
Khira sangat kebingungan dengan pesan yang di tinggalkan oleh putri Bella. Dia duduk dan memikirkannya baik-baik, sampai tiba-tiba gerimis turun di sertai kilat yang menyambar-nyambar langit. Memaksanya untuk berlari masuk kedalam aula dan berlindung dari hujan. Bersandar dan memikirkan bagaimana keadaan putri Bella, dia duduk di lantai sendirian dan memejamkan mata.
Sampai sesuatu yang samar-samar tedengar di telinganya, suara yang tidak jauh. Dia membuka matanya dan mendengarkan baik-baik suara itu. Semakin lama, suaranya semakin jelas dan terdengar seperti benturan antara logam. Tepat di lantai atas dari aula kastil, yang ada di dalam sebuah ruangan di atasnya.
Dia bergegas, berlari ke sumber suara dan berhenti sudah tidak jauh di dekat ruangan itu.
“Mati sajalah!” suara yang terdengar dari dalam rungan.
Melihat ada sebuah kursi kayu yang tergeletak di sampingnya, Khira membawanya sebagai jaga-jaga dan langsung berlari ke arah ruangan itu. mendapati dua pangeran yang hendak saling membunuh, tanpa segan-segan lagi dia melesatkan kursi ke arah kudua orang itu.
Melirik tidak jauh dari mereka berdua, gadis yang sangat tidak asing di matanya. Sedang di ikat rapat-rapat dan mulutnya di bungkam, meraih pedang hitam yang tergeletak tidak jauh darinya. Dia memotong tali yang mengikat tubuh gadis itu dan membuka bungkaman mulutnya. Dalam kondisi lemah, gadis itu hampir pingsan dan bersandar pada pelukan Khira dengan mengatur nafasnya.
“Apa ini! Kalian berudua!” bentak Khira pada dua orang yang sedang terbaring kesakitan di lantai.
“Pangeran Hendric Tuan! dia mengikat dan menyiksa Nona Bella karena kekalahannya,” ucap polos pangeran Michel dengan menatap melas pada Khira.
“Pecundang itu… Pecundang itu yang mengikat Nona Bella… dia hendak menciumnya paksa.” Bantah pangeran Hendric dengan suara yang terputus-putus.
Khira yang malah mendapat jawaban membingungkan terlihat semakin kesal dan marah kepada dua pria di depannya. Putri yang memiliki jawaban dari pertanyaan miliknya, malah terbaring lemas tak sadarkan di belakang.
“Haah! Diam! Dimana di antara kalian yang benar-benar mengikat Nona? Jawab!” sesuatu meluap yang gelap menguap di sekitar Khira, membuat kedua orang itu semakin ketakutan.
“Cepat jawab!” bentaknya, di sertai luapan itu semakin besar.
Kedua pria itu masih tidak memberi jawaban dan malah ketakutan dengan sesuatu yang samar-samar, berdiri tepat di belakang Khira berada. Menampakkan sosok yang gelap dan tersenyum pada dua pria di hadapan Khira. Perlahan sosok itu berjalan mendekati ke arah Khira dan mendekatkan wajahnya di telinga pria itu.
__ADS_1
“Tebas saja, Tuan…?” bisik lembut, sosok wanita dengan gaun tipis abu-abu dan rambut hitam gelap.
Lenyap seakan menguap ke arah tangan Khira, membentuk sesuatu di dalam genggamannya. Sebuah pedang perak dengan di kelilingi aura gelap, menguap bersamaan dengan tubuh Khira. Logo hitam yang memisahkan gagang dengan mata pedangnya, persis terukir sebuah kepala tengkorak dengan tanduk di dahinya.
Sadar, Michel langsung bangun dan menodongkan pedangnya pada Khira. Tanpa ragu-ragu, dia langsung menyerang ke arahnya dan hendak menebasnya dari samping. Sempat atau tidaknya, tapi pedangnya sudah di tangkis begitu mudahnya oleh Khira. Dalam satu hempasan kecil, pria pirang itu terdorong mundur dengan menyangga kuat-kuat lengan kananya yang menggenggam sebilah pedang.
Darah mengalir perlahan di lengan kanannya, entah sejak kapan itu di tergores. Tapi sadar diri, kalau lawannya bukanlah seorang manusia. Dengan menampakkan sebuah tanduk gelap yang bersinar-sinar di balik perban. Sedangkan Hendric sendiri masih duduk, meringis kesakitan dengan menahan lengan kirinya yang berlumuran darah karena pertarungan sebelumnya.
Aura gelap di sekitar Khira semakin meluap hebat, dengan matanya yang melotot tajam ke arah kedua pria di depannya. Dia mengangkat tinggi-tinggi pedang di tangannya dan bersiap menebas kedua pria yang ada di depannya. Sampai suara yang cukup keras, menggil namanya dari lantai bawah.
“Khira...! Khira! Dimana kau, Anak Muda.” Teriak seseorang dari lantai bawah aula. Memecah amarah Khira dan menyadarkan dirinya.
Selama beberapa saat, dia berhenti dan mendengarkan panggilan itu. ini adalah kesempatan emas bagi Michel untuk membunuh pria itu, dia langsung melesat dan menusuk tepat pada perut Khira dan memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Terkejut, melirik pria pirang yang tersenyum lebar tepat di depannya.
Meringis kesakitan, Khira menahan pedang yang menusuk tepat di perutnya dalam kondisi penuh darah yang mengalir keluar. Tiba-tiba terdengar sesuatu yang di lempar dari luar jendela dan menarik perhatian mereka semua.
Banar saja, sebuah sabit melayang dan memecah kaca yang ada di ruangan itu, melesat hampir menebas pangeran Michel dari belakang. Sempatnya dia menghindar dan menarik pedangnya mundur. Putri yang mulai sadar, samar-samar melihat mimpi buruk tepat di depannya.
“Tuan Khira!” teriak gadis itu, menyeret tubuhnya yang lemas mendekati Khira yang sudah terbaring tak sadarkan diri.
“Nona, dia itu iblis,” ucap pangeran Michel dengan nada merendahkan.
“Iblis itu… adalah kau, Liberth! Kau menyiksaku dan memaksa untuk malakukan hal buruk yang kau inginkan! Sedangkan dia, apa yang dia lakukan padaku?! Dia menyelamatkan nyawaku dari kematian saat kau hanya berteriak-teriak tidak jelas. Iblisnya itu kau, Michel!” gadis itu marah, semarah-marahnya.
Dia menyangga kepala pria yang sudah tidak sadarkan diri di atas pangkuannya dengan terus meneteskan air mata. Menatap tajam pria pirang yang berdiri tepat di depannya dengan tatapan penuh rasa benci.
__ADS_1
Memaksakan diri, pangeran Hendrik bangun dan menyeret tubuhnya untuk mendekati dua orang di depan Michel. Berdiri tepat di depan putri dan Khira dengan menghadangkan tangannya. Untuk pertama kalinya, senyuman tipis tergores di bibirnya dengan menatap pria pirang yang ada di depannya.
“Kau dengar? kau dan aku sudah di tolak, kan? Sekarang apa lagi yang ingin kau lakukan, lakukan saja. Tapi aku akan tetap melindungi mereka,”
“Terserahlah, kalian mati saj- krhh.” Pangeran Michel mengangkat pedangnya tinggi-tinggi sampai kalimatnya terpotong bersamaan dengan sabit yang tiba-tiba menancap tepat di perut pria pirang itu.
“Khira! Aku mencarimu kemana-mana, Daniel datang dan hendak menyerang. Kita harus segera pergi!” celetuk seseorang di depan pintu masuk, dengan nafas tidak teratur.
Kedua orang itu menoleh sumber suara dan mendapati seorang pria yang tidak asing bagi mereka berdua, sedang tersenyum tipis dan berjalan perlahan mendekati mereka bertiga.
“Tuan… Arlo?” ucap putri dengan wajah yang terkejut.
“Nona, kita bertemu lagi. Maaf, saya terlambat,” Arlo menarik kembali sabitnya, meninggalkan seorang pria yang terbering lemas tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir keluar dari perutnya.
“Maaf, sebenarnya kalian bertiga sedang di cari oleh raja. Tapi ini terlihat buruk... kalian berdua pergi saja dulu ke pada raja dan jangan lewat kanan kastil. Biar mereka berdua aku yang urus, dah! cepat dan jangan membantah,” lanjut Arlo menatap putri dan pangeran Hendric yang kebingungan, dengan senyuman tipis mendekati pangeran Michel.
“Tapi-“
“Tolong pahamilah situasinya Nona Bella, saya mohon percayalah.” Kalimat yang terdengar terakhir di dalam ruangan itu.
Dengan tertatih-tatih kedua orang itu berjalan pergi ketempat yang di katakan Arlo dan meninggalkannya sendirian. Arlo tersenyum lebar menatap pedang hitam dengan aura gelap yang menyelimutinya, tergeletak di samping Khira terbaring.
“Kau cepat juga,
Lalu... Seperti biasa, manusia yang mati menyedihkan seperti ini. Adalah gambaran kehidupannya yang penuh dosa. Maaf, karena sepertinya kau koleksi yang bagus. Pangeran Michel, Ahaha….”
__ADS_1