
Di setiap lorong kastil, terdapat jendela-jendela kecil di sisi kanan mereka berjalan yang membuat sinar bulan bisa masuk kedalam lorong dan menyinarinya. Karena jarak antara satu obor dengan obor lainya cukup jauh.
Sedangkan dinding di sisi kiri mereka terdapat foto-foto keluarga leluhur bangsawan di kastil ini. Arlo berjalan di depan dengan di ikuti Eri yang memegangi jubah kecil Arlo dari belakang seperti anak kecil.
“Arlo, apa masih jauh lorongnya?” tanya Eri sedikit ketakutan di belakang Arlo.
“Lorongnya memang panjang Nona, jadi bertahanlah. Lama kelamaan kau akan terbiasa. Yah sebenarnya aku tidak sedang menuju taman langsung sih”
“Apa maksudmu Arlo?!” Eri mulai terlihat marah di belakang Arlo.
“Aku akan menemui seseorang, dan menanyakan sesuatu padanya. Setelah itu baru kita ke taman” jawab Arlo dengan tegas.
Setelah beberapa saat mereka berjalan melewati lorong seram yang tidak ada ujungnya itu, pada akhirnya terlihat diujung jalan ada percabangan lorong, yang satu lurus dan yang satu ke kanan. Mereka akan lurus dan menemui seseorang yang di katakan Arlo, lalu kembali ke dan ke arah kanan untuk langsung ke taman, jelas Arlo.
Saat Eri melewati lorong yang berbelok kekanan, di melihat lagi seseorang yang ia lihat di kamar.
“Arlo!, Arlo! Lihat itu, siapa dia? Apa juga bangsawan disini?” Eri menarik baju Arlo dan kembali ke lorong itu.
“Eh.. Yiury, hei..! kau sedang apa!” teriak Arlo pada gadis yang duduk di bangku taman itu.
Gadis itu terkejut dan menoleh ke sumber suara, kemudia ia melambai pada Arlo dan pergi ke sesuatu tempat.
“Arlo, apa kau mengenalnya?” tanya Eri penuh curiga sambil menatap kearah gadis itu.
“Rahasia, besok ku beritahu Nona” jawab Arlo dengan jahil.
Eri tidak terlihat terlalu peduli dan berjalan duluan di depan Arlo. Arlo menggaruk kepalanya dan menyusul Eri di belakangnya.
“Sudah tidak takut Nona?”
__ADS_1
“Tidak!”
“Apa kau marah Nona?”
“Tidak!”
“Baiklah mari bergegas. Keburu malam!” Arlo menarik tangan Eri berlari melewati lorong itu hingga sampai di suatu tempat yang agak sempit dan ada seorang wanita yang duduk di kursi memegangi segelas minuman.
Wanita itu langsung melihat kearah Arlo dan Eri yang terhengah-hengah setelah berlarian. Lalu ia tersenyum dan mempersilakan masuk kedalam ruangan itu. Dari luar terlihat sempit, tapi ketika masuk kedalam dan melihatnya sendiri, ruangannya terasa sangat luas. Bahkan terlihat berbagai perabotan rumah bisa masuk dan tidak terlihat memenuhi ruangan.
Segera saja Arlo dan Eri masuk lalu duduk di kursi yang ada di depan wanita itu.
“Semalat malam Arlo, kau semakin tampan ya?” sapa jahil wanita itu.
“Yak.. yah, lama tidak berjumpa ya?, Tante” jawab Arlo terlihat gugup.
“Dan sekarang dia membawa seorang wanita kemari. Kukira dulu kau hanya seorang anak yang haus dengan kekuatan untuk mencapai tujuanmu?” wanita itu tertawa kecil.
“Dan Eri, ini saudara ibuku, tante Lily. Dia adalah orang yang selalu merawatku saat ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya” jelas Arlo.
“Jadi.. masalah apa yang ingin kau katakan Arlo? Aku sudah hafal denganmu, kau itu selalu datang saat ada yang penting saja. Kuharap semakin tua kau merubah sikap mu yang seperti itu.” Wanita itu berdiri dan pergi mengambil gelas untuk menyiapkan minum pada kedua tamunya.
“Begini, sejak kemarin ah bagaimana mengatakannya ya..?. Tante tau ritual yang di lakukan ibu pada ayah saat mereka menikah?”
“Ya aku tau, lalu?” jawab wanita itu dengan wajah bingung.
“sebenarnya, aku juga ingin melakukan hal yang sama pada nona, tapi.. tapi karena buah itu, rasanya akan sulit untuk di lakukan” jelas Arlo terlihat sedih.
“Apa maksud mu sulit anak muda?”
__ADS_1
“Anu.. buah itu membuat setiap bagian tubuhku kembali ketempatnya saat aku mengalami luka untuk menjagaku tetap hidup. Bisa dibilang, saat aku terluka maka setiap darah dan daging yang tergores akan kembali pulih. Akan ku tunjukkan, bisa pinjam pisau?”
Lalu wanita itu melempar pisau yang ada di dekatnya. Dengan lihai Arlo menangkap pisau itu. Tanpa berlama-lama, Arlo langsung mengores tangannya pada pisau itu dan membuat luka yang dalam. Saat itu Eri terlihat sedikit kawatir, tapi ia tetap diam karena yakin dengan apa yang Arlo lakukan.
Benar saja, setelah beberapa saat tangan Arlo terluka, darah yang mengalir di pinggir sayatan dan darah yang ada di pisau itu mengelembung dan kembali kedalam tangan Arlo hingga benar-benar bersih tidak terlihat luka sayatan atau meninggalkan bekas luka. Saat itu Tante Arlo tidak terlalu terkejut dan mengangguk-angguk paham apa yang di maksud Arlo.
“Jadi maksud mu ritual itu tidak akan berhasil? Jadi kau pikir darah yang akan kau berikan pada istrimu itu akan kembali padamu lagi? Benar begitu anak muda?”
“Bukanya memang seperti itu?”
Kemudian wanita itu pergi kearah lemari yang di penuhi buku-buku tua di sebelah mereka duduk. Wanita itu mengambil satu buku lalu menunjukkan sesuatu yang ada di dalam buku itu.
“Bukankah ini buku yang kau tunjukkan tentang pohon itu juga?” tanya Arlo menatap wanita itu yang masih berdiri di depannya.
“Aku ingatkan anak muda, setiap bagian tubuhmu itu pulih karena regenerasi dari buah yang kau makan, jadi tubuhmu secara otomatis langsung memanfaatkan buah itu untuk meregenerasi tubuhmu dengan cepat melalui pemanggilan kembali bagian yang hilang tanpa harus membuat yang baru” pertegas wanita itu.
“Jadi sebenarnya buah itu hanya untuk mempercepat regenerasi tubuh ya..”
“Tidak hanya itu, buah itu juga memiliki batasan penggunaan. Kau lihat garis hitam di lengan kirimu? Itu adalah bar yang menentukan berapa lama lagi buah itu akan bertahan di tubuhmu” tambah wanita itu.
“Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya?” tanya Arlo dengan serius.
Wanita itu berdiri dan mengambil pisau yang digunakan Arlo lalu menyayat salah satu jarinya hingga darah bercucuran.
“Biarkan saja darah mengalir dan pulih secara normal agar darah yang diminum istrimu itu tidak kembali pada lukamu” jelas wanita itu.
Arlo mengangguk paham dan mencoba apa yang di katakan wanita itu. Dia menyayat salah satu jarinya hingga keluar darah ke pisau itu. Tapi lagi-lagi darah itu menggelambung dan kembali ke luka Arlo dan jari Arlo pulih dengan cepat.
“Ingat anak muda, anggap saja kau sudah membiarakan darah itu untuk pergi dan biarkan lukamu pulih secara normal. Sudah aku harus pergi dulu malam ini, selain itu bukankah kalian akan pergi ke sesuatu tempat?” wanita itu membereskan gelas yang digunakan Arlo dan Eri.
__ADS_1
“Kau selalu saja, dasar.. membuat iri saja. Baiklah kami pemit undur diri, terima kasih untuk bantuannya seperti biasa.. Ibu” Arlo berpamitan dan meninggalkan wanita itu sendiri di ruangan itu.