Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 61- Lahirnya Kehancuran.


__ADS_3

Di tengah luatan yang begitu luasnya, ombak besar tersapu begitu saja membuka jalan untuk sebuah kapal besar yang berlayar dengan kencangnya ke arah timur. Kapal besar ini seakan berjalan di atas air dan melesat dengan begitu cepatnya menembus lautan luas.


Di ujung depannya, seorang pria dengan jubah hitam bertudung, menatap tajam ke arah tujuan dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


“Kita sampai,” celetuk pria itu menghempas udara.


“Bersiap!”


Di depan kapal itu, sudah ada tebing menjulang tinggi yang menghadang jalan mereka. Begitu sampai tepat di depan tebing itu, kapalnya menabrak dan pecah, mencair kembali ke dalam lautan. Dengan keenam orang yang sudah berdiri tegap di atas tebing dan bersiap untuk pergi.


“Apa Anda baik-baik saja, Tuan Arlo?” celetuk Khira segera mendekati dua orang di depannya.


Eri yang terus saja mengelus punggung Arlo, usaha untuk membantu mengendalikan nafasnya. Ia kelelahan karena terlalu memaksakan diri untuk mengeluarkan sihir sebesar itu dalam kondisi saat kelelahan seperti ini. Semua orang di sana terlihat sangat cemas terutama Eri yang tidak kunjung melepaskan tanganya.


“Aku hanya sedikit kelelahan. Selain itu, apa ada yang bisa bawa kabar gembira…” gumam Arlo, meringis dengan menahan rasa sakit di perutnya.


“Apa maksud Anda-hah! Tuan Arlo!”


Darah keluar dari dalam mulut Arlo bersamaan dengan batuk yang terdengar berat.


“Ini benar-benar di luar dugaan… baiklah, seharusnya tempatnya sudah dekat. Ayo!” ucap Arlo mengangkat tubuhnya.


“Baik!”


Seat sebelum sampai mereka melangkahkan kaki maju, tiba-tiba terdengar seseorang yang tertawa begitu keras tidak jauh dari keberadaan mereka. Seorang pria dari balik jubahnya, berjalan perlahan mendekati mereka dengan misterius. Arlo tersentak setelah mengingat suara itu.


“Hahaha… jadi ini sampah yang Anda bawa? Pangeran Arlo…” tawa pria misterius itu, sembari membuka tudung jubahnya.


“Minggir dari jalanku! Aku tidak punya waktu untuk makhluk lemah sepertimu, Vion!” bentak Arlo, menarik sabitnya.


“Wowo… tenang saja, Tuan Arlo. Saya tidak akan macam-macam, hanya sedikit pesan dari tuan saja. Waktu Anda sudah tidak banyak lagi, bila Anda benar-benar terlambat, mungkin saja tanah itu akan menjadi debu….” Ucap Vion, lenyap dari sana begitu saja.


“Cih!


mereka segera mungkin berlari ke arah timur sampai di titik yang sangat panas. Suhu di sekitar benar-benar panas seperti sedang di sekitar gunung berapi, meski mereka sedang berada di tengah-tengan gurun. Cahaya merah menyala yang tidak jauh dari tempat mereka berada, menunjukkan bahwa itu adalah retakan yang di katakan, portal cepat penghubung dunia lain.

__ADS_1


Suara langkah kaki seseorang yang mengalihkan pandangan mereka ke belakang. Seorang wanita yang sama dengan jubah kecil yang menutupi sebagian tubuhnya, tersenyum menggoda kearah mereka. Wajah cemas dan waspada memenuhi mereka semua tanpa terkecuali untuk membalas senyuman itu.


“Ohh… kalian jahat sekali. Padahal aku sudah tersenyum, tapi kalian malah membalasnya begitu?” oceh wanita itu, dengan tawa kecil.


“Memangnya siapa yang ingin tersenyum kepadamu, Ratu Jalang…” sahut Arlo tatapan merendahkan.


“Heh, dasar anak gagal! Karena itulah ayahmu juga tidak senang denganmu….”


Arlo hanya tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan pembicaraan kosong itu. Namun langkahnya berhenti karena satu kalimat dari wanita itu, dia segera berbalik dan menatap tajam ke arah wanita itu.


“Arlo… bagaimana kalau aku katakan… mereka sudah berangkat?”


“Cih! Khira! Bersiap untuk sihir kutukan!”


“Baik!”


Khira berlari ke arah Arlo dengan pedang peraknya dan menancapkannya ke tanah. Sebuah portal terbuka dari dalam pedang itu dan lubangnya semakin besar. Namun bersamaan dengan itu, kedua tangan Khira membekas luka bakar yang menghitam dan keringat bercucuran deras di tubuhnya.


“Portal siap Tuan, jalan sesuai yang Anda inginkan,”


“Desa Selatan Kota!”


“Baik!”


...(----------------)...


Di sebuah desa kecil Selatan Kota, orang-orang bekerja dengan semangatnya di pagi hari yang masih sejuk-sejuknya. Matahari yang muai mengintip dari sebelah utara dengan cahaya jingganya yang indah. Di antara orang-orang di sana, pria tua dengan rambut putihnya berjalan perlahan-lahan ke arah berat di selingi seorang gadis kecil yang dengan riang berlarian di depannya.


“Jangan berlari seperti itu, Bela! Nanti kau jatuh!” Ucap pria tua itu pada sang gadis kecil.


“Tidak papa Paman, aku-aduh!”


Benar saja yang di katakan pria tua itu, sang gadis jatuh tengkurap dan meninggalkan luka merah di sikunya. Air kesedihan sedikit keluar dari matanya, lalu di gantikan senyuman manis yang menutupi rasa sakit di tubuhnya.


“Benarkan yang ku katakan,” pria tua itu membantu sang gadis bengun.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja Paman. Hehe…” balas senyum manis gadis itu, meski air mata sedikit keluar.


“Kau benar-benar mirip dengan kakakmu, rasanya jadi sedikit merindukannya. Apa yang dia lakukan sekarang ini yaa?” celetuk si pria dengan menatap langit.


“Mungkin dia sedang berjalan-jalan di hutan bersama Kak Arlo, kan? Hem…” senyum manis gadis itu.


“Yah… mungkin saja begitu. Ayo, orang-orang sudah menunggu kita di penginapan.” Tutup si pria dengan menggandeng sang gadis.


Mereka melanjutkan perjalan ke arah barat sampai di sebuah penginapan yang ramai orang-orang duduk di teras. Mereka tersenyum menyambut pemiliknya datang dengan membawa gadis manis bersamanya.


“Selamat pagi, Pak Harto. Bagaimana kabar Anda hari ini?” sambut seorang wanita di antara lima orang di sekitarnya.


“Pagi, aku sangat sehat seperti biasa. Baiklah, apa kalian sudah lapar?” sahut pak Harto beranjak masuk.


“Yaa!”


Beginilah sekarang ini. Andai saja kau bisa melihat ini, pasti kau akan sangat senang, Eri. Batin Pak Harto menahan air mata di pipinya. Mereka semua masuk kedalam penginapan dan pak Harto memasak sarapan untuk para pelanggan yang datang. Ruangan itu sudah jauh berbeda saat di mana Arlo datang dahulu.


Cahaya matahari hampir sepenuhnya bisa menyinari seluruh ruangan yang ada. Orang-orang bercanda dan tertawa di sudut-sudut ruangan. Pak Harto memasak di temani keponakannya yang manis dan seorang wanita yang mebantunya di depan, meski dia juga seorang pelanggan. Suasananya terasa begitu hangat, kebahagian memenuhi seluruh tempat di sana.


Kunjung siang hari, orang-orang yang makan atau minum berdatangan dan memenuhi bar yang ada. Kali ini penginapan Pak Harto sudah di penuhi keramaian dan cahaya terang yang hangat. Saat malam datang, semua orang beranjak dari kerjanya. Kembali pulang dan makan malam bersama lagi.


“Yoo! Besok libur, apa kau ada rencana?” celetuk salah seorang di sana.


“Mau kemana? Aku ikut saja,”


“Ohh, mau liburan ya? Ada tempat yang bagus di sana,”


Pak Harto menjelaskan sebuah tempat di dekat pasar di mana ada sebuah sungai yang mengalir di sana, mungkin mereka bisa istirahat dan memncing di sana.


“Itu bagus juga, apa Bapak juga mau ikut?” tawar mereka.


“Aku? Apa boleh? Yah mungkin aku akan sibuk dengan penginapannya,” pak Harto menunduk sedih.


“Tenang saja, Pak. Kami akan bantu untuk masak makan malamnya, kan?”

__ADS_1


“Bagitu? Baiklah, besok aku akan ikut dengan kalian,”


Malam datang dengan cahaya yang samar dari bulan karena sedikit tertutup oleh awan. Suhu di sekitar terasa begitu dingin tidak seperti biasanya. Sampai tengah malam datang, semua orang terbangun karena sesuatu yang mengguncang tanah di sana. Di susul seseorang yang berteriak dengan kencangnya.


__ADS_2