Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 12 - Hari Sempurna II.


__ADS_3

Semua orang menampakkan wajah terkejut bercampur tidak percaya dengan apa yang di katakan Arlo barusan. Wajah mereka semua bengong dan memasang wajah bingung.


Eri terlihat sangat terkejut dengan apa yang di katakan Arlo. Dia terlihat sangat senang bisa mendengar kabar itu.


“Tapi bagaimana?” Eri mempertanyakan.


“Tenang saja semua sudah di atur oleh kedua orang tua itu..”


“Bagaimana dengan perjalanannya?”


“Benar Arlo, bagaimana perjalanannya?” Tanya pak Harto wajahnya lebih serius dari sebelumnya dan bercampur dengan rasa kawatir.


“Tenang saja, perjalanannya hanya sebentar, mungkin hanya satu hari. Selain itu karena mereka berdua datang, jadi mereka pasti menemani kami. Benar?”


“Tentu saja!” Ferdi dan Sina menjawab bersama-sama.


“Baiklah aku rasa memang tidak perlu kawatir dengan putriku, tapi bila kau pergi bagaimana bila iblis menyerang?” tanya pak Harto dengan wajah yang masih ragu-ragu.


“Ibu bilang ia akan mengirim sepuluh orang, bukan! Tapi sepuluh iblis khusus untuk berjaga dan tinggal di penginapanmu sampai aku kembali. Apa boleh?”


“Hem.. persiapan yang benar-benar mantap. Aku bersedia sebagai wadah bala bantuan itu asalkan tidak terlalu lama”


“Baiklah sudah di putuskan tiga hari lagi kita berangkat teman-teman!”


“BAIK!!”


...(----------------)...


Arlo berjalan dengan sorang wanita. Rambut hitamnya di kelabang cantik dan memakai setelan panjang berwarna hitam dengan larit kuning. Arlo melihatnya dengan penuh rasa sayang dan merangkulnya sambil berjalan.

__ADS_1


Gadis itu mengangkat tangan yang digunakan untuk merangkulnya dan menarik tangan itu untuk duduk di suatu tempat. Mereka berdua berhenti di pinggir danau dan hendak duduk di salah satu kursi di sana. Senyuman penuh kebahagiaan tidak dapat di tutupi oleh mereka berdua.


“Jadi sebentar lagi kita akan bersama selamanya..”


“Tentu saja Nona, kita akan selalu bersama..”


“Terima kasih..”


Surat cinta pada kekasih yang jauh di sana..


Matahari terbenam begitu indah di ujung barat dunia. Awan mendung tipis ditambah sinar matahari di sore hari memunculkan pelangi kembar di bumi timur. Cuacanya juga begitu cerah seakan melengkapi mereka berdua yang penuh dalam kebahagiaan.


Kedua orang itu duduk di bangku dan menatap pelangi itu, berharap waktu bisa berhenti hingga mereka bisa puas memandangnya. Di tengah-tengah hal itu. Eri mencuri ciuman di pipi Arlo, Arlo terkejut dengan hal itu lalu mereka berdua berciuman.


...(----------------)...


“Baiklah Arlo, karena semua perintah bisa di laksanakan dengan baik maka, kau bisa libur dari tugasmu untuk lusa. Tapi besok ada sesuatu yang datang, jadi jangan lengah karena kegiatanmu sendiri.


“Tapi bahaya apa yang akan datang Ibu. Apa serangan iblis?. Dan apa yang terjadi lusa?”


“Kau itu selalu banyak bertanya ya..”


“Tapi bukankah itu hal yang penting?, karena mengingat tadi adalah kata lengah, jadi mung-“


“Tenanglah Arlo, mungkin juga bukan sesuatu yang buruk”


“Baiklah Kalau begitu. Selamat malam.. Ibu. Jangan kecewakan Ayah Hari ini!”


“Baiklah, dasar!!. Kau itu tidak sopan Arlo. Tapi aku rasa kau juga sudah dewasa

__ADS_1


Baiklah selamat malam anak muda” suaranya mulai perlahan lenyap dalam cakrawala.


...(----------------)...


Hari ini Jam utama masih menunjukkan sekitar pukul 7 pagi. Dan hari masih terlihat gelap, Arlo yang masih bekerja di tempat dagangnya merasa cemas dengan hari ini.


Semakin lama suhunya terasa dingin karena tiupan angin yang tidak teratur. Pohon sekitar mulai bergerak dengan kasar karena tiupan angin yang begitu keras. Penduduk sekitar juga tidak ada satu pun yang keluar rumah.


“Sepertinya akan ada badai Hari ini. Jadi aku harus waspada untuk hari ini” gumam Arlo, menatap langit.


“Hei nak, simpanlah barang yang ringan dalam kotak ini. Anginnya akan semakin kencang dari arah timur. Ini!” atasan Arlo yang menyerahkan dua kotak besar kepada Arlo.


“Baiklah. Tapi bagaimana dengan beberapa alat yang menggantung di sana?” Arlo menunjuk benda berbentuk seperti kepala banteng tapi lebih besar dan tanduknya patah sebelah kiri.


“Itu tidak akan jatuh, tapi mungkin bisa kita ambil. Oh.. tidak tadi ada yang memesan sesuatu, jadi urus semua aku pergi dulu”


“Tentu saja!”


Arlo segera menyiapkan tugas dari atasannya dan segera menyelesaikannya. Lalu ia mencoba mengambil kepala banteng itu, tapi tidak ada yang bisa digunakan untuk memanjat dan mengambilnya.


Akhirnya ia membiarkannya dan menunggu atasannya untuk meminta bantuan. Dia pikir atasannya akan segera kembali, tapi setelah beberapa saat tidak ada tanda-tanda ia kembali sampai suatu saat. Seorang pria mendekat dari luar toko.


“Arlo.. bagaimana dengan kerjamu hari ini?” dari kejauhan dengan suara samar-samar paman Eri mendekat dengan memakai payung.


“Tidak ada yang istimewa. Tapi ada benda itu, dan aku tidak bisa mengambilnya. Bagaimana menurutmu?” Arlo menunjuk sesuatu di dinding.


“Jadi itu ya.. mungkin tongkat itu bisa membantu. Aku bisa menjatuhkannya lewat tongkat itu dan kau bisa menangkapnya, bagaimana apa kau setuju?”


“Baiklah mari kita coba” Arlo mengambil tongkat dan menyerahkannya pada Paman Eri.

__ADS_1


Dalam satu sodokkan, kepala itu jatuh dan di terima oleh Arlo. Kepala itu lumayan berat bagi Arlo. Tapi bukan itu saja, Arlo juga merasakan ada tekanan pada sesuatu di dalam kepala banteng itu. Wata dari kepala banteng itu bersinar dan memancarkan aura yang aneh.


“Cahaya apa ini?!, rasanya seperti, seperti terlalu lama sendirian” Arlo merasa bingung dengan aura yang di pancarkan dari kepala banteng itu. Rasanya mirip dengan kelinci yang ia temui bersama Youta tapi ini lebih suram dan terasa kesepian.


__ADS_2