Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 20 - Kisah Perjalanan.


__ADS_3

Semua persiapan sudah selesai dan Eri melambaikan tangan untuk terakhir kalinya pada ayahnya. Perjalanan baru dimulai bagi Arlo dan Eri untuk menentukan takdirnya. Selain itu, Arlo juga sudah tidak kepikiran untuk kembali dan melindungi desa itu. Tempat ini pasti akan hancur menjadi abu termasuk Pak Harto sendiri, itu sudah dalam benak Arlo.


Setelah sampai dan melewati perbatasan, Arlo berhenti dan menoleh ke belakang menatap tajam seluruh isi kota kecil itu. Menatap setiap ujung tempat sejauh memandang yang ada di kota itu. Eri menatapnya penuh tanda tanya dan hendak bertanya padanya.


“Saat pertama kali aku melewati perbatasan ini, hanya ada curiga dan hati-hati dalam pikiranku. Aku tidak berharap untuk tinggal disini lebih lama saat itu, tapi.. saat ini aku pergi meninggalakan desa ini dengan perasaan sedih dan kehilangan” ujar Arlo memandangi plakat gerbang perbatasan.


“sudahlah, berharap saja kita bisa kembali disini”


Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan dan melangkah melewati perbatasan keluar dari desa itu. Perjalanan lagi Arlo untuk pergi, tapi kali ini ia membawa seorang gadis di sampinya yang sejak dulu ia cari-cari.


...(----------------)...


Langkah demi langkah di lewati di dalam hutan, hanya ada kesunyian di hutan, Kicauan burung yang terkadang terdengar dan terkadanga lenyap tanpa jejak, mengingatkan Arlo saat dulu hidupnya hanya persis saat ini. hanya berjalan kearah yang tidak dia ketahui dan mencari sesuatu yang tidak ada, tapi kini dia harus kembali ke tempat yang sebenarnya adalah rumahnya yang indah di Soul Of Dark.


“Jadi.. kenapa kau memilih untuk meninggalkan rumah dan mengelilingi dunia?” tanya Eri.


“Kau bertanya sekarang?”


“Sudah, jawab saja!”


“Aku pikir dengan kesempatan umur yang lebih lama ini aku bisa mengelilingi dunia antah berantah yang luas ini dan menemukan ujungnya” Arlo menatap langit yang begitu cerah hari itu.


“Oh ya, kenapa desa ku harus di lindungi dari serangan iblis?” Eri bertanya dan mendorong Arlo dari belakang untuk menggodanya karena sejak tadi hanya berjalan di belakang Eri.


“Eh.. Nona, jangan mendorong. Dahulu sekali, di bawah desamu itu sebelumya ada retakan yang menghubungkan dunia bawah dengan dunia ini. Dan di segel kembali sekitar 200 tahun yang lalu, tapi karena penyegelnya sudah mati, segelnya juga melemah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk membukanya lagi dan memanggil seluruh bala bantuanya” jelas Arlo pada Eri.


“Tapi bukanya kau juga iblis, kenapa menghalangi temanmu sendiri?”


“Mungkin mereka pikir begitu, tapi ada kisah yang menyatakan ada sebagian iblis rakus dan di hukum di dunia bawah, dan saat ini biasa kalian sebut dengan penghuni Darksade, sedangkan kami yang masih bisa di ampuni atau sejenisnya, di beri tempat sendiri. Jadi bisa dibilang tidak semua iblis itu monster yang jahat. tapi aku juga tidak yakin dengan itu..”


Eri sedikit merasa aneh dengan yang di ceritakan oleh Arlo, kedengarannya itu seperti karangan belaka. Sedangkan Arlo hanya terus melanjutkan perjalanannya tanpa peduli dengan ceritanya juga.


Tidak terasa perjalanan mereka sudah cukup lama hingga mereka selesai melewati hutan itu. Di ujung jalan dalam hutan, sialuan cahanya matahari menunjukkan mereka berdua akan keluar dari hutan. Dari jauh mereka keluar hutan, Terlihat sebuah desa kecil yang tidak begitu ramai, terlihat orang berkeliaran menjalankan aktifitasnya setiap hari.


“Arlo.. kita tadi bergerak ke arah mana?, bukankah itu desa sebelah barat?” Eri menunjuk ke arah desa tersebut.


“Yah.. kita tadi berjalan ke arah barat laut dari perbatasan desa, apa mau mampir?”


“Boleh, ayo kita kesana”


Mereka berdua segera berjalan kesana dan melihat-lihat sekitar. Orang-orang yang begitu sibuk dengan kegiatannya sudah tidak peduli dengan pendatang atau apapun yang lewat di sebelahnya. Mereka terus saja lewat di jalan yang ramai itu dan sampai di sebuah perempatan. Di ujung jalan yang sepi, seorang pria sedang berdiri di teras sebuh penginapan.

__ADS_1


Kemudian Arlo menyapanya dari jauh dan mengampirinya. Pria itu tersenyum lebar mendekati kedua orang yang menyapanya.


“Hei.. Arlo, lama tidak berjumpa ya?” seorang pria memakai setelan jas rapi berwarna merah terang di depan sebuah penginapan.


“Hai Nota, kau terlihat sehat selalu?”


“Penampilan mu sedikit berubah Arlo?. Dan sekarang Arlo yang kukenal sudah membawa seorang gadis cantik ya..?” Nota menatap Eri dan menyalami nya.


“Perkenalkan, aku Eri tunangan Arlo” Eri tersenyum dan membalas salam Nota.


“Tunangan? Jadi kalian mau kemana?” tanya Nota pada Arlo.


“Kami-“


“Hanya berkeliling!” kalimat Eri dipotong Arlo yang terlihat mencurigakan.


“Oh.. bulan madu ya?. Kalau begitu menginap lagi di sini ya..? Arlo” tawar Nota sambil menarik tangan Arlo.


“Tidak, kami hanya sebentar. Selain itu kami juga tidak sedang bulan madu, tapi hanya kebetulan lewat saja”


jawaban Arlo membuat Nota terlihat sedikit kecewa. Dengan wajah yang sedikit masam, Nota melepaskan tangan Arlo dan kembali tersenyum pada Arlo. Dia memberikan secarik kertas pada Arlo.


“Baiklah, lain kali mampir ya..? Arlo”


Hutannya begitu lebat sehingga cahaya matahari tidak bisa masuk kedalam hutan, hanya terlihat bayangan cahaya yang masuk lewat sela-sela lubang dedaunan pohon. Suasananya sangat jauh berbeda dengan hutan yang sebelumnya, tidak terdengar burung berkicau atau hewan kecil apapun yang sedang mencari makan.


“Oh iya Arlo, kau sudah berjanji padaku untuk menceritakan kisah Ayah dan Ibumu kan?” tanya Eri memecah kesunyian di hutan itu.


“Jadi sampai mana kita saat itu ya?, Nona!” Arlo melihat Eri dengan wajah yang sedikit menyeramkan bagi Eri.


“Ee.. e saat ayahmu mencoba melamar ibumu. Arlo jangan menatapku begitu!”


“Haha baiklah Nona, kau penakut yaa?”


“Cepat ceritakan!”


Arlo berhenti di sebuah pohon besar yang rimbun, di bawahnya angin bertiup sepoi-sepoi dan Arlo menarik tangan Eri untuk duduk di sebelahnya. Dia mulai membuka bekal dan memakannya berdua sambil sedikit bercerita.


“Jadi setelah Ayah membulatkan tekat untuk melamar Ibu, ia menemuinya dan memberikan cincin yang terbuat dari rambatan pohon yang di buat sedemikian rupa menyerupai sebuah cincin. Lalu Ayah mengatakan apa yang di pikirkannya pada Ibu, tapi sayangnya ibu menolak dan meminta waktu untuk memikirkannya.


Karena yang cerita Ayah jadi dia tidak tau apa yang terjadi pada Ibu. Setelah dua hari menunggu jawaban, akhirnya Ibu menemui Ayah dan meneriama lamarannya. Pernikahan mereka berdua berjalan lancar sampai upacara minum darah yang ku maksud saat itu. Kau ingat kan? Saat itu aku bilang kau akan meminum darah ku agar hidupmu bisa lebih lama karena kau akan menjadi setengah iblis.” Arlo sedikit kawatir dengan kalimat yang barusan di katakannya.

__ADS_1


“Ya, aku mengerti maksudmu. Aku juga tidak ingin buru-buru mati dan meninggalkanmu. Lalu apa yang terjadi?”


“Lalu mereka resmi menikah sampai setelah satu bulan, ibu dinyatakan hamil diriku. Tapi Ayah harus pergi untuk meneruskan kekuasaaan kakek yang menjadi raja saat itu. Karena merasa terlalu cemas kakek meninggal setelah 2 bulan ayah dinyatakan menghilang. Di bulan ke tiga ayah harus benar-benar kembali kekerajaan karena kondisi kerajaan yang menjadi kacau karena tidak adanya pemimpin” Lanjut Arlo sambil mengunyah rotinya.


“Lalu bagaimana kau bisa menjadi pangeran di kerjaan itu?. Kau kan menjadi anak yatim, hihi” goda Eri.


“Setelah satu tahun Ayah pergi dari rumah Ibu, ia dipaksa nikah karena harus ada yang mewariskan kerajaan darinya. Lalu ayah mencoba untuk menjelaskan bahwa sebenarnya ia sudah punya seorang bayi untuk mewariskannya. Tapi setelah mengetahiu kenyataan bayi itu adalah anak seorang Iblis maka ayah di tolak mentah-mentah oleh keluarga dan ia sudah tak punya alasan untuk menghindar.


Ayah menikah dengan seorang putri cantik dari kerajaan selatan dari keluarga bangsawan ‘Birdnigth yang bernama Noits Birst, tapi orang-orang memangilnya dengan sebutan Nita. Lalu mereka mempunyai seorang bayi yang di beri nama Yiury Voltar. Ya dia adalah adik tiriku, dia anak laki-laki yang sangat tampan dan juga sangat baik hati, tapi dia sangat polos sampai sangat mudah ditipu oleh lawannya sendiri.


Setelah adikku berusia sekitar 15 tahun, saat itu ada penyerbuan di kerajaan dan sayangnya Ibu tiriku meninggal dunia karena dibunuh oleh pembunuh bayaran” Arlo berdiri dan menarik tangan Eri untuk melanjutkan perjalanan karena makan siang tadi sudah habis, di habiskan sendiri oleh Eri.


“Apa kau juga menyayangi ibu tiri?” Wajah Eri terlihat begitu penasaran mengingat bagaimana kenyataan seorang ibu tiri di cerita-cerita.


Arlo menatap Eri dengan wajah bingung lalu ia mulai tersenyum karena memahami maksud pertanyaan Eri.


“Nona, tidak semua ibu tiri itu jahat. Aku juga menganggapnya sebagai ibuku karena ia juga sudah merawatku selama 10 tahun di sana.


Setelah kematian ibu, ayah lumayan terpukul dan sifatnya sedikit dingin dengan orang disekitarnya, satu-satu nya orang yang masih ia percaya cuman aku seorang. Lalu aku mengingatkan Ayah bahwa ia juga masih punya seorang istri di negeri lain.


Lalu ayah pergi menuju Soul Of Dark untuk menemui ibuku dan berbicara dengannya. Karena ibu juga seorang anak dari pemimpin besar yang harus meneruskan orang tuanya, maka ibu tidak bisa di bawa pergi oleh ayah kekerajaannya. Sejak saat itu ayah menyadari sesuatu baginya, tapi ia tak mau beritahu aku” jelas Arlo lalu ia pergi memanjat pohon untuk memetik buah.


“Di sana Arlo!


Lalu bagaimana kau bisa memperoleh ke abadian mu?”


“Sebenarnya ini bukan keabadian, tapi hanya sekedar anugrah. Setelah aku bertemu kembali dengan ibu, aku meminta tinggal sebentar di sana bersama ibu dan menanyakan banyak hal"


Arlo mengulurkan satu buah dan masih menggenggam dua buah di tangannya. Eri terlihat sedikit sinis dengan itu, tapi Arlo tidak peduli mengingat sebelumnya.


“Saat itu usiaku masih 19 tahun, tapi orang bilang seni bertarungku sudah sangat bagus melebihi rata-rata. Ibu menyuruhku untuk mencoba meningkatkan kemampuanku di sana, selama 2 tahun kemampuanku sudah bisa di bilang maksimal. Aku mendengar ada cerita tentang pohon yang menghasilkan buah keabadian. Aku mulai tertarik dengan buah itu dan berusaha mencari informasi tentangnya.


Sampai setelah 1 tahun mencari informasi, aku membulatkan tekat untuk memperoleh buah itu. Perjuangan panjang menuju lokasi buah, dan begitu sampai, aku malah harus bertarung dengan ratusan iblis yang menjaga di sana. Sampai aku hampir mati, aku merasa ada seorang gadis yang memanggilku dan memberikan harapan. Saat itu rasanya kekuatanku kembali pulih sepenuhnya dan bisa kembali bertempur”


“Siapa gadis itu? Apa kau mengenalnya?” Tanya Eri setelah menelan gigitan terakirnya.


“Entalah, yang aku ingat hanya ada suatu sinar didepan saat aku berbaring dan ia mengatakan sesuatu. Lihat Nona, kita sudah sampai” Arlo menunjuk di ujung hutan yang hanya terlihat sinar matahari di sore dan pemandangan padang rumput yang luas.


Saat belum sampai keluar hutan, Eri hanya bingung dengan yang di tunjuk oleh Arlo. Namun sampai di ujung hutan, begitu terkejutnya Eri. Pemandangan yang sangat indah di tengah padang safana hijau dan di tengahnya ada sebuah pohon rimbun yang sangat tua, tapi ukuranya tidak terlalu besar.


“Kau bilang sampai, tapi mana?” Eri bingung mencari sesuatu.

__ADS_1


Arlo hanya tersenyum dan menarik Eri berlari menuju pohon itu. Mereka berdua berlarian menuju pohon itu dan berhenti tepat di bawahnya. Meski kelihatan dekat, namun nyatanya juga cukup jauh bagi Eri untuk menuju pohon itu. Dibawahnya benar-benar sejuk, angin yang tiba-tiba bertiup kencang dan menghempas rambut panjang Eri.


“Ini pohon portal dunia, di sini kau bisa berpindah kemanapun secara bebas. Tapi juga ada syaratnya. Baiklah ayo kita pergi menemui keluarga ku, Nona..” cahaya bersinar dari pohon itu dan semua hanya terlihat silau. Sampai saat di sana Eri masih belum menadari keberadaannya.


__ADS_2