
Di depan penginapan pak Harto yang sepi, tiga orang dan yang satu adalah pak Harto yang sedang merawat kedua orang yang duduk di sebelahnya. Kedua orang itu terluka cukup parah terutama bagian lengannya karena terlalu banyak menahan serangan dari iblis itu. Dari kejauhan seorang pria bersama gadis yang tidak asing mendekat dan membawa beberapa makanan dan minuman.
“Jadi benar ini pacar anda tuan Arlo, wah.. dia sangat cantik ya..” kata Ferdi dengan wajah tak bersalah dan senyuman anehnya.
“Ferdi! sepertinya kau harus menjaga mulutmu itu, atau nyawamu akan melayang bukan untuk melindungi tuan Arlo, melainkan malah dibunuh olehnya”
Mendengar hal itu Arlo terdiam, tapi Eri malah tertawa geli. ”Ini nona Erre Flassa dia putri orang yang mengobati kalian. Bisa dibilang-”
“Aku kekasihnya, salam kenal” sambut Eri dengan senyumannya yang manis sambil menganggukkan kepalanya.
Ferdi dan Sina mengangguk dengan hormat dan menggoda Arlo yang sedikit malu-malu. Dia terlihat sedikit kesal dan malah semakin membuat yang lain tertawa dengan kerasnya. Mereka tertawa bersama menertawakan tingkahnya sendiri-sendiri sedangkan sejak tadi pak Harto hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu pada akhirnya ikut tertawa juga.
Mereka di persilakan untuk beristirahat sejenak dan makan di sini. Tapi ternyata keduanya mendapat tugas untuk melayani Arlo yang melindungi desa ini secara langsung dari Ratu. Sedangkan tanpa sepengetahuan organisasinya mereka berangkat tanpa laporan yang jelas dan bahkan tidak mengatakan hal itu pada Arlo sendiri.
...(----------------)...
Di dalam ruangan bar, Arlo dan pak Harto duduk dengan santai dan memebicarakan tentang kelanjutan hubungan Arlo dan Eri. Dengan meminum teh buatan pak Harto, itu sudah membuat pembicaraan semakin hangat dan tenang.
“Jadi akan segera saja di mulai”
Arlo mengangguk, menyetujui apa yang di katakan oleh pak Harto. Di sana rasanya begitu tenang dan nyaman sampai sebuah teriakan kecil dari luar dan suaranya masuk kedalam ruangan.
Seorang gadis berteriak memanggil-mangil Arlo, dia masuk kedalam bar dan mendekati kedua orang yang duduk bersantai di depan meja bar.
“Kakak.. ayo ikut aku sebentar. Ayah menunggu di luar loo” gadis itu menarik tangan Arlo sekuat tenaga sampai Arlo kualahan.
“Eh.. iya iya.. tapi jangan menarik ku begitu Rina..” Arlo pergi bersama gadis itu dan mengaguk pada pak Harto pamit dan di balas mengangguk dan senyuman hangat pada Arlo.
Sampai di luar seseorang berdiri bersandar di bawah tiang penginapan dan tersenyum pada Arlo yang tidak lain itu adalah Pamannya Eri. Dia mendekat dan hendak mengatakan sesuatu, tapi sudah di potong oleh Rina dengan keras.
“Katanya kita akan pergi ke sesuatu tempat yang bagus kak, untuk membel-“ gadis kecil itu benar-benar penuh tenaga, tapi mulutnya berhasil di bungkam oleh pria di sebelahnya. Arlo hanya tertawa geli melihat tingkah ayah dan anak yang konyol itu.
“Paman mau kemana kita..?”
Tanpa menunggu lagi kedua orang itu menarik tangan Arlo menuju sesuatu tempat dengan kompak melewati jalan yang ramai itu seperti menarik pelaku kejahatan. Beberapa orang yang lewat di sekitar mereka menatap ketiga orang aneh yang bertingkah seperti anak kecil di tengah jalan.karena itu, pada akhirnya mereka berdua melepaskan tangan Arlo dan membiarkannya berjalan sendiri karena Arlo juga marah-marah di tengah jalan.
Semakin jauh mereka berjalan rasanya mereka sedang menuju tempat yang agak sepi. Di ujung jalan ada sebuh pertigaan dan rumah tua yang di sisi kiri jalan. Rumah itu bertuliskan ‘Gaun Sutra dengan sebuah nama yang sudah tidak bisa di baca di bawahnya.
__ADS_1
“(Pasti memesan baju, tapi untuk apa?)” batin Arlo.
Mereka bertiga masuk kedalam dan berdiri di depan pintu. Rumah itu terlihat sangat tua tapi pondasinya terlihat masih sangat kuat. Paman Eri mengetuk pintu kemudian ia membukanya dan masuk bersama kedua temannya. Di depan mereka seorang wanita duduk di depan meja dan membaca buku tua di tangannya.
“Permisi.. Nyonya, bisa saya memesan gaun pasangan yang kemarin?” tanya Paman Eri sambil menodongkan secarik kertas pada wanita yang duduk di depannya.
“Yang kemarin ya.. oh Gaun Eri. Baiklah kemari! siapa pasangannya?”
Arlo di dorong oleh pria itu mendekati wanita yang duduk di depan Arlo dan di amati dengan tajam oleh wanita itu. Rasanya itu membuat Arlo sangat gugup.
“Baiklah mari kita ukur bajunya..”
Wanita itu mengambil seutas tali yang terlihat memiliki garis-garis. Wanita itu mulai mengukur tubuh Arlo, mulai dari lingkar lehernya. Turun pergelangan tangannya, turun lagi pada pingangnya, turun lagi di bagian pergelangan kakinya. Sampai akhirnya di mencatat semua ukuran yang telah di ukur tadi.
Kemudian wanita itu menulis lagi sesuatu di dalam kertas lain yang menyatakan sebuah nominal. Di serahkan kertas itu pada Paman Eri, lalu ia menerima dan melihatnya dengan seksama. Arlo yang ikut kepo mengintipnya dari belakang. Terlihat tulisan yang menyetarakan total harga dari baju yang akan di buat.
“I.. ini benarkan nyonya?!” Arlo terlihat sedikit terkejut dengan totalnya
Harga totalnya adalah sekitar 15 koin emas untuk satu pasang baju pengantin.
Paman Eri menjelaskan itu memang harga yang pantas untuk kain yang bagus. Selain itu, ini merupakan langganan sejak dulu karena itulah toko ini terlihat sangat tua. Pada akhirnya mereka membayarnya dan pamit undur diri.
Di perjalanan Arlo protes besar-besaran, ia berpikir kenapa baju yang hanya sekali pakai harus beli semahal itu. Padahal biasanya orang minikah bajunya juga cuman sewaan. Tapi lagi-lagi Paman Eri menjawab dengan santai bahwa. Baju itu akan menjadi baju pertama mereka berdua untuk memulai hidup baru. Berbeda dengan yang akan mereka beli berikutnya.
Akhirnya Arlo yang kalah dalam pembicaraan itu dan mengalah. Pria itu menjelaskan kemana mereka berikutnya. Di menunjuk sebuah tempat yang sangat terang di ujung jalan dan itu adalah sebuah toko perhiasan. Karena Arlo terlihat sangat payah mengenai hal ini. Dalam perjalanan menuju toko perhiasan, paman Eri mengoceh tentang cincin itu sampai-sampai putrinya sendiri merasa risih dan marah-marah pada ayahnya sendiri.
“Dan yang terakhir Arlo, untuk cincin lamarannya. Kakak akan memberikannya padamu, karena itu sudah turun temurun..”
Sampai di sana Paman Eri mengatakan perpisahan karena ia juga harus membeli sesuatu di sini. Dia memberi sedikit pesan lagi pada Arlo.
“Baiklah Arlo, di sini kau bisa menanyakan cincin itu pada penjualnya. Aku kenal dengannya, ini.. berikan kartu nama ini maka kau akan dapat diskon. Aku pergi dulu ada keperluan lain, sebentar lagi aku kembali, jadi bila kau sudah selesai tunggu di tempat itu” Paman Eri menunjuk pada bangku di dekat pohon yang rindang.
Dengan segera Arlo menghampiri pedagang itu dan menanyakan tentang cincin kawin. Banyak sekali pilihan dalam kaca perhiasan itu, berbagai model polosan sampai yang penuh warna dan berlian besar yang ada di atasnya. Sampi pada Akhirnya, dari hasil pencarian Arlo yang berdasar pada paman Eri, ia memilih cincin polosan dengan corak hijau dan kuning sesuai dengan selera Arlo dan Eri. Di bayarlah cincin itu oleh Arlo dan dia pergi ke tempat yang di pesankan paman Eri dan menunggu di sana.
Setelah beberapa saat menunggu yang membosankan, akhirnya terlihat dari jauh mereka berdua sudah kembali.
“Arlo..! bagaimana?, sudah dapat yang sesuai dengan keinginan mu?” dari kejauhan paman Eri datang dan di belakangnya di ikuti putri tersayangnya sambil menenteng sebuah kantung hitam.
__ADS_1
“Ya.. aku dapat yang cocok denganku dan Nona..” Arlo tersenyum tapi terlihat tidak begitu meyakinkan.
“Baiklah.. mari kita pulang, aku sudah lapar. Oh ya.. hampir lupa, tadi Eri memintamu untuk datang setelah membeli kebutuhan ini dan makan berdua, berdua.. Dah Arlo aku akan mampir di warung andalanku bersama putriku saja, jadi nikmatilah berdua dengan Eri...” priaitu berjalan menjauh meninggalkan Arlo sendiri yang masih duduk memasang wajah bingung.
“Sampai jumpa nanti kakak..” Rina melambaikan tangannya dengan senyuman yang begitu manis.
...(----------------)...
Di rumah Pak Harto, Arlo hanya berdua dengan Eri di dalam ruang makan. Arlo yang barus sampai tadi sudah di sambut dengan segelas teh hangat di atas meja.
“Ja.. jadi bagaimana belanjamu tadi?” Eri menuangkan ceret berisi teh ke dalam dua gelas di depannya sambil memunggungi Arlo.
“Oi.. kenapa kau tiba-tiba membuat suasana menjadi canggung?”
“KAU PIKIR KETIKA SEORANG GADIS AKAN MENIKAH APA TIDAK AKAN MALU ATAU CANGGUNG HAHH..?!!”
“Ah.. maaf-maaf, kau itu selalu mudah terbakar ya.., aku pikir mungkin besok kita bisa jalan keluar setelah aku bicara dengan Ayahmu.. Jadi bagaimana? ”
“Tet.. tentu” Lagi-lagi Eri menjawab dengan canggung.
Eri mengeluarkan seemua masakannya malam itu dan di letakkan di atas meja makan bersama Arlo. Setelah duduk, Eri hanya terdiam tidak mengatakan apapun.
“Baiklah apa semua sudah di siapkan?, mari makan!”
“Bukanya aku yang harus berkata begitu..?”
“Habisnya kau terlihat canggung sekali saat hanya menatapku!”
“Hanya saja..”
“Selamat makan..
Hmm ini enak sekali seperti biasa, Nona..” Eri hanya tersenyum tersipu mengusap poni rambutnya karena mendengar kalimat Arlo yang memuji masakannya.
Setelah itu, tidak terdengar suara pembicaraan lagi di meja makan itu sampai makanannya habis. Sebelumnya saat Arlo makan, Eri selalu mencuri-curi pandang pada Arlo. Menyadarinya, Arlo segera berpura pura tersedak agar Eri menolongnya dengan harapan yang lebih.
Tapi Eri hanya mengulurkan gelas berisi air putih dengan wajah yang tidak enak di pandang, seperti tahu rencana Arlo.
__ADS_1
“Dengar Eri, aku tidak mengerti dengan kelakuanmu. Tapi, bagaimana kau bisa tiba-tiba kasar dan tiba-tiba canggung padaku. Tolong bersikaplah biasa saja!, ya..”
Jaga kesehatan Bro ' )