Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Sang Pelayan Api – V


__ADS_3

Dengan memasang wajah penuh rasa puas, Daniel melayang tepat di depan Arlo dan menarik kembali bilah pedang yang memotong rapi lengan Arlo dan hendak menebaskannya lagi. Namun hal itu tertahan secara tiba-tiba oleh sabit Arlo yang terlempar bersama dengan lengan kirinya. Dalam kondisi yang tertekan, ia berusaha menarik kembali dirinya untuk mundur dan menjaga jarak sambil menahan sisa lengannya yang terpotong.


“Hoh? Apa itu tadi, sabitnya bergerak dengan sendirinya? Kau sangat menarik, Tuan Arlo.” Daniel tampak terkejut dengan sedikit menahan geli hati.


Dengan meregangkan tubuhnya, Vion kembali mengangkat sabit di samping Tuannya. Namun ia tertahan oleh kalimat Daniel dan mengurungkan niatnya untuk kembali bertarung.


“Maaf saja bila terasa merendahkan. Akan tetapi, bila begini saja kau sudah terkejut, bagaimana dengan ini?”


Sesaat setelah kalimat Arlo berakhir, sisa lengan kirinya tampak berdenyut selama sesaat. Sedangkan lengan kirinya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada tampak mulai mencair merah kental dan melayang-layang di udara, bergerak kembali menuju dirinya. Seperti sebuah cetakan, cairan tersebut mulai kembali membentuk lengan kirinya, bahkan termasuk jas hitamnya yang juga robek terpotong.


Dengan wajah yang semakin terkejut, Daniel tercengang selama sesaat dan matanya melotot tajam ke arah Arlo. Sontak ia tertawa dengan sangat keras hingga membuat Vion agak kebingungan.


“Luar biasa! ini sangat Luar biasa! Kau! kau yang memakan buah terkutuk itu, kan?” serunya dengan diiringi tawa yang mengiang keras.


Dengan begitu cepat, sepasang bilah pedang sudah berada di kedua lengan Daniel dengan diiringi tawa riangnya. Sedangkan Arlo hanya menatap tajam pria itu dan memperbaiki posisinya sebelum lawan datang dan menghantamnya.


Tampak Vion yang terdiam dari tempatnya dengan menatap tingkah tuannya yang agak berbeda dari biasanya. Jelas opsesi saat ini sedang meracuni seluruh pikirannya.


“Nah, sekarang Arlo, bagaimana caraku agar bisa membunuh makhluk seperti dirimu? Bagaimana rasanya saat tubuhmu yang sudah terpotong habis, kembali ketempat dengan sendirinya. Hihi…” Daniel menatap tajam Arlo di depannya tepat setelah mereka saling tinding dengan senjata masing-masing.


“Aku tidak terlalu mengerti apa maksudmu. Tapi asal kau tau saja, itu juga terasa menyakitkan!” seru Arlo dengan menghempaskan kedua pedang yang menghadang.


Dengan terburu Daniel kembali menerjangnya hingga ia terdorong cukup jauh dari tempatnya berdiri. Dia terbentur keras dan menerjang pepohonan besar yang ada di belakangnya. Dengan meringis menahan rasa nyeri, dia berusaha mengangkat tubuhnya berdiri. Namun saat sadar, Daniel sudah berdiri tegap di hadapannya dengan senyuman yang sama.


“Arlo… Arlo, aku tidak punya waktu untuk menunggu dirimu bangun dari tempat yang nyaman seperti itu. Jadi ayolah, buat sesuatu yang menyenangkan… bersamaku!” dengan keras Daniel menginjak Arlo menggunakan tungkak kakinya hingga terdengar benturan yang sangat keras.


Debu tebal yang menghalangi perlahan mulai terhapus oleh angin yang berhembus, menampakkan tempat kosong dihadapan Daniel. Sadar Arlo sudah menyingkir dari hadapannya tanpa tergores apapun.


“Hei! Aku disini.” Sebilah pedang menebas Daniel dengan sangat keras namun tertahan oleh bilah sabit Vion yang dengan cepat membalikkannya kepada Arlo.


Tampak ia berdiri agak jauh dengan menggenggam pedang lain di tangannya. Dengan wajah yang tidak mengenakkan, Vion menatap Arlo penuh rasa waspada. Raut wajahnya tak berubah sampai Daniel menepuk lembut pundak kirinya.


“Dengar, biarkan aku saja yang mengatasinya, jaga anak itu dan jangan sampai Arlo mengambilnya lagi.” Bisik Daniel sambil melangkah mendekati Arlo dari kejauhan.


Lenyaplah Vion dari hadapan Daniel untuk menjalankan tugas. Dengan tatapan yang tajam, Arlo tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari lawan. Secara bersamaan mereka mulai memainkan senjatanya dan bertarung dengan cepat di sana sini. Percikan api menetes di mana-mana sebagai bekas benturan antar senjata masing-masing.


Sebagaimana senjata Daniel yang sama sepesialnya dengan Wepoun Soul, maka kedua bilah pedangnya sama sekali tidak meninggalkan bekas goresan apapun. Sebaliknya dengan pedang pinjaman milik Arlo tampak kusut hampir hancur dengan menyisakan bagian tengah yang tebal.


“Kenapa kau bertarung dengan pedang mainan itu. Tunjukkan sabitmu yang sepesial itu, apa kau sedang meremehkan ku?”


“Tidak ada waktu untuk bermain-main dengan itu. Menurutmu apa yang akan terjadi bila kau melebihi batasmu sendiri, Daniel!”


Dengan nada kesal, Arlo melesatkan sisa pedang hancur di tangannya dan di susul dirinya yang melesat bersama dengan sabit merahnya yang membara tajam. Dengan sekuat tenaga Daniel menahan bilah pedang yang terselimuti oleh aura gelap yang memikat. Kedua pedang di tangannya seketika patah menjadi dua saat aura gelap tersebut meledak di depan wajahnya.


“Jaga mulut dan cara bicarama itu, sebelum ajal yang akan membungkamnya!”


Sabit yang terikat erat di tubuh Arlo meluncur dengan di selimuti aura yang sama dan menyusul pedang tersebut di belakangnya. Dengan keras sabit itu menghantam logam lain yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Daniel. Pecah logam itu berkeping-keping saat mereka saling bertabrakan, sedangkan sabit itu terlontar ke sisi lain.


“Akh! Cih!” darah menyembur keluar dari dalam mulut Daniel saat Arlo menerjang perutnya dari atas.


“Sekarang, Liya….” Bisik lembut Arlo.


Sabitnya yang terpental setelah saling berbenturang dengan senjata Daniel, melayang dengan cepat sampai di sampingnya. Ditebas leher Daniel dan menggelindinglah kepalanya di tanah.


“Berakhirlah... sekarang. Dimana kau, Leonardo….”

__ADS_1


Di atas batu datar dengan ukiran aneh. Terdapat lubang bulat dengan jumlah lima titik melingkar di antara Leo terbaring. Tampak terisi satu titik yang terisi oleh sebuah bola berwarna biru gelap dengan titik ungu di tengahnya dan cipratan-cipratan yang menguap di sekitarnya dan di sisi lain terdapat bulatan yang sama dengan titik pada bagian bawah Leo dengan warana jingga yang membara merah di bagian tengahnya.


“Prosesnya hampir selesai, inti core api memang sangat berbeda dengan inti core air. Cepat selesaikanlah pertarungan Anda, Tuan Daniel. Sebelum bagian menarik berakhir, haha…” oceh Vion yang berdiri tidak jauh dari batu tesebut.


Tidak berselang lama, dari belakang terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati mereka berdua. Dengan wajah yang semringah, sontak Vion segera membalikkan badannya guna menyambut kembalinya Daniel yang ia tunggu-tunggu.


“Selamat datang kembali, Tuan. Sepertinya Anda sudah menyelesaikan pertarungan kecil tersebut….” Ucapnya sesaat setelah membalikan badan.


Sontak raut wajahnya berubah drastis saat mendapati seseorang yang berdiri di hadapannya dengan menodongkan sebuah sabit tepat di depan lehernya bukanlah orang yang ia tunggu-tunggu.


"Maaf membuatmu tampak kecewa, Vion. Tapi aku bukanlah Daneil yang kau tunggu-tunggu,"


“Cih! Arlo…! Dimana Tuan Daniel?!” seru Vion dengan nada kesal.


“Apa matamu sudah buta? Tentu saja dia sudah kupenggal.” Ucap Arlo dengan tatapan sinis.


Dengan secepat mungkin Vion menghindari sabit di lehernya dan menjaga jarak dengan Arlo. Tempatnya berdiri sangat berdekatan dengan Leo dan meliriknya secara diam-diam.


“Cepat lepaskan anak itu! maka aku akan mengampuni nyawamu,” gertak Arlo dengan menyelipkan sabitnya.


“Mengampuni?! Ahahaha… jangan bercanda denganku, Arlo. Apa kau pikir aku akan percaya dengan kalimat yang kau ucapkan. Tuan Daniel tidak mungkin mudah dikalahkan begitu saja. Yah, kali ini kami mengakui kekalahan. Semoga kau beruntung lain kali….”


Vion lenyap begitu saja setelah kalimatnya berakhir dengan sebilah belati ditangannya.


Dengan menghela nafas, Arlo berjalan mendekati batu tersebut untuk menyelamatkan Leo. Sosok wanita dengan gaun merah yang sama, berdiri melayang di sampingnya berjalan.


“Tuan, sepertinya Anda sedang menyulut kobaran api yang besar, saya harap Anda berhati-hati.” Bisiknya, lalu ia lenyap begitu saja.


“Entah apa yang akan terjadi, asal tujuanku selesai, aku tidak peduli.”


“Bukankah ada sesuatu berwarna biru di sini tadi?” gumamnya penasaran, namun ia mengacukannya begitu saja.


Meski begitu, untuk memastikannya, ia menghancurkan batu tersebut berkeping-keping dan meninggalkannya begitu saja.


...(----------------)...


Di tepian sungai yang sama, cahaya senja tampak menyinari air yang mengalir tenang. Tampak sosok pria dengan jas hitam dan tanduk hijau pekat yang menjulang di dahinya, sedan duduk bersandar dibawah pohon tepian sungai.


Seorang anak kecil dengan rambut pirang dan tubuhnya yang tampak kurus kering, terbaring lemah di depannya. Pria itu tampak meliriknya selama sesaat, namun ia memalingkan pandangannya lagi.


Tidak berselang lama, anak itu terbangun dan melirik sosok yang tidak asing di sampingnnya. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat tubuh lemahnya duduk dan menatap tajam pria itu penuh rasa bersalah.


“Saya mohon maaf sudah berkali-kali merepotkan Anda, Tuan. Saya akan pergi dan tidak mengganggu Anda lagi, dan terima kasih sekali lagi sudah repot-repot menyelamatkan diri saya.” Ucap anak itu, ia menunduk tanpa berani sedikitpun mengankat wajahnya.


Dia beranjak berdiri dari tempanya duduk dan hendak melangkah pergi. Tubuhnya yang kurus kering terasa berat untuk berdiri, namun ia terus memaksakan dirinya untuk mengangkat tubuhnya. Sampai dalam diam, Arlo meraih lengannya dan menariknya duduk kembali tepat di depannya.


“Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Setidaknya apa tidak ada cara supaya kau dapat berhenti berurusan dengan preman-preman itu? rasanya kau benar-benar akan mati kapan saja!” celetuk Arlo dengan menatap tajam anak itu.


“Saya rasa itu tidak perlu, saya akan segera pergi. Saya pikir setelah mati, itu akan lebih baik…” sahut dengan penuh penyesalan.


“Jadi maksudmu sejak awal aku tidak perlu repot-repot menyelamatkan dirimu, begitu?”


“Tidak-tidak! Bukan seperti itu yang saya maksud, hanya saja….” Kalimat Leo tertahan akan sesuatu.


“Dengar anak muda, aku tidak mengerti seperti apa penderitaanmu itu. Tapi entah kenapa, rasanya aku tidak bisa membiarkan mati begitu saja. Jadi setidaknya apa yang bisa aku lakukan untuk itu?”

__ADS_1


Leo terdiam selama sesaat dan memikirkan kalimat Arlo, sampai akhirnya ia mengatakan cara yang mungkin bisa digunakan untuk mewujudkan maksud Arlo.


“Kontrak?” Arlo agak terkejut setelah mendengar penjelasan Leo selama sesaat.


“Ya, Tuan. Saya dengar kontrak antara iblis itu dapat terjalis sebagaimana seorang tuan dan pelayan. Dengan begitu apapun yang menjadi milik pelayan juga akan menjadi milik tuannya, sehingga kekuatan yang tersimpan dalam diri pelayan akan di pasrahkan seluruhnya pada sang tuan. Sehingga para preman yang Anda maksud tidak dapat dengan mudah meraih kekuatan saya. Hanya saja, ada sesuatu yang harus di korbankan untuk itu,”


“Apa yang harus di korbakan untuk itu?”


“Setengah dari kekuatan dan tenaga tuannya harus di berikan kepada sang pelayang untuk kunci ritualnya, tapi sepertinya itu akan-”


“Mari lakukan! Untuk kali ini, mari lakukan ritualnya agar kekuatan milikmu terhubung denganku. Setelah, itu kau bisa pergi dan aku akan menyelesaikan tujuanku.”


“Tapi, Tuan… Anda akan-“


“Apa yang harus di lakukan untuk ritualnya?”


“Tuan-nya sebagai majikan harus meminum darah sang pelayan, hanya itu yang perlu dilakukan dan kontrak akan mulai terhubung,”


“Cepat berikan tetes darahmu.”


Dengan perasaan terpaksa, Leo mengulurkan ibu jarinya kepada Arlo agar darah tersebut dapat langsung diminum oleh Arlo. Dalam beberapa teguk, cahaya remang bersinar pada tanduk kecil Arlo dan itu berakhir begitu saja. Perlahan-lahan, tubuh kering Leo mulai kembali pulih dengan di iringi lukannya yang menghilang.


“Sudah? Ark! Ehuk…! ehuk…!” secara tiba-tiba, Arlo terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak sekali darah dari dalam mulutnya.


“Tuan! Apa Anda baik-baik saja…?” Leo tampak begitu cemas.


“Ark! Aku baik-baik saja, tenang saja… baiklah, aku harus kembali sebelum gelap. Kau juga harus segera carilah tempat untuk berteduh. Selamat tinggal….” Ucap Arlo dengan senyuman hangat.


Dengan terhuyung-huyung, Arlo berjalan sambil menahan rasa sakit di dadanya. Sampai tiba-tiba langkahnya terhentahan oleh tangan Leo dari belakang. Tiba-tiba anak itu meneteskan air mata di hadapan Arlo hingga membuatnya cukup terkejut.


“Tunggu, Tuan! Saya akan ikut dengan Anda, apapun…! apapun perintah Anda akan saya turuti! Biarkan saya ikut dengan Anda Tuan! Biarkan saya ikut dengan Anda... Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan, setidaknya biarkan melayani Anda sebagai tujuan hidup baru saya….” Anak kecil itu berakhir tersungkur di depan kaki Arlo sabil terus menangis terisak-isak.


Dengan penuh hati-hati, Arlo kembali duduk di depan Leo sambil mengelus lembut rambut pirangnya. Tampak senyuman hangat tergores lebar dibibirnya.


“Panjangkan saja rambut pirang ini, aku rasa akan bagus….”


“Eh…! baik! Sesuai dengan perintah Anda!” Leo terlihat begitu senang dan menatap Arlo dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Dasar, anak-anak itu memang selalu merepotkan, ya… ngomong-ngomong, aku belum mengenalkan diri kepadamu., kan? Perkenalkan anak muda, aku Arelo Voltar, pengeran sulung dari wilayah Soul of The Dark. Layani aku dengan baik ya, Leonardo…”


“Pa-Pangeran! Anda seorang pangeran?”


“Ya… hari sudah gelap sepertinya kita harus segera kembali. Tapi aku rasa kastil cukup jauh dari tempat ini… bagaimana menurutmu?”


“Aa… anu, sebelumnya saya pernah melihat sebuah rumah besar yang berdiri tidak jauh dari sini, Tuan.” Ucap Leo penuh rasa semangat, dia mengulurkan tangannya pada Arlo dan membantunya berdiri.


“Baiklah, mari kita pergi kesana…”


...(----------------)...


Dalam sebuah ruangan gelap dengan cahaya lilin yang menyala kecil di tengahnya, sesosok tubuh tanpa kepala duduk bersila di atas batu dengan sesuatu bulat berwarna biru gelap dan titik inti yang berwarna keunguan. Tidak berselang lama, bulatan tersebut mulai bersinar dengan terang dan menyinari seluruh ruangan.


Sosok tubuh tanpa kepala tersebut perlahan mulai berkedut pelan, sampai sesuatu muncul keluar dari dalam leher. Perlahan-lahan, wujudnya mulai tampak jelas berupa kepala dengan dua buah tanduk besar dengan warna hitam pekat, menjulang di antara rambutnya.


“Hah… ini cukup menarik, pria itu akan sangat menarik. Selain itu, core air juga mulai bereaksi dengan core api. Setelah ini, apa yang akan kau lakukan, Arlo….”

__ADS_1


...... ~ Kontrak ~ ......


__ADS_2