
Saat cahaya samar-samar terhalang oleh kegelepan di pelupuk mata, sebuah pedang besar sudah hedak menusuk dadanya. Arlo meyeret perlahan tubuhnya barusaha untuk menjauh, meski itu hanya hal yang sia-sia. Seorang pria perlahan mengangkat tinggi-tinggi pedang di tangannya dan hendak menusukkan pedang itu, sampai sesuatu menghantamnya dengan sangat keras.
“Arlo…!” teriak seseorang dari kejauhan, disusul sebuah pedang gelap yang menghantam pedang milik Daniel.
Sontak Daniel langsung melangalihkan pandangannya pada gadis itu dan menangkis pedang hitam itu menancap di tanah. Dengan terpaksa ia melompat mundur saat gadis itu sudah muncul di depannya.
Gadis itu berdiri tepat di samping Arlo berbaring dan mengulurkan tangannya. Sedangkan Daniel dari kejauhan hanya menatap tajam ke arah mereka berdua dengan wajah cemas. Dia menarik sebuah tombak dari dalam tubuhnya, saat hendak ia melemparkan tombaknya, pedang hitam yang menghantam dirinya sebelumnya telah melesat dan hampir menusuk dadanya karena masih sempat ditangkis.
Pedang hitam itu menancap di tanah dan lambat laun mulai berubah keemasan, mengambil kembali wujud sejatinya. Sampai pandangan Arlo kembali jelas saat gadis tangannya maraih gadis itu.
“Nona… Eri?” gumam lembut Arlo dengan berusaha mengangkat tubuhnya dalam kondisi lemah.
Eri berdiri berdampingan dengan Arlo dalam pelukannya, dengan menatap Daniel di kejauhan dan memanggil kembali pedang emas miliknya. Dalam sekali hempas, api berkobar di udara ke arah Daniel berada dan membakar sisa lengan kirinya.
“Ini…! Ini tidak mungkin!” seru Daniel dengan berusaha memadamkan api di tubuhnya dengan sihir.
Dengan penuh benci, amarah, kesal, dendam, dan bayangan kematian, Eri berjalan perlahan-lahan bersama dengan Arlo di sebelahnya untuk mendekati pria itu. Menyeret pedang di tangan kirinya dengan Arlo dalam pelukan pundak dan Liya yang tiba-tiba muncul sabil berjalan mengiringi pundaknya dengan sabit yang sudah di tangannya.
“Kau…! Kali ini… tidak ada tempat untukmu berpijak di dunia ini….” Suara besar yang terdengar keluar dari dalam mulut Eri, membuat Arlo seketika terejut.
Saat posisi sudah dalam jangkauan, mereka bertiga berhenti melangkah. Eri yang menatap tajam ke arah Daniel, terasa mencekam. Sontak saat ia mulai menyadari sesuatu yang berdiri di balik gadis itu, wajahnya berubah tegang. Hendak satu serangan dalam lingkup anak panah di luncurkan, angin yang begitu kecang menepis dan menghapusnya jauh-jauh.
“Lord… Bherles…!”
Celetuk Arlo setelah sosok pria dengan jubah yang penuh robekan dengan aura gelap kekuningan yang berdiri tepat di depan mereka bertiga. Dengan pedang emas miliknya yang menyala dari balik jubah itu, ia menghempaskan pedangnya langsung ke arah Daniel dengan api yang membakar udara. Selama sesaat, semuanya terlihat begitu terang karena api yang menyala saat itu. Mereka yang ada di sana tidak berkedip selama itu dan menyaksikan bagaimana sebuah akhir.
“Arkhh!” Daniel terbakar habis di balik api itu.
Seketika itu juga, Eri tersentak dan tubuhnya langsung lemas tersungkur di tanah bersama dengan Arlo. Sedangkan pedang dalam genggamannya perlahan mulai kehilangan kilauannya, berubah gelap mejadi abu dan menguap di udara. Arlo yang melihatnya tersenyum tipis setelah sesosok pria yang sama melayang di udara dan menatap mereka bertiga.
__ADS_1
“Arlo… kali ini, jaga putriku…!” suara yang terdengar dari mulut pria itu.
“Baik….”
Eri terbaring lemas dalam pengkuan Arlo bersama dengan Liya yang duduk di sebalah mereka bertiga. Menatap senja hari yang berkunjung, saat itu tubuh Arlo juga mulai kembali pulih dengan Core api yang keluar dari dalam tubuhnya. Suasana terasa begitu menenangkan selama beberapa saat, sampai sesuatu menutupi cahaya senja.
...(----------------)...
Karena jarak yang sangat jauh di tepi hutan, Ferdi dan Sina tidak tau menau apapun yang terjadi pada Arlo dan lainnya. Dengan seluruh sisa kemampuan mereka berdua, sedikit demi sedikit para iblis itu mulai di kalahkan. Namun di samping itu, mereka sendiri juga di penuhi oleh luka berdarah di sekujur tubuhnya. Sampai ledakan yang begitu keras dari kejauhan, menarik perhatian mereka berdua.
“Apa itu berasal dari mereka?” seru Sina, ia berhenti selama sesaat dan memandang Ferdi dengan wajah penasaran.
“Kita tidak punya waktu, bertahanlah sedikit lagi… kami akan menyusul. Sina! sebagian masih belum beres, kita selesaikan ini dulu!” dengan menggenggam lengan kanannya yang berlumuran penuh darah, Ferdi menahan setiap serangan yang datang.
Ledakan besar itu sebenarnya adalah saat di mana Eri menghakimi kelima teman Nanda yang telah membunuh Khira dan Bela. Namun saat itu mereka tidak dapat melarikan diri dari pertarungan untuk menyusul mereka. Tanpa tau apapun, akhirnya sedikit demi sedikit para iblis itu dapat di singkirkan dan mereka langsung berlari dengan tenaga yang tersisa, ke tempat dimana yang lain berada. Rencananya adalah untuk menunggu perintah langsung dari Jendral, namun begitulah sebuah perang.
Dua pasang mata melotot lebar dan tubuhnya yang tidak bergerak sedikitpun kecuali gemetar hebat. Dua sosok orang yang hendak ia temui sudah terbaring tak bernyawa di depan mereka. Dengan rasa takut yang perlahan memenuhi tubuhnya, Ferdi yang lemah tersungkur ditanah dan bertekuk lutut tanpa bisa mengendalikan dirinya sendiri. Sedangkan Arlo dan Eri sedang bertarung di tempat lain tidak jauh darinya, Sina mendekat dan mengangkat tubuh lemas pria itu sebelum ia jatuh semakin dalam.
“Kita harus menyusul mereka berdua, sebelum terlambat!”
“Sebenarnya, apa yang membuat kita berjuang sejauh ini untuknya?”
“Aku juga tidak tau, kita hanya perlu menyelesaikan tugas ini. Selain itu, bukankah kita tidak punya tempat lagi di sana kecuali mengikuti Tuan Arlo?”
Dalam lemas, Ferdi dan Sina berjalan semakin jauh untuk mencari Arlo dan Eri. Sampai tiba-tiba tanah berguncang, sontak mereka berdua segera mencari sumbernya. Berlari dengan sekuat tenaga, mereka sampai di sebuah sungai yang dipenuhi darah di sepanjang alirannya. Mereka menoleh ke utara dan mendapati wanita yang melayang di udara bersama seorang pria yang ada di sampingnnya.
Tidak jauh dari mereka berada, Arlo terlihat masih duduk di sana bersama dengan Eri yang baru saja sadar. Pandangan mereka berdua langsung teralihkan oleh wanita itu.
“Arlo, di mana Daniel…?” celetuk wanita itu.
__ADS_1
“Apa Anda masih buta, Ratu? Dia sudah mati!” jawab tegas Arlo dengan nada yang kesal.
“Apa itu mungkin...? bagaimana dengan kasus sebelumnya? Apa kau masih berpikir dia akan mati dengan semudah itu?”
“Memangnya siapa-“ kalimat Arlo tertahan oleh jari tangan Eri di bibirnya.
Dengan paksa gadis itu mengangkat tubuhnya dan berdiri di depan Arlo, menatap tajam lawan bicarannya. Dengan melirik seorang pria yang berdiri di samping wanita itu, Eri mulai menjalaskan sesuatu kepada wanita itu.
“Apa...! Kau merasa kesal…?” celetuk ratu dengan senyuman liciknya.
“Pria itu sudah mati, dia benar-banar mati. Tubuh yang dia cadangkan telah terbakar oleh api!” jelas Eri.
Arlo yang penasaran mengangkat tubuhnya di samping Eri dan menanyakan maksudnya.
“Di sebuah tempat, dimana salah satu core disimpan. Pria itu sedang duduk di atas batu tanpa kepala. Setiap kali ia hendak keluar dan bertarung, dia memotong salah satu lengannya dan meletakkan di salah satu batu itu dengan menyentuh corenya. Sampai saat waktunya tiba, lengan itu akan terus menyerap energi yang tersimpan di dalam core hingga bentuknya kembali ke sosok manusia. Namun ia hanya akan terbatas pada tubuh, sedangkan kepalanya akan tetap satu.
...Saat tubuh yang sudah keluar dan bertarung itu mati, maka tubuh yang duduk di atas batu dan menyerap energi corenya mulai membentuk wajah dan kepala pria itu, dan itu terjadi berkali-kali selama hidupnya.” Tutup Eri.
“Kau tau sebanyak itu, ya…? Gadis muda…?”
“Tapi kali ini…! Kali ini dia sudah kehilangan tubuh cadangannya karena api yang telah di korbankan, tubuh yang duduk di atas batu itu, telah terbakar habis bersama sosok aslinya.” Eri menutup matanya lemas dan kembali bersandar di pelukan Arlo.
Wanita itu melirik ke arah seorang pria yang bersamanya dan mengulurkan sesuatu padanya. Selembar kertas tiba-tiba muncul dan langsung terbakar habis di tangan pria itu.
“Ratu?!”
“Vion, sepertinya tugasmu sudah selesai. Kembali dan tunduklah pada diriku dan kerajaanku!” ucap wanita itu.
“Baik.”
__ADS_1
Tanpa basa-basi, pria itu mengangkat tangannya dan tiba-tiba lenyap dari sana. Sedangkan wanita itu kembali menatap Arlo selama sesaat dan tersenyum tipis. Dia melirik ke arah sesuatu yang agak jauh dan menjentikkan jarinya.