Pengembara Yang Terluka

Pengembara Yang Terluka
Kediaman Walikota #


__ADS_3

Happy SatNight All...


Like Vote n Coment...


Langit gelap menyelimuti seluruh kota GuangZhao,Suara gong menggema sebanyak tujuh kali.Diluar tembok kediaman walikota,ratusan penduduk berkumpul sambil berteriak gembira.


" Hidup Tabib !!! Hidup Kaisar !!! "


Suara itu terus bergema,hingga suara letusan dilangit membuat suara mereka terhenti.


Duaaaaarrrr...Duaaaaaarrrr...Duaaaaaaaaarrrr...


Langit menjadi terang sesaat,Cahaya kembang api terlihat membentuk serpihan yang menyebar dilangit.


Malam itu Seluruh penduduk Kota GuangZhao tumpah ruah dijalan.Suara musik dan teriakan2 gembira terus bergema.


Sementara itu,disebuah Kamar yang terang benderang.Terlihat seorang pemuda berwajah kusut.Diatas pembaringan,terlihat sesosok tubuh mungil tertidur dengan napas yang teratur.


Namun beberapa saat kemudian,tubuh mungil tersebut tersentak keudara,melayang diatas pembaringan.Cahaya merah dan hitam terus bersinar menembus tubuhnya.


Lukita dengan segera mengerahkan jurus telapak Naganya,Menahan tubuh sahabatnya yang seakan2 terus bergerak naik keatas.


" Bangunlah Sobat ! Kau pasti kuat ! Kau pasti mampu melawannya !" Terdengar suara lukita dengan nada sedih.


seperti mendengar ucapan sahabatnya,Tubuh perbol kembali tenang,cahaya merah dan hitam mulai meredup.perlahan2 tubuh perbol kembali turun kepembaringan,lalu kembali diam tak bergerak.Hanya dadanya yang terlihat naik turun dengan teratur.


Lukita menyeka keringat dikeningnya,Lalu turun dari pembaringan.Dia lalu duduk bersemedi dilantai,mencoba membuka kembali isi kitab Kayu Cendana yang ada didalam otaknya.


' Air hitam Kembang surgawi menjadi satu melebur lara membasuh luka.semua yang menyakiti akan pergi,kehidupan baru telah hadir kembali.1 unsur kehidupan dibumi satu unsur kehidupan insani menumbuhkan kehidupan yang baik bagi diri sendiri.'


Tok...tok..tok


" Permisi tabib,Aku membawakan makan malam untuk tabib . " Terdengar suara seorang wanita dari luar kamar


Lukita menarik napasnya dalam2,pandangannya menatap kearah pembaringan.Lalu segera bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu kamarnya.


Begitu pintu dibuka,tercium aroma bunga yang sangat wangi.Paras yang elok laksana bidadari terlihat tersenyum menatapnya dengan malu2.


Lukita kembali menarik napasnya dalam2, kesedihan dihatinya,seperti sirna sesaat.terbayang kembali wajah seorang wanita yang pernah dicintainya.


" Maaf,Tabib.Aku lancang mengganggu istirahatmu." Shi la yang dengan sengaja berdandan sebaik mungkin demi bertemu dengan Dewa penyelematnya dengan senang hati datang kekamar Lukita atas permintaan ibunya Jing Nuwang.


" Ehhh...Ohhh...Tak Apa2 Nona." Jawab Lukita yang tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Shi la


" Maaf Tabib,Sebenarnya tuan Walikota ingin mengundang tabib untuk makan bersama diKediamannya,itu kalau tabib berkenan." Ucap Shi la Dengan suara sedikit bergetar,tanpa sadar tanganya juga ikut bergetar,membuat hidangan diatas nampan ikut bergoyang.


Dengan cepat lukita memegang nampan,agar hidangan diatasnya tak tumpah jatuh kelantai.


" Maaf Tabib,Aku...Aku gugup ! Boleh kah aku masuk kedalam,Hidangan ini sedikit berat,Juga sekalian aku ingin menjenguk Tabib kecil." Ucap Shi la buru2 menutupi rasa gugupnya


" Emmm..Ehhh...tapi..." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut lukita


" Hanya sebentar tabib,Aku janji !" Shi la kembali berkata,Kali ini nada bicaranya terdengar lembut dan halus.


" Silahkan,Nona." Jawab Lukita,Lalu sebelah tangan kirinya membuka pintu lebar2.


" Tolong lepaskan saja tangan tabib,Aku masih kuat membawa hidangan ini." Seru Shi la Kembali,Dia tak dapat masuk karena nampan bagian depan masih dipegang oleh tangan kanan lukita.


" Ehhh...Maaf Nona,Silahkan...Silahkan...! " Lukita segera melepaskan tangannya,Lalu bergeser kesamping.


Shi la Segera Masuk Kedalam kamar,Namun karena posisi tubuh lukita yang berdiri ditengah2 pintu,membuat tubuh Shi la menyentuh tubuh lukita,Bahkan rambutnya yang tergerai panjang,tanpa sengaja tertiup angin hingga sebagian menempul diwajah lukita.


Aroma harum yang terpancar dari tubuh Shi la semakin memenuhi penciuman lukita,Rambut yang menyentuh wajah dan hidungnya,membuat wajah lumita berubah merah merona.kembali terbayang wajah wanita idamannya yan dulu.


Shi la segera meletakkan hidangan diatas meja yang ada ditengah2 kamar.Lalu melihat sekilas kearah tabib yang masih berdiri kaku ditengah pintu.Shi la tersenyum sesaat,Lalu mendekati pembaringan.

__ADS_1


Tabib kecil sedang tertidur lelap,dadanya naik turun dengan teratur.Keningnya terlihat basah oleh keringat.Melihat hal itu,tanpa ragu Shi la mengeluarkan Sapu tangan dari saku Bajunya.Lalu mengelap Keringat dikening tabib kecil.


" Ehhhh..."


tiba2 Cahaya merah bersinar terang,Gadis cantik tersebut terkejut,tanganya merasakan hawa dingin yang sangat kuat.


" Tabib...!" Seru Shi la


Namun Lukita seperti tak mendengar panggilan gadis itu.


" Tabib...! Tubuh Teman Tabib Bersinar ! Juga sangat Dingin !" Shi la kembali berseru


" Ehhh...Ya Nona...Oh...Maaf " Lukita segera tersadar dari lamunannya,lalu bergerak mendekati sahabatnya.


" Bagaimana keadaan sahabatmu,Tabib ?"


" Begitulah Nona,Dia hanya bisa tertidur.Hawa dingin dan cahaya merah itu berasal dari mustika merah,dan cahaya panas dan cahaya hitam berasal dari mustika hitam."Jelas Lukita,wajahnya kembali memancarkan kesedihan


" Tabib pasti dapat menyembuhkan Bukan ? Aku yakin tabib pasti bisa." Shi la merasakan kesedihan pemuda gundul didepannya.


" Semua sakit diciptakan pasti ada obatnya,hanya saja ada yang mudah dan ada yang susah mengobati.Seandainya sahabatku seorang manusia aku tak akan sekhawatir ini." tukas lukita,tangannya menyentuh kening perbol yang terus menerus mengeluarkan keringat.


" Pakai ini tabib ." Shi la memberikan sapu tangan yang tadi dipakainya.


" terima kasih Nona." Lukita mencoba tersenyum,lalu menyeka keringat sahabatnya.


" Bagaimana dengan undangan Walikota,Tabib ?" tanya shi la kembali


" Aku tak bisa meninggalkan sahabatku disini sendirian,Nona." Jawab lukita,pandangannya menatap sekejap kearah Shi la


" Biar aku yang menjaganya,Tabib.Pergilah ! Walikota sangat berhutang banyak padamu." Shi la menatapi wajah pemuda gundul yang telah mencuri hatinya.


" Tak ada hutang piutang antara kami,Nona.Secara kebetulan,aku kembali kesini,ingin melihat Peta Negri ini." Jawab lukita,Lalu segera beranjak mendekati meja makan.


" Selamat malam,Tuan Muda tabib ! Maaf telah mengganggu,Tuan ."


Lukita yang baru saja duduk dimeja makan,segera bangkit kembali.


" Selamat malam Tuan Walikota.Maaf merepotkan tuan datang kesini." Jawab lukita lalu segera menjura Hormat.


" Aduh...Tuan Muda tabib,Mengapa harus sungkan.Sebaliknya kami yg telah menyusahkan tuan,hingga sahabat tuan menjadi terluka." Walikota Gho Ban siu segera membungkuk menjura Hormat,Diikuti oleh istri dan kedua anaknya.


" Maaf tuan Muda Tabib,hamba sudah mendengar perbincangan tuan barusan.Tuan Muda tabib tak perlu repot2 keluar kamar,Kami akan menyiapkan tempat kita bermumpul malam ini didepan kamar tuan." Ucap Ghoban Sui,Lalu tanpa menunggu lama,dia segera memberi perintag kepada kepala punggawa untuk segera meyiapkan meja dan kursi.


Kebetulan didepan kamar lukita ditempatkan adalah taman yang cukup luas.


Dengan sekejap,taman tersebut dibuat menjadi Tempat berkumpul yang cukup menampung 30an orang.


Lukita hanya bisa tersenyum,dia memaklumi tindakan Walikota.Biar bagaimanapun,dia juga punya keperluan,untuk mengetahui dimana letak Lembah Neraka.


" Tempatnya sudah selesai, Tabib.Mari kita berbicara sejenak." Ucap Walikota Dengan nada lembut namun tegas.


Ditempat tersebut,beberapa punggawa,Perwira Juga para pendekar yang telah dipilih oleh walikota,ikut bergabung dengan mereka.Jing Nuwang beserta pengawalnya juga telah berada ditempat itu.


" Baiklah,Silahkan tuan ." Lukita segera mengikuti Walikota Yang berjalan menuju kursinya.


"Silahkan duduk tuan dan nyonya sekalian !" Ucap walikota,pandangannya melihat semua orang yang hadir.


" Maaf sebelumnya,telah mengganggu istirahat tuan tabib,juga tuan dan nyonya lainnya.Sejujurnya,saya ingin menjamu sekaligus merayakan kebebasan kita dari pemberontak,namun saya memahami,bahwasanya sahabat Tuan Muda tabib sedang terluka,dan buru2 untuk pergi mencari obat dilembah neraka.Dari itu,malam ini kita akan mencoba membantu sekaligus membalas jasa tuan muda tabib." Walikota menarik napasnya sejenak,lalu dia bangkit berdiri


" Sekali lagi,saya beserta penduduk kota GuangZhao,mengucapkan beribu2 terima kasih kepada tuan muda tabib." Walikota menjura hormat tiga kali kearah lukita.


Lukita segera berdiri,dan membalas menjura hormat pula.


Dan semua tamu yang hadir juga ikut serta menjura hormat kepada tabib muda.

__ADS_1


" Sebenarnya,semua ini adalah takdir,kebetulan saya kembali kekota ini,bermaksud meminjam peta negri ini kepada tuan walikota." Lukita berbicara sambil berdiri.


" Tentang perihal Peta negri ini,sepertinya tak akan berguna untuk tuan tabib,karena Lembah neraka tak ada dalam daftar peta negri kami,tuan." jawab walikota,lalu tangannya memberi tanda untuk duduk kembali.


" Namun Tanda yang diberikan oleh siluman gagak hitam,sepertinya kami sedikit mengetahui letaknya." Sambung walikota kembali


" Benar Tabib muda,Kebetulan,dahulu Guru Hamba pernah berkata kepada ku,Hindari Tempat dinegri ini,tempat diujung barat dan utara karena tempat itu sangat berbahaya bagi manusia." Jing Nuwang ikut berbicara.


" Terima kasih atas petunjuknya Nyonya Jing." Jawab lukita


" Tapi tuan tabib,Bukankah tempat itu sangat berbahaya,apakah tidak ada cara lain untuk memyembuhkan tabib kecil ?" Sambung Nyonya Jing kembali


" Mungkin sudah takdirku untuk pergi kesana,Nyonya Jing.Tak ada yang perlu dikhawatirkan,kalau sang pencipta berkehendak,kemanapun kaki ini melangkah,bahaya akan selalu ada." Jawab lukita kembali sambil tersenyum.


" Kalau itu sudah kewajiban tuan tabib,kami akan mempersiapkan semua keperluan tuan selama dalam perjalanan kesana." Walikota kembali berkata


" Maaf tuan Walikota,tak perlu repot2,kami akan pergi dengan cara kami,Membawa perbekalan kami seadanya." Jawab lukita kembali tersenyum.


" Baiklah Tuan Tabib,Kalau itu yang tuan mau." Walikota memahami kemauan Lukita,


" Maaf Tuan Muda tabib,Aku lancang ikut berbicara.Bisakah tuan muda tabib,membawa pakaian yang telah kusediakan buat tuan ?" Tiba2 Putri Walikota Berbicara.


Lukita menoleh sesaat,Sambil tersenyum dia berkata.


" Maaf Nona,aku juga lancang,sebaiknya simpan saja baik2,Kami hanya akan membawa bekal yang kami bawa saja." Jawab lukita sungkan


" Hanya sehelai ,Tabib.Pakaian ini hasil rancangan dan jahitanku sendiri,tentu tak akan merepotkan tabib ." Putri Whu tia siu tetap berusaha,Sifatnya memang keras kepala.


Lukita menatap kearah Walikota,lalubmenarik napasnya kembali.


" Maafkan atas kelancangan putriku,Tuan tabib.Dia memang sedikit keras kepala." Ucap Walikota tak enak hati.


" Tak mengapa tuan walikota,Kalau hanya selembar pakaian buat ku,tentu tak akan merepotkan kami diperjalanan." Jawab lukita,Dia tak mau membuat kecewa Putri Walikota.


" Ahhh...Benar Tuan Tabib,Tak akan merepotkan.Aku akan menyiapkan pakaiannya segera." Wajah Putri Whu Tia berubah berbinar2,wajah cantiknya terlihat semakin bercahaya dikala hatinya sangat gembira.


" Maaf Tuan Dan Nyonya sekalian ! Ayah,Aku pamit kembali kekamarku." Whu tia menjura hormat,Lalu segera Berlari menuju kamarnya.


" Maafkan Putriku,Tabib muda !" Istri walikota berdiri sambil menjura hormat kearah lukita


" ehhh...Tak apa2 Nyonya,tak perlu sungkan." Lukita menjadi makin tak enak hati.


Shi la terlihat kesal,dia terus memperhatikan lukita dari dalam kamar sambil menunggu Tabib kecil yang masih tertidur.


" Uhhh...Putri walikota keterlaluan !" Gumam Shi la sambil menghentak2an kakinya kelantai.


" Uhuk...uhuk..!" Perbol yang telah bangun sedari tadi,mendengar ucapan Shi la


" Jangan Bermain api kalau tak mau terkabar,Nona !" Ucap Perbol pelan,


Shi la Terkejut bukan Main,mendengar suara Tabib kecil.


" Tabib Kecil ! Kau telah siuman ?" Tanya shi la yang segera mendekat,lalu duduk dipinggir pembaringan.


"Sudah dari beberapa menit lalu,nona.Hehehe" Perbol kembali berkata.


" Bagaimana keadaanmu sekarang,Tabib Kecil ? Sebaiknya Aku beritahukan Tabib Muda !" Shi la Terlihat sangat senang.


P,erbol hanya tersenyum,melihat tingkah gadis cantik didepannya.


" Tabib Muda...Tabib Muda...! Tabib kecil telah siuman !" Seru Shi sambil berjalan keluar kamar lukita dengan gembira.


Sebenarnya Lukita sendiri sudah mendengar pembicaraan Perbol dan Shi la,Namun dia pura2 terkejut.Segera bangkit dari duduknya,lalu berbalik menghadap kamarnya.


Entah kebetulan atau memang sudah takdir,Tiba2 kaki Shi la Tersandung Bunga yang ada didalam Pot.Tanpa sengaja tubuhnya melayang jatuh.

__ADS_1


Dengan Sigap,Lukita menangkap Tubuh Shi la.Hingga tanpa sadar,mereka berdua terlihat seperti orang yang sedang berpelukan.


' Rezeki Nemplok Sobat ' Terdengar suara telepati dari sahabatnya


__ADS_2