Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 8 - Gelombang kedua.


__ADS_3

Pasukan pemimpin iblis datang bergerombol dalam bentuk yang besar dari arah selatan menuju gerbang perbatasan. Suara gemuruh langkah kaki seperti suara hujan. Arlo merasa keberatan dengan jatah lawan yang ia hadapi, sekitar 200 iblis kelas prajurit dipimpin pasukan Elit di garis depan. Dan semua itu hanya Arlo yang menanganinya. Ditambah serangannya di lakukan secara terang-terangan di depan gerbang desa.


“Cih, dasar orang tua. Menyerang secara terang-terangan. Padahal aku tidak suka bertempur di tempat umum” Arlo bersiap di depan gerbang bersama beberapa orang yang bersikeras ingin membantunya.


Pasukan itu berhenti sekitar 15 meter di depan gerbang dan berhenti untuk bersiap menyerang. Tubuh Arlo seakan di hujani keringat dan gemetaran. Dia tetap memaksakan untuk Fokus melawan musuhnya sama seperti dulu.


“SERANG!!” pasukan itu mulai maju menyerbu dari depan gerbang, mereka berlarian seperti orang gila dalam batin Arlo.


Arlo bersiap menahan serangannya sendiri, senjata sabit andalannya ia keluarkan dan bersiap dalam kuda-kuda bertahan. Matanya menatap fokus pada sejumalah pasukan yang menyerang di garis depan sambil terus mengeluarkan kalimat.


“Aku pernah melakukannya sendiri, aku pernah melakukannya sendiri, aku pernah melakukannya sendiri..” Arlo terus membaca mantra itu untuk menenangkan tubuhnya.


Pasukan sudah hanya berjarak lima meter di depan Arlo. Tiba-tiba, ditebas barisan pasukan paling depan oleh suatu cahaya dan di susul ledakan yang tiba-tiba datang di bagian belakang pasukan musuh. Membuat Arlo terkejut tak berkutik dari tempat ia berdiri, terlihat cahaya itu bergerak menebas musuh kemudian mendekatinya.


“Halo tuan Arlo, aku pernah mendengar tentang buah yang kau makan itu. Aku jadi iri pada mu” suara seorang pria yang menebas barisan depan pasukan musuh. Pria itu berjalan dengan santai mendekati Arlo bersama seorang gadis di belakannya tersenyum pada Arlo.


“Jangan kasar-kasar Ferdi, maaf tuan kami di minta langsung oleh ibu anda untuk datang dan membantu anda, sebuah kehormatan bisa bertarung dengan anda, aku Sina pasukan PSA dan dia teman saya Ferdi” seorang gadis dengan setelan rapi baju panjang tidak seperti pakaian iblis pada umumnya.


“Ah.. ibu, dia itu.. baiklah terima kasih untuk perkenalan kalian, karena perang masih berlanjut ayo kita serang mereka..”

__ADS_1


“Baik” secara bersama-sama.


Arlo maju memimpin kedua orang itu di depannya danmenahan semua serangan musuh sambil menebasnya dengan sabit besarnya yang menyala-nyala. Bersamaan dengan itu, kedua orang di belakannya membantu dengan serangan jarak juah dan sihir yang kuat. Ferdi sendiri terus maju membantu Arlo dan menyerang dengan pedang merahnya yang bersinar mengeluarkan aura gelap.


“Tuan anda luar biasa, saya rasa anda bisa mengatasi semua ini sendiri. Aku tidak tau pernah punya takdir bertarung bersama anda”


“Kau berlebihan Ferdi, aku kan juga seumuranmu jadi jangan terlalu memujiku. Kau sendiri gaya pertarunganmu juga sangat serasi dengan Sina”


“Awas!!” panah yang terbakar melesat menuju seorang warga yang ikut membantu bertahan dari serangan musuh. Dengan cepat Arlo menebas panah itu dan memerintahkan mereka untuk mundur karena tiga orang saja sudah lebih dari cukup untuk melawan mereka semua.


Pasukan parajurut musuh sudah bisa di katakan habis tak tersisa dan menyisakan kedua pimpinannya yang bersiap dengan senjata masing-masing. Mereka bersiaga dan hendak menyerang, Arlo begitu waspada dengan mereka berdua mengingat sebelumnya sudah sangat merepotkan. Dari kejauhan yang sebelumnya tampak dua orang, hanya tersisa satu orang, hawa keberadaannya juga ikut hilang, tidak sama seperti saat di penginapan pak Harto.


Arlo dan ke dua temannya bersiaga dengan serangan musuh yang sangat misterius itu. Tanpa ragu satu orang itu maju membawa pedang besar dan menyerang secara terang-terangan. Serangannya tidak begitu merepotkan, tapi yang satunya sangat merepotkan karena bisa menghilang tanpa hawa keberadaan dan menyerang secara tidak terduga dan berhasil membuat luka yang cukup parah pada Ferdi yang bertarung di samping Arlo.


Arlo sudah pasrah pada keputusan ke dua temannya dan membiarkan mereka untuk tetap ikut bertempur. Ia merencanakan sesuatu untuk mengalahkan kedua pasukan Elit itu dan mengatakannya pada kedua temannya.


“Dengar! kita harus mengutamakan pria dengan pedang besar itu, bila dia sudah beres maka, biang keroknya akan muncul dan kita bisa membereskannya juga”


“Baik!!” secara bersama-sama.

__ADS_1


Mereka bertiga mengeroyok pria berpedang besar itu dan menekannya hingga benar-benar terpojok. Dan pada akhirnya pria itu mati di tangan Arlo dengan sabitnya menusuk liontin yang dipakai oleh musuh dan menembus dada tepat pada jantungnya. Di rasa pertarungan itu akan mudah setelah berkurang satu kartu AS di sana. Dan sekarang hanya tinggal satu orang saja sebagai penghalang mereka bertiga. Namun tubuh ke dua teman Arlo sudah tidak bisa untuk di paksakan. Kini Arlo menyuruh mereka untuk mundur dan beristirahat dan mereka masih menolak lagi.


“Dengar! ini semua adalah tugasku untuk melindungi desa, lalu bila kalian juga ikut mati di sini aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri untuk tidak memaksa kalian untuk mundur, sudah!, serahkan saja yang satu padaku! Aku akan mengatasinya jangan kawatir”


“Ba.. baiklah tuan” jawab Sina tebatah karena kelelahan.


Arlo pikir setelah salah satu mati maka yang satu akan muncul dan menyerang sendirian. Tapai ternyata keduanya sejak awal tidak berencana untuk bekerja sama dan perkiraan Arlo juga salah besar. Arlo harus menahan setiap tusukan-tusukan Anggar yang di gunakan lawannya. Dia punya kemampuan khusus untuk melawan Reper yang menusuk-nusuk tajam. Pada akhirnya Arlo masih kebingungan untuk menyerang lawannya yang tidak terlihat dan membalas serangannya. Arlo terus berpikir sambil menahan setiap serangan yang di berikan oleh musuhnya.


“Ah.. benar, semoga aku akan berhasil kali ini”


Arlo menutup matanya, Merasakan dan mendengarkan sekitar dengan tenang sampai pada saat musuh menyerang sabit Arlo mampu mematahkan Reper yang di pakai musuhnya. Dengan sigap sabitnya melesat lagi dan menusuk perut lawannya.Wujudnya mulai terlihat lagi, seorang pria yeng tergeletak lemas dengan tanduk yang patah satu dan ekornya yang melilit.


Maka berakhirlah pertempuran tadi dan Arlo sebagai pemenangnya. Dia segera mencari kedua orang yang membantunya dalam pertempuran tadi. Mengelilingi desa dan bertemu dengan Eri. Dia menanyakan di mana Pak Harto dan menjelaskan kondisinya. Eri menjelaskan kalau kedua temannya sedang di rawat oleh ayahnya di penginapan dan saat ini ia sedang membawakan makanan pada mereka berdua.


Segera saja Arlo datang ke penginapan dan dan menusul mereka berdua bersama dengan Eri untuk berterimakasih. Samapi di sana, langsung saja Arlo berterima kasih sebaik mungkin yang ia bisa dan malah di tertawakan oleh kedua temannya tadi.


“Tuan sudahlah, pada akhirnya kau yang menyelesaikan masalahmu sendiri dan kami hanya mendukungmu saja”


“Benar, kami hanya menjalankan tugas sebagai pelayan anda. Selain itu, ini juga menjadi pengalaman kami selama menjalankan misi bersama”

__ADS_1


“Kalian berlebihan, sekali lagi terima kasih..”


Di belakan Arlo, Eri berjalan perlahan-lahan membawa nampan yang berisi makanan untuk kedua orang itu dan segera mendekat kepada mereka, ia menatap tajam Arlo yang hanya berdiri diam di depannya


__ADS_2