
Sementara itu,dipenginapan lukita sedang melalukan pengobatan bersama dengan sahabatnya,kali ini antrian tidak terlalu banyak.Karena semua pasien telah diatur oleh Yang Bho dho dan teman2nya.
Diantara pasien,ada seorang nenek tua yang kelihatan sangat renta,berdiri sambil terbungkuk2 menunggu antrian.
Lukita melihat sejenak kearah nenek tua,Lalu meminta Yang Bho untuk mendahulukan Nenek tersebut.
" Ayo nek,Tuan Tabib telah memint nenek didahulukan." Ucap Yang Bho Dengan sopan,sejak menjadi pengikut Tabib Muda,banyak perubahan sikap mereka.
" Terima Kasih ." Lalu nenek tua segera berjalan mengikuti yang bho.
Lukita segera menyambutnya,lalu mempersilahkan nenek tersebut untuk duduk.
" Nenek,Sakit apakah yang nenek rasakan ?" Tanya lukita sambil tersenyum ramah.
Nenek tua tak langsung menjawab,namun matanya menatap dalam2 pemuda didepannya.
" Nek,Apakah kau mendengar ucapanku ?" Tanya lukita kembali.
" Owhhh...Iya...Tabib." Jawab nenek tersebut terbata2.
" Aku sebenarnya tidak sakit,kalaupun ada,Penyakitku tentu tak dapat disembuhkan." Sambung nya kembali.
" Emang kau sakit apa,, Nek ?" Tanya perbol dengan suara rada keras.
" Ehhh...Sakitku adalah umur yang tua dan badan yang keriput.Hehehe ... " Sinenek terkekeh memperlihatkan giginya yang hitam dan ompong.
" Behhhh..." Perbol terperanjat kaget.
Lukita sendiri hanya tersenyum mendengarnya.
" Kalau sakitmu itu,tentu masih bisa diobati nek !" Seru Perbol asal2an.
" Haaaa..." Gantian sang nenek yang terkejut
" Benarkah ?" Sambungnya lagi tak percaya.
" Hahahaha...!" Perbol tertawa terpingkal2
" Sudahlah sobat,jangan bercanda terus." Lukita segera menegur sahabatnya
" Nenek,kalau penyakit yang nenek maksud,itu sudah garis dari sang pencipta.Tentu kita tidak dapat mengobatinya,begitu juga dengan orang yang sudah mati." Ucap lukita dengan sabar.
" Nahhh...kau benar tabib muda,itu masuk akal.Aku percaya padamu." Jawab nenek tersebut sambil terkekeh memperlihatkan kembali giginya yang hitam.
" Ehhh...Nek,Sebenarnya apa maksud kedatanganmu kesini ?" Tanya perbol tak sabaran.
Nenek tua menatap kearah Perbol dengan pandangan tak suka.
" Aku mendengar,dikota ini telah kedatangan seorang tabib sakti.Bisa mengobati orang yang sakit dengan cepat." Jawab nya
" Putriku sedang sakit,tubuhnya dicabik oleh seekor Singa yang besar,mungkin nyawanya tak lama lagi." Ucap nenek tua sambil meneteskan airmata.
" Dimanakah putrimu saat ini,nenek ?" Tanya lukita dengan cepat begitu mendengar ceritanya.
" Dia sekarang terbaring lemah diRumah kami." Jawab nenek tua terisak.
" Kita sekarang kerumahmu,nek !" Seru lukita cemas.
" Bagaimana Dengan Mereka ?" Tanya perbol sambil menunjuk orang2 yang antri.
__ADS_1
" Tunda mereka dahulu,putri nenek ini dalam bahaya." Sahut lukita,lalu segera menggenggam tangan nenek tua.
" Ayo nek,kita berangkat sekarang juga." Sambung lukita kembali,lalu segera meminta tolong pada Yang Bho dho dan teman2nya untuk mengatur para pasien yang lain.
" Terima kasih,tabib muda.Aku tak akan melupakan jasamu seumur hidupku." Nenek tua menghapus airmata diwajahnya,lalu segera bangkit berdiri.
Tanpa bertanya dimana rumah nenek tua,lukita segera beranjak pergi bersama sahabatnya menuju kediaman nenek tua.
Mereka berjalan kearah luar kota,hingga malam menjelma,mereka telah memasuki hutan yang gelap.Namun anehnya,nenek tua yang berjalan terbungkuk2 seperti tak merasakan kelelahan.hingga tanpa mereka sadari,jalan mulai mendaki dan berbatu.
Lukita dan perbol sebenarnya merasa ada yang aneh,bagaimana nenek2 setua itu,bisa datang kekota tanpa bantuan apapun.Dan sepertinya dia sangat hapal dengan jalan yang mereka lalui.
' Sobat,Apa kau merasakan sesuatu ?' Tanya lukita dengan bahasa telepati.
' Hahaha...Sudah dari penginapan tadi !' Jawab perbol terkekeh
' Ehhh...bagaimana aku tak bisa merasakan ?' Tanya lukita heran
' Kau sudah menyentuhnya,Itu yang membuat kau seperti hilang kesadaran.' Jawab perbol tetap dengan bahasa telepati.
' Kenapa kau tak menyadarkanku ?'
' Aku penasaran,Apa mau siluman tua ini ?' Jawab perbol kembali.
' Kesadaranku telah pulih disaat kita memasuki hutan.Nenek ini,berjalan seperti orang tua,namun gerakannya sangat cepat dan lincah.'
' Hahaha...Siluman tua ini,sangat lihai ! Kita harus hati2 dan waspada.' Ucap perbol kembali.
' kita lihat,kemana sebenarnya kita akan dibawanya.' Ucap lukita,lalu segera berjalan lebih cepat mengiringi nenek tua.
" Nenek,apakah masih jauh ?" Tanya lukita
" Apakah kau tak merasa lelah,nek ?" Tanya lukita sewajarnya,agar nenek tua tak curiga.
" Ahhh...apalah arti lelahku,hatiku sangat gembira,tabib muda bersedia memgobati Putriku,dan lagi bersedia datang ketempatku.Rasa Senang ini yang membuatku lupa akan arti lelah." Nenek tua menghentikan langkahnya,lalu tersenyum menatap wajah lukita.
" Baiklah nek,ayo kita lanjutkan kembali." Sahut lukita dengan tersenyum pula.Jawaban nenek tua sangat masuk akal.
Tak sampai sepeminum teh,mereka telah tiba dipuncak gunung atau lebih tepatnya bukit dibawah Gunung taibai.
Tanah dipuncak bukit sangat datar dan luas,mereka mulai memasuki hamparan beraneka ragam bunga.
Lukita tertegun menatap pemandangan didepannya,lalu menatap sahabatnya.
Perbol menyadari arti dari tatapan sahabat juga rajanya.wajahnya tersenyum,dia yakin tempat inilah yang mereka tuju selama ini.siapa sangka,justru mereka dibawa oleh nenek tua ketujuan mereka.
" Nenek,tempat apakah ini ? Apakah Nenek yang menanam bunga2 ini ?" Tanya lukita pura2 tak tau.
" Hehehe...Tanaman ini telah ada didunia ini sebelum kami datang kesini.Aku juga tak tau siapa yang menanamnya,kami hanya sekedar merawatnya." Jawab nenek sekenanya.
" Sungguh luar biasa,seumur hidupku,baru ini aku melihat ciptaan Sang Pencipta yang begitu indah." Ucap Lukita sejujurnya.
" Takdir...Takdir mu bertemu denganku,hingga kalian bisa berada ditaman surga." Jawab nenek tua terkekeh
" Disana,itu rumahku !" Seru nenek tua kembali,tangannya menunjuk kearah pepohonan yang tinggi berjejer dengan rapi.Diatas Pohon,terlihat cahaya lentera bersinar menembus dinding bangunan sebuah rumah pohon.
" Ahhhh...rumah mungil yang indah ! " Seru lukita dengan kagum.
" Kau sangat pandai memuji,tabib muda.Kata2mu selalu membuatku senang." Ucap nenek tua kembali terkekeh bangga.
__ADS_1
" Aku hanya berkata sejujurnya,nek.itu yang selalu diajarkan oleh Kakek ku." Jawab lukita apa adanya.
" Rumah monyet gitu ! Apanya yang indah !" Seru Perbol tiba2
" Kau !!!" Seru nenek tua geram,langkahnya terhenti sambil berbalik badan menatap perbol dengan mata melotot.
" Sobat,tolong jangan mulai !" Tukas Lukita dengan cepat.
" Maaf nenek,jangan salah faham.Sahabatku kalau lagi lapar emang suka asal bicara." Sambung lukita segera
Mendengar kata Lapar,nenek tua segera mengerti.Kedua tabib telah berjalan dengannya hampir 2jam penuh tanpa istirahat.
" Hehehe...tabib muda,aku mengerti.Orang yang kelaparan memang suka ngawur,apalagi orang penyakitan !" Jawab nenek tua sambil menyindir perbol.
" Aahhhh...maaf nek,aku kalau lagi lapar emang suka ngelantur.Apalagi tubuhku juga lagi sakit.Tapi aku senang,paling tidak aku tak mengidap penyakit Tua dan keriput seperti nenek." Jawab Perbol membalas sindiran nenek tua.
Bukannya marah,justru nenek tua tertawa semakin kuat hingga terpingkal2.
" Kau benar...Kau benar...! Ayo kita sudah sampai,aku akan menyiapkan hidangan istimewa buat kalian." Ucap nenek tua bersemangat.Lalu dengan ringan tubuhnya melayang naik keatas rumah yang berada ditengah2 dua batang pohon yang besar.
Lukita dan perbol saling menatap,lalu segera ikut melompat naik keatas rumah.
Bangunan tersebut terbuat dari bambu yang tebal,dianyam sangat rapi oleh kulit bambu pula,Mulai dari Bambu yang besar dan kecil semua diikat dan disusun sangat rapi.Teras rumah bambu cukup luas bisa untuk enam orang dewasa berkumpul.sementara didalam terlihat dua buah bilik kamar yang cukup lega.Atapnya terbuat dari dedaunan lebar yang disusun rapi dijepit oleh bambu.
Dinding bagian dalam seperti dipenuhi oleh bunga2 beraneka warna,yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat lebih indah dan menarik.Disebelah dalam lagi terlihat bilik,mungkin tempat untuk memasak atau dapur.
Lukita tersenyum2 melihat bangunan rumah bambu tersebut,bangunan sederhana,namun terlihat sangat rapi pembuatannya.Mereka berdua masih berada diteras rumah,dibelakang mereka terhampar segala macam tanaman bunga,namun begitu melihat kesamping rumah,terlihat dengan jelas air terjun yang mengalir kedalam lembah yang dalam.Samar2 air terlihat berkilauan diterpa cahaya bulan besar yang bersinar terang.
" Tempat yang luar biasa." Gumam Lukita sambil geleng2 kepala.
" Tempat siluman tua dan muda,pasti berbahaya pula." Sahut perbol pelan.
" Hawa mereka sangat kuat,tapi aku mencium aroma obat yang lebih kuat,sobat.Aku yakin,obat ini sangat langka dan sangat berumur." Ucap lukita,lalu menghirup napasnya dalam2 sampai memejamkan matanya.
Terdengar lantai bambu berderit,tak lama kemudian terlihat nenek tua sedang membawa teko air dan 2 cangkir yang semua terbuat dari bambu.
" Maaf ...Maaf...minumlah dahulu Ginseng ini,tenaga kalian akan kembali pulih dan tubuh menjadi segar kembali." Nenek tua tersenyum sambil meletakkan Nampan dilantai teras.
" Nenek,bukan kah putrimu dalam bahaya,apa tak sebaiknya kita segera mengobatinya !" Seru lukita dengan nada khawatir.
" Minumlah dahulu,setelah itu aku akan membawa tabib masuk kedalam kamar putriku." Ucap nenek tua dengan nada gusar dan cemas.
Lukita segera mengambil cawan bambu yang telah terisi penuh dengan air.
" Sobat,minumlah ." Ucap lukita,lalu meneguk seteguk demi seteguk air dicawan,lidahnya merasakan ada rasa asin sedikit.Namun setiap tegukan air yang masuk ditubuhnya,seperti membawa sumber energi yang membuat tubuh seperti sangat nyaman dan ringan,tenggorokan terasa sangat lega,matanya menjadi lebih terang.
Begitu juga yang dirasakan oleh sahabatnya perbol,sampai2 dia kembali mengisi cawannya yang telah kosong dengan cepat.
" Nenek,air apakah ini ? Rasanya sedikit asin,namun khasiatnya sangat terasa ditubuh." Tanya lukita penasaran.
Nenek tua tersenyum,
" Air ini berasal dari perut bumi dibawah sana,dari sumber air murni dicampur dengan ginseng yang berusia ratusan tahun.Minuman inilah selama ini yang membuat tubuh putriku dapat bertahan hidup." Ucap nenek tua,wajahnya kembali sedih begitu menyebut putrinya.
" Ehhh Siluman tua,apakah aroma obat berasal dari ginseng ini ?" Tanya perbol keceplosan.
Nenek tua terperanjat kaget,dia sampai melompat bangkit dari duduknya.
" Ternyata,kalian sudah tau siapa kami sebenarnya ! Kau bocah,kau juga sebangsa dengan kami !" Ucap nenek dengan nada marah
__ADS_1