
Suasana di Desa Kali Anget benar-benar meriah sekali. Seluruh pelosok desa dihias, sedangkan pada tempat-tempat terbuka dan strategis didirikan panggung-panggung untuk hiburan. Walaupun masih dua hari lagi Ki Karangseda akan dinobatkan jadi kepala desa, tapi dia sudah menempati rumah besar yang memang disediakan untuk pejabat kepala desa.
Sementara di tengah-tengah halaman rumah yang luas itu, sudah berdiri panggung besar. Sedang beberapa kursi undangan tampak berjejer rapi mengelilingi panggung. Sayang sekali, kemeriahan itu tidak terpancar pada wajah penduduk yang justru kelihatan resah. Sejak dulu, mereka semua tahu siapa sebenarnya Ki Karangseda. Dan mereka masih mengharapkan Ki Jatirekso muncul kembali.
Tampak Ki Karangseda berjalan mengelilingi rumah besar yang akan menjadi miliknya dua hari lagi. Bibirnya terus menyunggingkan senyum kemenangan. Dia begitu puas, meskipun seluruh penduduk tidak menginginkan dirinya jadi kepala desa. Dan berkat cara kasar yang dilakukan Ki Pungkur, seluruh penduduk desa terpaksa menyetujui dan memilih Ki Karangseda menjadi kepala desa.
"Apa kau sudah dapat kabar tentang Sanggabawung dan Sangga Kelana, Adi Pungkur?" tanya Ki Karangseda pada Ki Pungkur yang tidak pernah jauh darinya.
"Belum," sahut Ki Pungkur.
"Aku menyesal, kenapa Perempuan Iblis Pulau Karang memerintahkan mereka ke Kawah Neraka," pelan suara Ki Karangseda. Sepertinya dia menyesali hilangnya dua bersaudara itu.
"Mungkin mereka sudah tewas di sana, Kakang," Ki Pungkur menduga-duga.
"Yaaah...," desah Ki Karangseda. "Selama ini belum pernah ada seorang pun yang sanggup ke luar dari sana kalau sudah masuk"
"Bagaimana dengan orang-orang itu?" tanya Ki Pungkur.
"Mereka masih berada di sekitar Kawah Neraka."
"Biarkan mereka menunggu sampai tua!" dengus Ki Karangseda.
"Apakah kau percaya, Pendekar Rajawali Sakti ada disana?"
"Kalau pun dia ke sana, pasti sudah tewas. Sehebat-hebatnya dia, tidak akan mampu menandingi binatang-binatang peliharaan Ratu Macan Kumbang."
Ki Pungkur diam saja meskipun Ki Karangseda tertawa merasakan kemenangannya.
"Kenapa kau diam saja, Adi Pungkur?" tanya Ki Karangseda melihat adiknya diam saja tidak ikut gembira.
"Tidak apa-apa," desah Ki Pungkur berusaha tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan?" desak Ki Karangseda.
"Tidak," sahut Ki Pungkur singkat dan pelan.
"Hm...," Ki Karangseda bergumam. Matanya tajam menatap wajah Ki Pungkur penuh selidik. Dia yakin, kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati adiknya itu.
"Aku akan memeriksa keliling desa dulu, Kakang," kata Ki Pungkur merasa jengah dipandang begitu.
Ki Karangseda hanya menggumam dan mengangguk. Matanya masih menatap tajam pada adiknya yang sudah melangkah. Dia yakin, Ki Pungkur tengah memikirkan sesuatu yang dirahasiakan. Beberapa hari ini, Ki Pungkur memang kelihatan lebih pendiam dari biasanya. Perubahan yang begitu menyolok itu, tentu saja mendapat perhatian dari Ki Karangseda.
Laki-laki berpakaian menterang itu masih berdiri saja ditempatnya. Dia masih memikirkan sikap Ki Pungkur yang berubah drastis dalam beberapa hari ini. Rasanya tidak mungkin, kalau dia gelisah terus hanya karena kehilangan dua murid kesayangannya yang begitu setia.
Ki Karangseda segera mengurungkan niatnya untuk melangkah, ketika dari arah samping tiba-tiba ada seorang perempuan cantik mengenakan baju merah yang ketat sedang berjalan menghampirinya.
"Perempuan Iblis Pulau Karang...," desah Ki Karangseda. "Mau apa dia ke sini?"
Perempuan yang sebenarnya bernama Telasih itu langsung berdiri di depan Ki Karangseda. Bibirnya yang selalu merah menyunggingkan senyum lebar dan sedikit bergetar seperri hendak menggoda. Dengan baju ketat seperti itu, Telasih bagai seorang gadis remaja. Tidak sedikit pun tampak kerut-kerut ketuaan di wajahnya.
Sedang di bagian dadanya masih menggembung kencang. Sementara buah pinggangnya yang ramping, membentuk pinggul yang indah dan membuat setiap mata lelaki yang memandangnya jadi melotot. Yang tidak mengenal siapa Telasih, mungkin akan menyangka wanita itu seorang gadis remaja.
"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Ki Karangseda seraya menelan air liurnya.
"Tidak boleh?" Telasih malah balas bertanya. Sedang matanya mengerdip dengan bibir menyunggingkan senyum menggoda.
"Bukannya tidak boleh, tapi...," Ki Karangseda tidak meneruskan kata-katanya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri.
"Tidak ada yang bisa mengenalku, Karangseda. Lihatlah, kau tertarik untuk mengajakku ke peraduan, kan?" Telasih merentangkan tangannya
Lagi-lagi Ki Karangseda menelan ludahnya, membasahi tenggorokan yang mendadak jadi kering. Sikap wanita itu benar-benar menggoda hasrat kejantanannya. Meskipun dia sudah pantas disebut kakek-kakek, tapi seleranya pada wanita cantik tak pernah hilang. Sementara matanya kembali mengamati sekelilingnya, khawatir kalau-kalau ada orang yang melihat.
Ki Karangseda segera menarik pergelangan tangan wanita itu dengan tidak sabar. Sedang Telasih memekik manja, begitu tubuhnya jatuh ke pelukan Ki Karangseda. Tiba-tiba tangannya menahan kepala Ki Karangseda yang sudah mau nyelonong menciumnya.
"Sabar, dong..., jangan di sini," desah Telasih manja.
"He he he..., kau membuatku jadi bergairah, Manis," Ki Karangseda terkekeh.
Telasih melepaskan pelukan laki-laki tua itu, kemudian melenggang ke belakang rumah. Sementara Ki Karangseda mengikuti dari belakang sambil terkekeh. Pandangannya terus merayapi pinggul wanita yang melenggak-lenggok di depannya. Mereka segera hilang di balik tembok gudang belakang rumah. Tak lama kemudian hanya terdengar suara mengikik, disela-sela desahan napas memburu.
********************
__ADS_1
Ki Karangseda tampak perlente dengan mengenakan jubah warna hijau bersulam benang emas. Senyumnya terus terkembang menyaksikan keramaian di depan rumahnya. Sementara semua undangan telah hadir dan menempati bangku-bangku yang telah disediakan. Sedangkan hampir seluruh penduduk, tumpah ruah disekitar halaman rumah itu. Hanya sinar mata dan raut wajah penduduk yang tidak menggambarkan kegembiraan.
Mereka seperti terpaksa menyaksikan penobatan Kepala Desa Kali Anget yang baru. Tapi Ki Karangseda benar-benar tidak mempedulikan ketidak senangan penduduk. Dia sudah cukup puas dengan jabatan yang telah diimpikannya bertahun-tahun.
Ki Karangseda segera duduk di kursi yang berukiran indah dan berwarna keemasan. Sementara di kanan kirinya, duduk Telasih dan Ki Pungkur. Tidak bisa dipungkiri, meskipun Ki Pungkur selalu tersenyum, namun dari sinar matanya terlihat kalau dia tidak menikmati semua kegembiraan yang penuh hiburan itu. Sementara di atas panggung besar, beberapa gadis cantik melenggak-lenggok mengikuti irama gamelan.
"Aku merasakan kejanggalan di sini," gumam Telasih seperri pada dirinya sendiri.
"Mereka akan segera tunduk padaku!" sahut Ki Karangseda tidak peduli dengan sikap penduduk yang tidak menyukainya.
"Tapi kau masih memiliki hutang padaku," kata Telasih.
"He he he..., sebentar lagi kau akan mendengar kematian Pendekar Rajawali Sakti."
"Bukan itu! Aku tidak peduli dengan dia!"
"Lalu apa?"
"Jatirekso!"
"Aku yakin, dia sudah mati diterkam macan. Lagi pula, kalau masih hidup, mana mungkin dia berani ke sini? Sudahlah! Tidak perlu kau pikirkan lagi laki-laki ***** itu. Biarkan saja dia sengsara!"
"Tapi kau kan janji untuk membawa kepalanya padaku?" Telasih tetap menagih.
"Tentu saja, tapi setelah upacara penobatanku selesai. Itu kan janji kita sebelumnya."
"Aku tunggu janjimu, Karangseda. Awas! Satu purnama setelah penobatanmu, kau harus menyerahkan kepala Jatirekso padaku."
"He he he...," Ki Karangseda hanya.terkekeh. Tentu saja dia ingat semua perjanjian di antara mereka.
Sementara itu, Ki Pungkur hanya mendengarkan saja. Pikirannya masih dikacaukan dengan dua murid kesayangannya yang setia. Dia juga tidak yakin, kalau Pendekar Rajawali Sakti ke Kawah Neraka. Dia menduga, itu hanya siasat untuk mengalihkan jago-jago bayaran yang disewa Ki Karangseda. Memang imbalan yang diberikan sangat menggiurkan. Maka tidak mengherankan, bila begitu banyak tokoh rimba persilatan yang datang.
Sebenarnya Ki Pungkur tidak setuju dengan rencana itu. Terlalu berbahaya melibatkan Pendekar Rajawali Sakti! Meskipun dia belum pernah bentrok secara langsung, tapi dia tahu betul semua sepak terjangnya. Sedang hilangnya Sanggabawung dan Sangga Kelana membuatnya jadi punya pikiran lain. Dia khawatir, kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak pergi ke Kawah Neraka, tapi menghadang di pinggir desa dan menghabiskan satu per satu jago-jago bayaran.
Ki Pungkur mendongakkan kepalanya sedikit miring, ketika salah seorang membisikkan sesuatu dari belakang. Tak berapa lama kemudian Ki Pungkur mengangguk-anggukkan kepala. Sementara laki-laki muda yang berpakaian merah menyala dan bersenjata golok dipinggang, terus pergi menyelinap di antara penduduk.
"Ada apa?" tanya Ki Karangseda.
"Hm...," Ki Karangseda bergumam, keningnya sedikit berkerut.
"Di sekitar perbatasan Kawah Neraka, banyak mayat bergelimpangan. Mereka adalah orang-orang persilatan," lanjut Ki Pungkur.
Ki Karangseda menatap tajam pada adiknya. Sungguh mati, dia kaget bukan main mendengar berita itu. Sedang Telasih tampak tenang-tenang saja duduk di kursinya. Bahkan bibirnya tampak tersungging senyuman mendengar berita itu.
"Aku yakin, Pendekar Rajawali Sakti masih hidup. Bahkan sekarang ini, tidak sedikit jago-jago bayaranmu meninggalkan batas Kawah Neraka. Mungkin hanya beberapa saja yang tinggal," lanjut Ki Pungkur melaporkan.
"Kau cari pendekar itu di Kawah Neraka, sekarang juga!" perintah Ki Karangseda dengan suara tertahan.
"Gila! Kenapa tidak kau tusukkan saja pisaumu kedadaku?!" dengus Ki Pungkur geram.
"Jangan *****, Pungkur! Semuanya bisa berantakan kalau pendekar itu masih hidup!"
"Huh! Kau mau enaknya sendiri, Kakang. Sudah aku peringatkan sejak semula, jangan bawa-bawa nama Pendekar Rajawali Sakti! Dia bukan orang yang bisa diajak main-main!" gerutu Ki Pungkur.
"Sekarang ini kau yang bertanggung jawab terhadap keamanan desa, Pungkur."
"Tapi bukan untuk mengurusi persoalan pribadimu!"
"Pungkur!" sentak Ki Karangseda begitu terkejut mendengar kata-kata yang bernada ketus itu.
Ki Pungkur menatap tajam pada Ki Karangseda. Kemudian dia bangkit dan beranjak pergi tanpa berkata-kata lagi. Ki Karangseda hendak mengejar, tapi keburu dicegah oleh Telasih. Dan dengan bersungut-sungut, dia kembali duduk.
"Biarkan saja, mungkin dia masih merasa kehilangan!" kata Telasih mencoba menghibur.
"Sikapnya jadi aneh. Aku rasa, bukan hanya karena kehilangan dua murid kesayangannya," Ki Karangseda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti sikap Ki Pungkur yang jadi membenci dirinya.
"Ah, sudahlah! Nanti juga terbiasa. Dia cuma meluapkan emosinya!" hibur Telasih.
Tapi benarkah apa yang dikatakan Perempuan Iblis Pulau Karang itu? Apakah hanya karena kehilangan dua murid kesayangannya, Ki Pungkur lantas membenci kakaknya? Semua ini menjadi beban pertanyaan Ki Karangseda. Dia masih tidak yakin, kalau adiknya berubah hanya karena peristiwa kehilangan. Pasti ada hal lain yang tengah dipikirkan Ki Pungkur.
********************
__ADS_1
Sementara itu acara hiburan di panggung sudah selesai. Tampak Ki Karangseda bangkit dari duduknya. Dia segera melangkah pelan-pelan dengan kepala menengadah, menunjukkan wibawanya. Satu per satu kakinya menaiki anak tangga panggung. Sejenak dia mengedarkan pandangannya.
Suasana jadi hening begitu Ki Karangseda berada di atas panggung. Laki-laki tua dengan pakaian perlente itu menjura memberi hormat pada seluruh pengunjung yang memadati halaman rumah.
"Terima kasih aku ucapkan pada saudara saudara yang telah sudi datang ke sini, untuk menyaksikan penobatan Kepala Desa Kali Anget yang baru," kata Ki Karangseda, suaranya menggema karena disertai dengan tenaga dalam.
Suasana masih tetap hening. Sementara seluruh pandangan para undangan tertuju pada laki-laki tua di atas panggung itu. Sedang para penduduk yang berdiri di belakang barisan kursi undangan, seperti malas-malasan.
"Perlu saudara-saudara ketahui, bahwa Ki Jatirekso telah melarikan diri, karena tidak bisa mengatasi kerusuhan yang melanda desa ini. Dan aku bersama Ki Pungkur telah berhasil mengatasinya, hingga desa yang kita cintai ini menjadi tenang seperti semula. Namun, karena sebuah desa tidak layak jika tidak ada yang memimpin, maka aku memutuskan untuk menjadi kepala desa sementara sampai hari ini. Dan atas restu saudara-saudara sekalian, mulai hari aku ini resmi jadi..."
"Ha ha ha...!" tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar menggema dari segala arah, memutus kata-kata Ki Karangseda.
Seketika itu juga keadaan jadi gaduh. Sementara suara tawa yang keras disertai tenaga dalam sempurna itu terus menggema. Tampak Ki Karangseda celingukan, mencari sumber tawa itu.
"Diaaam...!" bentak Ki Karangseda keras, mengalahkan suara gaduh dan tawa.
Mendadak keadaan jadi sunyi kembali. Suara Ki Karangseda itu begitu keras bagai guntur di siang hari. Sementara matanya beredar berkeliling. Sedang Telasih sudah berdiri di sampingnya.
Dua puluh orang bersenjata golok di tangan, segera mengambil tempat melingkari panggung. Mereka mengenakan seragam merah menyala, dan golok besar panjang melintang di dada. Ternyata mereka adalah murid-murid Ki Pungkur yang sengaja dikerahkan untuk menjaga segala kemungkinan.
"Jangan percaya kata-katanya! Dia tidak lebih dari perampok yang harus dilenyapkan!" lagi-lagi terdengar suara keras menggema.
"Siapa kau? Ke luar!" bentak Ki Karangseda gusar.
"Aku, orang yang kau jadikan kambing hitam!"
"Pendekar Rajawali Sakti.,.," desah Ki Karangseda bergetar suaranya.
Suasana di halaman rumah besar itu makin tegang! Suara yang menggema tanpa ujud, membuat para penduduk beringsut dan menjauhi panggung. Bahkan beberapa undangan juga sudah beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya, tidak mau ikut campur dalam masalah itu. Kini hanya tinggal beberapa undangan yang memiliki nyali cukup besar yang masih duduk dikursinya.
"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, Ki Karangseda!" suara tanpa ujud itu kembali terdengar.
"Keluar kau, pengecut!" bentak Ki Karangseda.
"Aku di sini,"
Ki Karangseda terlonjak kaget seraya berbalik. Tampak seorang pemuda tampan dengan mengenakan rompi putih dan bersenjata pedang yang gagangnya berbentuk kepala burung, sedang nangkring di salah satu cabang pohon yang tidak jauh dari panggung.
"Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ki Karangseda sedikit bergetar suaranya.
"Aku datang untuk menyerahkan kepalaku, Ki Karangseda. Aku ingin hadiah yang kau janjikan," kata Rangga kalem.
"Setaaan...!" geram Ki Karangseda tidak lagi dapat mengendalikan amarahnya.
Seketika itu juga dia mengebutkan tangannya ke depan. Sinar keperakan segera meluncur dari telapak tangannya yang terbuka. Sinar itu meluncur bagai kilat dan menghantam pohon yang ditangkringi Rangga. Dan kemudian terdengar suara ledakan dahsyat, begitu sinar itu menghantam pohon. Seketika itu juga, pohon yang ditangkringi Rangga jadi hancur berkeping-keping.
"Hebaaat...," puji Rangga yang tahu-tahu sudah berada diatas panggung.
Ki Karangseda langsung terperanjat. Buru-buru dia membalikkan tubuh. Tak disangkanya sama sekali, kalau Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berada dibelakangnya. Sementara Telasih hanya mengamati wajah tampan yang berdiri tegak di pinggir panggung. Hatinya langsung terpesona melihat ketampanan wajah Rangga.
"Kau menjanjikan seribu keping uang emas untuk kepalaku, bukan? Nah! Sekarang aku datang untuk meminta hadiah itu," tenang sekali suara Rangga, tapi nadanya mengejek.
Ki Karangseda menggemerutukkan rahangnya menahan geram. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri mencari-cari adiknya. Tapi Ki Pungkur tidak tampak di sekitarnya.
"Aku serahkan kepalaku, tapi kau harus mengambilnya sendiri," kata Rangga lagi dengan tenang, walau nadanya menantang.
"Setan! Seharusnya kau sudah mati!" geram Ki Karangseda.
"Sayang sekali, justru aku sendiri yang mengantarkan pesananmu."
"Phuih!" Ki Karangseda menyemburkan ludahnya.
Secepat kilat Ki Karangseda mencabut pisau kembarnya. Dan tanpa berbasa-basi lagi, dia langsung menerjang sambil berteriak nyaring. Sementara Rangga hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri, sedang tangannya terangkat dan memapak tangan kiri Ki Karangseda yang menusukkan pisaunya ke arah leher.
Trak!
Ki Karangseda terkejut setengah mati, karena tangannya kesemutan begitu beradu dengan tangan Rangga. Secepat kilat dia melompat mundur, dan menyiapkan serangan selanjutnya.
"Mati, kau! Yeaaah...!" teriak Ki Karangseda.
"Hih!"
__ADS_1
********************