Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 57 - Tempat Nan Indah.


__ADS_3

Seorang pria sedang duduk bersandar dengan santai di atas batu, batu yang besar dan tergeletap tepat di tepi sebuah danau luas yang setengah melingkar. Angin sepoi-sepoi dengan lembut menghempas rambutnya yang agak panjang dan membuat suhu panas di sekitar tersapu pergi. Sesaat kemudian, seseorang perlahan memanggil namanya dari kejauhan.


“Ayah! Makan siang sudah siap!” teriak seorang gadis dari kejauhan.


“Baik!” sahut pria itu beranjak dari duduknya.


Seorang gadis yang memakai baju putih panjang dan celana pendek sepaha dengan rambutnya yang di kuncir pendek di belakang, menatap tajam kearah pria yang datang menghampirinya. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah rumah kayu dengan asap mengepul di atasnya.


Di dalam sudah ada seorang wanita dan nenek tua yang duduk mantap di depan meja lesehan dan menghadap makanan yang ada di depannya.


“Baiklah, selamat makan…”


Mereka semua makan begitu lahap dengang senyuman hangat yang menjadi perantara kebahagian di sana.


“Oh! Nak Verles apa nanti malam akan pergi?” ucap nenek tua itu.


“Tidak, hari ini libur…” Verles tersenyum.


“Kalau begitu, nanti malam bisa antar ibu ke sesuatu tempat?”


“Tentu saja…”


Selesai mereka makan, Verles keluar dari dalam rumah dan kembali duduk di atas batu itu lagi dan menik mati cuaca cerah. Sampai seseorang perlahan datang menghampirinya dan memanggil namanya dengan lembut.


“Anu… Verles, apa aku bisa bergabung?” ucap seorang wanita yang sebelumnya duduk bersama nenek tadi.


“Tentu saja. Kemarilah, Nona Leira.” Sambut Verles melambaikan tangannya.


Wanita itu berjalan menekati batunya dan hendak naik ke atas, namun karena rok panjangnya ia tidak mampu dan akhirnya di bentu oleh Verles. Sampai tenpa sengaja, tarikaannya terlalu kuat hingga wanita itu terlempar naik ke atas tubuh Verles hingga ia tertindih.


“Eh! Maaf,” Leira segera menarik badannya turun dan duduk di sebelah Verles dengan wajahnya yang merah padam.


“Apa kau baik-baik saja? Apa ini terlalu panas?” Verles semakin mendekatkan wajahnya pada wanita itu.


“Tidak! Saya baik-baik saja…”


“Ohh, baiklah…”

__ADS_1


Selama beberapa waktu, mereka berdua hanya menatap langit biru tanpa terdengar sepatah katapun. Sampai tiba-tiba Verles menepuk pundak wanita itu tanpa mengalihkan pandanganya.


“Tidak terasa, aku dan Trisia sudah lama sekali tinggal di sini. Tempat yang indah seperti ini, rasanya aku tidak ingin meninggalkannya pergi begitu saja. Benar, kan?” Verles menoleh ka arah lawan bicarnya.


“Lalu… apa sepanjang hidup, Anda akan tetap tinggal di sini?”


“Entahlah, inginku begitu. Tapi aku juga tidak yakin. Kuharap tempat ini tidak akan pernah sekalipun di jamah oleh para iblis itu…”


“Begitu? Senangnya….” Bisik Leira, menggenggam kedua tanganya di depan wajahnya.


Hari berselah begitu saja sampai malam telah tiba, mereka makan malam seperti biasa. Sampai Nenek tua itu mengajaknya pergi ke sesuatu tempat yang belum pernah Verles ketahui sebelumnya. Sebuah tempat di perbukitan yang tersembunyi di baik pepohonan lebat.


“Kemarilah, Nak. Kau senang menatap langit, kan? Di sini adalah tempat yang lebih indah…” ucap lebut Nenek tua itu.


“Ohh… ini benar-benar… sempurna.”


Pemandangan hutan lebat dan pemukiman kecil yang saling bersebelahan, seakan terhubing langsung dengan langit malam yang berbintang. Karena malam ini bulan tidak bersinar sedikitpun dan di gantikan oleh cahaya bintang yang memenuhi langit sepanjang mata memandang. Sampai nenek itu menepuk pundak Verles dan memcah lamunannya.


“Hei… bukan ini saja yang aku tunjukkan, ada sesuatu yang ingin akau katakan,” nenek itu tersenyum tipis di balik wajahnya yang sudah keriputan.


“Dengarkan ceritaku ini… tidak lama ini, aku bermimpi sebuah perang saudara yang terjadi di kerajaan. Keturunan raja yang paling di saya rupanya hanya menginginkan harta warganya dan meningkatkan pajak setinggi mungkin,”


“Lalu apa hubungan itu dengan saya?”


“Dalam mimpi itu, anak raja ada dua, sang kakak adalah anak yang cerdas dan berbakat, namun dia adalah orang yang tidak peduli. Sedangkan sang adik adalah seorang pangeran yang sangat loyal. Dan kau tau siapa sang kak? Itu kau….” Ucap sang nenek menoleh pada pria muda di sebelahnya.


Sontak anak itu langsung balik menatap dan memasang wajah terkejut pada sang nenek, lalu nenek itu tersenyum tipis ke arahnya.


“Bila mungkin itu terjadi, hanya sedikit kesalahan yang mungkin terjadi. Saya adalah anak tunggal dari kerajaan Berlesh, dan saya melarikan diri bahkan sebelum di nobatkan sebagai pangeran mahkota, jadi jelas itu tidak…” kalimat Verles tiba-tiba berhenti saat mengingat sesuatu.


“Apa ada yang salah?”


“Anda benar, raja mempunyai seorang permaisuri baru yang menjadi ibu tiri saya. Tapi saat itu dia dinyatakan mandul, apa sampai seegitunya?”


“Pikirkanlah sendiri! Kenapa kau memaksa orang tua seperti ini berpikir keras. Selain itu, ada hal lain yang ingin ku tanyakan,”


“Hah? bukankah saya yang lebih tua?” Verles menghela nafas kesal.

__ADS_1


“Hahaha… kau benar juga, baiklah. Sekarang jawab pertanyaanku ini. Bila saja, bila saja sesuatu terjadi di sini, apa kau akan tetap di sini dan juga melindungi putriku?” sang nenek menatap tajam sesaat setelah tertawa.


Tanpa memberikan jawaban, Verles mengalihkan pandangan ke arah langit dan menunjuk salah satu bintang yang bersinar lebih terang dari yang lainnya, lalu ia tersenyum.


“Saya rasa itu belum tentu terjadi, sebuah tempat yang indah ini akan tetap seperti ini dan tidak akan berubah sedikitpun. Namun bila saja itu terjadi, tentu saja… saya sudah tidak ada di sini. Putri Anda adalah wanita yang sangat hebat, lebih hebat dari pada siapapun. Sama seperti tempat indah yang ia tinggali, tidak akan terjadi apapun di sini…” ucap Verles, seyakin mungkin.


“Bukankah itu hanya pendapatmu?”


“Haha, benar. Itu hanya pendapat saya…”


“Baiklah, hari semakin larut. Ayo kita kembali sebelum mereka mencari….”


Mereka beranjak pergi menuruni bukit kecil yang sebelumya tidak disadari oleh Verles sampai mereka berhasil turun di bawah. Di rumah, Calissto dan Leira sudah menunggu mereka berdua kembali, dengan Leira yang terus saja menanyakan sebenarnya mereka berdua kemana. Namun sang nenek hanya membalas sebuah senyuman ke arah Verles hingga ia tiba-tiba merasa canggung.


...(----------------)...


Di sebuah rumah kayu yang terletak di tengah-tengah hutan, orang-orang berkumpul ramai di sana dengan di penuhi wajah sedih. Seorang nenek tua yang seakan sudah menjadi ibu mereka, kini telah pergi meninggalkan dunia ini. Tidak sedikit yang meneteskan air mata atas kepergiaannya terutama Leira sendiri sebagai putrinya.


“Tidak terduga, semalam adalah pesan terakhir yang ia berikan. Kuharap kau pergi dengan tenang, Nenek Ands…” ucap Verles menatap pemakaman yang sudah di hadapannya.


“Sekarang saya menyadari kalau yang Anda katakan bisa saja terjadi, lalu bagaimana bila saya sendiri tidak ada di sini untuk melindungi?” lanjutnya tersenyum tipis.


Kematian sang ibu sangatlah membuat nona Leira terpukul habis-habisan, terkadang dia hanya duduk-duduk melamun di teras sambil menatap air hujan yang terkadang turun. Hal ini sangatlah berkebalikan dari sifatnya yang sebenarnya ramah dan ceria, sampai dia menanyakan sesuatu ke pada Verles secarang terang-terangan.


“Apa saya bisa mananyakan sesuatu?” ucapnya ragu-ragu.


“Tentu, tanyakan saja,”


“Kalau boleh ceritakan apa yang Anda dan ibu lakukan saat malam itu?”


Sesaat Verles hanya terdiam menatap wanita yang duduk di sampingnya, sampai akhirnya dia menghela nafas dan menceritakan semuanya, termasuk pertanyaan yang diutarakan oleh sang nenek sebelumnya. Wanita itu terliahat tidak terlalu terkejut karenanya, tapi tiba-tiba air mata mengalir begitu saja di pipi wanita itu.


“Apa benar itu akan terjadi? Bila itu terjadi… apa Anda akan tetap disini?”


“Waktu berjalan terlalu cepat. Umurku ini juga akan semakin pendek, aku sendiri tidak yakin bila saat itu terjadi, apakah aku masih hidup... atau aku dan putriku sudah tiada....”


Ini adalah langkah yang terjadi 92 tahun yang lalu, di mana waktu akan memakan semuanya hingga benar-benar tak terisa.

__ADS_1


__ADS_2