Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 17 - Rahasia.


__ADS_3

Orang-orang berpikiran bahwa Arlo tetap ada di kamarnya dan beristirahat, tapi saat ayah Eri datang mengunjungi kamar Arlo. Makanan yang sebelumnya masih hangat dimeja, sudah dingin dan tidak tersentuh.


“Eri! di mana Arlo, ku pikir kau bersamanya dan menyuapinya makan!” ayah Eri berteriak di dalam kamar Arlo karena terkejut.


“Tapi bagaimana? Aku hanya meninggalkannya sebentar tadi. Apa dia pergi menyusul Ferdi dan Sina?” jawab Eri sambil ia berlari menuju kamar Arlo.


Dalam kondisi seperti ini, meski Arlo hanya luka ringan, tapi tubuhnya masih lemah karena kondisi kurang energi. Mereka berdua segera mencari keberadaan Arlo yang entah kemana dia pergi, tapi Eri memiliki dugaan dengan Ferdi dan juga Sina yang tadinya bersamanya.


Di sisi lain..


“Bagaimana kondisinya? Apa masih parah setelah beberapa perawatan ringan tadi?” seorang pria berjongkok di dekat tubuh Ferdi yang masih sekarat.


“Dia lebih parah, tapi kondisinya sudah lebih baik. Aku rasa dia akan sadar lebih cepat” jawab pria bersebelahan dengan Sina berbaring di atas kasur yang hanya beralas kayu tipis.


Arlo hanya bersandar di dinding dan memejamkan matanya berharap kedua temannya cepat sadar. Karena keterlambatannya mereka harus duluan menderita menurutnya. Di dalam pikiran Arlo masih bercampur dengan sihir yang baru saja ia gunakan. Tidak tau hal apa yang bisa di gunakan dari sihir itu.


Kemudian setelah beberapa saat Ferdi mulai siuman dan mulai memaksa bangun dengan penuh perban di tubuhnya. Luka-likanya cukup parah untuk membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun dan melupakan keinginannya untuk bangun. Sedangkan di sisi lain Sina masih tidak sadarkan diri meski lukanya tidak terlalu parah.


Arlo hanya tertawa kecil melihat Ferdi yang begitu lemah tidak seperti biasanya yang sangat cerewet, kedua orang asing tadi mejelaskan siapa mereka kepada Arlo dengan sejelas mengkin, dan Arlo juga mengangguk paham apa yang dimaksudkan hanya saja ia sedikit kecewa pada mereka berdua dan sedikit memarahi mereka. Di tengah pembicaraan serius itu, tiba-tiba Arlo terdiam dan mulai duduk di sebelah Ferdi berbaring. Dari luar terdengar langkah kaki yang sangat cepat.


“Heeii Arrloo!!” dari belakang sebuah tamparan luar biasa melayang tepat di pipi Arlo saat ia sedang berbalik badan.


Seorang yang mudah di kenali oleh Arlo dan tidak terlihat senang. Sedangkan Arlo hanya menunduk takut pada orang di depannya.

__ADS_1


“Bagaiman biasa?!. Aku terlewat oleh mahkluk brandal sepertimu, ARLO!!” Terlihat wajah Eri begitu merah dengan penuh amarah yang meluap-luap.


“Tenang Nona, aku bias jelaskan semua ini. Jadi tenaglah dahulu!” jawap Arlo sedikit merasa takut dengan tatapan mengerikan Eri.


Arlo menjelaskan semua yang terjadi pada Eri dengan sabarnya. Mungkin karena dia sendiri juga takut pada Eri. Sedangkan Ayah Eri yang hanya mengamati di depan pintu hanya mengangguk dan pergi melihat sekeliling.


“Arlo apa kau mengenal mereka?” tanya Ayah Eri sambal menunjuk dua orang yang bersandar di dinding, lalu menyapa ayah Eri.


“Mereka bilang, mereka adalah teman Ferdi dan Sina dari satu pasukan. Lalu mereka datang saat aku baru saja membunuh pengacau tadi dan menolong kami bertiga” jelas Arlo.


Ayah Eri menghampiri mereka berdua dan menanyakan sesuatu dengan suara yang lirih sehingga Arlo dan yang lain tidak dapat mendengarnnya.


“jadi begitu..’’ tutup ayah Eri lalu pergi meninggalkan mereka semua tanpa menjenguk atau menanyai kondisi kedua teman Arlo.


Arlo hanya bingung tanpa bisa menghentikan pak Harto dan menanyainya. Di belakangnya Eri berjalan dengan sedikit amarah yang tersisa dan meninggalkan Arlo bersama mereka beremapat tanpa mengucapkan sepatah katapun .Setelah beberapa saat, kedua teman Ferdi berpamitan untuk kembali dan memberikan laporan.


“Apa kalian tidak terlalu akrap dengan teman sekelompok sendiri?” tanya Arlo berjalan mendekati keduanya yangb masih terbaring di kasur.


“Tidak juga, semua pasukan memang bersifat seperti itu. Kami juga tidak terlalu peduli dengan mereka karena jarang bekerja sama. Lalu dimana Nona Eri?, seharusnya dia juga kemarikan?”


Arlo pamit meninggalkan Ferdi setelah ia benar-benar mulai membaik. Sedangkan Sina juga sudah siuman sengan senyuman manis yang tak terelakan.


...(----------------)...

__ADS_1


Di tempat lain..


Arlo berjalan perlahan ke sesuatu tempat yang agak jauh. Saat ia sudah mulai dekat dengan tujuannya, terlihat seorang gadis yang duduk dengan bersedih. Tempat itu seperti semakin membuat perasaan memburuk. Danau yang terkena pantulan sinar matahari saat senja mulai datang.


Arlo segera menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya. Wajahnya tampak kawatir dengan orang yang menangis di sebelahnya dan mulai merangkul pundaknya, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Arlo.


“Jadi Nona kawatir dengan masa depan..?”


“Apakah nasip desa ini akan tetap seperti ini?. monster itu datang lalu menyerang, sedangkan priaku harus berjuang mati-matian sendiri. (menangis) Apakah ini tidak akan berakir..?”


“Aku rasa pasti ada jalan untuk mencapai sebuah tujuan. Tenang saja, selama aku masih bisa berdiri, kau juga masih bisa merawatku. Kita akan selalu bersama..” Arlo tersenyum melebihi senyuman yang biasanya, dan itu meluluhkan hati Eri yang sebelumnya begitu sedih.


Senyuman sudah kembali pada waktunya dan membuat kebahagiaan baru. Eri kembali ke rumah dan meninggalkan Arlo sendiri di sana karena Arlo yang memintanya. Selama beberapa saat Arlo masih duduk disana dengan santai, keliahatannya ia sedang menunggu seeorang sambil mengamati sekitar.


Hari sudah berajak gelap dan mengurangi jarak pandang Arlo yang sedang mengamati sekitar. Tiba-tiba seorang pria dengan sangat cepat menusukkan sebilah pisau dengan racun yang mulai masik kedalam tubuh Arlo.


Tusukannya tepat mengenai punggung Arlo yang lurus dengan posisi jantungnya. Itu seharusnya cukup untuk merobohkan Arlo dan membunuhnya dengan mudah.


“Bertemu dengan mu lagi, aku sudah menunggu sejak tadi di sini anak muda..”


“saya tau kalau anda mengetahui keberadaan saya. Ternyata menjadi assasin saja tidak cukup untuk membunuh seorang iblis sepertimu”


“Mau assasin atau mata-mata, selama hawa keberadaanmu masih terasa. Setidaknya aku masih bisa mengetahui kau berada”

__ADS_1


Pria yang menusuk Arlo tersenyum dengan lebar di bibirnya penuh keyakinan. Tapi senyuman di bibirnya hanya sesaat dan berubah menjadi tetesan darah yang keluar dari dalam mulutnya.


Sebuah belati menusuk tepat dari punggungnnya mengenai jantung. Arlo mencabutnya perlahan dan beranjak meninggalkan pria itu terbaring di sana. Pria itu masih sadarkan diri sesaat dan menatap Arlo dengan senyuman tipisnya sampai akhirnya ia tewas di sana.


__ADS_2