Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Historical Book IV


__ADS_3

Di sebuah tempat gersang dengan bebatuan padas yang panas, sesosok pria terbaring lemas dengan menyandarkan dirinya di antara bebatuan tersebut dengan nafas yang terengah-engah. Seluruh pemandangan yang ia lihat hanyalah dipenuhi kabut gelap tanpa ujung. Tiba-tiba timbul api kecil muncul dari ujung jarinya dan mulai menampakkan sosok sebenarnya pria tersebut.


“Apa sebenarnya tempat ini. Ini sangat panas, jauh lebih panas dari pada Soul of Dark. Apa mungkin ini….” Kalimat Leo terputus oleh sesuatu yang tiba-tiba menancap di sampingnya.


Sontak ia segera menyeret dirinya bangun dari tempatnya duduk dan berjalan tertatih dengan menahan tubuhnya. Namun sayang, langkahnya tidak berselang lama sebab sosok pria sudah melesat di sana sini dan mengepung dirinya.


“Leo… Leo, apa kau tidak mengerti juga? Tidak ada tempat bagimu untuk lari kali ini. Ini adalah penjara sepesial yang dibuat oleh Tuan Daniel sebelumnya. Tempat ini menghubungkan langsung dengan wilayah barat. Tidak ada tempat untuk kembali, bahkan tuanmu tidak akan bisa menemukan dirimu sekarang.” Senyuman tipis di bibir membuat Leo tampak semakin kesal.


Meski begitupun, tidak ada apapun yang bisa ia lakukan dengan tenaga yang ia punya saat ini. Sedangkan ia saat ini dikepung oleh sepuluh Greet Thel dan enam iblis yang sama termasuk Vion di hadapannya.


“Jadi sekarang, apa kau akan menyerah. Bukankah lebih baik seperti itu, kan!” Vion menerjang Leo dengan sabitnya dan di susul pria lain yang mengepung di kelima sisinya.


Tanpa dapat dihindari sedikitpun, darah menyembur keluar dari sekujur tubuh Leo. Ia mengerang dengan keras dan lansung tersungkur di tanah dengan tubuh yang gemetar. Dalam sekali serang, ia sudah kehabisan kekuatannya untuk melawan. Diseret ia pergi ke sesuatu tempat dengan meninggalkan jejak garis di sepanjang jalan yang di laluinya.


Darah mengucur keluar dari lengan kanan Leo yang duduk di atas sebuah kursi batu tua. Dengan diitari kesepuluh para Greet Thel, darah itu mulai memancarkan cahaya jingga terang yang mbeleber. Darah itu mengalir memenuhi jalur batu yang tertata rapi membentuk lima titik pusar. Salah diantaranya terdapat tiga inti core hitam, putih dan biru.


Dalam kondisi yang masih lemas, Leo tersadar dengan terikat rapi oleh rantai di sekujur tubuhnya. Sekuat tenaga ia berontak dan mendapati tempat yang tidak asing dalam ingatannya waktu kecil, kedua matanya terbelalak dengan tubuhnya yang terasa kaku.


“Ini…? Meja Pelepasan!”


Bersamaan dengan kalimat yang diucap olehnya, darah yang mengalir dari dalam tubuhnya mulai redup dan menghitam. Bagaikan minyak yang disulut, darah itu berkobar dengan api yang membara. Disusul dengan kedua pupil mata Leo yang beralih memancarkan cahaya merah terang. Detak jantungnya berdegup keras secara tiba-tiba hingga membuatnya berteriak keras menahan rasa sakit yang mengalir di sekujur tubuhnya.


“Dengan begini, semua akan selesai dan tujuan kami akan tercapai.” Celetuk Vion dengan senyuman yang lebar.


Kerasnya hantaman yang melesat, menghancurkan semua rantai dan tempat dimana Leo berada. Kondisinya yang lemas melirik sesuatu yang menancap tepat di depan wajahnya. Sebuah sabit merah dengan kabel yang menghubungkan sesuatu dari kejauhan, namun kesadarannya tiba-tiba lenyap saat cahaya yang menyala di matanya lenyap.

__ADS_1


Tidak berselang lama, langkah kaki yang begitu cepat menerjang kelima Greet Thel yang awalnya sudah berusaha menghindari sabit itu.


Kabel mengikat kelima leher mereka dan melilit dengan begitu kuat, patah yang disusul darah menyembur dan membasahi tanah tempat mereka berpijak. Kepala dan badan kelima Greet Thel sudah terpisah satu sama lain dengan meninggalkan sosok pria yang berdiri di atas bangkai mereka dan menatap tajam kearah musuh-musuhnya yang berdiri gemetar.


“Cih! Arlo? Bagaimana bisa kau kemari!”


“Dengan melangkah melalui kesepuluh kepala penyihir mengjijikan itu!”


Menyeret pedang permata biru di tangan kanannya, Arlo menarik kabel yang mengikat dirinya dan mendapat kembali sabitnya. Melangkah perlahan mendekati sisa kelima para Greet Thel yang berbaris rapi di belakang kelima iblis yang mendapingi Vion sebelumnya. Aura gelap menyelimuti pedang itu dan ia melesat menerjang apapun yang menghalangi langkahnya.


Tanah yang mengguncang langkahnya muncul bebatuan dan balik menerjang dirinya. Disusul ketiga iblis lain yang langsung menghantam dirinya dengan senjata berat mereka dan menusuk perutnya dengan tombak besar hingga menembus punggungnya. Bebatuan itu pecah berkeping-keping dengan hanya menyentuh kabel yang menjalar di antara ketiga iblis tersebut. Sedangkan ketiganya dihempas mundur dan ia menyusul dengan sabitnya yang melayang di udara.


Belum sempat ia menyentuh sasarannya, puluhan anak panah menghujani dirinya dengan disusul tanah yang menusuk-nusuk dari bawah dan menghantam dirinya. Sabit itu melilit dengan kabelnya dan melindungi sebagian bawah tubuh Arlo sedangkan sebagian anak panah menancap dalam di pundaknya. Meski dengan meringis menahan rasa sakit di tubuhnya, itu hanya dianggap seakan serangga kecil yang menggigit kulitnya.


Meski separah apapun luka yang menembus dirinya, dalam kedipan mata semuanya kembali pulih bagai tak terjadi apapun. Dalam sekali tebas, kelima Greet Thel itu terbaring dengan penuh berlumuran darah. Tanpa tinggal diam, Vion segera menghantam pengacau itu dari atas hingga jatuh dengan keras di tanah.


Kedua kepala mereka terpotong rapi, sedangkan pemilik tombak tertusuk pedang di dadanya dan meninggalkan jasad mereka tergeletak dengan darah yang membanjir. Menyelesaikan semua itu, Arlo mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang berdiri gemetar tidak jauh darinya berada.


“Sekarang, apa yang akan kau lakukan, wahai pelayan setia?” celetuk Arlo dengan menyeret sabitnya mendekati Leo tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Vion.


“Apa kau pikir pelayan ini sama saat lima puluh tahun yang lalu? Apa kau juga tidak melihat berapa core yang berhasil aku kumpulkan? Kau akan melihat kemampuan asli dari pelayan setia ini, Tuan Arlo.”


“Heh. Tunjukan padaku, dasar iblis menjijikan.” Sahut Arlo dengan memangku kepala Leo dalam pelukannya.


...(----------------)...

__ADS_1


Percikan api menyembur saat bibir sabit Vion berhantaman dengan pedang permata Arlo di tangan kanannya. Dengan senyuman percaya dirinya, Vion mendesak kedudukan Arlo dan memukulnya mundur. Kabel yang membelit tubuhnya merambat perlahan dan hendak melilit Vion melalui sabitnya sendiri.


Dengan tergesa, Vion menghempaskan senjatanya dan mendorong pelan Arlo mundur guna menghindari lilitan yang akan menelannya. Aura gelap yang menyelimuti pedang permata tersebut bagaikan pelumas yang mempertajam lidah dari pisaunya. Setiap kali mereka saling menghantam, tampak sabit Vion yang retak karena kerasnya permata yang lebih padat dan berat.


Darah mengucur saat lengan kiri Vion dengan sengaja digores perlahan oleh ujung sabit Arlo. Tanpa sedikitpun rasa kesulitan, Arlo menghancurkan rasa percaya diri lawannya dan menghantam dengan keras tubuh Vion di tanah hingga meninggalkan cekungan yang cukup dalam. Dengan menahan lengan kirinya yang berlumuran darah, Vion tertatih bangun dari tempatnya jatuh dan menatap sosok pria yang mendekat dengan menyeret kedua senjatanya.


Meringis kesakitan, ia segera menegakkan dirinya dan mengigit salah satu jarinya hingga darah mengucur di tanah. Cahaya putih muncul dari darah yang menetes di tanah dan merambat ketubuh pria itu. Aura putih yang berkobar bagaikan api menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia mencabut sebilah pedang yang menancap di sampingnya dan menghempaskannya langsung kearah Arlo.


Dengan begitu sederhana, Arlo menepis pedang itu dari hadapannya. Namun, tiba-tiba ia berbalik dan mendapati Vion yang sudah melayang di hadapannya dengan sabit yang hendak membabat lehernya. Sontak kabel merambat dan membelit kaki pria itu, namun dengan begitu cepat terpotong rapi oleh sebilah pedang yang sama dalam genggaman Vion.


Dengan sangat keras, lagi-lagi kedua senjata mereka saling menghantam satu sama lain dan untuk pertama kalinya sepanjang hidup Arlo, sabit darahnya retak karena hantaman yang ia terima. Namun sama halnya dengan sabit Vion, senjata jiwa akan pulih sepenuhnya meski hancur berkeping-keping.


Tekanan besar yang diberikan mendorong Arlo dan terpental di udara hingga ia menghantam tanah dan berhenti dengan menahan dirinya dengan pedang yang ia tancapkan. Tidak berhenti dari situ, Vion lagi-lagi menerjang dirinya langsung dari depan dan terhenti oleh sabit Arlo dengan posisi yang saling tindih.


Kesempatan gelap menebaskan pedang permata dan mendorong Vion mundur kebelakang, membuat jarak di antara mereka. Sampai tiba-tiba Arlo tersentak dengan menatap sosok yang berdiri di samping Vion dan menepuk punggungnya dengan lembut.


“Apa kau sangat kesal, Vion?” celetuk Daniel dengan memejamkan matanya sesaat.


“Maaf, Tuan. Apa raut wajah saya terlihat seperti itu?” sahutnya bersamaan dengan lenyapnya aura yang menyelimuti dirinya.


“Tidak juga. Maaf Vion, aku lupa memberi tahukan sesuatu padamu. Tidak, aku sendiri juga baru mendengarnya.”


“Apa maksud Anda, Tuan?”


“Untuk saat ini kita tidak bisa merenggut core api. Anak itu sudah menjalin kontrak dengan pangeran Arlo, jadi kekuatannya dalam genggaman Arlo. Hanya ada satu cara untuk mendapat, kan kembali inti api. Membunuhnya.”

__ADS_1


...~ Bunuh Core Api ~...


__ADS_2