Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Sepasang Walet Merah Bag. 7


__ADS_3

Rangga mengamati sebentar mulut goa yang gelap pekat Kakinya melangkah ringan memasuki Goa Larangan Semakin masuk, semakin lembab udaranya. Rangga mengerahkan ilmu Mata Dewa Elang seingga dapat melihat jelas dalam keadaan gelap sekali pun.


Kakinya terus melangkah lebih dalam lagi, dan baru berhenti melangkah ketika didapatkannya sebuah makam yang indah di depannya. Segera Rangga berlutut dengan sikap memberi hormat. Dari cerita Wulan dapat dipastikan kalau ini makam Eyang Resi Suralaga. Pendekar Rajawali Sakti kembali berdiri.


"Maaf, saya datang untuk membantu cucu-cucumu," kata Rangga sopan.


Baru saja Rangga selesai berkata, tiba-tiba makam itu bergetar yang semakin lama semakin kuat. Rangga tetap berdiri tenang. Matanya tertuju pada makam yang masih bergetar bagai terjadi gempa. Tiba-tiba asap putih mengepul perlahan-lahan di tengah-tengah makam. Kian lama kian menebal.


Rangga kembali memberi hormat, namun matanya tetap tertuju ke arah makam yang masih mengepulkan asap putih tebal. Pelan-pelan getaran itu melemah bersamaan dengan pudarnya asap, hingga akhirnya hilang sama sekali. Goa kembali tenang.


"Apakah Eyang Resi berkenan cupu itu saya bawa untuk Sepasang Walet Merah?" Rangga bertanya halus dan sopan.


Rangga menunggu beberapa saat sambil tetap menjura hormat. Matanya tertuju pada sebuah benda berbentuk kendi berwarna keemasan yang muncul setelah asap tebal menghilang. Itulah Cupu Manik Tunjung Biru. Besarnya seukuran kepala orang dewasa, berada tepat di tengah-tengah makam.


Tiba-tiba saja cupu itu bergerak-gerak dan melayang ke arah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti ini pun berdiri seraya mengeluarkan tangannya. Cupu Manik Tunjung Biru berhenti tepat di telapak tangannya. Tanpa ragu-ragu lagi, dia menjura dan berbalik. Kembali dilangkahkan kakinya menuju luar goa.


Ketika kakinya baru melangkah sejauh dua tombak di depan mulut Goa Larangan, tiba-tiba di depannya muncul seorang perempuan tua dengan rambut yang serba putih.


"Nenek Sumbing," gumam Rangga mengenali perempuan tua itu. "Apakah telah kau selesaikan pertarunganmu?"


"Hik hik hik..," Nenek Sumbing tertawa ngikik. "Sangat mudah melenyapkan si tua Klabang Hijau."


Pendekar Rajawali Sakti tak perlu penjelasan lagi. Dia cepat mengerti kalau Klabang Hijau telah tewas di tangan perempuan tua ini. Jadi jelas, tingkat kepandaian Nenek Sumbing tidak bisa diremehkan.


"Heh! Rupanya kau sudah berhasil menemukan Cupu Manik Tunjung Biru, bocah!" seru Nenek Sumbing. Matanya jelalatan memandang benda yang berada di kempitan ketiak Pendekar Rajawali Sakti.


"Benda pusaka ini akan kuserahkan pada pemiliknya," sahut Rangga.


"Kalau begitu, kau tak usah repot-repot mencarinya. Benda itu milikku."


"Aku sudah tahu siapa pemiliknya. Yang pasti bukan kau, Nenek Sumbing."


"Kampret jelek! Berani umbar bacot di depanku. Apa kau punya nyawa rangkap?" Nenek Sumbing mendelik gusar.


"Bukan hanya rangkap, tapi seribu."


Nenek Sumbing berjingkrak geram. Kata-kata Rangga yang diucapkan tenang itu sangat menyakitkan telinganya. Jelas mengandung tantangan meski tidak diucapkan secara langsung.


"Bocah, serahkan saja cupu itu! Jangan sampai kuturunkan tangan kejam padamu!" dengus Nenek Sumbing mengancam.


"Aku rasa kau telah kejam sejak dulu," sahut Rangga kalem.


"Setan belang! Rupanya kau tidak bisa diajak damai!"


"Tidak ada kata damai untuk orang serakah sepertimu."


Nenek Sumbing tidak bisa lagi menahan geram. Seketika itu juga diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti. Namun terjangan itu luput, karena pendekar ini telah menggeser kakinya sedikit ke kanan. Nenek Sumbing yang semula menganggap remeh, semakin gusar. Segera dia berbalik dan menyerang kembali dengan jurus-jurus tangan kosong Perhatiannya terpusat penuh pada cupu yang aman dalam ketiak Pendekar Rajawali Sakti.


Dalam lima jurus saja, Rangga paham kalau Nenek Sumbing mengarahkan jurus-jurusnya hanya untuk merebut Cupu Manik Tunjung Biru. Namun demikian, pertahanan Nenek Sumbing juga sangat kokoh. Beberapa kali Rangga mencoba untuk membuka pertahanan itu dengan pancingan, tapi kenyataannya gagal. Nenek Sumbing seperti mampu membaca ke mana arah gerakan dan tujuan lawan.


Sebenarnya, pertarungan itu berjalan lamban seperti dua orang yang sedang berlatih olah kanuragan. Sampai matahari terbit di ufuk Timur, mereka hanya menyelesaikan sepuluh jurus tangan kosong. Rangga penasaran juga melihat Nenek Sumbing seperti main-main.


"Aku tidak punya waktu untuk main-main denganmu, Nenek Sumbing!" seru Rangga agak gusar.


"Siapa yang main-main? Lihat tanganku!" dengus Nenek Sumbing.


Belum lagi kering mulutnya berkata, Nenek Sumbing memiringkan badannya ke kiri sambil tangan kanannya dengan cepat didorong ke depan. Rangga hanya berkelit ke kanan, karena serangan itu mudah dibaca. Tapi tak diduga sama sekali, kaki perempuan itu terangkat naik cepat.


Buk!

__ADS_1


Rangga tersentak ketika dirasakan perutnya terkena hantaman kaki perempuan tua itu. Dua langkah dia terdorong ke belakang, lalu dengan cepat menguasai diri. Dan memang benar, Nenek Sumbing sudah kembali menyerang dengan jurus-jurus yang cepat.


"Awas kaki!" seru Nenek Sumbing tiba-tiba.


Rangga hanya mengangkat kaki kanan sedikit ketika kaki Nenek Sumbing bergerak cepat menyambar. Dan sebelum perempuan tua itu berdiri dengan leluasa, dengan cepat kaki Pendekar Rajawali Sakti terayun ke depan.


"Uts!" Nenek Sumbing cepat menarik kepalanya.


Kibasan kaki Rangga meleset beberapa senti di depan muka Nenek Sumbing. Masih dalam keadaan kaki kanan di atas, Rangga menaikkan kaki kirinya. Cepat sekali Rangga bergerak memutar tubuh. Dan tanpa diduga kaki kiri pendekar itu melayang ke arah dada.


"Ukh!" Nenek Sumbing yang tidak menyangka secepat itu datangnya serangan susulan, tidak bisa mengelak lagi.


Satu tombak Nenek Sumbing terjengkang ke belakang. Dadanya terasa sesak terkena tendangan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Nenek Sumbing mendengus, sambil mengerahkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Ini dilakukan untuk menghilangkan rasa sesak yang menyelimuti dadanya.


********************


Duel dua tokoh tingkat tinggi itu terjadi sampai matahari naik cukup tinggi. Sampai sejauh ini belum ada yang terlihat terdesak. Masing-masing sudah mengeluarkan jurus-jurus andalan yang sangat berbahaya. Pada kesempatan yang memungkinkan, Rangga menggunakan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega. Tubuhnya melayang cepat ke angkasa. Tidak diduga, Nenek Sumbing pun mampu melesat cepat mengejar Pendekar Rajawali Sakti.


"Jangan lari, Bocah!" seru Nenek Sumbing.


Tangan Nenek Sumbing bergerak cepat melontarkan benda-benda kecil berbentuk jarum. Senjata rahasia itu melesat cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu juga Rangga memang telah siap dengan jurusnya itu, sehingga dengan mudah tangannya mengibas cepat menghalau serangan jarum-jarum Nenek Sumbing. Gerakannya bagai sepasang sayap burung saja yang hendak menghalau kumpulan awan di langit.


Jarum-jarum senjata rahasia Nenek Sumbing pun rontok di tengah, jalan. Bahkan beberapa di antaranya berbalik menyerang sang pemilik. Tentu saja Nenek Sumbing terkejut. Segera dia jumpalitan di udara menghindari senjata rahasianya sendiri.


Pada saat perempuan itu sibuk dengan senjata rahasianya sendiri, Rangga dengan cepat merubah jurusnya menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Begitu cepat gerakan kakinya meluruk mengincar kepala lawan. Nenek Sumbing tidak mampu mengelak lagi. Terpaksa dihadangnya kaki itu dengan tangannya.


Krek!


"Akh!" Nenek Sumbing memekik tertahan.


Bunyi tulang patah terdengar cukup keras. Tampak tangan kiri perempuan tua itu seperti layu, menyambar di samping tubuhnya. Nenek Sumbing merasa tidak menguntungkan bertarung di udara. Cepat-cepat dia kembali turun.


Sementara itu Rangga terus mengikutinya dengan tetap mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Ketika kaki Nenek Sumbing sampai di tanah, tiba-tiba dari atas datang serangan bagai seekor rajawali hendak menyambar mangsa.


Tiga kali serangan Rangga berhasil dihindari. Kini Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya menjadi 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' ketika kakinya menjejak tanah. Mendapat sedikit kesempatan, Nenek Sumbing bergegas bangkit.


"Tamat riwayatmu, Nenek Sumbing!" seru Rangga keras.


Seketika Nenek Sumbing harus menerima serangan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Kedua tangan Rangga bergerak cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Perempuan tua itu kembali repot menghindari serangan yang datang beruntun bagai hujan yang tumpah dari langit. Lebih-lebih hanya sebelah tangan saja yang bergerak menahan gempuran itu.


Beberapa kali Nenek Sumbing hampir kecolongan. Jurus yang dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti penuh dengan tipuan. Dan lagi, setiap ayunan tangannya mengandung hawa panas menyengat kulit. Hal ini membuat Nenek Sumbing kian sulit mengatur napasnya.


"Ikh!" Nenek Sumbing kembali tersentak ketika tangan kiri Rangga tiba-tiba menerobos mengarah dada.


Buru-buru Nenek Sumbing melompat ke belakang. Dalam keadaan tangan masih mengarah sasaran, kaki Rangga sudah bergerak cepat melompat sambil menyepak. Nenek Sumbing segera mengegoskan tubuhnya ke kiri. Sepakan kaki Rangga luput dari sasaran.


"Hiya...!" Rangga berteriak nyaring.


Dengan kaki masih melayang, tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat. Kali ini Nenek Sumbing tidak bisa lagi menghindar. Hawa panas yang datang lebih dulu, membuat tubuhnya kaku. Dan...


"Aaaakh...!" Nenek Sumbing menjerit menyayat hati.


Tangan kanan Rangga telak masuk ke bagian dada perempuan tua itu. Seketika tubuh Nenek Sumbing terlontar keras ke belakang, dan baru berhenti setelah menabrak pohon yang cukup besar. Tubuh itu pun terhempas keras di tanah. Tampak dari mulutnya darah kental kehitaman muncrat membasahi pakaian.


Nenek Sumbing meregang nyawa sebentar, lalu diam dengan dada melesak ke dalam. Rangga berdiri tegak memandang tubuh tua yang menggeletak tak bernyawa lagi Kemudian mata Rangga beredar ke sekeliling. Bibirnya menyungging senyum, karena yakin tidak ada lagi orang-orang yang terlihat di sekitar tempat ini.


Mereka yang rata-rata memiliki kepandaian di bawah Nenek Sumbing, segera melarikan diri ketika melihat perempuan tua itu tewas. Rangga mengalihkan pandangannya ke arah Wulan yang berdiri memapah Jaka. Pendekar Rajawali Sakti itu pun tersenyum seraya melangkah mendekati Sepasang Walet Merah. Cupu Manik Tunjung Biru masih berada di dalam kempitan ketiaknya.


Rangga menyerahkan Cupu Manik Tunjung Biru kepada Sepasang Walet Merah. Wulan yang menerimanya tidak mampu untuk berkata-kata lagi selain matanya saja yang berkaca-kaca meluapkan keharuan. Agak lama mereka tidak saling bicara.

__ADS_1


"Aku rasa tempat ini tidak aman untuk kalian berdua," kata Rangga memulai pembicaraan.


Wulan menatap Jaka sebentar, lalu kembali memandang Pendekar Rajawali Sakti.


"Jika kalian setuju, aku punya tempat cukup baik," kata Rangga lagi.


"Boleh kami tahu?" tanya Jaka.


"Tentu saja. Tempat itu bernama Pulau Karang. Memang tempatnya di seberang laut, tapi kalian bisa menyewa perahu dari para nelayan."


"Di mana letaknya?" tanya Wulan.


"Kalau ingin ke sana, pergi saja ke arah selatan. Jika telah sampai pantai, minta tolonglah pada nelayan untuk mengantarkan. Rata-rata mereka tahu tempat itu."


Wulan mengerutkan keningnya.


"Jangan khawatir. Di sana ada banyak pulau karang Kalian bisa memilihnya salah satu. Sulit bagi orang lain untuk mencari pulau yang akan kalian tempati. Bahkan nelayan yang mengantar kalian belum tentu dapat ingat."


"Bagaimana, Kakang?" tanya Wulan meminta pendapat.


"Aku rasa itu lebih baik," sahut Jaka menerima penuh usul Pendekar Rajawali Sakti.


"Tapi keadaanmu..."


"Aku tidak apa-apa. Hanya luka ini perlu sedikit perawatan lagi."


Sepasang Walet Merah kembali menoleh pada Rangga, tapi pendekar muda itu telah tidak ada lagi di tempatnya. Tentu saja mereka jadi mencari-cari. Rangga seolah-olah lenyap ditelan bumi, hilang tanpa jelas ke mana perginya. Bahkan suaranya pun tak terdengar saat pergi.


"Sungguh tinggi ilmunya," gumam Jaka kagum.


"Ya. Kalau saja seluruh tokoh sakti seperti dia, dunia ini pasti aman," sahut Wulan bergumam pula.


Jaka memandang Wulan dan tersenyum. Tangannya melingkar di pundak gadis itu. Wulan juga tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jaka. Sesaat mereka berdiri mematung.


"Kita berangkat sekarang?" usul Jaka setelah lama terdiam.


"Sebentar, aku ganti pakaian dulu, "sahut Wulan baru sadar kalau pakaiannya cabik-cabik tidak karuan.


Sepasang Walet Merah mengayunkan kakinya menuju ke Goa Larangan. Goa itu sebenarnya memang tempat tinggal mereka. Bertahun-tahun mereka tinggal di sana, dan sebentar lagi harus hengkang dari situ. Entah untuk waktu berapa lama, atau mungkin tak lama lagi.


"Sebenarnya aku berat meninggalkan tempat ini," bisik Wulan.


"Aku juga," sahut Jaka.


"Tapi kita harus berlatih lagi untuk menyempurnakan ilmu Walet Merah."


"Kau tetap ingin jadi pendekar?" Jaka bertanya.


"Kenapa?" Wulan balas bertanya.


"Tidak apa-apa," desah Jaka.


"Kau tidak suka, Kakang?"


"Aku suka, tapi aku lebih suka jadi orang biasa. Punya ladang, keluarga, dan anak-anak yang manis. Hidup tenteram tanpa selalu dibayangi bahaya."


"Kita akan hidup tenteram setelah menguasai ilmu "Walet Merah'," sahut Wulan.


Jaka hanya tersenyum saja. Wulan tak kalah dengan senyumnya yang manis. Dan matahari pun tersenyum seperti mengiringi sepasang anak manusia memasuki goa. Tanpa diketahui, sepasang mata mengawasi dari jarak yang tidak begitu jauh. Sepasang mata itu milik Pendekar Rajawali Sakti. Bibirnya menyungging senyum, lalu berbalik dan melangkah pergi.

__ADS_1


TAMAT


EPISODE SELANJUTNYA KITAB TAPAK GENI


__ADS_2