanggung mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. Lima jurus kini telah mereka lewati. Masing-masing belum ada yang terdesak. Mereka paham betul dengan kelemahan dan kelebihan jurus-jurus masing-masing.

__ADS_1


Jurus-jurus yang mereka pergunakan juga beraliran sama, hanya penerapannya yang lain. Jika Pradya Dagma mempergunakannya untuk maksud-maksud kejahatan, maka Aki Lungkur mempergunakannya untuk membela yang lemah dan menumpas kejahatan. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Aki Lungkur yang selalu memperdalam dan menyempumakan ilmunya, kelihatan lebih unggul ketika memasuki jurus yang keseratus.


Sedikit demi sedikit Pradya Dagma mulai kewalahan dan terdesak. Beberapa kali ujung tongkat itu hampir menyentuh tubuh Pradya Dagma, Aki Lungkur selalu membelokkannya. Hatinya tetap tidak mengijinkan untuk melukai saudara seperguruannya ini. Tapi Pradya Dagma sudah tidak peduli. Dia malah mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak. Timbul sifat mengalah dalam hati Aki Lungkur. Dibiarkan dirinya terdesak. Bahkan dia kelihatan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan pertarungan. Hingga pada suatu saat...


"Akhl" Aki Lungkur memekik tertahan. Kaki Pradya Dagma berhasil menghantam dadanya. Tubuh pengemis tua itu terdorong dua tombak. Matanya berkunang-kunang. Dadanya terasa sesak. Tendangan Pradya Dagma telak, disertai tenaga dalam yang hebat Kalau bukan Aki Lungkur, mungkin dada itu telah jebol.


"Kau menghinaku, Lungkur! Kau sengaja mengalah!" desis Pradya Dagma.


"Aku mengaku kalah," kata Aki Lungkur tersendat.


"Sudah aku katakan, aku tidak peduli dengan sikapmu! Ayo lawan aku!" bentak Pradya Dagma.


Tiba-tiba di depan Aki Lungkur seperti berdiri seorang resi. Seketika pengemis tua itu menjatuhkan diri, dan berlutut saat dia tahu yang berdiri di depannya adalah Resi Brahespati.


"Ampunkan muridmu yang hina ini, Resi," ucap Aki Lungkur dengan kepala tertunduk.


Pradya Dagma yang melihat sikap Aki Lungkur, terheran-heran. Dia tidak mengerti, mengapa tiba-tiba Aki Lungkur seperti ketakutan. Bahkan dia tadi menyebut-nyebut resi. Pradya Dagma memang tidak melihat kedatangan Resi Brahespati, ayahnya itu yang padahal tengah berdiri di depannya.


"Bangunlah, tidak layak kau berbuat begitu," lembut berwibawa suara Resi Brahespati.


"Aku berusaha mengalah, tapi Pradya Dagma...," Aki Lungkur tidak melanjutkan kata-katanya.


"Dia benar-benar sudah murtad! Aku mengijinkan kalau kau menjatuhkan tangan padanya. Beri dia pelajaran agar matanya terbuka."


"Resi..!" Aki Lungkur terkejut menerima petuah itu.


Ketika Aki Lungkur ingin melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Resi Brahespati telah lenyap dari pandangan. Kini yang berdiri di depannya hanyalah Pradya Dagma. Masih terngiang-ngiang kata-kata gurunya tadi. Rasanya memang masih terasa berat untuk menjatukan tangan kepada Pradya Dagma. Segera Aki Lungkur memantapkan hati untuk memberi pelajaran kepada saudara seperguruannya yang murtad ini. Belum juga Aki Lungkur bersiap-siap, Pradya Dagma kembali menyerang dengan jurus-jurusnya.


Terpaksa Aki Lungkur harus jatuh bangun menghindari serangan beruntun itu. Ketika posisinya menguntungkan, Aki Lungkur segera membalas tanpa memberi ampun lagi. Pradya Dagma yang setingkat di bawah Aki Lungkur, kembali terdesak. Sementara kata-kata Resi Brahespati terus terngiang-ngiang di telinga Aki Lungkur. Hal inilah yang membuat pengemis tua itu tidak memberi kesempatan kepada Pradya Dagma untuk membalas.


Pada suatu kesempatan yang baik, dengan cepat pukulan Aki Lungkur bersarang di dada Pradya Dagma. Kemudian disusul dengan tendangan keras. Pendeta Murtad itu terdorong sejauh tiga tombak. Dari sudut bibirnya keluar darah segar.


"Demi Resi Brahespati, minta ampunlah kau pada ayahmu!" kata Aki Lungkur lantang.


"Setan!" dengus Pradya Dagma sambil menyeka darah yang terus mengalir. "Jangan sebut-sebut ayahku!"


Setelah berkata demikian, Pradya Dagma kembali menyerang membabi buta. Aki Lungkur tidak segan-segan lagi melayaninya. Tongkatnya kini berkelebat cepat, dan...


"Aaaakh...!"


Jeritan melengking terdengar. Aki Lungkur mencabut tongkatnya yang menembus dada pendeta murtad itu. Tubuh Pradya Dagma pun ambruk dengan darah muncrat dari dadanya yang bolong. Aki Lungkur cepat-cepat menghampiri dan merangkul tubuh gemuk itu.


"Dagma...!" suara Aki Lungkur bergetar.


Pradya Dagma tersenyum. Napasnya tersendat-sendat. Darah makin banyak keluar. "Aku senang bisa mati di tangan tokoh sakti sepertimu," lemah dan tersendat suara Pradya Dagma.


"Dagma..., kau harus hidup. Kita akan bersama-sama lagi," hibur Aki Lungkur.


"Tidak, Lungkur. Aku puas. Kini keinginanku tercapai sudah. Terima kasih, kau mau memenuhi keinginanku."


Aki Lungkur tidak mengerti, mengapa Pradya Dagma menginginkan mati di tangannya.


"Aku sudah berjanji pada Komala, hanya kau yang boleh membunuhku."


"Dagma, kau bicara apa?" Aki Lungkur makin tidak mengerti.


Ingatannya seketika mundur puluhan tahun yang lalu. Waktu itu mereka masih sama-sama muda dan tinggal di padepokan Resi Brahespati. Di desa dekat padepokan itu tinggallah seorang gadis bernama Komala. Dia cantik dan menjadi kembang desa itu. Ternyata Komala membuka hatinya pada seorang pemuda bernama Lungkur.


Hubungan mereka telah direstui oleh Resi Brahespati. Mereka telah merencanakan untuk memasuki jenjang perkawinan. Tetapi sebelum hari bahagia itu dilangsungkan, seluruh desa dan padepokan geger. Komala kedapatan mati dengan leher tertembus pisau. Sejak itu, Lungkur tidak ada niat lagi mendekati wanita. Hingga tua dia tidak pernah menikah.


"Aku merasa iri karena Komala menjatuhkan pilihan kepadamu. Malam itu, sehari sebelum pernikahanmu dengan Komala, aku menyelinap ke kamarnya. Aku telah memperkosa dan membunuhnya, Lungkur! Di depan mayatnya aku berjanji, hanya tanganmulah yang bisa membunuhku. Kini keinginanku menebus dosa pada Komala terlaksana sudah, Lungkur."


Aki Lungkur hanya tertunduk saja. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Peristiwa itu sudah lama terjadi. Bahkan sudah hampir dilupakannya. Tapi kini, peristiwa itu sepertinya baru saja terjadi.


"Semula aku hanya ingin memperkosa saja. Aku ingin membuatmu kecewa dan sakit hati. Aku tidak sengaja membunuhnya, Lungkur. Dia mengambil pisau, dan aku berusaha mencegahnya. Tapi perbuatanku malah menghilangkan nyawanya. Seharusnya malam itu kubiarkan saja dia membunuhku,"


Pradya Dagma meneruskan ceritanya. Setitik air bening mulai menggulir di pipi Aki Lungkur.


"Maafkan aku, Lungkur. Hatiku akan tenang jika kau mau memaafkan aku," kata Pradya Dagma lagi.


"Sejak lama aku selalu memaafkanmu," sahut Aki Lungkur. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Terima kasih."


Pradya Dagma menutup mata dengan tenang setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Bibirnya menyungging senyum. Keinginannya telah terkabul. Menerima kenyataan itu, Aki Lungkur benar-benar sedih. Dia baru sadar kalau perbuatan Pradya Dagma hanyalah untuk memancing kemarahan agar dapat membunuhnya. Kalau saja hal itu diketahuinya sejak dulu, mungkin Aki Lungkur akan segera membunuhnya agar kesengsaraan hidup Pradya Dagma tidak berlarut-larut.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu kalau seluruh perbuatan Pradya Dagma hanyalah pancingan agar Aki Lungkur dapat membunuhnya. Ternyata di balik hatinya yang keji, masih tersimpan sedikit jiwa ksatria. Teguh pada janji dan pendiriannya. Hanya sayangnya, sikap Pradya Dagma berada di jalan yang salah.


********************


__ADS_2