Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 15 - Kesatria Petir.


__ADS_3

Di keesokan harinya. Pagi menyambut dengan cerah dan matahari juga begitu indah muncul dari timur. Rencananya hari ini Arlo dan temannya akan pergi ke rumah asal Arlo untuk ritual tertentu. Tapi Arlo sendiri malah tidak enak badan dan tidak bisa pergi karena beberapa hal lain.


Di kemarin hari Ferdi dan Sina yang tidak mendengar kabar tentang kondisi Tuannya segera mampir dan berkunjung di penginapan tuannya. Tapi mereka merasa sedikit kecewa meski juga mereka merasa senang mendengar tuannya sudah mulai pulih.


“Saya pikir Anda masih terbaring dan tidak melakukan apa-apa supaya kami bisa membantu sesuatu anda” celetuk Ferdi di kekosongan pembicaraan itu. Mereka duduk-duduk di dalam bar penginapan Pak Harto.


“Apa yang kau katakan?, apakah kau tidak senang aku sembuh?” Arlo tertawa mendengarnya.


“Ti.. tidak, bukan begitu maksud saya” Ferdi menjawab dengan canggu dan sedikit takut, lalu ia di tertawakan pasangannya sendiri yaitu Sina.


“Tapi, meski begitu kalian sudah datang saja sudah membuatku sangat senang, terima kasih sudah begitu perhatian pada atasanmu” Arlo menyalami Ferdi sebagai wujud begitu senangnya Arlo. Mereka terlihat begitu dekat dan terasa begitu hangat.


Tapi kehangatan itu tidak berselang lama. Sinar matahari yang awalnya begitu terik, dengan cepat di gantikan oleh awan mendung yang datang dari segala arah, menutupi langit dengan kegelapan.


Firasat Arlo yang muncul tadi malam tiba-tiba kembali muncul hari ini dan rasanya jauh lebih kuat. Hujan turun dengan sangat deras bercampur dengan angin kencang yang mengganggu keseharian warga.


Lalu dari titik yang sangat jauh terdengar jelas di telinga Arlo seseorang berteriak.


“LIGHTNING SWORD, THUNDER SLASH..!” Bomm.. sebuah ledakan tiba-tiba datang dari arah selatan dan membakar rumah warga.

__ADS_1


Seorang pria berdiri dengan gagah mengangkat pedang emas miliknya di puncak bukit. Dari pedang yang ia pegang muncul kilatan-kilatan kuning yang sama dengan warna pedangnya sendiri. Ia menebaskan pedangnya dan mendatangkan petir yang muncul di atas desa itu.


Arlo terlihat semakin kawatir dengan apa yang sedang terjadi. Dia mengamati sekitar dan mengingat sesuatu. Kemudian ia hendak mengatakan sesuatu pada kedua orang yang berbicara dengannya sesaat sebelumnya, tapi mereka sudah tidak ada di hadapannya.


Di puncak bukit yang tinggi itu, pria yang membawa pedang emas itu terus membabatkan pedangnnya dan menjatuhkan kilatan petir pada desa itu. Semua orang berhamburan dan berlarian untuk menyelamatkan diri karena kilat terus menyambar kemana-mana dan membuat beberapa rumah terbakar.


“Hei manusia lemah rendahan. Pergilah ke neraka dan berhenti menghalangi kami!!” ucap pria itu berteriak dengan nada merendahkan.


Pedangnya di ayunkan ke bawah bersamaan dengan melesatnya petir di udara meledakkan perumahan warga. Dari jauh di belakangnya, dua orang berlari mendekat secepat munkin dan berhenti agak jauh dari pria itu. Mereka berdua bersiap dan hendak melawanya, tapi karena merasakan aura kekuatan yang ada di dalamnya sangatlah besar melebihi perkiraan mereka berdua.


“Hei.. berhenti merusak rumah kami!, atau kau akan menuju ajalmu!!” Ferdi berlari menyusul pria itu bersama dengan Sina.


“Jadi, kau ya.. pria dalam ramalan itu?!, ramalan payah seperti itu akan mudah kupatahkan!!” pria itu maju dengan pedangnya yang diselimuti petir di sekitarnya.


Mereka berdua beradu pedang dengan sangat cepat, tebasan demi tebasan saling terbentur, namun tidak ada satu pun yang mengenai sasaran. Bahkan serangan mereka hanya terlihat sekilas dan berpindah dari satu titik ke titik lain dengan begitu cepat. Pertarungan mereka begitu hebat namun tetap saja, Ferdi kualahan dengan kecepatan pria itu.


Sampai suatu saat, pria itu membuat tipuan serangan pada Ferdi. Tebasan yang awalnya terlihat dari atas, berubah seketika saat sampai pada sasaran. Tebasannya berpindah di sisi kiri Ferdi dan melukai lengannya dan lukanya cukup dalam sampai melumpuhkan lengannya. Ferdi jatuh dengan darah yang bercucuran di lengannya dan membasahi tanah di bawahnya.


Sina hanya terdiam karena tau kemampuannya tidak cukup untuk melawan musuh yang tangguh itu. Dia hanya gemetaran memegang senjatanya. Meski kemampuan Ferdi sudah begitu hebat, namun tetap saja ia tidak dapat mengalahkan pria itu. Semakin lama gemetarannya semakin hebat dan membuatnya lemas. Pria itu meninggalkan Ferdi yang dalam kondisi yang terluka parah dan mendekat pada Sina, menodongkan pedangnya berdiap untuk menebas.

__ADS_1


“Jadi nona, apa kau tidak membantu partnermu?, apa kau akan membiarkannya ma-“ pria itu masih menyerang Ferdi yang dalam kondisi lemah dan membuatnya terpojok. Lalu dengan cepat melesat di depan Sina dan menodongkan perangnya tepat di depan leher Sina.


Sina terkejut dan mundur untuk menghindari todongannya. Dia berupaya mengangkat pedangnya dan melawan dalam rasa takutnya yang begitu hebat.


“Tidak, dia tidak akan mati dengan mudah!. Kau hanya kutu yang menghisap nyawa musuhmu!” jawab Sina dengan nada marah meski ia juga takut.


“Oh.. lalu bagaimana dengan ini?!” pria itu kembali melesat pada Ferdi dan menebasnya tanpa ampun. Ferdi hanya bisa menangkis sedikit dari serangan pria itu karena kondisinya semakin lemah. Tubuhnya bersimbah darah karena luka-lukanya dari setiap tebasan. Semakin lama tebasannya semakin kuat dan akhirnya Ferdi tidak bisa menangkisnya lagi dan menerima semua serangan dari musuhnya.


“Apakah hanya ini yang kau punya?!, karna kelihatannya gadis itu terlalu berharap padamu, aku rasa ia akan kecewa. Dari pada kau sedih karena kekecewaannya, lebih baik kubantu dengan kematiannya, aapaa.. boleh..?!” pria itu berjalan perlahan mendekati Sina dan menjilat darah Ferdi dalam pedangnya.


“KAU!!” Sina maju dengan putus asa dan menyerang asal-asalan karena begitu marah dan takut memengaruhi pola pikir dan tubuhnya bekerja. Tebasnnya di tahan dengan mudahnya dan di hempas jatuh ketanah. Tubuhnya terluka sayatan kecil di lengan kirinya.


“Dasar menyedihkan, MATI SAJA!!” pedang menusuk tepat pada perut Sina dan menjatuhkannya langsung di tanah. Wajah Sina sudah kosong seperti tidak ada kehidupan lagi dalam diri Sina.


“KAU!!” Ferdi berlari sempoyongan sambil memegang pedangnya dengan lemah, berusaha menyerang pria itu. Tapi usahanya hanya sia-sia, dengan satu tendangan keras mengenai perutnya. Ferdi sudah jatuh tak berdaya di tanah dan tubuhnya penuh darah. Pria itu membiarkan kedua musuhnya mati perlahan-lahan lahan dan menikmati rasa sakitnya.


“Dengar!!. Berhenti mengganggu tujuan kami, pergi dari sini dan tinggalkan wilayah ini selamanya!!” ujar pria itu dan kembali ke tempatnya untuk menyerang rumah-rumah lagi.


Saat ini Ferdi sudah tidak bisa melakukan apa-apa ditambah dia benar-benar takut akan kematian orang yang disayangnya. Ia berusaha menyeret tubuhnya untuk mendekati Sina.

__ADS_1


Gadis itu sudah tidak berkutik sejak tadi. Tapi aura kehidupannya masih terasa di sekitar. Ferdi terus memaksa tubuhnya untuk bergerak mendekati orang dia anggap penting itu.


Sampai suatu saat..


__ADS_2