Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 43 - Penyerap.


__ADS_3

Karena terlalu merasa bersalah, Khira bertanya pada banyak pelayan yang biasa berhubungan dengan putri Bella. Tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan tuan putri. Dengan perasaan sedih, dia pikir bisa menenangkan dirinya dengan melihat matahari terbenam di tepi pantai, seperti yang di katakan nona Eri. Seharusnya aku segera menemuinya tadi, apa dia akan marah? Tidak dia bukan orang seperti itu, kan?, batin Khira yang kebingungan.


Dia berjalan menyusuri sepanjang pantai dan hendak duduk di atas pasir, ujung barat sudah benar-benar terlihat cerah, saat-saat kembalinya sang mentari. Tiba-tiba Khira mendengar tawa seseorang yang cukup keras, tidak jauh darinya.


“Haha… apa Nona Bella salalu begitu?” ucap seseorang yang suaranya sangat tidak asing bagi Khira.


Dia langsung berdiri untuk memeriksa, mendapati Arlo dan putri sedang duduk berdua dan mereka berdua terlihat sangat akrap. Khira menata dengan wajah yang terkejut sembari pikirannya yang kemana-mana.


“Eh… Tuan Arlo? Apa yang dia lakukan bersama putri. Lho… dadaku tersasa sesak, tidak ada luka?”


Pria itu menahan dadanya dan memandang dengan tatapan pasrah. Bersamaan dengan itu, matahari sudah benar-benar tenggelam dan membuat hari menjadi gelap.


...(----------------)...


Arlo dan putri masih duduk-duduk di tepi pantai sampai matahari tenggelam. Mereka membicarakan hal yang bisa di anggap penting bagi Arlo, sampai ia memohon sesuatu kepada gadis itu.


“Jadi begitu, mungkin untuk kapal yang kau bicarakan. Aku tidak bisa membantu, tapi akan aku usahakan. Ayahku tidak akan semudah itu menyerahkan barang kesayangannya. Berharap saja dia bisa mengerti, Pangeran,”


“Saya sangat mengharapkan bantuan Anda, Nona Bella. Maaf sudah merepotkan, kita bertemu lain kali.” Arlo bangun dan berjalan pergi dari sana, meninggalkan rasa bersalah pada gadis itu.


Selama beberapa saat, gadis itu tetap duduk di sana dan memandangi langit yang hampir di penuhi bintang dengan bulan hampir penuh, seakan menjadi induknya. Dari penampakan wajahnya saja, sudah bisa di kenali kalau dia sedang bersedih, lagi.


Di sisi lain, para pangeran yang di beri tugas sudah ada di dalam hutan di tempatnya masing. Sampai tanpa sengaja mereka bertemu di titik yang sama. Tatapan buruk, terpancar lewat mata mereka yang tidak kunjung berkedip.


“Berhentilah memandangku, Suram!” bentak pangeran Michel dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


“Kaulah yang berhenti manatapku, dan jangan memanggilku seenak jidatmu itu,” balas dengan nada malas.


“Jadi, apa kau sudah dapat barang yang kau cari?” celetuk si pirang, dengan tatapan yang merendahkan.


“Sudah, kenapa kau bertanya. Aku rasa kau belum menemukannya, sudah terbaca di pikiranmu itu,” jawab lagi dengan nada malas, semakin malas.


“Kau bisa baca pikiran orang! Wah! Gawat, dia pasti tau hadiah yang sangat di inginkan Nona, Sial!” gumamnya, menyindir.


“Kau pikir aku ini apa. Maksudku, kau bertanya seperti itu berarti kau sedang merasa cemas, hanya itu.” kalimatnya selesai bersamaan dengan pria itu duduk di bawah pohon di dekatnya.


Dengan santainya, si pirang menyatakan bahwa dia juga sudah dapat. Mendengar kabar dari orang yang dia percaya, dia bilang ada di sisi utara kerajaan yang tergeletak di dalam jurang. Dalam diam si suram hanya memikirkan kepala lawan bicarannya itu, apa dia sebenarnya waras. Di sisi lain, jalur itu terlalu buruk untuk malam hari. Karena ada banyak binatang malam yang aktif dan mencari makan saat ini.


“Jadi menurutmu begitu? Baiklah, terima kasih untuk informasinya. Aku pergi dulu.” Pria itu berjalan begitu saja, tanpa peduli dengan yang di aktakan lawan bicarannya.


Pangeran Hendric hanya terdiam menutup matanya, merasa kantuk sampai dia tertidur dengan pulas di bawah pohon itu. Sampai sesuatu yang buruk menyengat hidung dan membangunkannya. Sesuatu tidak jauh darinya, terlihat samar-samar menguap dan membentuk sesuatu yang tidak terlalu jelas.


Sampai sesuatu melesat dari belakangnya dan hampir menggores telingannya. Sebuah kuku panjang dengan yang berlumuran darah, menancap tepat di pohon yang ada di depannya. Perlahan-lahan pohon itu layu dan mengering dengan cepat. Hal yang sama terulang, sampai ia harus menarik pedanya untuk menahan kuku aneh itu.


Dari kejauhan, menampakkan samar-samar seseorang sedang berjalan mendekatinya. Dengan mata yang melotot, menghapus semua hal yang terlihat bosan darinya. Wajahnya terperanjat dengan sesuatu yang berdiri tidak jauh darinya, sampai seakan dia tidak bisa bernafas.


“Halo… pangeran, hihihi….”


Seorang pria yang tidak asing di mata panngeran, dengan tubuh yang masih belum utuh dan terus menguap pulih. Berdiri tegap dengan senyuman yang mengerikan, ke arah pangeran. Matanya melotot lebar untuk pertama kalinya, dengan pedang yang refleks di todongkan pada lawannya. Pangeran Hendric gemetar ketakutan.


“Lho? Aku tidak akan menyakiti seorang pangeran angkuh sepertimu, kita nikmati saja kesenangan di saat-saat terakhir. Aku benar, kan? Pangeran Hendric, haha…” pria itu tertawa lirih dan lenyap begitu saja, hilang di balik semak-semak hutan.

__ADS_1


Pangeran hanya roboh dengan lemas, bersandar di bawah pohon dengan mengatur nafasnya. Matanya masih tidak berkedip dan melotot ketakutan. Untuk kali ini mungkin dia masih di beri keberuntungan, tapi entah apa yang akan terjadi berikutnya. Berdasar kepada kalimat yang dia katakan, kemungkinan besar bahwa dia akan kembali lagi, dan itu tidak lama.


...(----------------)...


Di pagi hari, para pengeran kembali berkumpul di aula setelah mereka tidur di luar kastil. Dengan dua hadiah yang tergeletak di atas meja tempat raja duduk. Entah bagaimana mengatakannya, tapi raja terlihat tidak terlalu senang.


“Jadi, ini hadiahnya?”


“Ya…”


“Baiklah, untuk hari ini sampai di sini saja. Kalian boleh istirahat sampai siang berganti lagi.” Raja pergi dengan meneteng dua kantung hadiah yang ada di tangannya, tanpa menunjukkan pada putri yang berdiri sejak tadi di belakangnya.


Di tempat lain, Arlo baru bangun tidur dan meregangkan badan. Untuk kali ini dia tidur dengan Ferdi, berjaga-jaga pada Eri mengingat kejadian kemarin yang membuatnya sampai kesulitan bernafas. Sedangkan Khira memohon maaf kepada putri dan dia tetap di rawat atasnya, meski dia di pindah kamar.


“Apa kau merasakannya? Ferdi. Sepertinya akan ada hal buruk yang akan terjadi lagi,” ucap Arlo, menatap keluar jendela.


“Entahlah Tuan, tapi sepertinya itu bisa saja terjadi. Sebenarnya siapa iblis yang punya empat tangan itu?”celetuk Ferdi memiringkan kepalanya.


“Dia dia adalah pangeran terbuang, seperti diriku ini. Tapi dia tinggal di wilayang timur dari tanah kematian. Entah kenapa dia di buang oleh keluarganya sendiri,” jelas Arlo, menunduk memikirkan jawabannya sendiri.


“Apa dia memang sekuat itu?”


“Sebagai seorang iblis, senjata terkuatnya adalah soul weapon yang lahir dari dalam dirinya. Tapi pria itu berbeda, dia tidak punya soul weapon untuk bertarung. Dia menyerap daya hidup dan daya kekuatan untuk memulihkan tubuhnya dan membuat senjata apapun yang dia inginkan.


...Sampai saat ini, aku sudah membunuhnya sampai tiga kali. Tapi lagi-lagi, dia menampakkan wajahnya di depanku dan selalu tersenyum lebar untuk mengajakku bertarung.” Penjelasan yang panjang, menjawab semua pertanaan pria itu secara otomatis.

__ADS_1


Ferdi hanya terdiam mendengar kalimat yang di katakan Arlo. Mengingat bagaimana di tetap bisa hidup setelah dia benar-benar mati seperti itu. dia terlihat mirip dengan Arlo yang abadi. Luka separah apapun yang tidak menyerang vitalnya, perlahan di sembuhkan dengan menyerap daya hidup dan kekuaatan suatu objek.


__ADS_2