
Ke empat orang dalam perintah Arlo, melesat menuju sisi kanan kastil dengan Ferdi yang terpaksa membopong tubuh Khira di punggungnya. Sedangkan para gadis mencari tempat yang di katakan oleh Arlo. Sampai sebuah tempat yang tidak jauh dari kastil di dalam hutan, gemerlap cahaya terpancar di bawah suatu pohon. Sebuah liontin hitam yang menyilaukan karena cahaya bulan, tergeletak tepat di bawah pohon tua.
“Apa ini yang di maksud tuan Arlo?” celetuk Ferdi segera mendekati liontin itu.
“Cepat, darahnya terus keluar. Cepat Ferdi!” bentak Bela dengan wajah yang sangat cemas, menarik-narik tubuh Khira di punggung Ferdi.
Entah dari mana liontin itu berasal dan bagaimana Arlo bisa tau, mereka sudah tidak peduli. Tubuh Khira sudah terlihat semakin pucat dan dingin, dengan darahnya yang terus menetes keluar dari setiap lukannya. Liontin itu di ambil begitu saja dan di kalungkan ke leher Khira dengan cahayanya yang semakin redup. Sampai cahayanya benar-benar lenyap dan tidak membuat perubahan apapun kepada Khira.
“Apa sudah terlambat?”
“Jendral…?”
Selama beberapa saat, mereka terus memandangi tubuh Khira dengan penuh harapan. Tapi tetap aja tidak ada perubahan yang terjadi dari tubuh pria itu. Sampai saat harapan yang sudah pupus, perlahan air mata mengalir begitu saja di pipi Bela. Dia menunduk dengan menangis terisak-isak, terus meneteskan air mata.
Ke empat orang itu menunduk dengan penuh kesedihan, kehilangan harapan. Sepertinya ini adalah waktu Khira untuk pergi dan juga kembali ke dunianya. Bela yang sudah tidak kuat lagi, menubruk tubuh pucat yang terbaring di depannya dan memeluknya erat-erat dengan terus menangis deras.
“Tuan… Jendral… apa aku masih terlalu lemah? Persisi seperti yang kau katakan dulu?” gadis itu terus menangis tersedu-sedu dan terus memeluknya.
Terus mengoceh tentang hal-hal yang pernah terjadi padanya, sampai tidak sadar sesuatu yang ada depannya. Sebuah kilatan yang cerah memecah pandangan mereka semua. Membuat ke tiga orang di belakangnnya langsung merubah raut wajahnya dan menahan tawa.
“Kenapa Jendral…?” ucap terakhir kali gadis itu.
“Aku tidak tau, mungkin karena kesalahanku juga.” Suara besar, terdengar tepat di sebelah telinganya.
Mata gadis itu langsung melebar dengan air matanya langsung berhenti mengalir. Mengangkat wajahnya dan menatap seorang pria yang balik memandangnya dengan wajah datar kebingungan. Pipinya memerah seketika dan tubuhnya tidak berkutik, terus menatap pria di depannya dengan mata yang tidak kunjung berkedip.
“Nona Bella! Aku harus pergi! nona Bella dalam bahaya besar,” pria itu bangun dan menarik pedang yang tiba-tiba muncul di tangannya.
"Kemana!?” bentak Bela, menatap pria yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Perlahan wajahnya berubah, menampakkan kesedihan tergambar lewat air mata yang mengalir lagi di pipinya.
Khira hanya terdiam dan memejamkan mata, hendak berbalik untuk melanjutkan langkahnya.
“Aku mohon maaf, tapi Nona dalam bahaya. Bila sampai aku terlambat, mungkin dia ak-”
“Kenapa aku tidak bisa menggantikan Bella-mu itu! apa yang kurang dari Bela yang ini?” bentak gadis itu, menatap pria yang sudah membalik badan darinya.
“Kenapa! Kenapa Bela yang ini berbeda?” lanjutnya, bangun dan berjalan mendekati pria itu sambil terus menangis.
“Kau tidak akan pergi kemanapun, kan? Biarkan dia pergi, aku yang akan menggantikannya. Tapi kau tidak boleh pergi, Tuan….” Gadis itu memeluk erat-erat pria di depannya.
Khira hanya tetap terdiam dan tidak berani membalikkan badannya. Tanpa sadar untuk pertama kalinya, air mata menetes melewati pipi pria itu. membuat terkejut semua orang yang ada di sana. Khira berbalik dan menata semua orang yang ada disana dengan yang terakhir adalah Bela, yang masih menangis tersedu-sedu.
Melepas paksa dari pelukan gadis di depannya. Air matanya yang masih mengalir, perlahan berhenti bersamaan dengan pedang yang lenyap dari genggaman tanganya. Dia balik memeluk gadis di hadapannya dan memeluknya erat-erat, membuat gadis itu bingung.
“Maaf bila aku gagal sepenuhnya mengajarimu. Tapi kali ini, kaulah yang bertanggung jawab mengajari pria ini…”
...(----------------)...
Dengan sisa tenaganya yang hampir habis, pangeran Hendric melihat cahaya silau bersamaan dengan teriakan seseorang tidak jauh darinya. Suara yang sangat tidak asing terdengar di telinganya, karena itulah dia segera berlari ke sumbernya dengan seluruh sisa tenaga yang dia punya. Berdiri tidak jauh darinya, putri sudah ada di ujung belati seorang iblis.
“Nona!” dia melesat ke arah gadis itu dan menerjangnya.
Memecah lamunan gadis itu dan mendorongnya hingga menabrak sebuah meja di dekat pintu. Tubuh pangeran sudah lemas tak ada energi yang tersisa, bahkan bila hanya untuk berbicara. Sedangkan gadis itu bangun dan menyadari siapa yang datang menyelamatkan nyawanya lagi.
“Hendric! Hendric, bangunlah!” teriaknya, menatap penuh rasa kawatir pada pria yang sudah memejamkan matanya, tak berkutik.
“Jangan tinggalkan aku sendiri lagi! Bangunlah….” Gadis itu menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Wajah gadis itu semakin terkejut dengan sesuatu yang menancap cukup dalam pada pundak pria itu. Sebuah belati yang sama, menancap dengan berlumuran penuh darah di seluruh pundaknya. Sedangkan iblis yang berdiri tidak jauh dari mereka, perlahan mulai bergerak dan berjalan mendekati mereka berdua.
Dengan liontin merah menyala-nyala di lehernya, sebuah pedang besar muncul begitu saja di tangan iblis itu dan di akat tinggi-tinggi. Berisap untuk menebas dua manusia yang ada di hadapannya, dalam posisi yang sama. Sampai tiba-tiba sesuatu melesat dari luar dan langsung menebas leher iblis itu. Sebuah sabit besar, melayang dengan cepat memotong kepala dan tubuhnya dengan rapi, sampai membuat liontin itu terlepas dari lehernya.
Seorang pria berjalan tertatih-tatih ke arah pintu masuk dan bersandar di depan pintu, tersenyum ke arah putri. Pria yang tidak asing lagi baginya, berdiri lemas dan menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan, menarik kembali sabit miliknya.
“Tuan… Arlo,”
“Jangan… terkejut begitu dong, Nona,” ucap pria itu dengan mengatur nafasnya, berjalan tertatih-tatih ke arah liontin yang tergeletak di dekat iblis itu dengan menarik sabit di tangannya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Apa lagi, menyelamatkan temanmu. Dan… mungkin calon raja berikutnya, hehe…” ucap Arlo meraih liontin dengan sinarnya yang mulai padam.
“Maaf Nona, saya sudah sangat merepotkan selama beberapa hari ini. Tapi ini saatnya kami untuk pergi, jaga dan lindungi kota indah ini, lalu…” Arlo mengulurkan liontin di tangannya pada gadis itu.
“Apa maksudmu?”
“Ini mungkin bisa membantumu untuk menyelamatkan nyawanya, tapi setelah ini mungkin dia tidak bisa di bilang seorang manusia. Pikirkan, tapi jangan lama-lama. Dah… selamat tinggal, Nona Bella.” Arlo melesat begitu saja lewat jendela bersama tudung jubahnya yang tutup, meninggalkan gadis itu bersama pilihannya.
Dia pergi ke sisi kanan kota dan masuk kedalam hutan, sesuai perjanjian mereka untuk bertemu di sana. Perjalanan ini harus di lanjutkan sebelum waktu menelan semuanya. Mendapati Khira yang sudah berdiri tegak tanpa luka dan pedang perak di tanganya, Arlo terlihat semringah saking senangnya.
“Baiklah Anak Muda, ini sudah waktunya kita pergi ke Dangerous Crack. Apa ada yang ingin di tanyakan?” ucap Arlo yang baru sampai di sana.
“Bagaimana dengan Daniel?” Eri menatap penuh harap.
“Karena itulah kita harus segera pergi, kali ini ku berhasil memenggal kepalanya. Mayatnya lenyap masuk ke dalam tanah, tapi aku tidak tau apa yang akan selanjutnya terjadi,”
“Lalu bagaimana kita kesana, Tuan?”
__ADS_1
“Ada jalan lain. Pohon Portal di tanam dekat sini. Benar, kan Nona?” Arlo menatap Eri dengan senyuman percaya diri.