
Vion menerjang langsung dengan sabitnya kearah Leo, tubuhnya berkobar aura putih yang semakin terang. Langkahnya tertahan oleh sabit Arlo yang sudah berdiri di hadapannya. Tanpa segan-segan, Vion menarik kembali sabitnya dan hendak membabat Arlo. Tanpa terduga, darah menyembur dengan diiringi kobaran api yang membakar tubuh Vion.
Dari kejauhan Leo melesat bersama dengan pedang permatanya. Tepat di depan Vion, pedang biru yang diselimuti rapat oleh kobaran api mulai menyambar tubuhnya sebelum ia sempat menghindar. Tendangan keras menghantam Leo dari sisi lain, sosok dengan keempat tangannya membabat salah satu lengan Arlo dengan mudah hingga mereka berdua terlontar di udara.
Tanpa memberi waktu bernafas, Leo lagi-lagi diterjang oleh kedua pedang Daniel dengan di susul tombaknya yang hendak menghunus perut namun masih sempat ditahan. Ia ditendang jauh di tanah dan dipepet dengan kedua pedang tersebut tanpa bisa berkutik. Tidak berselang lama, Arlo menyusul dengan sabit dan kebel yang menjalar. Namun ia dengan mudah di hempas oleh udara secara tiba-tiba dengan menebaskan tombaknya hingga ia terlontar jauh.
Kilatan petir tampak menjalalar di sekujur tubuh Arlo sesaat setelah Daniel menebas dirinya dengan kedua tombak yang menembus lengannya. Dalam sekejap, sengatan membuat dirinya melemas dan di susul oleh Daniel yang hendak menarik tombaknya kembali dan menendangnya jauh kebelakang hingga ia tersungkur di tanah. Entah kenapa secara tiba-tiba, tubuh Arlo terasa berat dan sangat lelah hingga ia kesulitan untuk mengankat dirinya sendiri.
“Akh…! Apa ini? Kenapa aku kesulitan bergerak. Rasanya… akh… tubuh lemah sekali…!” gumam Arlo dengan terus berusaha mengangkat tubuhnya sekuat tenaga.
Dari kejauhan Daniel kembali mendekat dan berdiri tepat di depan Arlo dengan menatap rendah padanya.
“Sepertinya kontrak itu mulai bereaksi. Ini pasti akan bertambah sulit,” gumam Daniel hendak membalikkan badannya.
“Kontrak?”
“Dasar bodoh, setelah ini sisa kekuatanmu seharusnya dimakan oleh anak itu.” Dengan sedikit tawa dalam senyumannya, Daniel segera memalingkan pandangan.
Dengan sedikit terkejut, Arlo segera menatap kearah Daniel. Sedangkan Daniel segera melesat sebelum sesuatu yang ia kawatirkan akan benar-benar terjadi.
Ia melesat kearah Vion yang sedang bertarung dengan Leo dan langsung menyambar mereka berdua dengan kedua pedangnya. Vion yang kualahan, terhempas jatuh ketanah dengan nafasnya yang tidak karuan. Secara tiba-tiba tubuh Leo tampak bereaksi akan sesuatu di dari dalam tubuhnya. Darah yang menetes, menyala api di sekujur lengan kirinya dan menyulut api hingga membakar jas putihnya.
Lengan kirinya berdenyut dan mulai berubah wujud mirip lava yang mengeras di sepanjang lengan kirinya. Dalam hadapan Daniel, ia menghempaskan Leo dari hadapannya hingga jatuh di tanah dengan keras dan meninggalkan bekas cekungan yang lebar di sekitarnya.
Dari kejauhan Vion memandang Daniel yang meluncur dan menyusul Leo keberadaan dengan menghunus kedua pedang yang terselimuti aura kuat, tampak senyum-senyum penuh rasa bangga. Sampai Daniel menghantam pria itu dengan sangat keras dan meninggalkan bekas debu yang meluas. Tampak ledakan besar tiba-tiba menyusul sesaat setelah hantaman itu dilancarkan. Dari kejauhan Arlo tampak begutu cemas dengan menatap kejadian itu tanpa bisa berbuat apapun.
Ledakan yang terjadi hanya sesaat itu meninggalkan bekas reruntuhan kacau di sekitar. Debu yang semakin tebal membuat pandangan Vion dan Arlo semakin penasaran.
Saat itu juga, seseorang melesat keluar titik itu dan jatuh ketanah dengan keras dan menampakkan sosok yang sangat mengejutkan. Daniel yang tampak tersenyum tipis dengan keempat-empat lengannya yang tersapu bersih tanpa tersisa. Perlahan, luka-luka di tubuhnya mulai kembali pulih sepenuhnya, termasuk keempat senjatannya.
Dari kejauhan ia memandang sosok pria yang berdiri tegap dengan jas putih yang terbakar, ia telanjang dada dan menampakkan tubuhnya yang bermutasi menyerupai lengan kirinya dan berubah perlahan. Tanduk yang menghadang rambut pirangnya meninggalkan bekas patah yang dalam dan sisanya mulai lenyap dari pandangan. Pedang permata biru itu berubah memerah dengan terselimuti api yang membara.
“Benar-benar sang penghancur tatanan. Dia menyerap aura dari dalam permata itu dan merubah wujudnya. Ini benar-benar gila.” Gumam Daniel dengan senyuman tipis di bibirnya.
Kobaran api menjadi bekas peminggalan sosok wujud Leo yang tiba-tiba menghilang dari pandangan. Saat mereka sadar, pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Daniel dan menebaskan pedangnya. Namun dengan sigap Daniel dapat mengimbangi kekuatannya. Serangan tidak berhenti dari sana, kobaran api menyambar dari bagian belakang Leo seperti ekor dan menebas lagi tubuh Daniel. Namun lagi-lagi dengan tepatnya Daniel dapat menahan api tersebut dengan sisa kedua tombaknya.
“Leo, apa kau mengenali dirimu sendiri?” celetuk Daniel di hadapannya.
“Aku akan membunuhmu…!” sahut Leo dengan menatap kosong.
“Heh…? Akulah yang akan membunuhmu, Anak Kecil…!”
Daniel menghempaskan pedangnya dan mendorong Leo mundur kebelakang. Kobaran api yang menyelimuti tubuh Leo bagaikan tangan tambahan yang menarik Daniel kehadapannya dan dengan terpaksa Daniel menahan serangan yang menghunus kearahnya dan membalikkan kedua tombaknya menusuk Leo.
Karena serangan yang di luar jangkauan, Leo mundur dan membalikkan pedangnya. Tanpa memberikan kesempatan, Daniel menghunuskan kedua pedangnya kerah Leo dan menusukkannya di kedua lengan pria itu hingga darah mengucur deras ketanah. Kobaran api dengan cepat menyelimuti bekas luka dan memulihkan semua luka yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
Saat sadar, Leo di terjang keras keudara dengan kedua pedang Daniel dan meluncur landay. Mereka saling menghantam dengan lincah di udara tanpa bisa dilihat mata telanjang.
Di kejauhan Vion menatap takjub dengan pertarungan mereka berdua dan hanya mampu melihat percikan gerakan dan benturan antara satu sama lain. Sampai tiba-tiba, tampak salah satu dari mereka jatuh meluncur bagaikan bintang jatuh dan menghantam ketanah dengan keras. Sosok itu rupannya Daniel yang segera bangun dari tempatnya dan menghadang serangan yang mengarah kepadannya.
Dengan percikan api yang menyebar-nyebar, mereka berdua saling tindih satu sama lain hingga retakan mendalam di bawah kaki mereka berdua. tidak berselang lama, Daniel membalikkan serangan dan membuat Leo terbalik dalam posisi di bawahnya. Kobaran api yang sama mulai menjalar kerahnya, namun dengan senyuman percaya diri, Daniel menepis api tersebut dengan mudah dan menghanguskan api Leo.
Di tekan dengan keras Leo semakin kedalam tanah dengan kondisi yang padam. Hantaman disusulkan oleh Daniel hingga Leo tertekan semakin dalam di cekungan dan ia terdesak kedalam tanah tanpa bisa berkutik.
Segera Daniel melesat di udara dengan memusatkan aura core biru di titik ujung kedua pedangnya. Meledak kekuatan besar mengalir deras kearah Leo dan menembus apapun yang menghalangi jalan.
Cahaya gemerlap sesaat menghapus semua pandangan dan lenyap dengan meninggalkan debu yang mengambang di sekitar dengan diiringi senyuman puas Daniel dan Vion di kejauhan. lenyapnya debu dari pandangan menampakkan sosok pria yang berdiri di atas Leo dengan menyilangkan pedang dan sabit merah di atas kepala, hingga akhirnya sosok itu jatuh tersungkur lemas dengan asap yang menguap dari tubuhnya.
“Tuan… Arlo…?” gumam Leo yang sangat lemah kembali kewujudnya semula.
“Leo… apa kau baik-baik saja?” sahut Arlo dengan memar di tubuhnya yang mulai pulih.
“Tuan… saya, saya mohon maaf untuk kegagalan yang saya buat. Untuk permintaan terakhir saya… saya mohon untuk mengambil hak kontrak dan menghukum atas kesalahan saya. Saat ini, sudah tidak… sudah tidak ada yang dapat saya lakukan, jadi saya mohon kepada Anda, Tuan Arlo.” Ucap Leo yang terbata.
“Apa maksudmu!” tentu saja Arlo kesal dengan kalimat yang ia dengar.
“Anda harus mengambil kekuatan core yang tersimpan di dalam diri saya. Bila itu terjadi, maka kelahiran seterusnya akan terputus dan core api akan dalam genggaman Ada untuk mencapai tujuan Anda sebenarnya.” Lanjutnya dengan menoleh kearah Arlo.
Dengan menarik sebilah belati yang selalu tersimpan di saku kaki Arlo, Leo menggenggam kedua tangan Arlo dan menghunuskan belati tersebut kedadanya. Nafasnya tersentak dengan disusul darah yang mengalir keluar dari dalam mulutnya. Dengan tatapan berat, Arlo menarik kembali belati berdarah yang ia genggam di kedua tangannya.
“Tuan Arlo, kontak akan berakhir saat Anda kembali ke Valay. Saya menunggu Anda datang kesana dan… dan semuanya akan kembali seperti dahulu. Simpan core api dalam genggaman Anda… saya akan kembali saat Anda kembali. Semoga Anda dapat bertemu kembali bersama dengan Nona Ely….” Kalimat Leo berakhir dengan aura jingga yang melayang keluar membentuk bola api sebesar genggaman tangan.
Tidak ada setetes air matapun yang mengalir keluar dari pipi Arlo, hanya ada tatapan penuh rasa benci di wajahnya kearah Daniel. kobaran api menjalar di sabitnya dan mulai merambat menyelimuti dirinya. Dengan aura gelap yang sama, sabit itu terselimut rapat antara api hitam yang tidak pernah padam.
“Daniel…!!!”
...----------------...
Di sebuah hutan gelap di tengah malam, tampak sosok pria yang berjalang dengan jubah hitam dan larit hijau yang menghiasi di sepanjang tepian jubah itu. Langkahnya terhenti sampai di sebuah rumah yang terterselumbung hutan lebat dan halaman rumput yang luas. Ia menoleh berat dari balik tudung jubahnya dan menggenggam sesuatu dari balik jubahnya.
Tidak berselang lama, cahaya merah bersinar dari balik jubah itu dan bergerak di sampingnya. Berubah wujud dengan menampakkan sosoknya sebagai wanita yang begitu cantik dengan gaun merah tipis yang dihiasi rambut panjang terurai. Dengan lembut sosok wanita itu mendekatkan wajahnya di samping tudung pria itu.
“Tuan Arlo, saya akan kembali saat Leo sudah kembali. Sampai saat itu, mulailah semua dari angka nol dan rubah diri Anda yang berbeda, bersama dengan Nona Ely. Saya akan selalu setia melayani Anda, Tuan….” Ucap wanita itu sesaat sebelum ia lenyap perlahan-lahan.
“Jadi kau juga meninggalkan ku sendirian, ya? Liya.” Sahut Arlo bersamaan dengan senyuman manis yang mengarah kepadanya.
Dari balik jubahnya, pria itu melangkah pergi dari sana dan meninggalkan sisa-sisa percikan permata berwarna biru yang menyebar dan menjadi abu di halaman rumah itu.
“Sejak dulu aku selalu benar, semua ikatan itu selalu berakhir.”
...(----------------)...
__ADS_1
Di sebuah kastil yang ramai akan para prajurit dan kesatria yang terluka dalam pengobatan. Sosok pria berjubah yang sama berjalan melalui mereka semua tanpa sedikitpun memalingkan pandangan. Dia berjalan lurus kearah sosok wanita di ujung jalan dan menyapanya.
“Ratu, aku ingin bicara sesuatu denganmu!” sapanya dengan menarik tangan ratu masuk kedalam kastil.
Di dalam, tampak hanya mereka berdua yang berbicara empat mata. Angin dingin yang berhembus membuat suasana tidak nyaman dan menggores perasaan merinding. Senyuman ratu tergores dengan diiringi sosok pria itu yang mulai membuka tudung jubahnya perlahan. Menampakkan sosok yang tidak asing dengan rambut hitam dengan dihiasi tanduk hijau gelap dan sepasang pupil mata hijau yang cerah.
“Jadi, Pangeran Arlo. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” celetuk ratu tanpa menghilangkan senyuman di bibirnya.
“Langsung saja, aku akan menjalankan tugasku yang terakhir sebagai pangeran dan meninggalkan kekuasaan pada adikku seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Aku menunggu perintah darimu, apa tugas terakhirku?” ucap Arlo dengan menatap tajam kearah wanita di hadapannya.
“Sebelum itu, bagaimana dengan pelayan tampanmu itu, Arlo?”
“Dia mengorbankan diri kepadaku untuk melindungi inti api tanpa sampai di tangan Daniel itu. Hanya itu yang bisa ku beritahu. Jadi, katakan dimana aku akan menyelesaikan tugas terakhirku?”
“Baiklah-baiklah. Tapi aku memerlukan bukti untuk itu, apa kau bisa menunjukkannya padaku?”
Dengan menghela nafas berat, Arlo menghembuskan angin dari tangan kirinya dan tiba-tiba di luar terdengar kericuahan secara tiba-tiba. Terdengar jelas di telinga, para prajurit dan kesatri yang terluka telah kembali pulih dari luka-lukanya.
“Oh? Bagaimana bisa, penyembuhan core? Baiklah-baiklah. Pergilah kedunia manusia dan temukan sebuah desa yang sepesial, aku akan selalu menghubungimu dari kejauhan. Apa kau mengerti? Selain itu, bukankah kau juga ingin menunggu seseorang di sana?”
Tanpa memberikan tanggapan apapun, Arlo berbalik dengan menelangkupkan kembali tudung jubahnya dan berjalan keluar dari dalam kastil. Dia berjalan lurus semakin menjauh tanpa meninggalkan jejak apapun darinya.
...(----------------)...
Sosok Arlo yang muncul dengan jubahnya dari balik portal segera melesat kearah hutan dan lenyap dari baliknya. Sosoknya menerjang lebatnya pepohonan yang tumbuh di hutan. Mengantarnya sampai keluar hutan dan tiba di sebuah tempat.
Dengan raut wajah yang terkejut, ia tampak memasang sedikit senyuman di bibirnya. Penampakan sebuah reruntuhan tua, di sana-sini hanya tampak bebatuan yang sudah kusam dan berlumutan. Ia berjalan menyusuri sepanjang reruntuhan itu menuju suatu tempat.
Langkahnya terhenti oleh seseorang yang sedang mengumpulkan sesuatu di tempat yang ia tuju. Sebuah pohon tua yang sudah mati hendak di tebang oleh pria itu. Sontak ia langsung timbul di sampingnya dan segera menghentikan langkahnya.
"Hei! Tunggu-tunggu! apa yang akan kau lakukan dengan pohon ini?" seru Arlo yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kau siapa? ini pohonku! kenapa kau menghalangiku menebang pohon ini!" sahut pria itu dengan kesal.
"Bukankah sudah jelas ini milik Voltar?"
"Voltar? kerajaan tua itu sudah mati. Kekacauan yang dibuat penerus raja menghancurkan segalanya dan kerajaan jatuh miskin. Rakyat pergi dan tanah ini dijual. Apa kau sudah jelas? orang aneh."
Dengan nafas yang terasa berat, Arlo berjalan pergi dan kembali masuk kedalam hutan. Dia berhenti dan bersandar di sebuah pohon dengan mengendalikan nafasnya.
"Setelah semua usaha para tetua. Dan anak-anak bodoh itu dengan mudah menghancurkannya. Apa ini benar-benar sudah diatur, atau ini hanya sebuah kebetulan?" gumam Arlo yang bersandar di bawah pohon, angin sepoi-sepoi menerpa tudungnya dan timbun.
Dengan memejamkan mata selama sesaat, ia tampak merasa sangat nyaman dengan bersandar di bawah pohon. Sampai tiba-tiba senyuman tipis tergores di bibirnya.
"Nona, Pangeran datang menyusulmu. Tunggulah...."
__ADS_1
...~ Become The Journey Of Eternity ~...