
Semalam Arlo pergi dengan kedua gadis itu dan kembali sangat larut malam. Bersama dengan kedua gadis itu, dia kembali menghampiri kamarnya dan membuka pintu. Terkejut melihat seseorang yang tidur bersama Eri di kasur itu, Arlo mengeluh dan kembali menutup pintu kamarnya.
"Ratu tidur di dalam, sepertinya dia mulai membujuk-bujuk Nona. Pasti akan gawat.." gumam pelan Arlo di depan gadis yang seja tadi membuntutinya.
"Ada masalah Tuan?"
"Yah.. Ratu kalian tidur di kamarku, sekarang aku tidur dimana?" Wajah mengeluhnya terlihat jelas membuat kedua gadia itu malah senang
"Benarkah?! Apa Tuan mau tidur dengan salah satu dari kami?" Tanya polos Miku pada Tuannya sendiri.
"Kau serius mengatakan itu?!"
"Emm.. tidak"
Kemudian Arlo hendak pergi meninggalkan mereka berdua, tapi ia di tahan dengan memegan kuat salah satu tangannya. Lagi-lagi Kedua gadis itu menunjukkan ruangan lainnya untuk istirahat, tapi Arlo menolak dan baranjak pergi meninggalkan kastil dengan alasan anehnya.
"Tidak.. aku akan pergi makan saja, aku merindukan seseorang. Kalian berdua kembali dan beristirahat saja! dah.." Arlo berjalan menjauh dan meninggalkan mereka berdua.
Entah kemana Arlo pergi hingga pagi, ia kembali dan langsung menghampiri Eri yang ada di kamarnya. Di dalam ruangan itu, Ratu sudah tidak ada dan Eri duduk dengan tenang di atas kasur sendirian. Tubuhnya terlihat sangat segar seperti barusaja mandi. Eri menatap seseorang yang masuk kedalam ruangan itu diam saja.
"Kau baru kembali sekarang?"
"Orang tua itu terlalu banyak bicara, sesangkan aku tidak paham apa yang ia katakan. Yah.. biar dia ulangi, haha-ha.." Arlo tertawa aneh dan tidak di tanggapi oleh Eri.
"Sudah! cepatlah mandi, Ratu memanggil kita untuk urusan formalnya. Dia juga mengatakan sesuatu tentangmu semalam.."
__ADS_1
"Apa yang dia katakan?!" Arlo terlihat sangat kawatir.
"Sudah! mandi saja dulu.."
Arlo mengangguk sedih dan perlahan beranjak masuk kedalam kamar mandi. Selama beberapa waktu Eri masih tetap duduk di atas kasur itu terdia, kemudian lagi-lagi seseorang mengetuk pintu dan hendak membukanya. Kali ini Eri hanya mepersilakan masuk dan tidak membukakannya.
"Nona, ini baju yang kau minta. Mungkin terlihat sangat tua.." Bany yang memegang nampan berisi sebuah gaun berwarna putih terlihat sangat tua. Kedua gadis itu memberikan alasan sebisa mungkin untuk mendapatkan gaun yang di minta.
"Ahaha.. kalian ini, tak apa. Aku akan memakainya sementara hari ini untuk menemui Ratu secara formal.." Jelas Eri, mengangguk dan meraih gaun itu.
Arlo yang juga selesai mandi beranjak keluar melihat Eri memakai gaun itu. Dia terlihat sangat cocok meski sebenarnya gaun itu sangat tua. Senyuman Arlo terlihat jelas membuat Eri merasa malu.
"Ayo segera pergi!, nanti Ibu menunggu.." Ujar Eri menarik tangan Arlo yang baru saja menyisir rambutnya.
Arlo dan Eri berencana hari ini untuk bertemu dengan ratu dan raja di singgasananya. Sampai di sana, mereka di sambut oleh beberapa orang dengan penuh kewaspadaan dengan tatapan mengintimindasi seakan menatap orang asing di depannya. Arlo dan Eri berusaha untuk tidak mempedulikannya karena sudah sesuai dengan prediksi mereka akan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Arlo dan Eri.
“Baiklah. Karena kau sudah di sini, mari kita mulai pengungumannya..
Di sini.. Aku sebagai Ratu tanah Soul Of Dark, mengungumkan bahwa.. putraku Arelo Voltar yang telah kembali dari kelananya selama tiga belas tahun dan membawa pasangannya dengan tujuan untuk pernikahan resmi di sini..” Ratu berdiri dari kursinya yang megah dan mengungumkan kembalinya putra terkasihnya.
Di sana, beberapa staf kerajaan terkejut dengan apa yang di katakan oleh ratu mereka. Ada beberapa yang mempertanyakan kebenaran ini.
“Saya..! bersama dengan tunangan saya akan menjalankan pernikahan sesuai dengan keinginan Ratu dan akan melaksanakan ritual kusus di sini” Ujar Arlo berdiri sambil menatap Ratu dengan hormat.
Semua staf menunduk dengan hormat pada Arlo dan Eri yang berdiri di depan Ratu dan memberi hormat.
__ADS_1
“Baiklah anak muda, di sini kau akan bisa menyelesaikan tujuanmu dengan syarat, kau harus menuruti perintah kerajaan sebagai kesatria dan menjalankan satu misi bersama dengan para kesatria di sini..” jelas Ratu pada Arlo.
“Baik Yang Mulia.. perintah akan di laksanakan sesuai keinginan anda” (Cih aku benci harus bersikap formal seperti ini.. padahal setiap malam dia selalu menganggu tidurku) dalam batin Arlo.
Setelah itu, salah seorang kesatria di panggil untuk menuntun Arlo dalam misinya kali ini. Sedangkan Eri mengikuti Arahan Ratu ke sesuatu tempat dan menyerahkan pemerintahan pada Raja selama beberapa hari kedepan.
Dalam perjalanan Arlo bersama kesatria itu, dia mengenalkan diri pada Arlo.
“Tuan Arlo.. sebelumnya, perkenalkan diri saya terlebih dahulu.. saya Khira panglima kerajaan ini dan sekaligus pengawal Anda di medan tempur” Jelas kesatria itu pada Arlo.
Khera adalah seorang iblis pria yang terlihat lebih tua dari Arlo dan memakai setelan baju baja dan membawa pedang di pingangnya.
Tanduk kecil biru yang ada di kepalanya sama persis dengan warna gelap di pupil matanya. Senyuman penuh hormat tidak habis dalam perjalanan itu.
“Yah anak muda.. kau terlihat sangat kuat. Seingatku dulu kau masih dalam pelatihan menjadi prajurit Elit dan sekarang sudah jadi panglima.. selamat.. selamat..” Arlo tersenyum pada kesatria itu.
“Anak muda?” tanya bingung kesatria itu menyadari bahwa dia terlihat lebih tua dari Arlo sendiri.
“Sejak dulu aku tidak tingal di kastil itu.. sebenarnya aku sudah tinggal disini sekitar 50 tahun tapi aku hanya hidup di kastil itu selama 2 tahun lalu meninggalkan tempat ini. Aku rasa aku masih ingat saat kau berlatih dengan raja di sana.. kau sangat hebat saat itu. Aku rasa hidupku bisa tenang bila kau yang mengawalku..” jelas Arlo pada kesatria itu.
Wajahnya begitu terkejut sekaligus sangat senang melihat orang yang ada di sampingnya.
“Apa anda adalah orang yang memakan buah keabadian itu..?” tanya kasatria itu dengan sangat senang.
“Yah bisa di bilang begitu.. perlu perjuangan panjang untuk memperoleh buah itu, bahkan aku haus meminjam senjata legendaris milik pemimpin sebelumnya..” jelas Arlo sedikit kecewa.
__ADS_1
“Anda memang luar biasa tuan, jadi itu alasan anda terlihat lebih muda dari ku. Eh.. baiklah Tuan kita sudah sampai, tanyakan saja apa yang ingin anda ketahui. Saya usahakan untuk memperoleh jawabannya.. saya permisi dulu” pria itu meningalkan Arlo di sebuah tempat yang terlihat seperti pondok kecil dan sangat tua.
Tanpa penjelasan apapun, Khira pergi kesesuatu tempat meninggalkan Arlo yang masih kebingungan di sana seorang diri. Sebenarnya, lokasi pondok itu agak jauh dari titik mereka pergi. Sedangkan Khira melangkah menjauh ke sesuatu tempat yang Arlo sendiri tidak tau kemana.