
Arlo dan Eri yang baru bangun tidur di bawah pohon, pergi mencari makan di dalam hutan. Ia bilang mengenal seseorang yang bisa memasak untuk mereka di dalam hutan sana. Perjalanan cukup repot karena Arlo sepertinya sudah lupa dengan jalan yang sebenarnya dan harus menebas banyak pepohonan dan dahan-dahan yang menghadang sampai mereka di depan pondok kecil yang di kelilingi oleh bunga yang warna-warni di sekitarnya.
“Apa ini tempatnya?”
“Tentu saja Nona. Ayo cepat masuk, masakannya itu sangat enak..”
Arlo berjalan masuk ke dalam teras dan mengetuk pintunya perlahan dengan Eri yang terlihat ragu di belakangnnya. Dalam 3 ketukan terdengar suara laki-laki menyahut dari dalam rumah dan membukakan pintunya.
“Tuan Arlo!” seorang pria tua kumuh berdiri depat di pintu masuk dengan wajahnya yang terlihat sangat terkejut.
Arlo tersenyum dan menepuk tangannya di depan dadannya dan mengucapkan salam pada pria tua itu.
“Saya kembali Palog..”
“Y-yah.. selamat datang kembali Tuan Arlo, kenapa kalian kemari dan siapa Nona manis ini Tuan?”
“Sebelum itu, karena aku tidak menemukan buah atau apapun di sini, apa boleh aku masuk dan meminta sarapan disini?”
“Hah! Ba-baik Tuan, silakan masuk Tuan saya akan buatkan sesuatu untuk Anda..”
Eri menyodok perut Arlo saat ia hendak masuk kedalam rumah bersama dengan Palog di depannya. Tapi Arlo hanya tersenyum dan malah mengulurkan tangannya untuk masuk bersama. Pada akhirnya mereka berdua masuk dan duduk di dalam rumah itu. Rumahnya tidak terlalu besar dan juga kecil, ada dua ruangan yang hanya batas dinding setengahnya dan sebuah tirai yang dapat di geser.
Sepertinya ruangan sebelah adalah dapur yang biasa di gunakan untuk memasak dan mungkin juga tidur. Sedangkan ruangan dimana Arlo berada adalah ruang utama. Mereka berdua duduk dengan rapi menunggu permintaannya siap, meski sebelumnya Eri terlihat tidak senang dengan yang di lakukan oleh Arlo mengingat orang itu terlihat seperti orang miskin.
“Nona, dia itu lebih kaya di banding Raja dan Ratu yang tinggal di kastil megah itu”
“Hah?”
“Lihatlah baik-baik, saat ini dia sedang memasak di belakang dengan bahan makanan tanpa harus membeli dan hanya perlu memetiknya di halaman belakang. Selain itu, tempat ini juga senyaman kamar kita, kan?”
Eri mengangguk paham dengan yang barusan ia dengar. Beberapa saat kemudian, Palog keluar dengan membawa nampan besi yang berisi 3 piring makanan yang bersagam dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia kembali kedalam dapur tanpa mempersilakan untuk makan, karena itu mereka berdua juga tidak berani mengangkat sendok.
Kemudian Palog kembali lagi dengan membawa dua pring lain yang berisi makanan di tangan kiri dan 3 tumpuk piring di tangan kanan dan tersenyum pada mereka berdua.
“Maaf menunggu lama Tuan, Nona. Mari kita makan..”
“Yah selamat makan..”
Mereka bertiga makan bersama dalam satu meja kecil di tengah ruangan dengan tenang hingga makanan benar-benar habis. Kemudian Palog yang memberisakan sisanya bersama Eri yang mebantunya di dalam dapur. Selasia itu, Arlo menjelaskan semuanya tentang kembalinya dia kesini dan siapa yang ia bawa saat ini. Palog terenyum pada Tuan muda itu dan mengangguk seperti orang tua yang merasa bangga, persaan yang sejak lama Arlo rindukan.
“Senang mendengar semua ini Tuan.. apa Anda akan tinggal di rumah tua itu sekarang?”
“Rumah Tua?”
“Rumah itu.. mungkin saja, dari pada harus tinggal dengan dua orang aneh itu sih..”
Arlo bangun dari duduknya dan mengulurkan tangan pada gadis di sebelahnya. Kemudian mereka berdua pamit meninggalkan pria tua itu dengan ucaan terima kasih yang dalam. Diam-diam Arlo mengarahkan jalan yang berbeda dari sebelumnya mereka datang dan semakin masuk kedalam hutan.
“A-Arlo.. apa kita salah jalan”
“Tentu tudak Nona, aku sangat hafal dengan isi seluruh hutan di wilayah ini”
__ADS_1
Hutan di dalam sini semakin lebat dari sebelumnya, Arlo harus lebih ekstra untuk membuka jalan. Dari pada itu, di ujung jalan terlihat sebuah halaman yang sangat luas dengan rumah mewah di tengahnya. Meskipun terkesan mewah, dari kejauhan saja rumah itu sudah terlihat menyeramkan dengan hawa suram yang ada di sekitarnya.
“Hei! Kita ada dimana sekarang?! Arlo!” Eri nampak menunduk marah dan terlihat lebih menyeramkan di bandingkan rumah tua itu.
“He-he.. ki-kita ada di rumah.. lamaku Nona..”
“Rumah lama? Lihatlah rumah itu seperti rumah hantu yang terkenal saja. Apa kau tidak salah? Di tambah ini di tengah hutan!”
Dengan seyuman yang terpaksa, Arlo menarik tangan gadis itu berlari mendekati rumah itu. Sampai di depan rumah, Eri yang sebelumnya terlihat marah tiba-tiba berubah takut dan bersembunyi di balik punggung Arlo. Jelas sekali terdengar suara tawa yang mengerikan di dalam rumah itu dan mengiang di mana-mana.
Dengan senyuman tipis di bibirnya, Arlo melangkah masuk kedalam teras rumah itu dan mendekati sebuah pot tua di samping pintu. Perlahan ia mengangkatnya, Eri yang masih berdiri di depan rumah berdebar-debar melihat yang di lakukan pria gila itu. Perlahan Arlo mengambil seseuatu di bawah pot itu dan mendekati pintu masuk.
“Arlo, apa yang kau lakukan?”
“Hah? Aku sedang membuka kunci rumah..”
“CIh, sudah! aku mau pergi saja dari sini. Rumahnya terlihat sangat seram kau tau, bagaimana kalau hantunya muncul di depan muka! hi.. aku tidak bisa membayangkannya.."
Eri mengoceh di depan rumah itu tanpa di pedulikan Arlo dan sadar-sadar Arlo sudah tidak ada di depan pintu yang tiba-tiba terbentur dengan suara yang sangat keras. Wajah Eri memucat semakin terlihat takut dan tidak bergerak dari tempat ia berdiri. Dari dalam rumah terdengar jeritan yang sangat keras seperti seseorang yang di paksa dan berusaha di bunuh, suara itu bersautan dimana-mana dan terus begitu sampai beberapa saat.
Tiba-tiba pintu masuknya terbuka paksa dari dalam dan terlihat bayangan melangkah keluar dari rumah itu dengan seseatu yang melayang di sisi kirinya. Dia semakin dekat hingga sampai di depan pintu, kemudian sebuah sendal melayang menembus pintu dan mengenai bayang asing itu.
“Au.. Nona, apa kau tidak lihat? Sendal karet tetap sakit rupannya” rupanya bayangan itu adalah Arlo yang keluar dari rumah dengan mengelus dahinya yang merah benjol karena lemparan dari luar.
“Kau tadi kemana saja? Aku sangat ketakutan tau!”
“Itu tidak cukup untuk alasankan Nona?”
Eri berlari menghampiri pria itu dan memeluknya erat-erat.
“Apanya!”
“Kau dengar, tidak ada yang bagus. Mari masuk Nona, hantunya sudah ada di dalam sini. Rasanya sabit ini benar-benar lebih seru”
“Kau yakin?” pertanyaan muncul karena aura disana masih terasa seram.
Arlo mengulurkan tangannya dan menariknya masuk Eri kedalam rumah itu. Di dalam rupanya terasa lebih nyaman dari yang dikira, rumahnya benar-benar nyaman dengan suhu ruangan yang pas dan angin sejuk yang masuk kedalam lewat lubang disekitar rumah meski masih terkesan seram dengan beberapa lukisan tua yang terpajang.
“Arlo.. lukisan siapa itu?”
“Entahlah, sejak dulu ada disitu dan aku juga tidak bisa melepasnya”
“Hah?”
Arlo mengangkat pundaknya isyarat tidak tau dan melangkah duduk di sofa ruang utama. Rumah itu cukup besar dari perkiraan dari luar, ruang utama yang tidak terlalu luas diapit oleh dapur disisi kirinya dan kamar tamu di sisi kanannya kemudian di belakang ruang utama ada tangga untuk kelantai atas dan di belakang tangga adalah kamar mandi.
Arlo duduk bersantai di sofa itu dan tanpa sadar tertidur sedangkan tidak tau kemana perginya Eri sejak tadi yang tiba-tiba datang dengan membawa beberapa makanan di piring membangunkan Arlo.
“Arlo! Arlo! Bangun!”
“Hah! Nona, ganggu orang tidur saja..” Arlo bangun dari tidurnya dan mendongak seseorang yang berdiri di depannya.
__ADS_1
“Mau tidak, aku hanya mengukusnya” sebuah piring berisi makanan dengan uap di atasnya.
“Kebiasaan, apa ini sudah sore?”
“Yah, tadi saat kau tidur ku pikir aku juga akan tidur, tapi tidak bisa tidur karena sempit. Jadi aku coba mencari sesutu di luar dan memasaknya meski ini hanya dikukus”
“Hmm.. ini enak sekali"
Eri beranjak duduk di samping Arlo dan meletakan piring di meja dan bersandar di sofa, lagi-lagi sofa itu juga terasa sangat nyaman tanpa terasa hawa suram di sekitarnya. Cahaya surya sudah hendak redup dan tenggelam, ruangan itu sepertinya akan menjadi gelap. Arlo beranjak dari duduknya dan mengeluarkan sesuatu yang menyala dari tangannya dan melayang di sekitar ruangan menyalakan semua obor dan kembali duduk bersamaan dengan sesuatu yang menyala itu kembali ketanganya.
“Apa itu?”
“Ini core api. Jiwa iblis, ini hanya ada satu di seluruh kehidupan dan hanya aku yang punya, haha..” tawa Arlo kemudian berakir dengan makanan yang masuk paksa kedalam mulutnya.
“Sombong.. Arlo, kenapa kita ada disini? Kenapa kau membawaku kemari?”
“Karena aku harap ada kaliamat khusus yang ingin kudengar sejak kita masuk kedalam rumah yang nyaman ini..”
“Hah?”
Arlo beranjak dari duduknya dalam diam meninggalkan Eri masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama beberapa saat, gadis yang duduk di sofa itu terlelap pulas dengan seluruh makanan di piring habis. Arlo mendekati dan membangunkannya, memerintahkan untuk membersihkan diri karena hari benar-benar sudah gelap.
“Nona, airnya mungkin sedikit sulit di dapat. Tunggu saja sampai penuh bila tidak cukup”
“Yahh..” terlihat jelas merah di pipi Eri, ia melangkah masuk kedalam kamar mandi dan leyap di balik pintu.
“Anda membawa seorang gadis, Tuan Arlo?” suara entah darimana terngiang di telinga Arlo seorang.
“Hah? Kenapa? Kau iri ya.. lama tidak berjumpa, Leo”
“Yah.. selamat datang kembali ke rumah Tuan..”
Beberapa saat kemudian Eri keluar dari kamar mandi dengan wajah menunduk dan pipinya masih memerah.
“Arlo.. apa mau duduk di luar melihat bulan?” Eri memalingkan wajah dengan pipinya memerah.
“Kau yakin, di luar pasti sangat dingin”
Eri tidak peduli langsung menghampiri Arlo dan menarik tangannya keluar dari rumah, duduk di teras berdua. Selama sesaat Eri terlihat canggung dengan Arlo, ini terlihat semakin aneh dan berbahaya.
“Nona? Apa yang terjadi, apa ada lebah yang menyengatmu atau sejenisnya, ini sangat mencurigakan”
“Bukan, anu.. karena ini rumahmu apa aku juga boleh tinggal disini? Rumah ini, seperti kalimatnya, nyaman dan penuh perdamaian”
“Jadi..?”
“Rumah ini adalah tempat untuk pulang, rumah ini adalah ujung dari perjalanan” kalimat itu menggores senyuman Arlo dan bangun dari duduknya.
“Akhirnya, yang di tunggu-tunggu. Jah.. mari kita pergi ke kastil itu dan menyelesaikan tugasku untuk terbebas sebagai bangsawan”
“Sekarang? Bisa kita tidur disini untuk satu malam. Rasanya aku tidak pernah tidur bersamamu..” Eri menunduk malu dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Baiklah, asalkan ini tidak berbahaya.. hmm” Arlo tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Eri.
“Anu, selain itu..” Eri mengangkat tangannya datar dan sesuatu keluar, berwarna ke emasan dan menyilaukan. Mata Arlo terbelalak dan ia tidak berkutik melihat sesuatu di depannya.