Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 22 - Pertemuan.


__ADS_3

Arlo buru-buru mencari keberadaan Eri berlari keluar dari pasar yang ramai dan menuju sebuah tempat sepi, dari jauh dia mendengar teriakan seorang gadis yang sangat ia kenal. Di gang sempit ujung jalan, 5 orang dan yang satu adalah Eri duduk di kursi sedang di ikat. Seorang pria duduk di pojok ruangan dan hanya diam. Tiga orang pria mengelilingi dan menggoda Eri, tangannya yang kotor itu mencolek-colek pipi Eri.


Dari jauh di ujung lorong, Arlo mendekat menyeret sabit merahnya yang menyala seperti api. Wajahnya suram dan sekitar tubuhnya berjalan, aura hitam menyelimuti.


“Berani sekali kalian menganggu manusia? aku pikir di wilayah ini hanya ada perdamaian dan ketenangan. Aku sudah salah sangka..” Arlo berjalan mendekat menyeret sabitnya di tangan kiri.


“Wah ada pangeran yang datang untuk menyelamatkan tuan putri. Bagaimana kalau kita beri pelajaran padanya?” senyum mengerikan dari seorang pria mendekat pada Arlo dan membawa pedang di tanganya.


Arlo melesat tepat di depan pria itu dan menodongkan sabitnya bersiap memotong leher pria itu. Dalam kedipan mata, pria itu mati dalam satu tebasan oleh Arlo, kepalanya mengelinding di depan kursi tempat Eri di ikat. Wajah Arlo yang begitu suram mendekati kedua orang di dekat Eri.


Tanpa ada jeda, kedua orang itu sudah kehilangan kedua lengannya dan darah di mana-mana. Keduanya lari tunggang-langgang tanpa tangan, dengan cepat Arlo memotong kedua leher mereka dan kembali di dekat Eri.


Salah seorang pria yang duduk sendirian di pojok ruangan berdiri dari duduknya dan bersiap, terlihat jelas tubuhnya gemetaran dan keringat bercucuran. Arlo perlahan-lahan mendekati pria itu dan mencabut pisau di pahanya.


Pria itu sudah begitu dekat dengan kematiaanya, saat-saat Arlo hendam melemparkan pisau di tangannya.


“Jangan Arlo! Dia tidak mengganggu ku, jangan bunuh dia!” Eri berteriak pada Arlo berusaha menahannya.


Mendengar itu, Arlo kembali kepada Eri dan mulai membelah tali yang mengikatnya. Tatapan Arlo masih begitu waspada pada pria itu, selesai ikatannya terbuka, Eri langsung di tarik keluar oleh Arlo menjauh.


“Aku sudah tau di mana kastilnya. Ayo kita kesana Nona!”

__ADS_1


“Yaa”


Dalam perjalanan, Arlo masih terdiam dan menunduk, wajahnya terlihat suram. Eri juga tidak berani mengatakan sepatah katapun pada Arlo. Sampai Akhirnya Eri berhenti tepat di depannya dan mengintip wajah Arlo.


“Arlo.. apa kau baik-baik saja?” Eri mengintip wajah Arlo yang hanya menunduk.


“Tentu, hanya saja kedua orang itu harus di beri peringatan..”


Eri hanya diam tanpa berani menanyakan kedua orang yang di bicarakan oleh Arlo. Selain itu, Arlo juga hanya menjelaskan jalan ke arah kastil setelah itu dia hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


Mereka berdua berjalan dengan tenang langsung menuju kastil. Lokasi dan di kastil memang sedikit jauh dari lokasi kota. Disepanjang perjalanan hanya terlihat pohon-pohon tua yang berwarna coklat kemerahan, Sampai di titik yang sudah tak terlihat ada pohon lagi. Di kejauhan, terlihat di depan gerbang kastil ada dua prajurit penjaga yang sedang bersiaga. Mereka berdua segera berlari menuju kastil itu dan menemui kedua prajurit itu.


“Sebentar biar aku yang-“


“Tidak perlu!, aku sudah menyetujunya! Baiklah Arlo ayo masuk, dan bawa istrimu juga!” seorang pria yang berdiri agak jauh dari gerbang masuk dan mulai mendekat.


“Ah.. Ayah! Ba.. baik Tuan!” Arlo terlihat terkejut dengan kehadiran pria itu kelihatanya Arlo mengenalnya. Lalu mereka bertiga segera masuk ke dalam kastil dipimpin oleh pria asing itu.


Eri hanya bingung dengan Arlo dan hanya terdiam mengikuti kedua orang pria yang ada di depannya. Dalam perjalanan masuk ke ruang singasana, terlihat Arlo sempat berbicara dengan pria yang ada di sampingnya, tapi itu hanya sebentar kemudian sudah tidak ada percakapan sampai merekan berhenti di suatu tempat.


Di sebuah lorong, ada dua cabang yang menjadi arah ke sesuatu tempat. Arlo menyadari ke arah mana mereka harus pergi, tapi Saat itu yang seharusnya mereka belok kanan dan bisa langsung menemui Yang Mulia Ratu, tapi pria itu membawa kedua orang di blakangnya ke arah yang berlawaan hingga sampi di suatu tempat. Di sana ada meja makan yang sangat panjang dengan dua pelayan wanita menyambut mereka.

__ADS_1


“Selamat datang Tuan Arlo dan Nona Eri!” sapa salah satu pelayan di depan meja makan.


“Ee Arlo, sepertinya kita salah ruang?” ujar Eri melihat sekelilingnya.


“Benar Tuan, sepertinya kita memang salah masuk ruang?” jawab Arlo menatap pria itu.


“Tidak, lihat siapa yang duduk dan sedang makan di sana?” pria itu menunjuk seseorang wanita yang duduk dan makan di meja makan itu sendirian kemudian pria itu duduk di sebelah seorang wanita itu dan mempersilakan mereka berdua untuk duduk.


Arlo yang terlihat pasrah menarik tangan Eri untuk duduk di depan kedua orang asing itu. Eri hanya menuruti apa yang di lakukan oleh Arlo.


“Arlo apa kau masih mengingat ku?” sapa wanita yang sedang makan di depannya.


“Yang Mulia Ratu pemimpin Soul Of Dark” jawab Arlo terlihat sedikit kesal.


“Arlo!” Eri menyodok perut Arlo hingga terbungkuk.


“Maaf Yang Mulia, dia memang begitu” ujar Eri menundukkan kepalanya.


Kedua orang itu terlihat bingung dengan tingkah Arlo dan Eri. Lalu mereka berdua tertawa lepas dan menatap Arlo hingga ia salah tingkah.


“Benar, Arlo sejak dulu memang begitu, memang usia tidak akan merubah tingkah manusia yang ada sejak lahir ya..” Ratu tertawa kecil lalu mempersilakan Arlo dan Eri untuk makan bersama di sana.

__ADS_1


__ADS_2