
Selesai pembicaraan itu, Arlo dan Eri berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan dan dan langsung menuju ke taman pada malam itu. Dalam perjalanan, Eri hanya terdiam dibelakang Arlo, sedangkan Arlo di depannya berusaha melukai dengan belati yang selalu ia bawa untuk mencoba membiarkan lukannya pulih secara normal.
“Ee.. Arlo, apa tidak sakit?” tanya Eri gugup dan meraih tangan kiri Arlo yang memegang belati.
“Tidak, ini hanya luka kecil. Jangan kawatir, setelah beberapa saat rasa sakitnya akan hilang. Lihat kita sudah sampai di taman yang kau inginkan” Arlo menunjuk ke arah depan dan terlihat taman indah dengan tumbuhan hijau dan bunga-bunga bermekaran yang warna-warni.
Eri segera berlari mendekati bunga-bunga itu dan melihat secara dekat. Matanya begitu berkaca-kaca melihat bunga yang indah di depannya.
“Arlo, bagaimana bisa bunga-bunga ini terlihat idah dan subur bahkan tanaman ini juga begitu hijau, padahal di saat kita sampai tadi banyak tanaman yang berwarna kekuningan karena kepanasan?”
“Ingat Nona.. sihir, di tambah lagi saat ini sedang malam hari, suhu disekitar lebih dingin dari siang tadi. Apa kau tidak merasakannya, oh iya kau memakai setelan panjang. Aku sarankan besok kau pakai baju musim panas saja Nona, kalau tidak kau akan terbakar” jelas Arlo sambil mendekati kursi di taman dan duduk di sana.
“Eh.. Arlo, saat kau sedang mandi tadi aku melihat ada seorang gadis seumuranku sedang duduk di kursi itu. Dia terlihat sangat kesepian di sini”
“Benarkah? Apa itu gadis yang kau tanyakan tadi? Bagaimana tampangnya?” tanya Arlo serius.
“Dia memakai gaun berwarna putih seperti seorang putri dengan tanduk yang berwarna kuning di dahinya, selain itu dia terlihat sangat sedih saat itu”
“Kau yakin Nona?. Sepertinya aku mengenalnya, bagaimana kalau besok ku pertemukan dengannya?. Selain itu..” lirih.
(kenapa dia peduli pada gadis itu ya, padahal dia saja tidak mengenalnya) dalam batin Arlo.
“Bagus, aku sudah tidak sabar..” Eri mendekati Arlo dan duduk di sebelahnya.
Selama beberapa waktu mereka berdua hanya bersandar di kursi itu, menatap langit malam gelap yang tidak berbeda dengan dunia Eri. Terlihat jelas bintang bertaburan menerangi langit malam dengan angin sepoi-sepoi membuat suasana lebih dingin.
“Baiklah.. sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur. Aku sudah tidak kuat untuk menahan kantuk ini” Arlo berdiri dan mengulurkan tangannya pada Eri untuk kembali ke kamar.
Mereka berdua bergegas berjalan kembali melewati percabangan lorong sebelumnya. Perlahan dari kejauhan terlihat sosok bayangan yang berdiri di tengah jalan dan menatap mereka berdua. Arlo terus saja berjalan, menatap bayangan itu bersama Eri yang berjalan di belakangnya memegangi jubah Arlo.
Dari kejauhan bayangan itu mendekat, menghampiri mereka berdua. Jelas bayangan itu adalah gadis yang di bicarakan oleh Eri sejak tadi. Dia menatap mereka berdua tersenyum hangat dan menyapa Arlo.
“Kakak, sejak kapan kau kembali?. Kau tidak bilang padaku bila ingin kembali” tanya gadis yang menghadang ke dua orang itu.
__ADS_1
“Astaga kau benar-benar tidak sabaran. Aku kembali karena ada beberapa urusan jadi setelah urusanku selesai aku mungkin akan pergi lagi. Selain itu, apa kedua orang tua itu tidak bilang padamu?” balas Arlo menutup wajahnya malu.
“Apa urusan kak adalah gadis manis ini? Sepertinya aku akan punya kakak yang cantik”
“Kau ini, dia Nona Eri. Kami akan bertunangan di sini dan beberapa hal lain atas saran kedua orang tua itu. Jadi kau jangan mengangguku.." jawab malas Arlo, mengelus rambut gadis itu dan mencubit pipinya.
“Salam kenal” Eri tersenyum pada gadis itu.
“Oh.. kakak, perkenalkan aku adik orang gila ini, namaku Yidrazil, panggil saja aku Razil. Tapi aku bukan dari pohon itu yaa” gadis itu tersenyum pada Eri dan menyalami tangannya.
“Orang Gila..?”
“Jangan pedulikan anak yang kesepian ini! Dia selalu menggangguku!” Arlo memukul kepala gadis itu hingga benjol.
“Sudah aku mengantuk, jadi jangan ganggu aku saat ini, Gadis kecil.. selamat malam” Arlo merjalan meninggalkan gadis itu dan melambaikan tangannya.
“Hei tunggu Arlo. Selamat malan Razil.. dah..” Eri berpamitan pada gadis itu dan berlar menyusul Arlo di belakangnya. Gadis itu hanya diam dan tersenyum meluhat kedua orang yang ia temui.
“Jadi kau sudah tidak takut lagi Nona?” Arlo berbisik tiba-tiba di samping kepala Eri dan membuatnya terkejut.
“Apasih..?!
Arlo, kenapa sikapnya begitu berbeda..? Tadi aku melihatnya duduk di taman sendirian dan terlihat sangat sedih saat itu. Tapi saat kita bertemu, dia seakan bisa melupakan masalahnya dengan mudah”
“Entahlah.. mungkin pembaca yang tau jawabannya?” jawab Arlo dengan enteng.
Sampai di tujuan, seperti biasa kedua gadis yang melayani Arlo sudah berdiri tepat di depan pintu menatap mereka berdua dengan senyuman hangat.
"Sejak tadi kalian menunggu di sini?" Tanya Arlo menatap kedua gadis itu.
"Yah!" Jawab semangat keduanya.
"Baiklah-baiklah, tugas kalian sudah selesai.. kalian segera kembali saja"
__ADS_1
"Tapi Tuan, kami harus pergi bersama Tuan ke sesuatu tempat atas perintah Raja" jelas salah satu gadis. Keduanya mendekat dan mendempel di kiri dan kanan Arlo.
"Pergi?"
Arlo terlihat samar dengan tatapan seram Eri di depannya. Langsung saja Arlo melepaskan gengaman kedua gadis yang ada di kanan-kirinya. Senyuman nakal dari kedua gadis itu tidak tersemnunyi dari kedua tuannya.
"Tenang saja Nona Eri, Tuan Arlo sudah sering dengan cobaan seperti ini. Dia juga selalu bisa menghindar dari kami hihi.." kedua gadia itu tertawa nakal.
"Kalian ini!" Arlo memukul keras kedua kepala gadis yang ada di sampingnya.
"Unch.. Tuan, sakit tau" keluh Miku, mengelus kepalanya.
"Kami hanya bercanda.."
"Arlo!"
"Yah.. baiklah Nona, aku akan menemui orang tua itu. Ayo cepat kalian berdua!"
Arlo memarik kedua gadis itu keluar dari rungan dan berjalan menjauh peegi ke sesuatu tempat. Meninggalkan Eri lagi sendirian di dalam ruangan itu. Eri berpaling dan beranjak menarik kursi di depan meja, menariknya di depan jendela kecil yang sebelumnya ia berdiri di sana.
Melamun, menatap luar jendela selama beberapa saat. Dari luar ruangan terdengar pintu di ketuk oleh seseorang dan hendak membuka pintu. Segera Eri menghampiri pintu itu dan membukanya. Tamu yang tiba-tiba datang tidak di undang itu rupannya Ratu yang lesu mengantuk.
"Ibu?!" ujar Eri, terkjut.
"Apa? ayah menyuruhku kemari, dia itu sangat merepotkan. Huahm.." Ratu berjalan mendekati kasur.
"Memangnya ada urusan apa dia memanggil Arlo?"
"Hah..? aku tidak tau urusannya. Tapi besok kau akan ada sesuatu urusan denganku" Ratu melambai pada Eri yang berdiri di samping kasur. Ia sudah berbaring dan merangkumkan selimut di tubuhnya menatap Eri.
"Akan ku ceritakan dan ku jelaskan sesuatu.."
Eri beranjak mendekatinya dan beranjak berbaring di sampingnya. Kemudian perlahan Ratu menjelaskan semua yang ia maksud pada gadis di sampingnya sebelum mereka tertidur pulas. Tidak tau bagaimana nasip Arlo yang masih pergi dengan kedua gadis itu dan kemana mereka pergi, Eri sudah tidak peduli padanya karena sudah sangat mengantuk.
__ADS_1