Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 23 - Anak.


__ADS_3

Mereka berempat makan bersama di ruangan itu, Arlo di pakasa untuk menjawab semua pertanyaan dari kedua orang tua di depannya. Sedangkan Eri hanya terus makan, karena kelihatannya semua makanan di meja adalah kesukaan Eri.


“Baiklah Nona Eri, apa kau tau siapa kami?”


“Anda adalah Ratu dan Raja di wilayah ini, sekaligus sebagai orang tua Arlo. Dan lainya saya tidak tau”


Kedua orang di depan Eri tertawa kecil, lalu pada akhirnya menjelaskan siapa mereka.


“Jadi anak nakal ini tidak cerita ya..? dasar! Kukira setelah bertemu bisa langsung mendekatkan diri padanya” Ratu menutup wajahnya kesal.


“Memang benar aku adalah Ordil ayah Arlo. Lalu dia adalah Ratu wilayah ini, Aliyla Bharat. Kami adalah orang tua Arlo, jadi tolong jangan terlalu formal pada kami, rasanya cukup sedih bila putri kami bersikap seperti itu pada kami” ayah Arlo menjawab dengan serius pada Eri.


“baiklah tu.. baiklah Ayah” jawab Eri ragu-ragu.


Semua melanjutkan makannya dalam diam sampai jam makan selesai. Ratu sudah berjanji harus kembali untuk memberi perintah baru pada beberapa mentri di sana seteleh jam makan malam selesai. Ia meninggalkan ruang makan dan buru-buru kembali ketempatnya, sedangkan Ayah Arlo menuntun kedua anaknya lagi ke arah yang lain. Di sepanjang lorong, rasanya suhu sekitar menurun dan menjadi sedikit sejuk di banding sebelumnya. Sampai di ujung lorong ada sebuah cahaya yang terang dan terlihat sebuah ruangan.


Di sana sudah berdiri dua orang gadis yang tidak asing bagi Arlo menunggu di depan pintu ruangan itu. Kedua gadis itu menyambut hangat tuannya yang sudah lama tidak kembali. ruangan itu adalah satu-satunya kamar lama Arlo sejak ia tinggal di sini. Sebelumnya ada seorang wanita yang lebih dewasa merawat Arlo selama sepuluh tahun lamanya sejak ia lahir. Tapi beberap tahun setelah ia kembali dari Kerajaan Ayahnya karena sudah dianggap mati, wanita itu sudah tidak pernah terlihat dan di gantikan kedua gadis ini.


“Kalian berdua, akan di bantu oleh mereka berdua, tentunya kau tau siapa mereka berdua kan Arlo. Baiklah aku harus pergi ke sesuatu tempat, selamat malam..”


“Yah.. selamat malam..” Arlo berjalan masuk sendiri kedalam ruangan itu tanpa peduli siapapun.


Kedua gadis itu mendekati Eri dan menanyai banyak hal di sampinnya sampai Eri kualahan. Sedangkan Arlo yang duduk di atas kasur hanya menatap penasaran pada mereka bertiga yang hanya bergerumbul tidak Jelas. Kemudian setelah Eri menjelaskan sebuah kalimat, kedua gadis itu pergi meninggalkan Arlo bersama Eri.


Arlo mendekat dan melihat keluar pintu, tapi mereka berdua sudah tidak terlihat. Eri tertawa kecil pada Arlo dan pergi duduk di atas kasur. Ia menepuk kasur di sebelahnya, memanggil Arlo duduk di sampinnya. Arlo duduk dan berbaring di samping Eri.

__ADS_1


“Apa kau tidak bawa baju ganti Arlo, kelihatannya kau Cuma punya dua baju?”


Arlo bangun dan melihat sekelilin, wajahnya terlihat sedikit terkejut. Kemudian segera saja ia membuka setiap laci yang ada di lemari dan mencari sesuatu di sana. Sampai semua laci sudah di cek, tapi kelihatannya Arlo tidak menemukan barang yang ia cari. Lalu Arlo duduk dan berbaring di kasurnya, dia melihat langit-langit dan menutup matanya. Arlo memikirkan hal yang terjadi sebelum saat Arlo meninggalkan tempat ini.


“masih ada beberapa barang dan baju di lemariku tapi sesuatu yang ku cari tidak ada”


“Apa yang kau cari Arlo?”


“Tikar, Miku! Bany!”


“Ya..!” kedua gadis yang pergi entah kemana tadi, kembali dengan cepat dan menjawab panggilan Tuannya. Setelah beberapa saat di panggil, kedua gadis itu datang dengan cepat dan langsung masuk kedalam ruangan.


“Tikar..!"


Mendengar perkataan Arlo, kedua gadis itu mengangguk dan dengan cpat melesat keluar kamar dan lenyap tanpa suara apapun yang tertinggal. Arlo hanya mengangguk membanggakan dirinya di samping Eri.


“Tidak.. Nona harus cepat mandi sebelum larut malam”


Eri mengangguk dan segera masuk kedalam kamar mandi membawa baju gantinya. Sedangkan Arlo di luar menunggu kedua gadis itu kembali membawa permintaannya. Sebenarnya ruangan itu cukup luas untuk sebuah kamar tidur. Ruangan itu di bagi menjadi dua dengan kamar tidur yang sedikit lebih luas di banding kamar mandinya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kedua gadis itu kembali dan membawa sebuah tikar yang cukup lebar. Sesuai rencana Arlo, tikar itu di gelar di samping kasur dan Arlo mengambil salah satu bantal di kasur, kedua gadis itu terdiam dan bingung dengan yang di lakukan Tuannya.


“Apa? Sudah! Tugas kalian sudah selesai, kalian bisa kembali. Terima kasih untuk tikarnya”


“Baik..” bersamaan kedua gadis itu pamit dan meniggalkan ruangan itu dengan menutup pintu ruangannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Eri keluar dari kamar mandi dan memakai setelan lengan panjang berwarna putih. Dia terlihat begitu cantik dan bersinar karena pantulan cahaya di ruangan itu. Arlo sedikit malu melihat Eri dan tidak berani menatapnya.


“Ada apa Arlo?. Cepat mandi!, dan kau harus mengantarku!” Eri berjalan mendekati meja dan menyisir rambutnya di depan cermin. Lalu Arlo mencuri ciuman di pipi Eri lalu berlari menuju kamar mandi.


Eri hanya terdiam sesaat, ia tidak tau sebenarnya sedang kesal atau malah senang karena ciuman Arlo tadi. Selesai menyisir rambutnya, Eri melihat-lihat sekeliling dan mengintip ke luar jendela. Jendelanya cukup kecil sehingga cukup sulit cahaya bulan untuk masuk kedalam. Kamar itu ada di lantai dua di kastil bagian sisi kanan.


Eri hanya melamun melihat cahaya bulan yang sangat indah malam itu. Karena kamarnya cukup tinggi, maka jangkauan untuk melihat juga cukup jauh. Dari jendela kamar itu, Eri bisa melihat seorang gadi yang duduk di taman sendirian. Terlihat dari jauh, ia dia memakai gaun berwana putih dan tanduknya yang berwarna kuning terlihat melamunkan sesuatu di sana.


Beberapa saat setelah itu, Arlo keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek dan mengelap rambutnya dengan handuk. Lalu dia mencari baju yang ada di laci sebelumnya. Eri terlihat malu-malu dengan Arlo yang hanya memakai celana pendek di belakangnya dan tidak berani menoleh ke belakang.


“Arlo.. kenapa kau ganti baju di sini!” Eri terkejut dan berteriak pada Arlo.


“Yah, aku sudah biasa melakukannya di sini. Ini sudah refleks, selain itu aku juga lupa membawa baju ganti saat masuk ke kamar mandi karena tadi” Arlo menjawab dengan santai sambil memakai bajunya di belakang Eri.


Eri sudah kehabisan alasan untuk marah pada Arlo dan hanya menatap jendela untuk melihat gadis yang duduk di taman tadi. Tapi sayangnya gadis itu sudah pergi. Eri kembali mendekati Arlo dan duduk disampingnya di atas kasur setelah selesai memakai bajunya.


“Kau kenapa?” wajah Arlo terlihat sangat konyol menatap Eri. Seketika setelah Arlo menatap Eri, Eri memukulnya dari depan dan berteriak.


“Jangan.. melihatku seperti itu Arlo..” Eri terlihat sedikit takut dengan wajah Arlo yang konyol itu.


“Kau bilang tadi mau diantar, kemana?”


“Antar aku keluar, di taman..”


“Malam seperti ini?”

__ADS_1


Eri terlihat cemberut dan melipat tangannya memunggungu Arlo. Melihat itu, Arlo malah tersenyum dan menggodanya, dia mencolet perut kecil Eri dan Eri terkejut lalu juga ikut tertawa bersama Arlo. Arlo bangun dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Eri untuk mengantarnya keluar.


“Jadi.. ayo kita berangkat Nona, keburu malam aku nanti mengantuk dan kutinggal sendiri di sana hihi..”


__ADS_2