
Cahaya yang bersinar sangat terang membuka jembatan yang menghubungkan antara kekuasaan besar dunia Iblis dan dunia manusia. Arlo bersama seluruh pasukannya melangkah menembus cahaya dan lenyap di baliknya tanpa meninggalkan segores jejak apapun.
Senyuman di bibirnya mengakiri silau cahaya dan membuka dunia baru. Kicauan burung yang sudah lama tidak terdengar, kini mengingang di kepala mereka semua dan menuntun ke dalam dunia hijau yang sangat cerah.
“Kita sampai!” teriak Ferdi semringah melihat sekelilingnya.
Hutan dengan pohon besar dan pendek yang sangat hijau nan sejuk sejauh mata memandang. Cahaya silau matahari yang baru masuk ke dalam hutan mengingatkan Arlo saat ia bangun dari tidurnya saat akan pergi ke desa saat itu. Semua menatap bahagia pada Arlo tanpa terkecuali dan memasang wajah tanya menunggu perintah. Arlo hanya menghela nafas atas tatapan itu dan berbalik badan.
“Yah! baiklah, aku akan angkat bicara. Kalian berdua, bukankah kalian pernah sampai di dunia manusia selama sesaat? Kalian tidak asing dengan dasar dalam kehidupan di sini, kan?” kalimat Arlo dangan wajah malas menoleh pada mereka semua.
“Yah.. kami sebelumnya juga sudah di beri tau oleh Ratu bahwa keuangan di sini juga sama, tapi kami harus menggunakan sihir untuk menyesuaikan”
“Bagus-bagus. Tapi kita harus tetap menghemat keuangan dan sekarang kita harus mencari makan malam. Eh, maksud ku sarapan untuk kita disini, dari hutan ini.
Pembagian tugas saja ya? Khira dan bela, kalian cari daging apa saja yang kalian temukan dari hewan yang tinggal di dalam hutan ini, tapi usahakan jangan binatang yang bercakar yaa. Kalian berdua bisa cari buah dan daun yang bisa dimakan, kalian tau kan?”
“Baik!” sahut semua yang mendapat bagian dan segera berangkat.
Menyisakan Arlo dan Eri yang masih berdiri di tempat masing-masing, dengan wajah anehnya Eri memukul pudak pria di depannya.
“Hoi Arlo, sekarang kita berdua apa” tanya Eri menuh kecurigaan.
“Kita berduaan saja di sini,
Bercanda, tentu saja kita cari kayu bakar untuk memasaknya.. haha..” Arlo tertawa paksa karena Eri terlihat tidak peduli.
“Tidak lucu Tuan..” Eri berbalik dan meninggalkan Arlo seorang.
“Ehh! Nona! Tunggu!”
...(----------------)...
Seorang gadis bangun dari tidurnya di atas ranjang dan mengangkat perlahan tubuhnya yang lemah gemulai. Pupil mata yang berwarna kuning mulai terlihat setelah penuh usaha untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Dia beranjak dari ranjangnya dan masuk ke sebuah ruangan lain di sisi kanannya. Terdengar langkah kaki dari luar perlahan mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
“Nona, apa Anda sudah bangun? Permisi saya masuk..” seorang wanita membawa kain baju masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah linglung.
__ADS_1
“Ya, aku sedang mandi, letakkan aja di atas kasur” teriak seseorang dari sisi lain ruangan.
Wanita itu mengangguk meski tau dia tidak terlihat dan melangkah keluar dari ruangan. Gadis itu keluar dengan handuk yang menutupi semua tubuhnya dan kembali masuk ke dalam ruangan sebelumnya dengan membawa kain yang tergeletak di kasur. Beberapa saat kemudian, keluar seorang gadis memakai gaun singlet biasa berwarna abu-abu dengan rambut panjang melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
Dalam ruangan singgasana yang luas, seorang Raja duduk dengan hormat bersama dengan para Mentri membicarakan banyak masalah dalam kekuasaannya. Percakapan penting tentang masalah kerajaan sudah biasa sebagai sarapan pagi.
“Laporan itu cukup mendadak. Dengan kondisi saat ini, kemungkinan besar kesatria kerajaan belum bisa terus membantu di tambah lagi banyak perampokan yang terjadi. Hah.. kenapa iblis menjijikan itu muncul..?” seorang Raja yang terhormat duduk di singgasananya mengeluh dengan masalah yang tiba-tiba.
“Maaf Raja, tapi kami kemarin mendapat laporan baru bahwa Black Desert yang terletak di pulau seberang telah terdeteksi aktif terutama pada retakan itu..” salah satu Mentri yang tidak jauh dari tangga singgasana kembali duduk setelah melaporkan semua itu.
Terdengar jelas langkah kaki seseorang dari luar pintu masuk yang sangat besar dan membukanya seorang. Putri cantik dengan gaun singletnya perlahan masuk mengahadap sang Raja dan tunduk di depannya.
“Raja, aku akan memimpin pasukan untuk hari ini dan besok. Mengingat kondisinya semakin buruk, pasukan dan para kesatria harus di paksa!” dengan tegas gadis itu menunduk hormat atas kalimatnya.
“Mau apa kau dengan para kesatria? Kau ini seorang putri, bagaimana bisa kau akan memimpin perang. Di tambah lagi, hari ini para pangeran akan datang untuk sayambara pernikahanmu. Tidak ada ijin untukmu hari ini!”
“Hah! kau tidak pernah membicarakan apapun tentang itu. Bagaimana bisa hal itu terjadi?!” gadis itu mengangkat kepalanya dengan alis mengkerut.
“Hah.. bila di bicarakan denganmu, bukankah sudah jelas kau akan menolak seperti ini? Sudah, dengar saja yang aku katakan” dengan sabar Raja membujuk putrinya.
“Raja beberapa jam lagi, mereka akan sampai. Kita harus memberi sambutan untuk kehadiran mereka”
“Yah.. siapkan sambutannya, aku juga akan membujuk gadis itu”
...(----------------)...
Semua persediaan yang di minta Arlo dapat terpenuhi dan di kumpulakan di bawah satu puhon yang besar. Senyuman bangga tergores di bibir Arlo menatap semua yang ada di sekitarnya.
“Baikalah semua, kerja bagus. Sekarang tinggal memasaknya, akan kutunjukkan memasak daging mentah ini” Arlo mendekati kayu yang di tumpuk rapi dan menatanya dalam tumpukan yang melingkar dan mengeluarkan sesuatu lagi di tangannya, sesuatu yang keluar itu memebuat semua orang kecuali Eri terbelalak.
Core api yang tidak pernah mereka lihat dan bahkan hanya di anggap kisah di balik buku, kini benar-benar ada di hadapan mata. Perlahan Arlo mendekatkannya ke kayu dan core itu langsung membakarnya secara perlahan hingga benar-benar rata kemudian di tambah kayu. Setelah melihat hal itu, wajah mereka berubah suram kecewa.
“Tuan, apa tidak ada cara lain? Benda ini hanya untuk menyalakan api?” ujar Ferdi mendekati sesuatu di tangan Arlo.
“Ehh? bukankah ini juga api. Selain itu, aku juga sudah menggunakannya sejak dulu. Ini menghemat tenaga, kau tau?” jawab malas Arlo.
__ADS_1
Arlo menancapkan dua kayu di antara api dan memasang palangan yang tertahan oleh kedua kayu di bawahnya dan melayang agak tinggi di atasnya. Semua mulai paham dan mengangguk-angguk dengan yang di lakuakan Arlo dan mulai membantu.
“Baiklah, gadis-gadis akan mencuci daunnya di sungai dekat sini dan sisanya memasak daging bersamaku, sudah jelas? Permisi sebentar, aku akan mencari bumbu yang mudah di dapat”
“Ya!”
Eri, Bela, dan Sina beranjak meninggalkan titik itu dan pergi mencari sungai yang di katakan oleh Arlo dengan membawa begitu banyak daun yang bisa di makan. Sedangkan Arlo juga pergi ke arah yang berlawanan meninggalkan dua pria mematangkan daging di sana.
Gadis-gadis itu menemukan sebuah aliran yang kecil dan sangat jernih. Tanpa pikir panjang, mereka segera mencuci semua yang mereka bawa dengan tutunan Eri secara perlahan. Perlahan mereka membersihkan sambil bersenda gurau.
“Nona, apa kau sangat mencintai Tuan Arlo?” celetuk Bela mamasang wajah polos pada gadis yang duduk di sebelahnya.
“Hah?”
“Jangan banyak bicara! Dasar anak kecil bodoh!” pukulan keras dari belakang yang di lakukan oleh Sina tepat mengenai kepala Bela hingga ia terjungkal.
“Hihi.. makanya jangan asal ngomong anak kecil..”
“Selain itu, di mana kehormatanmu sebagai seorang kesatria dengan mengatakan itu?” kalimat Sina dengan nada marah.
“Hei-hei, bukankah kita tetap saja seorang wanita? Mau bagaimana pun..”
“Sudah-sudah. Ngomong-ngomong, kenapa kau memaksakan diri untuk ikut, apa karena Tuan Khira?” celetuk Eri menghentikan petengkaran mereka berdua.
“Tidak! Tentu saja tidak, aku-“
kalimat Bela terhenti karena suara semak yang bergerak agak jauh dari mereka berada. Kemudian di sisi raungan yang sangat kuat menembus telinga mereka bertiga dan menarik perhatian sekitar hingga burung-burung terbang meninggalkan titik itu.
“Apa itu binatang”
Tiba-tiba air yang mereka gunakan untuk membersihkan daun-daun itu berubah menjadi merah darah yang sangat kental. Penampakan itu memebuat mual semua yang ada di sana, darah berwarna merah kental mengalir perlahan di depan mereka berdiri. Kemudia disusul sesuatu yang melesat dari balik semak dan menerjang Eri yang baru bangun karena terkejutnya.
“Akh!”
“Nona!!”
__ADS_1