
Di tepi sungai yang mengalir dengan tenang, seorang pria duduk di atas batu besar di tepi sungai yanv tidak salah lagi, itu adalah Arlo. Di sampingnya, terbaringlah seorang anak kecil dengan tubuh yang penuh luka dan darah. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan, pria itu menatap surya di ujung barat. Cahaya jingga sore hari menjelang senja, indahnya pantulan cahaya itu pada sungai membuatnya tidak berkedip selama beberapa saat.
Tidak lama setelahnya, anak itu mulai membuka mata perlahan-lahan. Dalam kondisi lemas dan linglung, ia menoleh pada sosok pria tidak asing yang mengenakan jas hitam dan duduk di sebelahnya. Saat sadar, ia langsung mengangkat tubuhnya duduk dan menatap sosok pria itu. Alhasil ia sendiri malah meringis kesakitan dan memecah lamunan Arlo di sampingnya.
“Arkh!” erang anak itu sambil menatap Arlo dengan wajah yang bingung.
“Apa kau baik-baik saja. Maaf, tapi aku tidak bisa sedikitpun menyembuhkan lukamu,” ucap Arlo setelah ia sadar anak itu terbangun.
Sontak anak itu langsung menunduk dan menggaruk kepalanya tanpa alasan yang jelas dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Boleh ku tau namamu?” celetuk Arlo memalingkan pandangan, kembali pada sang surya.
“Aa-anu, namaku Leonardo, Anda bisa panggil saja Leo.” Jawab Leo terbata.
Arlo hanya terdiam tanpa memberikan sedikitpun respon. Dalam pikirannya sejak tadi hanyalah hal yang sama, siapa dan kenapa anak ini berurusan dengan dua orang seperti mereka. Namun dia tidak berani sedikitpun menanyakannya, sampai Leo tiba-tiba mengintip arah pandangannya tepat di depan wajahnya.
“Ohk! Maaf, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda.”
Celetuknya setelah Arlo balik menatap wajahnya.
“Apa aku boleh menanyakan sesuatu lagi? Kenapa kau sampai berurusan dengan para preman seperti mereka?” Arlo menatap dengan serius.
“Preman? Oh, maksudmu mereka berdua? yah itu adalah hal biasa terjadi.”
“Apa maksudmu biasa terjadi? Kau seperti sudah akan mati kapan saja! Dan itu sudah biasa terjadi?” seru Arlo yang terkejut dengan nada kesal.
"Sebenarnya aku ingin mati saja...." gumam anak itu tanpa dapat di dengar Arlo.
Leo memalingkan pandangan dan beranjak duduk bersebelahan dengan Arlo. Raut wajahnya yang sebelumnya penuh senyuman berubah menjadi serius dengan mengatakan beberapa hal.
“Ada beberapa hal yang tidak bisa saya katakan pada Anda, maaf.” Ucap anak itu kembali tersenyum pada Arlo.
“Apa makh-“ kalimat Arlo terpotong oleh suatu hal yang terjadi pada Leo.
Raut terkejut terlihat jelas di wajah Arlo tepat saat semua luka berdarah dan luka bakar di tubuh anak itu lenyap seketika dengan hanya meninggalkan darah kering di kulitnya. Dengan senyuman yang sama, Leo beranjak bangun dari duduknya dan mendekat pada aliran sungai. Mulai membasuh wajah dan tubuhnya yang sebagian terselimuti darah kering.
__ADS_1
“Karena Anda mengatakan, “Aku tidak bisa menyembuhkan luka,” Anda membawa saya kemari untuk membersihkan diri, kan?” lagi dan lagi anak itu menyembunyikan sesuatu dari balik senyumannya.
“Aku rasa begitulah. Tempat ini juga sangat indah, meski sebenarnya aku tidak pernah kemari.” Sahut Arlo beranjak berdiri dari duduknya.
Dalam diam, Arlo mulai melompat turun dari sebuah batu besar yang merupakan tempatnya duduk dan beranjak pergi. Lalu ia berbalik dengan mengucapkan sepatah kata pada anak itu.
“Aku tidak tau siapa dirimu sebenarnya. Tapi anak sepertimu seharusnya tidak berlumuran darah seperti tadi. Dah, selamat tinggal,” ucap Arlo, lalu ia melambaikan tangannya dan kembali berjalan masuk kedalam hutan.
Bersamaan dengan itu, cahaya surya sudah tidak menyinari dunia lagi, dan bulan perlahan mulai menggantikan dengan cahayanya yang redup. Gelapnya hutan mulai membuat suasana mencakam, kapanpun hewan buas bisa datang dan menyerang dari balik bayangan.
...(----------------)...
Di gelapnya malam, seorang anak kecil berjalan tertatih dengan luka penuh darah di tubuhnya. Nafasnya yang tidak karuan terdengar jelas diantara pohonan lebat yang merimbun di sekitarnya. Lambat laun ia berjalan, langkah kakinya perlahan mulai terhuyung kesana-kemari. Pandangannya mulai buram, jatuhlah ia di tanah dengan nafas yang terhengah-engah.
“Gawat! Aku sudah kehabisan tenaga. Dengan begini kurasa aku tidak dapat melakukan penyembuhan lagi. Mungkin seharusnya aku mendengar kalimat Tuan Pria tadi. Se-sekarang apa ya, yang ia lakukan? Apa aku akan selamat lagi karenanya...?” tertidurlah anak itu di rumbunya rumput hutan yang gelap.
Waktu yang berlalu begitu cepat di wakili dengan datangnya sang surya dari ujung timur. Sorot cahayanya yang sangat terang mulai mengganggu tidur para menghuni dunia ini, termasuk anak itu sendiri. Tersadarlah ia dari tidurnya, membuka kembali matanya secara perlahan dan melirik tempatnya terbaring.
“Lagi? Aku kira aku akan mati, lagi.” Gumam anak itu dengan nada yang berat.
Kobaran api besar menyala dan balik menyambar kemana arah pedang itu hingga terbakar habis. Sosok pria tersenyum tipis dari balik sisa abu yang terbakar, dengan jubah putih dan tudung yang menutupi seluruh rambutnya. Melesat bersama kedua senjata besar di tangannya, tepat menghantam tanah di mana anak itu sebelumnya berdiri.
“Hai, kau masih mengingatku?” celetuk sosok pria itu.
“Cih!” anak itu menatap dengan wajah yang kesal.
Dengan menggenggam kuat kepalan tangannya, bola api besar melayang kearah pria itu.
“Hei-hei, kenapa kau terlalu terburu-buru. Ini hari terakhir kau bebas, kan? Kita nikmati sampai kau kehilangan seluruh nyawamu.” Ucap pria itu sesaat menepis bola apinya dengan begitu mudah.
Saat pandangannya taralihkan, anak itu mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Sadar-sadar anak itu sudah hilang dari pandangan. Dengan senyuman yang sama, pria itu menebak arah kemana anak itu akan pergi.
“Hmm? Kau ingin bermain petak umpet?” gumam pria itu sesaat sebelum ia lenyap dari balik bayangan hutan.
Tempat di mana anak itu melarikan diri, dia sampai di bagian hutan gelap dengan cahaya yang hanya ramang-ramang. Terkejutlah ia karena secercah cahaya kecil yang tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya. Cahaya itu menyala merah dengan terus melayang-layang di udara.
__ADS_1
“Apa ini?” gumamnya yang heran.
Perlahan, cahaya itu mulai bergerak ke sesuatu tempat. Pandanganya yang takjub, tanpa sadar mengikuti kemana cahaya itu pergi. Sampailah ia di sebuah mulut gua dengan dihiasi tanaman yang mengeluarkan cahaya, tumbuh di tepian mulut gua tersebut.
“Ini, tempat apa?”
Penasaran, ia melangkah masuk kedalam gua gelap tersebut. Terkejut, gua yang begitu gelap tadi rupanya menyimpan begitu banyak tanaman bercahaya yang sama di setiap ujung gua. Dia berjalan mengelilingi gua tanpa mengalihakan pandangannya dari tanaman-tanaman tersebut. Gua ini benar-benar sangat indah, pikirnya.
Langkahnya tersadarkan karena sesuatu yang menyandung kakinya, sebilah permata biru mengkilap tertanam di tanah. Tidak jauh dari itu, raut wajah anak itu berubah yang awalnya takjub tiba-tiba merasa ngeri. Setumpuk tulang-belulang raga para iblis bersandar di tepi-tepi dinding gua dengan meninggalkan sisa-sisa petarungan dan persenjataan rapuh yang menancap di tubuh mereka.
Dari ujung gua sampai di titik di mana mayat-mayat tersebut berada, semua hanya di penuhi permata yang sama dengan warna-warna yang berbeda. Saat pandangannya mulai teralihkan kembali, tiba-tiba langit-langit gua bergetar dengan sangat kencang. Bebatuan mulai berjauhan dan akhirnya gua itu runtuh. Sosok pria yang sama, berdiri dari balik debu yang bertaburan. Tersenyum tipis ke arah anak itu dengan dua bilah pedang di tangannya.
“Apa kau menikmati permainan ini? Yah, tapi kurasa ini harus segera di akhiri. Karena aku juga masih punya urusan yang lain!”
Pria itu melesat dengan menghunus dua bilah pedang di tangannya. Tepat saat mereka saling berhadapan, pria itu hendak memotong salah satu tangannya. Namun, kobaran api sudah mendahului dan memaksa pria itu untuk menjaga jarak satu sama lain, sebelum kobaran api tersebut membakar dirinya.
Anak itu sekali lagi hendak melarikan diri, namun langkahnya terhenti oleh dua sosok pria yang sama, yang ia temui di hutan sebelumnya. Berdiri tepat di depannya dan bersiap dengan menodongkan senjatanya.
“Kalian berdua, kerjakan dengan benar!” bentak pria itu pada kedua sosok pria yang lain.
Dengan berlari mengitari anak itu, tiga buah belati di lempar di setiap ujung yang telah di tentukan dan membuat garis cahaya biru yang terhubung satu sama lain. Sesaat sebelum cahaya itu semakin terang dan membawanya pergi, dia mematahkan sebilah permata dan menyelimutinya dengan api yang membara.
Dalam sekali tebas, tiga titik cahaya tersebut lenyap dengan menyisahkan kobaran api besar di titik yang sama.
Kobaran api itu semakin besar hingga menggangu pandangan mereka bertiga. Kesempatan yang bagus untuk melarikan diri, anak itu berlari keluar melewati mulut gua dengan tetap menenteng permata di tangannya.
“Cih! Sialan. Cepat! Kejar dia, jangan sampai kita kehiangan jejaknya lagi. Tuan Daniel akan sangat kesal.” Seru pria itu pada kedua bawahannya.
“Baik!”
Dengan wajah yang kesal, ketiga pria itu berusaha secepat mungkin untuk mengejar keluar dari gua. Namun sia-sia saja, anak itu sudah berlari jauh dari tempat mereka berada tanpa meninggalak jejak apapun. Sedangkan mulut gua telah tertutup oleh kobaran api yang besar.
“Cih! Sialan!”
...~ Pengejaran ~...
__ADS_1