Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Historical Book


__ADS_3

Angin berhembus melewati pepohonan di sebuah hutan, pohon-pohon itu hanya di penuhi oleh warna senja tanpa ada kesejukan yang dapat dirasakan. Dalam bukit kecil, seorang pria dengan jas hitam panjangnya sedang duduk termenung di bawah pohon sambil menatap langit biru yang dihiasi oleh awan putih.


Sesaat kemudian seseorang mendekat dari kejauhan dengan membawa senampan penuh makanan dan segelas minuman di dalamnnya. Pria dengan rambut pirang panjang dan jas putih lingkap serta celana jens panjang, tersenyum hangat kepadanya.


“Tuan Arlo, apa Anda baik-baik saja?” sapa pria itu dengan senyuman manis dari wajahnya yang tampan.


“Leo? Kenapa kau sampai datang kemari?”


“Saya menunggu lama dan Anda tidak kunjung kembali. Sudah waktunya makan, Tuan.”


“Kemarilah. Apa kau hanya membawa segelas air?” Arlo melambaikan tangannya ke arah Leo untuk duduk di sampingnya.


“Oh maaf, Tuan. Apa Anda masih kurang? Apa perlu saya ambil, kan lagi?” mendengar kalimat tersebut, Leo yang belum sempat duduk setelah meletakkan nampan segera kembali bangun dan hendak pergi.


“Tidak! Tunggu-tunggu! Apa kau sendiri sudah makan?” Arlo kembali menarik tangan Leo dan memaksanya duduk di sebelahnya.


“Tunggu Tuan! Mpp!” mulut Leo disumpal roti oleh Arlo tepat saat ia baru duduk.


Sambil tertawa kecil, Arlo meraih makanan lain dan memakannya. Pandangannya teralih dan ia tampak menunduk, teringat sesuatu.


“Tuan Arlo, akhir-akhir ini saya dengar di wilayah kota banyak terjadi kericuhan? Selain itu, tadi Yabg Mulai Raja Ordil datang kerumah untuk menemui Anda dan meningalkan pesan. Tuan? Apa Anda dengar?”


Tanpa memberikan respon apapun, Arlo hanya tenggelam dalam lamunannya sendiri. Sampai akhirnya Leo menepuk pundaknya hingga ia tersentak dan menoleh.


“Tuan, apa Anda tidak mendengarkan saya?” celetuk Leo yang tampak kawatir.


“Maaf, apa yang kau katakan tadi?”


“Tuan Arlo, apa Anda benar baik-baik saja?”


“Tidak, aku hanya sedang teringat sesuatu. Setelah ini mari kita pergi kekastil menemuinya.”


...(----------------)...


Dalam sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga dan tanaman hijau lebat, seorang gadis sedang duduk di kursi panjang dan menatap kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga tersebut. Tidak lama setelahnya, terdengar langakah kaki seseorang datang mendekat dan menyapanya.


“Razil, apa kau tau di mana ratu?” sapa seseorang tersebut.


“Kakak! Kau kembali? Oh, aku tadi menlihatnya sedang pergi bersama ayah kesesuatu tempat." sahut gadis itu setelah ia bangun dari duduknya.


“Tuan Arlo, sepertinya mereka tidak ada di kastil.” Pria lain datang mendekat.


“Oh! Tuan Leo juga datang kemari! Aku harus memanggil Bela dan Miku.” Sontak Razil segera beranjak lari ke sesuatu tempat.


Dengan menghela nafas, Arlo melirik sosok pria berdiri di belakangnya yang hanya memasang wajah bingung heran. Sontak ia segera menarik pria itu pergi sebelum sesuatu yang ia tebak benar-benar terjadi.


Mereka melangkah masuk kedalam kastil dan kembali mencari keberadaan ratu. Sampai di sebuah lorong yang menghubungkan antar ruangan, tampak dua sosok berlari tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.


“Leo! Wah…! Leo datang kemari. Cepat Bela!”


Seorang gadis seumuran dengan Arlo berlarian mendekat dan langsung menubruk pria yang berdiri di samping Arlo sambil memeluk tangan kirinya di antara dadanya.


"Heh! No-Nona Miku?" ucap Leo yang tampak gugup secara tiba-tiba.


Seorang gadis lain mendekat dan bediri begitu dekat di sampingnya, sedangkan Arlo hanya menghela nafas dengan tingkan kedua pelayan pribadinya.


“Hoh, kau hari ini sangat keren, Anak Muda.” Ucap Bela yang meraba tubuh pria di sampingnya.


“Kalian berdua! berhentilah mengganggunya!” sahut Arlo dengan nada kesal.

__ADS_1


“Tuan Arlo, kami hanya datang menyapa. Tidak masalah, kan Leo. Kan? Kan? Kan!” sahut Miku dengan mendorong-dorong dan menyodirkan tubuhnya kepada Leo semakin dekat.


Dengan wajah yang sedikit terpaksa, Leo tersenyum setuju sambil melirik cemas kepada Arlo. Tidak lama kemudian, sosok yang tidak asing mendekat tampak sedang menggunakan piama dan berjalan sambil menutup mulutnya saat menguap.


“Ada ribut-ribut apa ini? Mengganggu orang tidur saja.” Ucap sosok wanita sambil terus mendekat kearah Leo.


Sontak dua gadis lain yang sudah memeluk erat tubuh Leo dari sisi kanan dan kiri melangkah mundur perlahan-lahan dan berbaris rapi di belakang Arlo. Digantikan oleh sosok wanita itu dengan mengelus rambut pirang pria di hadapannya.


“Ayolah kalian berdua, jangan menggangu pria tampan sepertinya. Benar, kan? Leo….” Nafas hangat menembus telinga Leo saat ratu membisikkan namanya.


Sontak tubuh Leo langsung bergidik dengan wajahnya yang memerah padam. Dia langsung melompat mundur dan menjaga jarak dengan wanita mengerikan itu, baginya.


“Haha… tenang saja, Nak. Aku tidak akan menggigit. Dah aku pergi dulu….” Lanjut ratu berbalik dan melangkah pergi begitu saja.


“Hei! Tunggu, aku datang untuk menanyakan pesan apa yang dimaksud raja.” Seru Arlo pada ratu.


Sontak ratu menghentikan langkahnya dan melirik kearah Arlo selama sesaat sambil mengatakan sesuatu.


“Arlo, sebelum datang kemari, apa kau sudah mendengar pesannya dari anak muda itu?” celetuknya tanpa berkutik sedikitpun.


Sontak Leo segera mengajukan diri dan menyampaikan pesannya kepada Arlo.


“Maaf, saya yang diberi perintah untuk memberitahukan kepada Anda. Sebenarnya raja memberi tahukan kepada saya agar Anda lebih berhati-hati terkait kota yang saat ini sedang mengalami banyak masalah. Selain itu…”


kalimatnya tidak keluar dengan wajah Leo yang tampak ragu.


“Selain itu?”


“Pangeran angkat dari kerajaan wilayah barat sedang melancarkan serangan yang masih berhubungan dengan keadaan kacau di kota.”


“Wilayah barat?” wajah Arlo tampak agak terkejut dengan dugaannya sendiri.


Sontak Arlo tercengang mendengar nama yang sangat familiar baginya. Jelas-jelas kepalanya terpotong rapi oleh sabit itu di depan wajah secara langsung, bagaimana dia masih bisa hidup saat ini dan membuat kekacauan di tempat yang jauh, pikirnya.


...(----------------)...


Dalam sebuah rumah besar dengan penampakan yang tampak gelap dan suram, cahaya surya mulai menembus masuk kedalam rumah melalui sela-sela jendela dan menghapus atmosfir yang mencekam. Tampak Arlo sedang duduk di sofa merah yang terlihat sudah sangat tua, ia duduk dengan memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya.


Di sekeliling adalah dinding-dinding dengan lukisan-lukisan abstak yang tidak terlalu jelas, dan di antaranya tampak menggantung sebilah pedang dengan mata pisaunya berupa permata biru yang menyala.


Tidak berselang lama, terdengar langkah kaki seseorang dari depan pintu dan mengetuknya secara perlahan sambil memanggil-manggil namanya. Sontak Arlo segera menghampiri pintu dan membukannya. Mendapati seorang pria tua yang datang dengan membawa satu krenjang penuh sayuran segar dengan memasang senyuman hangat kepadanya.


“Palog? Masuklah,” sambut hangat Arlo, tampak mengenalinya.


“Tidak perlu, Tuan. Saya kemari hanya ingin mengantarkan beberapa bahan makanan yang di minta oleh anak muda itu.” jawab lembut Palog dengan menyodorkan krenjang tersebut.


“Ohh, baiklah. Terima kasih,”


“Tuan, saya dengar saat ini kota dalam kondisi yang buruk, apa ada sesuatu yang terjadi. Hal seperti ini tidak pernah sekalipun terjadi sepanjang hidup saya. Apa Anda mengetahui sesuatu?” celetuk pria tua itu yang penasaran.


“Oh, ada sedikit masalah yang mengganggu masyarakat, tidak lebih,” sahut Arlo dengan memasang senyuman.


“Begitu, kah? Saya sangat percaya dengan Anda, Tuan Muda. Baiklah, saya permisi dahulu.” Palog pamit dan berbalik pergi.


Dengan menganguk, Arlo melambaikan tangannya sesaat sampai pria tua itu hilang dari pandangan. Dengan menghela nafas, Arlo kembali menutup pintu dan hendak meletakkan krenjang itu di atas meja. Namun dia mengurungkan niatnya karena seseorang yang lagi-lagi mengetuk pintu dengan memanggil namanya dan terkesan terburu-buru.


Sontak ia segera kembali menuju pintu dan memastikan siapa yang datang. Ia tampak agak terkejut mendapati seorang kesatria datang di hadapannya secara tiba-tiba.


“Maaf mengganggu pagi Anda, Pangeran. Saya mendapat perintah langsung dari ratu untuk meminta Anda datang saat ini juga di kediaman kastil untuk membicarakan masalah terkait yang terjadi pada akhir-akhir ini.” Ucap kesatria itu yang menunduk dengan bertekuk lutut di depan Arlo.

__ADS_1


“Baiklah, kau kembali saja duluan. Aku akan segera menyusul.” Jawab tegas Arlo.


“Laksanakan.” Sahut sang kesatria di susul sosoknya yang langsung lenyap dari hadapan Arlo.


“Sekarang apa yang kau rencanakan, Ibu.”


...(----------------)...


Di dalam sebuah ruangan luas dengan meja makan yang memanjang memenuhi tengah ruang, Arlo bersama keluarga kerajaan berkumpul dan membicarakan banyak hal terkait masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak hanya Arlo saja yang penuh rasa cemas akan kesalahan yang mungkin saja ia perbuat, namun raja juga punya masalahnya sendiri kepada Arlo. Mengingat dahulu dia sudah diberi peringatan akan hal tersebut.


“Jadi menurutmu ini semua disebabkan oleh keberadaan anak itu?” sahut Arlo yang berusaha mengelak.


“Tentu saja Anak Muda! kekuatan besar yang terkuci di dalam dirinya dan di dalam dirimu itulah yang menjadi umpan terkait hal ini. Padahal aku sudah memperingat, kan mu untuk lebih berhati-hati.” Raja tampak kesal.


“Lalu apa sebenarnya kekuatan itu? inti core? Benda apa itu?” Arlo yang penasaran menatap ratu untuk meminta jawaban.


“Itu bukanlah benda. Core adalah sebuah eksistensi yang mewakili dunia ini.”


“Maksudnya?”


Maksudnya adalah, core merupakan kekuatan yang terkumpul selama ribuan tahun di dunia iblis dan membentuk wujudnya sendiri berupa sebuah bola seukuran kepalan tangan dan menampung kekuatan yang bisa dibilang tidak terbatas. Inti core prinsipnya sama dengan makhluk hidup di dunia ini, baik tanaman maupun tumbuhan yang hidup di dunia iblis. Para iblis yang memakan tanaman maupun binatang yang secara alami hidup disini akan langsun memperoleh kekutan yang sama.


Mereka mengandung kekuatan yang dapat di netralisir oleh para iblis dan manusia yang biasa di sebut dengan, sihir. Perbedaannya adalah, inti core tidak memiliki daya hidup atau apapun sejenisnya. Inti core hanya mengandung kekuatan besar yang terlah lama tersimpan di dalam dirinya, sehingga kekuatan itu terasa tidak terbatas.


“Apa maksudnya tidak memiliki daya hidup, Leo itu juga seorang iblis, kan?”


“Pertanyaan yang bagus.”


Dahulu kala sekali, sekitar tiga ribu tahun yang lalu, para tetua iblis berusaha mencari keberadaan para core tersebut yang awalnya tersimpan di tempat yang tersembunyi, sampai akhirnya mereka berhasil menemukan seluruh into core yang tersimpan di dunia ini. Persis seperti jumlah wilayah dunia ini yang terbagi atas lima wilayah, masing-masing wilayah rupannya menyimpan inti core masing-masing.


Tanah, inti yang mewakili perbedaan dan pertentangan, bagai dasar dunia, ia juga merupakan sebuah dasar kehancuran. Angin mewakili kebencian dan dendam. Angin meniup kobaran api yang membawa amarah. Bagaikan air, semua itu berakhir menjadi perlawanan yang mengalir keseluruh penjuru. Dan terakhir, maka timbulah sebuah perang dan kehacuran yang menggelegar bagaikan petir. Kelima inti tersebut di beri nama lima perusak tatanan, atau dikenal sebagai bibit kehancuran.


Setelah usaha yang gila, akhirnya kelimanya dapat terkumpul. Entah apa yang dipikirkan para tetua, mereka mengorbankan lima bayi yang baru lahir dalam sebuah ritual tersebut dengan alasan, agar inti tersebut dapat di gunakan.


Singkatnya mereka berhasil dengan tujuan mereka, telah di kabarkan lima bayi dengan kekuatan yang tersimpan dalam inti core. Namun, kelahiran dan kekuatan yang tidak dapat dikendalkan menimbulkan masalah baru.


Kasus yang menyatakan tiga anak bayi dengan kekuatan inti pernah terlahir dalam satu wilayah, hal itu menyebabkan ketidak seimbangan dunia. Dan menyebabkan perburuan besar-besaran pada masanya, sampai akhrinya tidak ada seorang pun yang dapat berhasil mengatasinya dan mereka semua menyerah.


“Namun ada seorang pangeran angkat di kerajaan wilayah Barat yang memiliki tujuan untuk mengumpulkan semua kekuatan tersebut dan mengaung di atasnya. Kabar mengatakan dia adalah anak yang dibuang dari kerajaan wilayah Utara karena ia terlahir cacat dan dibuang keluar wilayah. Namun nyatanya, saat ini ia yang masih hidup dikatakan tidak pernah bisa mati dikalahkan oleh siapapun.” Tutup ratu dengan menghela nafas setelah menjelaskan semua hal itu.


“Jadi dia benar-benar masih hidup? Apa dia tidak dapat dibunuh?”


“Tidak ada yang pernah mengetahui hal itu. Bahkan para tetua sendiri tidak dapat menjelaskan bagaimana dia dapat kembali hidup setelah raganya dibunuh. Tapi yang jelas, dia punya kemampuan menyerap energi dari dalam maupun luar dirinya dan membuat apapun yang ia inginkan, bahkan bahan paling langka dapat ia ciptakan dengan tenaga yang cukup. Dia benar-benar bagaikan seorang monster.” Sahut Raizel yang sejak tadi hanya mengunyah makanannya.


“Kau juga mengetahui sampai sejauh itu!” Arlo tampak terkejut.


“Oh, ayolah Kak. Aku selalu mengikuti kelas para Great Thel. Tapi kau selalu menolak dan memilih jalan-jalan di hutan,” sahut Raizel dengan mengunyah makanannya dan memasang tampang sok-nya.


“Kenapa aku harus mendengar kalimat gadis yang melarikan diri saat ada masalah. Saat aku datang, mereka hanya menceritakan kisah tua yang tidak jelas dan membuat sangat bosan.” Arlo memalingkan wajahnya.


"Siapa yang kau maksud, hah! Aku hanya sedang mencari Bela dan Miku. Hemp!" Raizel membuang muka sambil terus mengunyah makanannya.


Ratu menutup sebagian mulutnya dan tertawa kecil sambil menyenggol-nyenggol lengan pria yang duduk bersebelahan dengan dirinya. Saat raja menoleh balik kearah ratu, mata sitip ancaman ratu menusuk langsung kearahnya dan membuatnya hampir tersedak makanannya sendiri.


“Ah! Oh iya, Arlo. Selain itu, apa kau bisa memenuhi permintaan kami?” sontak raja langsung menyahut kode keras yang diberikan istrinya.


“Apa maksudmu?”


“Putuskan kontrakmu dan serahkan Leo kepada pangran itu. Maka kota ini akan kembali damai.”

__ADS_1


...~ Bibit Kehancuran ~...


__ADS_2