
Benar saja, setelah beberapa saat dokter itu pergi. Arlo mulai membuka mata dan menoleh kanan-kiri. Ia merasa tubuhnya berat dan tidak bisa di gerakkan. Orang di sekitarnya begitu bahagia melihat Arlo mulai sadar, terutama Eri yang masih menangis di samping Arlo berbaring. Dia mulai mengenali orang yang ada di sekitarnya dan memasang wajah bingung.
“Bagaimana Arlo, apa sudah enak badan?” tanya paman Eri.
“Yah.. aku rasa kepalaku sudah enakkan, tapi rasanya tubuhku masih sulit di gerakkan” balas Arlo wajahnya tampak lemas.
“Apa kau mau makan, atau minum, atau kau mau sesuatu untuk dimakan” tanya Eri begitu semangat, sambil mengusap air matanya. Arlo menatap Eri sambil tersenyum kecil dan mengatakan sesuatu.
Arlo mengangguk dan meminta satu piring makanan dan dua gelas air putih saja. Dengan segera Eri pergi mengambil makanan di dapur bar dan segera membawanya masuk kedalam ruangan Arlo. Orang lain seperti paman Eri dan ayah Eri pergi meninggalkan mereka berdua. Segera saja Eri menyuapi Arlo yang masih terbaring lemas di atas kasur.
“Jadi.. aku gagal menyelesaikan hutang tugasku yang kemarinya?. Sayang sekali, bagaimana denganmu?” tanya Arlo tapi ia tidak menatap Eri.
“Kau pikir pekerjaanku juga akan selesai?. Mendengar kau pingsan saja, aku segera menyusul kemari dan betapa cemasku padamu” wajah Eri tampak tidak senang dengan kalimat yang di ucapkan Arlo.
“Oh..”
“Hanya O-“
“Terima kasih..”
__ADS_1
Eri meneteskan air mata di pipinya dan terlihat senyuman tipis di bibirnya karena mendengar kalimat Arlo. Arlo tersenyum tipis di bibirnya dan memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan makannya yang di suapi oleh Eri.
Tidak berselang lama setelah Arlo makan, tubuhnya sudah terasa ringan dan dapat di gerakkan, ia mencoba untuk duduk lalu berdiri. Tapi usahanya untuk berdiri di hentikan oleh Eri. Dia bersikeras untuk bangun tapi tetap saja ia tidak bisa menang melawan satu-satunya wanita yang ada di hadapannya.
Kemudian Eri meminta untuk menjelaskan Apa yang sebenarnya terjadi di tempat Arlo bekerja. Eri begitu tidak percaya dan bahkan tertawa mendengar perkataan Arlo. Arlo malah ikut tersenyum dan menertawainya, terlihat ia sangat tidak percaya dengan omongannya.
“Dengar Eri, aku tidak berbohong atau hanya mengarang cerita tapi ini benar-benar terjadi. Saat itu, ketika setelah bayangan itu memberikan permintaanku, aku merasa ada sesuatu dalam tubuhku yang mau keluar.
Tapi karena aku bingung, rasanya yang ingin keluar tadi malah menuju ke kepalaku dan meledak di sana, rasanya seperti di kejutkan namun gelombangnya lebih besar. Mungkin ini memang terdengar konyol tapi, setelah ledakan itu aku bisa merasakan sihir di tubuhku dan mengendalikannya, tapi setelah aku keluarkan sihirnya. Aku malah pingsan tanpa sebab” Ujar Arlo wajahnya benar-benar serius.
Akhirnya Eri tersenyum dan mengangguk percaya pada perkataan Arlo, tapi Arlo masih tidak mempercayainya dan menatap aneh pada Eri. Eri tertawa geli dan semakin keras ia tertawa, Karena hal itu Arlo ikut tertawa juga.
Kemudian secara diam-diam Arlo mengangkat tangan kanannya dan mengeluarkan sebuah cahaya biru lagi tanpa sepengetahuan Eri yang duduk di sampingnnya membereskan piring yang di gunkan Arlo sebelumnya.
“Kau itu berat tau, jadi jangan terlalu membebaniku!” gertak Eri, di samping Arlo.
“Maaf, bukanya kau yang memaksa untuk menuntunku?, tapi terima kasih sudah mau membantuku berjalan”
“Ya.. ya.., kau itu selalu begitu..” Eri tersenyum manis, menatap Arlo.
__ADS_1
“Tentu saj-, eh.. eh..” mereka berdua hampir saja jatuh karena Arlo tidak sadar berdiri sendiri dan sempoyongan.
Di lantai bawah, terlihat tiga orang berdiri sambil berbincang-bincang ringan dan bercanda. Mereka bukanlah orang asing bagi Arlo dan Eri. Pak Harto yang berdiri di balik meja panjang bar, paman Eri dan atasan Arlo yang duduk di depannya tertawa bersama dan bercanda sambil minum dari buatan pak Harto. Kemudian atasan Arlo melihat kedua orang itu menuruni tangga secara perlahan-lahan dan menyapanya.
“Bagaimana Arlo, sudah enakkan?” tanya atasan Arlo uang berdiri sebelahan dengan paman Eri.
“Yah.. sudah terasa ringan, karena makanan tadi kurasa. Maaf tuan, lagi-lagi aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan benar” Arlo menggaruk kepalannya dan menunduk merasa bersalah.
“Tidak masalah, itu juga salahku karena menyuruhmu untuk mengatasi kepala itu. Tapi, semoga kau cepat sembuh, jadi bisa segera membantuku lagi, ya..?”
“Tentu tuan!” wajah Arlo begitu bersemangat.
Malam itu Arlo pergi keluar dari penginapan dan pergi keluar dari perbatasan. Dengan jubahnya yang hitam pekat itu, siapapun tidak dapat mengenalinya. Setelah beberapa saat ia berjalan, sampai di dalam hutan di tengah malam.
Arlo mengangkat kedua tangannya dan tangannya lagi-lagi mengeluarkan cahaya yang berwarna biru.
Tetapi kali ini cahayanya berwarna lebih gelap dan sinarnya lebih terang. Dengan satu usapan dari tangannya, dia mengarahkannya pada salah satu pohon dan membuat lubang di tengah pohon itu. Pohonya berlubang dan terpotong dengan rapi dan terlihat beberapa tetes air yang keluar dari batang pohon itu.
“Air? Apakah sihirnya adalah elemental? Dari pada core yang sangat berat itu sih..”
__ADS_1
Arlo mencoba kembali tangannya untuk membuat lubang dari pohon itu. Tapi percobaannya gagal kali ini dan seterusnya sampai ia menjadi benar-benar bingung. Pada akhirnya tidak ada satupun sihir yang dapat ia keluarkan lagi. Dia pergi meninggalkan hutan itu dan kembali ke penginapannya.
Di tengah perjalanan kembali, dia merasa ada sesuatu yang datang di dalam hutan itu dengan kekuatan yang dasyat dan mengganggu desa lagi, tapi ia hanya beranggapan itu hanya firasatnya. Dia melanjutkan perjalanannya dan melihat seseorang berdiri di depan gerbang setelah ia menyebrang. Seorang pria yang menatap fokus pada desa itu dan memegang sesuatu di tangnnya. Tapi Arlo tidak mempedulikannya lagi, sihir yang ia pakai tadi sudah cukup menghabiskan sisa energinya.