Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Wajah Seribu Bag. 4


__ADS_3

Sebuah bangunan menyerupai benteng, tampak berdiri megah di dataran sebuah jurang yang lebar dan dalam di bagian Timur Hutan Tarik. Kayu-kayu besar berdiri berjajar mengelilinginya. Di belakangnya tiga buah bangunan kecil dan sebuah bangunan panjang tampak berdiri dengan angkuhnya, seolah tengah mengawal bangunan yang menyerupai benteng itu. Sementara puluhan orang-orang berpakaian serba hitam terlihat pula di sekitar bangunan yang paling besar itu.


Di dalam bangunan bagian tengah itu, tampak tengah berkumpul lima orang berpakaian serba hitam. Mereka duduk menghadapi seorang pemuda tampan yang wajah-nya diliputi kegusaran. Di sebelahnya duduk seorang wanita setengah baya dengan raut wajah murung, namun masih terlihat garis-garis kecantikannya. Mata pemuda itu menatap satu per satu orang-orang berpakaian serba hitam di hadapannya. Lalu pandangannya terhenti pada wanita setengah baya di sebelahnya.


"Sebaiknya kau urungkan saja niatmu, Rakapati. Kau tidak akan berhasil menentang ayahmu. Apalagi sekarang dia sudah meminta bantuan adiknya, Panglima Lohgender yang bukan lawanmu," kata wanita setengah baya itu.


"Tidak, Ibu. Pantang bagi Rakapati surut sebelum mencapai cita-cita," Rakapati tegas membantah. "Masalah Paman Lohgender, Klenting Kuning yang akan menghadapi."


Perempuan yang duduk paling kiri, tersenyum mendengar namanya disebut oleh Rakapati. Wanita berbaju hitam berparas cantik itu memandang wanita setengah baya yang duduk di samping Rakapati. Wanita itu adalah Puspa Lukita, Ibu Rakapati yang juga selir dari Adipati Prahasta.


"Ingat, anakku. Aku hanya seorang selir dari Adipati Prahasta. Kau tidak berhak menuntut ayahmu untuk menyerahkan kedudukannya padamu," kata Puspa Lukita lembut.


"Apapun yang terjadi, Kadipaten Karang Asem harus jadi milikku. Akulah yang berhak menjadi Adipati Karang Asem. Prahasta bukan ayahku dan ibu jangan menutup mata saja dengan apa yang telah dia lakukan. Masih jelas dalam ingatanku, bagaimana dia membunuh Ayahanda Sirandana. Menghancurkan Kerajaan Karang Asem. Dan kini dia menduduki tanah kelahiranku sebagai Adipati. Tidak, Ibu! Karang Asem harus kembali menjadi sebuah kerajaan, dan aku akan menghancurkan Kerajaan Limbangan!" suara Rakapati terdengar penuh letupan dendam.


Puspa Lukita tak lagi bisa bersuara. Dia memang tak bisa menutupi kenyataan sesungguhnya yang telah dibeberkan oleh putranya ini. Kadipaten Karang Asem, dulunya memang sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh Prabu Sirandana, ayah kandung Rakapati. Kerajaan kecil itu hancur dan hanya dijadikan sebuah kadipaten oleh Raja Limbangan yang memperluas wilayahnya. Dan Puspa Lukita pun bisa memahami jalan pemikiran anaknya untuk memperoleh kembali apa yang menjadi haknya, hanya jalan yang ditempuh Rakapati dengan mengundang tokoh-tokoh hitam rimba persilatanlah yang membuatnya selalu gusar dan cemas.


Puspa Lukita menatap orang-orang berpakaian serba hitam di depannya. Dia tahu siapa mereka, Klenting Kuning, Setan Cakar Racun, Iblis Kembar Teluk Naga dan yang duduknya paling kanan adalah si Perempuan Iblis Peminum Darah. Mereka adalah tokoh-tokoh hitam rimba persilatan. Tokoh-tokoh sakti itu memang sengaja diundang Rakapati untuk menggulingkan Adipati Prahasta, dan juga melatih para pemuda yang diambil dari desa-desa di Kadipaten Karang Asem untuk memperkuat barisannya. Pemuda-pemuda yang semula merasa diculik itu akhirnya dengan sukarela mendukung rencana Rakapati setelah mengetahui maksud dan tujuan yang sebenarnya. Apalagi kepemimpinan Adipati Prahasta yang mereka rasakan kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.


"Setan Cakar Racun, laporkan apa yang kau alami semalam?" Rakapati menatap si Setan Cakar Racun.


"Tidak ada yang perlu dilaporkan, semua berjalan aman," sahut Setan Cakar Racun.


"Klenting Kuning...?" Rakapati mengalihkan perhatiannya.


"Sesuai perintah, aku menemui Adipati Prahasta. Hanya saja ada gangguan sedikit," sahut Klenting Kuning dengan suaranya yang lembut merayu.


"Lalu bagaimana?"


"Seperti biasa, Adipati Prahasta tetap tidak mau turun dari jabatannya"


"Hm...," Rakapati bergumam. "Kau sendiri?" Rakapati menatap Perempuan Iblis Peminum Darah.


"Gagal," sahut Perempuan Iblis Peminum Darah.


Rakapati mengerutkan keningnya.


"Aku tidak berhasil mendesak dia untuk menarik pasukan Kerajaan Limbangan dari Kadipaten Karang Asem. Mungkin kau sudah mendengar semuanya tadi pagi..."


"Ya, aku sudah dengar cerita kejadian di tepi Hutan Tarik. Yang aku ingin tahu, siapa orang itu?" pelan suara Rakapati.


"Aku tidak tahu. Tapi dia mempunyai tingkat kepandaian yang sangat tinggi, mampu melayani sepuluh orang pilihan bersenjata lengkap dengan tangan kosong. Tanpa adanya campur tangan Arya Duta dan dua orang pemimpin pasukan dari kadipaten pun aku rasa dia bisa menghancurkan sepuluh orang pilihan kita," Perempuan Iblis Peminum Darah menjelaskan.


"Bagaimana ciri-cirinya?" Klenting Kuning bertanya ragu.


"Aku rasa orangnya masih muda. Dan kalau aku tidak salah, dia membawa pedang di punggungnya," sahut Perempuan Iblis Peminum Darah.


"Apakah pedang itu bergagang kepala burung?" tebak Klenting Kuning.


"Tidak salah!" seru Perempuan Iblis Peminum Darah.


"Dia memakai pakaian rompi putih?" desak Klenting Kuning lagi. Dia merasa yakin dugaannya tidak meleset.


"Iya..., iya! Dia memakai pakaian rompi putih. Rambutnya panjang terikat, hanya wajahnya saja aku tidak bisa jelas melihatnya. Keadaan terlalu gelap, dan kejadiannya juga sangat cepat"


Klenting Kuning tidak bertanya lagi. Dia terdiam dan hanya mendesah panjang. Rakapati yang melihat perubahan wajah wanita cantik itu, jadi penasaran.


"Siapa dia, Klenting Kuning?" tanya Rakapati.


"Aku yakin, dia pasti Pendekar Rajawali Sakti," pelan Klenting Kuning menyahut.


Empat orang tokoh sakti lainnya diam tepekur kala mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti disebut. Mereka memang pernah mendengar kehebatan nama itu. Dan mereka juga tahu kalau Klenting Kuning pernah berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti di Bukit Setan.


Rakapati yang belum mengetahui dan mendengar nama itu, sama sekali tidak terkejut. Tapi demi melihat kelima orang yang diundangnya langsung diam tepekur, dia seperti menangkap sesuatu yang mencemaskan. Namun dia pun segera menyadari kalau bukanlah hal yang aneh jika Adipati Prahasta juga meminta bantuan tokoh-tokoh persilatan seperti yang kini dia lakukan. Hal itu memang sudah dia perhitungkan sejak semula.


"Kalau sampai Pendekar Rajawali Sakti itu membantu mereka, aku khawatir rencana kita akan hancur.


“Tidak seorang pun yang bisa menandingi kepandaiannya saat ini.'' Klenting Kuning kembali mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


"Aku yakin, dia pasti memihak mereka," sergah Perempuan Ibiis Peminum Darah.


"Waktu itu aku ketemu dia di Kadipaten. Untungnya aku masih sempat bisa meloloskan diri, meskipun beberapa orang menjadi korban."


"Apa sebaiknya kita undang tokoh sakti yang lebih tinggi darinya, Rakapati?" usul Naga Hitam, salah seorang dari Iblis Kembar Teluk Naga.


“Tidak perlu!" semak Klenting Kuning keras.


Semua mata langsung menatap Klenting Kuning.


"Kalian tidak perlu memikirkan Pendekar Rajawali Sakti. Aku bisa mengatasi dia!" kata Klenting Kuning tegas.


Tak ada lagi yang membuka suara. Mereka paham kalau Klenting Kuning mampu mengatasi Pendekar Rajawali Sakti. Mereka pernah mendengar Klenting Kuning sempat bentrok di Bukit Setan. Dan mereka juga tahu kelebihan wanita cantik itu. Perempuan cantik berjuluk Iblis Wajah Seribu itu memiliki aji 'Pelebur Jiwa' yang tak bisa ditandingi siapapun. Pendekar Rajawali Sakti sendiri pernah dibuatnya tidak berdaya, untung saja muncul si Kipas Maut, sehingga pendekar muda itu berhasil selamat.


"Yang penting sekarang, lakukan semua yang telah direncanakan Rakapati. Masalah Pendekar Rajawali Sakti itu urusanku. Aku sendiri yang akan menanganinya nanti, juga si Lohgender tua itu!" kata Klenting Kuning angkuh.


Kembali suasana hening tanpa suara.


"Ada lagi yang ingin dikatakan?" tanya Rakapati memecah keheningan.


"Tidak!" sahut mereka serempak.


"Kalau begitu, sebaiknya pertemuan ini disudahi."


Rakapati berdiri dan melangkah diikuti ibunya meninggalkan ruangan tengah dari rumah besar itu. Klenting Kuning dan keempat orang lainnya bergegas ke luar. Mereka berpencar begitu sampai di luar pintu ruangan pertemuan ini.


********************


Malam baru saja datang menjelang. Suasana di bagian Timur Hutan Tarik nampak sepi. Beberapa orang terlihat berjaga-jaga di seputar benteng. Sementara itu di dalam salah satu kamar yang besar dan indah dari salah satu bangunan yang berdiri di dalam benteng, tampak sesosok tubuh ramping tergolek di atas pembaringan. Punggungnya yang putih mulus terbuka lebar, hanya selembar kain tipis merah muda menutupi tubuh itu dari pinggang ke bawah.


Tubuh yang ramping indah itu berbalik menghadap ke pintu kamar. Klenting Kuning, pemilik tubuh indah Itu menatap pintu. Tangannya menarik kain untuk menutupi tubuhnya. Matanya yang dihiasi bulu mata lentik, agak menyipit mendengar pintu kamarnya diketuk. Ketukan yang hanya sesaat dan harus itu terdengar hampir tidak jelas.


"Masuk...!" seru Klenting Kuning lembut.


Pintu kamar terkuak, lalu muncul Rakapati yang langsung melangkah masuk. Sebentar dia menutup pintu dan menguncinya. Lalu kembali melangkah perlahan mendekati Klenting Kuning yang tersenyum manis. Mata-nya berbinar menyambut kedatangan pemuda tampan itu. Rakapati duduk di tepi pembaringan.


"Kau tidak pergi bersama mereka, Klenting Kuning?" tanya Rakapati lembut. Tangannya mengusap-usap pipi halus wanita itu.


Klenting Kuning beringsut bangun dan duduk.


"Klenting Kuning, ada yang ingin kutanyakan padamu." kata Rakapati lirih.


"Kau bisa menundanya, kan?" balas Klenting Kuning manja.


"Tidak, aku harus mengatakannya sekarang."


"Baiklah, apa yang akan kau tanyakan?"


"Tentang Pendekar Rajawali Sakti itu."


Klenting Kuning menatap lurus ke bola mata Rakapati.


"Kau bisa saja mengaku mampu menghadapi dia, tapi aku menangkap nada suaramu yang lain. Apakah tidak ada yang bisa menandinginya?" tanya Rakapati.


"Aku sendiri tidak tahu, sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya," pelan suara Klenting Kuning.


“Tapi kau tidak usah cemas, bagaimanapun digdayanya dia, pasti punya kelemahan. Aku bisa mengetahuinya dalam waktu singkat. Percayalah."


Rakapati terdiam beberapa saat. Sejak nama Pendekar Rajawali Sakti muncul dalam pembicaraan siang tadi, dia jadi gelisah dan gusar. Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, tapi dari ucapan Klenting Kuning, Rakapati sudah bisa menilai sampai di mana tingkat kepandaian pendekar itu.


Rasa khawatir mulai menggeluti dirinya. Kalau sampai pendekar itu memihak pada Adipati Prahasta, kesulitan besar pasti bakal dihadapinya. Perhitungannya semula mengundang tokoh-tokoh sakti adalah untuk menghadapi Panglima Lohgender, yang dikenal sebagai tokoh sakti rimba persilatan sebelum menjadi orang penting di Kerajaan Limbangan.


"Ah, sudahlah. Kita bicarakan soal itu nanti, Rakapati. Kau tentu bisa melupakannya sebentar saja, kan?" kata Klenting Kuning seraya menarik kembali leher pemuda itu.


********************


Sementara itu di Kadipaten Karang Asem, Panglima Lohgender tengah membicarakan soal gerombolan pengacau dengan Pendekar Rajawali Sakti, Pandan Wangi, Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih. Mereka duduk melingkar menghadapi sebuah meja bundar dari kayu Jati berukir.

__ADS_1


"Aku yakin, sarang mereka di Hutan Tarik," kata Arya Duta.


"Hutan Tarik sangat luas, keadaannya juga sulit untuk dijelajahi. Berbukit-bukit dan banyak lembah yang dalam," sahut Panglima Lohgender.


"Dua kali aku bentrok dengan mereka di hutan itu, Ayah," kata Arya Duta tetap pada pendiriannya.


"Apa kau sudah mencoba untuk mencari sarang mereka?" tanya Panglima Lohgender. "Sudah."


"Ketemu?"


Arya Duta menggelengkan kepalanya.


"Sebentar, apa boleh aku menyelak?" pinta Rangga.


"Silakan." sahut Panglima Lohgender.


"Tiga hari aku mengamati keadaan di Kadipaten Karang Asem ini, tapi tidak ada tanda-tanda kekacauan, bahkan penduduk pun melakukan tugasnya seperti biasa," tutur Rangga. Dia sengaja tak menceritakan kalau dia sempat memergoki seseorang berpakaian serba hitam di Kadipaten Karang Asem ini. Dan itu tidak mungkin dia katakan.


"Memang, sekarang ini Kadipaten Karang Asem aman, penduduk tak lagi terlihat resah." Panglima Lohgender menyahuti.


"Lalu, kekacauan apa lagi yang terjadi?" tanya Rangga tidak mengerti.


"Gerombolan itu kini mengalihkan sasarannya pada para petinggi kadipaten, terutama yang dari Kerajaan Limbangan dulu," Panglima Lohgender menjelaskan.


"Hm, apakah tidak terpikir kalau ini pemberontakan?" gumam Rangga seperti bertanya untuk dirinya sendiri.


"Pikiran itu sudah ada," Panglima Lohgender berkata pelan. "Hanya saja belum ada ritik terang, siapa dalang dari semua ini."


"Bisa diceritakan riwayat Kadipaten Karang Asem ini?" pinta Pandan Wangi menyelak membuka suara.


"Apa ada hubungannya?" Arya Duta bertanya. Dia kurang mengerti dengan jalan pikiran Pandan Wangi.


"Mungkin...," sahut Pandan Wangi pelan.


"Baiklah," sergah Panglima Lohgender. "Aku akan menceritakannya sedikit."


Panglima Lohgender menceritakan tentang riwayat Kadipaten Karang Asem ini yang dulunya merupakan satu kerajaan dengan nama Kerajaan Karang Asem. Kerajaan Karang Asem dan Kerajaan Limbangan, dulunya bersatu, dan terpecah setelah rajanya mangkat. Kerajaan Limbangan tetap berdiri sebagai kerajaan besar, sedangkan Karang Asem berdiri sebagai kerajaan kecil. Kedua kerajaan itu kembali terlibat pertikaian ketika Kerajaan Karang Asem mencoba untuk memperluas wilayah dengan menyerobot wilayah Kerajaan Limbangan. Namun Kerajaan Karang Asem yang lebih kecil itu akhirnya takluk dan dijadikan sebuah kadipaten. Lalu ditunjuk Adipati Prahasta untuk memerintah di Karang Asem menggantikan Raja Prabu Sirandana yang tewas terbunuh dalam perang.


"Apakah Raja Limbangan dan Raja Karang Asem ada hubungan keluarga?" tanya Pandan Wangi.


"Mereka saudara satu ayah lain ibu. Prabu Wardana adalah putra mahkota dari permaisuri, sedangkan Prabu Sirandana adalah anak dari selir."


"Saat Kerajaan Karang Asem jatuh, apakah Prabu Sirandana punya putra?" tanya Pandan Wangi lagi.


"Ada, namanya Rakapati, dan ibunya bernama Puspa Lukita. Saat itu Rakapati masih kecil…," sahut Panglima Lohgender.


"Hm.... ada kemungkinan Rakapati mau mengembalikan Karang Asem menjadi kerajaan kembali," gumam Pandan Wangi seperti bicara untuk dirinya sendiri.


"Tidak mungkin!" tukas Balungpati menyanggah.


"Kenapa tidak...?"


"Gusti Putri Puspa Lukita kini menjadi istri Adipati Prahasta. Dan sekarang beliau diungsikan bersama putranya ke Desa Putu di Kadipaten Sedana," sanggah Balungpati lagi.


"Ada yang mengantar ke sana?" tanya Rangga mulai mengerti jalan pikiran Pandan Wangi.


"Lima puluh orang prajurit." sahut Welut Putih. "Dan mereka semua baru boleh kembali kalau keadaan sudah teratasi."


"Hm..., sejak tadi aku tidak melihat Gusti Adipati. Di mana beliau?" Pandan Wangi bertanya setengah bergumam.


"Sejak dia diserang dua kali, selalu mengurung diri di kamarnya," sahut Panglima Lohgender.


Pandan Wangi melirik Rangga. Yang dilirik pun cepat mengerti. Kemudian Rangga bangkit berdiri diikuti Pandan Wangi. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka berpamitan dan meninggalkan ruangan itu.


"Apa pendapatmu, Kakang?" tanya Pandan Wangi setelah mereka melewati pintu gerbang kadipaten.


"Entahlah, aku harus menyelidikinya dulu. Ini bukan persoalan biasa," sahut Rangga mendesah.

__ADS_1


"Ya, jangan sampai kita salah langkah...."


********************


__ADS_2