
Selesai makan malam bersama, Pak Harto harus keluar karena ada beberapa urusan di luar. Dia pergi keluar dan meninggalkan rumah hanya mereka berdua saja yang masih makan di ruang makan.
Arlo yang selesai makan sudah menguap lesu dan duduk dikursi ruang utama sendirian, meninggalkan Eri yang pergi mencuci alat makan sendirian. Setelah beberapa saat menunggu, Eri menyusul Arlo yang sedang bersantai di ruang utama karena dia sudah selesai mencuci alat makan, dia mendekat dan menanyakan sesuatu pada Arlo.
“Semuanya sudah beres, apa kau mau teh..?”
“Tentu, aku akan menunggu di sini”
Eri segera berjalan kembali ke dapur menyiapkan teh yang ia janjikan. Arlo masih terlihat lesu dengan menyangga kepalanya dan mulai memejamkan mata. Eri sudah kembali dan membawa nampan yang berisi dua gelas teh dan sebungkus roti kesukaannya, duduk di sebelah Arlo yang terlihat nyaman dengan sandarannya.
“Bangun, ini tehmu sudah siap..”
“Yah.. aku bangun. Roti itu lagi?”
“Kenapa? ini kesukaanku, apa kau mau?”
“Itu tidak sehat Nona, sebaiknya kau mulai menggantinya..” Arlo mulai menyeruput teh hangatnya menatap Eri yang terlihat tidak percaya. Sedangkan Eri hanya tersenyum dan melanjutkan makannya tanpa perduli dengan perkataan Arlo.
“Mengenai besok, ada hal penting yang terlambat aku katakan..”
“Apa?”
“Mungkin bila kita pergi kesana, kemungkinan besar aku tidak bisa kembali kesini..”
“Lalu bagaimana dengan tugasmu di sini?”
“Apa kau tidak kawatir dengan dirimu sendiri?” mendengar kalimat Arli, Eri hanya tersenyum lagi.
Arlo kembali menjelaskan kondisinya, “Astaga. Baiklah, itu adalah peraturan lama dari pemimpin sebelumnya tapi aku juga tidak tau kebenarannya”
“Bagus.. aku tidak peduli mau kemanapun, asalkan masih bersamamu. Karena satu-satunya yang ku punya hanya kau saat ini”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Dia sudah menyerahkan diriku padamu sepenuhnya. Dia sudah percaya padamu sepenuhnya, karena itu ia pergi meninggalkan kita berdua saja”
Eri mendekati Arlo dan menyandarkan kepalanya pada pria tersayang yang duduk di sebelahnya. Arlo hanya terdiam memikirkan hal ini. tidak terasa, ngantuk sudah mengendalikannya dan tanpa sadar ia tertidur bersama Eri di sofa itu.
Malam hari yang tenang dan damai, tidak akan pernah tergantikan. Mereka berdua tanpa sadar tertidur di kursi berdua dengan saling bersandar.
Terdengar dari luar suara seseorang mengetuk pintu kemudian memutar selot pintu dan masuk kedalam rumah. Tidak lain itu adalah Pak Harto yang kembali dari urusannya tadi saat larut malam, ia hanya tersenyum melihat kedua anaknya tertidur pulas dikursi.
“Kelihatannya ia berhasil..”
Ia mendekati keduanya dan berdiri tepat di depan mereka berdua. Dia memanggil-manggil nama Eri dengan parlahan berusaha membangunkannya. Eri mulai membuka matanya dan terkejut Ayahnya berdiri tepat di depanya, ia di minta untuk pindah ke kamar masing-masing dari pada tidur di sini, itu tidak sehat.
__ADS_1
Eri berbisik pelan pada Arlo dan menyengol lengannya, “Arlo.. bangunlah! Kita pindah, ini sudah larut..”
“Hah..? baiklah. Kau bisa ambilkan bantal dan selimut?. Aku akan tidur di sini saja”
“Mana mungkin!, ada satu kamar kosong disini, kau bisa tidur di sana!”
“Baiklah..” Arlo bangun dalam kondisi masih tidak sadar dan berjalan kekamar yang sudah di katakan Eri.
“Selamat malam.. Arlo”
“Yah.. selamat malam, huohmm” Arlo masuk kekamarnya dan tertidur.
Eri yang masih berdiri di depan sofa itu, mengambil gelas sisa wadah teh sebelmnya dan hendak pergi ke dapur. Ayahnya hanya terdiam memandang putrinya dengan sedikit senyum-senyum di bibirnya. Eri jadi salah tingkah karena tatapan itu dan pipinya tiba-tiba merah.
“Apa..?”
“Ku pikir kalian tidur berdua setelah mendengar perkataanmu tadi sore” Ayah Eri bertanya dengan wajah nakalnya mengoda putri satu-satunya.
“A.. ayah apa maksudnya.. aku hanya ingin ia menginap di sini” wajah Eri yang merah segera berlari membawa nampan berisi gelas tadi ke dapur dan kembali untuk masuk kekamarnya. Ayahnya terdengar tertawa kecil di luar dan mematikan lampu kemudian susah tidak terdengar suara apapun.
...(----------------)...
Di dalam hutan yang lebat, Seorang pria berdiri tepat di depan kedua bawahannya yang menunduk dan memberikan laporan. Pria itu terlihat tidak senang dengan laporan mereka berdua dan sedikit memarahi mereka.
“Baiklah, saat ini ketua tim kalian sudah tidak menganggap kalian sebagai tim 10. Di tambah, dengan adanya laporan dari kedua teman kalian, itu sudah semakin menurunkan kepercayaan anggota, ini adalah peringatan terakhir, sebaiknya jaga sikap kalian dalam menjalankan tugas!”
“Baik!” mereka berdua menjawab dengan tegas.
Pria itu berpaling dan meninggalkan kedua bawahannya. Sedangkan kedua orang itu berdiri dan menatap tajam pria yang berjalan menjauh.
“Sepertinya lebih baik kita keluar saja dan menjadi prajurit kerajaan dari pada berurusan dengan orang seperti itu..” ucap si gadis menggenggam tangannya kuat-kuat. Sedangkan si pria hanya tersenyum menatap gadis di sampinnya.
“Sesuai keinginanmu, tapi kita tunggu saja Tuan Arlo, atau mungkin Ratu punya rencana lain..”
“Baiklah, kau itu selalu bisa tersenyum sebagai seorang pria”
Mereka berdua pergi meninggalkan hutan itu dan lenyap di balik pepohonan di hutan.
...(----------------)...
Pagi yang cerah dan matahari sudah mulai menyinari dunia lagi. Arlo yang baru bangun tidur keluar dari kamar dan langsung menuju teras rumah.
Di sana sudah ada Pak Harto yang duduk sendirian di kursi teras sambil meminum secangkir kopi hangat sambil membaca buku tuanya.
“Selamat pagi.. Ayah” buru-buru Arlo menyapa Pak Harto dan berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“Oh.. sudah bangun?. Yah.. selamat pagi, mau kopi?”
“Tidak, terima kasih. Jadi bagaimana urusan mu semalam?. Aku tidak melihatmu pulang, kupikir Ayah tidak pulang semalam”
“Tidak ada yang bagus, selain itu.. aku sudah pulang dan akulah yang menyuruhmu untuk berpindah di kamar semalam”
“Ohh..! bagaimana aku bisa tidak sadar ya?”
“Sudahlah itu tidak penting, jadi bagaimana sekarang kau akan pulang kampung”setelah bertanya, Pak Harto langsung berdiri tanpa menunggu jawaban Arlo, seperti hanya berusaha mengingatkan Arlo saja.
Kemudian dari dalam rumah, Eri memanggil kedua orang di luar.
“Hei.. sarapan sudah siap”
Arlo masuk kedalam ruang makan dan duduk disebelah Ayahnya, dia terliahat sedang serius memikirkan sesuatu dalam benaknya. Eri datang dengan membawa sarapan yang baru dia masak di dapur. Segera di siapkan dan ikut duduk di meja makan bersama dua orang di depannya.
Semua mulai makan dengan tenang, sedangkan Arlo masih terlihat melamun sambil memakan sarapannya dan membuat Eri cemas.
“Arlo.. apa sarapannya tidak enak?” Tanya Eri tampak kawatir.
“Ee.. tidak begitu, tapi aku hanya memikirkan semalam..” jawab Arlo ragu-ragu.
“Memangnya semalam ad-“ pak Harto yang memotong pembicaraan Arlo di potong oleh Eri.
“Tidak, tidak ada apa-apa, iyakan Arlo..?!”
Arlo sempat tidak menanggapi yang di ucapkan Eri karena kebingungan. Eri menatap Arlo yang bingung dengan wajah mengancam.
“Hah? A.. iya-iya tidak ada apa-apa, hehe” jawab Arlo sedikit takut dengan wajah ancaman Eri.
“Kalian ini kenapa..?. Ya sudah aku selesai makan, jadi aku duluan..” Pak Harto buru-buru pergi meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah.
Eri terus menatap waspada pada pria di depannya dengan wajah penuh tanda tanya. Karena tatapan itu, akhirnya Arlo mulai mengatakan tentang apa yang ia pikirkan selama ini. dia mulai dengan wajah serius tapi masih ada keraguan di dalam dirinya.
“jadi begini Nona, kita akan tetap pergi ke Soul Of Dark dan pulang menemui orang tuaku disana hari ini. Jadi bila kemungkinan aku tidak bisa kembali kesini kau akan di antar pulang oleh temanku di-“
“Aku rasa aku akan tetap disana, aku sudah siap hidup di sana bersamamu. Jadi kau tidak perlu ragu untuk pulang membawaku”
“Tapi bagaimana dengan Ayah mu?”
“Tidak masalah Eri kau bawa kemana saja, asalkan dia bersama mu aku tidak akan pernah kawatir.. Anak muda” Pak Harto menjawap pertanyaan Arlo dari depan pintu dan masuk ke dalam rumah menyusul kedua anaknya.
“Jadi semua sudah setuju, kalau begitu setelah ini kita akan berangkat saja, Nona..” Arlo tersenyum menatap gadis di depannya.
Pada akhirnya, selesai membereskan alat makan pagi ini, kedua orang itu segera menyiapkan apa yang akan dibawa ke tempat tujuan. Arlo kembali ke penginapan dan mengambil barang yang menurutnya harus dibawa olehnya. Di rumah pak Harto, Eri juga bersiap dan berpamitan pada ayahnya, dia pikir saat ini mereka berdua tidak akan lagi bertemu dengan ayahnya.
__ADS_1