
Sebenarnya yang terjadi, tidak lama setelah Khira pergi dari meja makan. Tepatnya saat kelima orang itu lemas karena kekenyangan makan, mereka semua mendengar teriakan keras seorang wanita dari luar. Mendapati mayat wanita dengan kondisi kurus kering seperti di hisap sampai habis dan meninggalkan bekas luka di lehernya.
Di dalam kepala Arlo sudah terngiang siapa pelakunya, sedangkan ke empat temannya masih penasaran. Di bawah perintah Arlo, mereka berempat pergi ke arah kastil untuk memastikan kondisi raja. Mereka langsung pergi ke arah selatan dan meninggalkan Arlo seorang untuk mencari keberadaan Khira yang juga sedang mencari putri.
Dalam perjalanan, Eri bersama krunya berhenti karena mendengar jeritan lagi seorang wanita tidak jauh darinya. Mendapati seorang pria yang tidak asing, berdiri dengan menggenggam leher wanita itu dan tersenyum, menatap ke empat orang itu.
“Lama tidak berjumpa, Nona Arlo. Dan… siapa gerangan iblis-iblis temanmu ini?” ucapnya, melirik malas ke empat orang yang berdiri penuh rasa cemas tidak jauh darinya.
Mereka semua hanya terdiam, menatap penuh kewaspadaan pada pria dengan tanduk besar di kepalanya. Seorang pria yang sama yang berhasil di kalahkan Arlo dan Eri tiga hari yang lalu. Dengan senyumannya yang lebar, pria itu menggigit leher wanita dalam genggaman tangan dan menyerapnya hingga kering, meninggalkan jasad yang mati kaku tanpa daging.
“Ini masih belum cukup, bagaimana dengan tubuhmu yang tidak bisa hancur itu, Nona Arlo….” Ucapnya, menatap dengan senyuman yang mengeriakan.
Ke empat orang itu sudah sempat menarik senjatannya dan bersiap untuk bertarung. Tapi tiba-tiba dari kejauhan, sebuah pedang melesat dengan cepat dari belakangnya. Hampir menggores lengannya yang tanpa baju dan melopat ke samping, menoleh ke arah sumber serangan.
“Ku pikir kau sudah pulang di neraka, Daniel!” ucap Arlo dengan menggendong Khira yang berlumuran darah di punggungnya.
“Kenapa kau selalu berpikiran begitu… Pangeran Arlo!” pria itu melesat dengan tangan kosong, menyerang ke arah Arlo.
Dengan terpaksa, Arlo harus melompat untuk menjaga jarak dan meletakkan tubuh Khira. Lagi-lagi pria dengan tanduk besarnya, merobos Arlo dan terpukul cukup jauh dari tempat sebelumnya. Dengan senyuman lebarnya, tangan kanannya yang penuh kuku panjang menusuk tepat di tengah perut Arlo dan membuat lubang yang lebar.
“Kenapa kau selalu melakukan hal yang sia-sia, Pak Tua.” Ucap Arlo, di susul sabitnya yang menebas pria di depannya dan memaksa untuk mundur menjauh.
__ADS_1
Seperti biasa, luka yang mengenai Arlo perlahan akan tertutup dan sembuh seketika. Menarik kembali sabit dalam genggamanya dan memberi isyarat kepada para pasukannya untuk mengambil tubuh Khira dan mundur. Lawannya yang menahan rasa sakit di perutnya karena tebasan sabit Arlo, mulai kembali mengangkat tubuhnya kembali.
“Kalau aku pak tua, pastinya kau itu lebih tua, Arlo. Khehh…” kekehnya, berlari secepat mungkin ke arah Arlo.
“Memangnya apa yang membuatmu mengatakan hal seperti itu. Kau itu di buang, berbeda denganku,” balas Arlo, dengan nada ejekan sebelum serangannya sampai.
“Memang apa bedanya, kita sama-sama Pangeran Terbuang, kan? Kau tidak bisa membantah kenyataan itu, teman senasip. Hahaha….” Tawanya terdengar mengerikan, dengan aura gelap yang terus melindunginya di setiap serangan Arlo.
Arlo perlahan merasa kelelahan, di tambah ini juga sudah malam yang merupakaan salah satu kelemahannya. Sedangkan lawannya terlihat masih segar-bugar dan penuh gairah, tentunya untuk membunuh makhluk abadi di depannya. Sampai sinar bulan benar-benar terlihat terang dan menghentikan pertarungan mereka secara tiba-tiba.
...(----------------)...
Sesuai perintah Arlo, putri dan pangeran Hendric berlari tertatih-tatih ke arah kastil. Dengan terpaksa pangeran Hendric di bantu putri yang menyangga sebagian tubuhnya berlari ke arah kastil karena luka-lukanya semakin parah. Tapi sepertinya mereka kurang beruntung untuk kali ini. Segerombolan iblis yang di bawa oleh Daniel, berdiri menghadang jalan mereka dan membuat kerisuhan di dalam kastil.
“Apa Anda yakin, Hendric?” ucapnya dengan tatapan yang sangat cemas.
“Hmm… senang melihat wajah Anda yang penuh cemas. Bila saya tidak kembali, Anda langsung saja pergi menemui tuan Arlo. Dah…” ucapnya, melepaskan rangkulan yang menyangga tubuhnya dan berjalan tertatih-tatih ke arah lain.
Dengan terpaksa, putri harus melepaskan kepergian pria itu dan memperkuat tekatnya untuk membunuh para iblis yang mengganggu itu. Dengan pedang hitam yang sudah kusam itu, putri dengan mudah membereskan segerombolan iblis yang menghalanginya. Berlari menyelamatkan sebagian pelayan yang telah di lukai dan di siksa.
Pikirannya masih tertuju pada Khira, meski dia sudah tidak akan percaya pria itu akan selamat. Berlarian di lorong-lorong dan mencari di setiap ruangan untuk menemukan keberadaan ayahnya. Lagi-lagi banyak iblis yang menghalangi jalan dan sempat-sempatnya untuk menyerang. Tapi karena sudah berlari kesana kemari dan bertarung, kali ini dia benar-benar sudah kelelahan.
__ADS_1
Tubuh wanitannya sudah hampir mencapai batas meski hanya untuk berdiri saja. Dengan senang hati tentunya, para iblis itu mengeroyok seorang gadis cantik yang sudah lemas lunglai di hadapannya. Saat-saat mereka sudah mendekat, pikiran gadis itu sudah mulai pasrah dengan nasipnya. Perlahan-lahan, matanya tertutup dan hanya samar-samar melihat sekitarnya. Sampai pantulan cahaya bulan dari pedang yang di berikan pangeran Hendric menyilaukan matanya.
“Hendric….” Membulatkan tekat, gadis itu kembali mengangkat pedangnya dengan sempoyongan dan menebas iblis-iblis itu sebelum sempat mendekatnya.
Rasanya pertarungan itu seperti tidak ada habisnya saja karena dia terlalu lelah. Sampai secercah cahaya yang menyilaukan terpancar tidak jauh darinya. Lebih tepatnya di sebuah ruangan yang cukup jauh di depannya dan cahaya itu keluar lewat sela-sela pintu. Dengan terpaksa, gadis itu mengeluarkan semua sisa tenaganya dan berhasil membunuh semua iblis yang ada di hadapannya.
Jatuh di lantai dengan keringat dan darah yang bercucuran di tubuhnya. Menyeret tubuhnya yang sudah sangat lemas, perlahan-lahan mendekati pintu dengan cahaya yang tidak kunjung redup itu. Sampai di depan pintu, di berhenti dan menyandarkan tubuhnya di dinding untuk menarik nafas.
Belum saja dia merasa lega, ledakan yang tidak kecil terdengar jelas di telinganya. Tepat di belakannya, ledakan terjadi bersamaan dengan kilat terang yang berasal dari ruangan itu dan lenyap seketika. Dia langsung bangun dan berlari membuka pintu masuk, menatap dengan wajah yang terkejut, sekejut-kejutnya.
Dengan mendapati pria yang tidak asing, terbaring lemas di atas lantai dengan benda tajam menusuk hampir seluruh tubuhnya.
“Ayah!!” teriaknya sekencang mungkin hingga iblis itu menoleh kepadanya.
Sedangkan seorang iblis yang berdiri tidak jauh dari pria itu, tersenyum lebar menatap pemandangan indah di hadapannya. Lalu melirik seseorang yang malamun, berdiri di depan pintu masuk ruangan.
Dengan senyuman lebar seorang iblis, dia berjalan perlahan-lahan mendekati gadis yang di penuhi kesedihan di depan pintu. Liontin merah yang menyilaukan, terlihat di kalungkan di lehernya dan terus menyorot kemana-mana. Dengan belati panjang yang ada di tangan kanannya, tanpa ragu-ragu, iblis itu mengangkat tinggi ke arah putri yang tetap terdiam, menatap kosong.
“Tidak tau apa yang sebenarnya terjadi… ini terjadi begitu saja… kenapa aku tidak pernah menuruti perintahnya…? Apa aku ini pantas untuk hidup lebih lama lagi…? Bagaimana kalau sekarang aku mati saja…?
…. Apa aku akan tetap menjadi seperti yang aku inginkan…? Dan membayar semua itu dengan kematian…?” suara-suara hatinya terus mengiang seperti itu, hingga saat-saat terakhirnya.
__ADS_1
Sampai akhirpun, hidup itu tidak akan pernah berjalan baik dan mulus seperti yang di pikirkan. Hanya ada senyuman dari orang-orang di sekitar yang mengantar kepergian.
Belati itu di tebaskan bersamaan dengan cahaya silau dari luar jendela dan menghapus semua pemandangan di sana.