Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 37- Bayangan Nyawa.


__ADS_3

Eri bersama Bela bertarung di sisi barat kota dan hendak menyusul dua orang yang ada di sisi utara kota. Tapi nyatanya mereka berdua juga sudah kembali dan membawa laporan selesai.


“Sepertinya mereka sudah berhenti datang. Kita menyusul Arlo dan membantunya,”


“Baik, Nona.”


Ke empat orang melesat kembali ke sisi selatan kota dan menyusul Arlo, rencananya untuk membantu bertarung di sana. Rupanya Arlo sudah tidak ada dan meninggakan jejak pertarungan ke arah utara. Mereka semua tidak habis pikir, bagaimana dia pergi dengan secepat itu dan membereskan titik ini dengan begitu cepat.


“Sepertinya Arlo juga menyusul Tuan Khira, dengan meninggalkan jejak ini. Kita juga berangkat!”


“Tapi, bagaimana bila ada iblis yang bergerak? Ini adalah garis depan.”


“Harusnya para kesatria itu bertarung di sini, kemana mereka semua?


Tak masalah, prioritas kita ada di tangan Arlo. Kita tunggu perintah saja,” keputusan Eri terdengar terlalu beresiko.


Pada akhirnya, mereka pergi ke arah utara dari sisi kota dan langsung menuju depan kastil kerajaan. Benar saja, mereka melihat Arlo sedang berlari terburu-buru dengan sabit besar di punggungnya. Mereka berusaha mengejar, tapi kelihatannya Arlo jauh lebih cepat dari yang mereka semua pikirkan.


“Astaga anak itu.. kupikir dia akan baik-baik saja bila sendirian.” Gumam Arlo dengan perasaan cemas yang terlukis di wajahnya.


Dari kejauhan, karena usahanya untuk mengejar tidaklah membuahakan hasil, maka mereka semua berusaha memanggil Arlo dengan sekuat tenaga. Entah kenapa dengan telingannya, lagi-lagi dia tidak mendengar panggilan mereka berempat dan malah semakin jauh menuju kastil, menghilang di balik tembok yang besar yang membatasi antara jalur kota dan kastil.


“Orang tua itu tidak mendengar kita.. sebaiknya kita mengikutinya saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi bila ia harus menyusup ke dalam kastil.” Jelas Eri terus menatap kastil yang agak jauh dari mereka.


“Apa dia akan mendaftar sayambara sang putri?” Celetuk Bela lagi-lagi memasang wajah polosnya.


Sepertinya tidak ada yang peduli dengan kalimat yang di katakan oleh gadis itu dan semuanya hanya fokus menatap Eri. Gadis konyol ini tidak pernah berhenti bercanda saat dalam kondisi darurat seperti ini, batin Eri.


“Baiklah! Karena kondisinya membaik, aku dan Nona Bela akan menyusul Arlo dan kalian berdua berjaga di sisi timur kota dan pastikan di sana sudah aman!”


“Baik!”

__ADS_1


Memecah lagi menjadi dua, rencananya Eri bersama dengan Bela langsung ke arah utara menuju kastil dan menyusup kedalamnya. Sedangkan sisanya sesuai perintah Eri, mereka akan berjaga di sisi timur kota jaga-jaga bila iblis bergerak lagi. Tapi sepertinya sesuatu telah menghadang mereka berempat.


“Sepertinya ini akan repot sesuai dengan yang ia katakan.”


...(----------------)...


Dengan cepat Arlo melesat mengikuti ketiga orang di depannya dan berteriak memanggil seorang gadis yang berlari paling belakang. Gadis itu langsung berbalik dan menatap Arlo penuh kewaspadaan, mengingat pakaian yang di gunakan Arlo sedikit mencurigakan.


“Hei! Nona! Tolong kembalikan teman saya!” triak Arlo dari kejauhan.


“Teman? Baiklah, tapi sebelumnya tunjukkan identitasmu!”


Arlo terdiam sesaat setelah mendengar kalimat itu, identitas? Bagaimana kalau dia tau akau seorang pangeran yang seharusnya mati puluhan tahun yang lalu. Saat Arlo sedang berpikir keras tentang dirinya, terdengar ledakan besar di belakang mereka dan di susul teriakan para kesatria yang ada di medan tempur.


Kedua orang itu langsung menuju sumber suara dan memastikan apa yang terjadi. Dari dekat rupanya gadis ini terlihat mengerikan dengan pedang besar yang hanya di angkat dengan satu tangan, batin Arlo.


Dia melesat jauh lebih cepat sampai di tujuan dan mendahului gadis itu, nafasnya yang terhengah-hengah berhenti dan terkejut dengan pemandangan mengerikan di hadapannya.


Rupannya seorang iblis dengan aura besar menguap di sekitar tubuh dengan tersenyum lebar. Seorang pria dengan empat tangan yang memegang dua pedang kembar di tangan atas dan dua tombak yang terbakar dengan aura gelap di tangan bawah. Mereka semua melesat dalam sekali hempas, termasuk Eri dan teman-temannya yang tertahan, hendak menyusul Arlo.


“Monster apa lagi ini," gumam Putri yang baru tiba.


Tanpa ragu-ragu, gadis itu langsung berlari dengan serangan terbuka dan tiba-tiba lenyap tepat di hdapan iblis itu. Tanpa terduga, kecepatan serangan yang tidak masuk akal tepat mengenai lengan targetnya, pedang besar di tangan gadis itu terlihat seperti hanya sebuah ranting.


Meski Serangan secepat itu masih sempat di tahan dengan pedang di tangan kirinya, meski nyatanya pedang itu juga patah karena pukulan gadis itu sangat kuat bersamaan dengan angin yang menghempas di belakangnya. Namun, Lagi-lagi hempasan dari pedang di tangan kanannya dengan mudah melesatkan Putri cukup jauh dari titik pertarungan mereka.


“Haha! Tau saja, melawan para kesatria memanglah menyenangkan," iblis itu tertawa lepas, dan senyuman mengerikan tergores di bibirnya yang lebar.


Wajah yang tidak asing di benak Arlo mulai tergambar dalam pikirannya. Seorang pria yang sama saat ia harus mengambil kembali core api yang di curi. Gambaran semakin jelas dengan dua tanduk besar yang menyala-nyala gelap.


“Daniel! Berani lagi kau menginjak tanah kehidupan, Ha!” Teriak Arlo dari kejauhan membuat pria itu menoleh berat.

__ADS_1


“Ohh, kawan lama? kau tidak bertambah tua yaa? Baguslah, kekuatan itu akan cukup untuk bersenang-senang, kan? Pangeran Terhormat, Arlo. hihi..”


Iblis itu langsung melesat ke arah Arlo berdiri, sembari menghempaskan tombaknya. Arlo dengan keras menahan tebasan yang bergerak sama cepatnya dengan tobak yang ia lesatkan. Karena pukulan keras dari pedangnya, tombaknya berhasil menusuk tepat di perut Arlo dan membuatnya meringis kesakitan. Iblis itu melirik seseorang yang tergeletak di dekat pertempuran mereka, tersenyum menatapnya.


“Lho? Gadis ini, kau tau? Di cukup merepotan ku loo. Tapi sekarang dia tidak terlihat menarik seperti sebelumnya, apa yang terjadi yaa, hihi..” Tatapan dengan senyuman meledek, tepat di depan wajah Arlo.


“Tutup mulutmu dasar iblis!” Arlo menghempaskan Pria itu jauh ke arah belakang meski sebenarnya itu tidaklah cukup kuat.


Tanpa menunggu apapun, Arlo langsung melesat di atasnya dan menghempaskan sabitnya tepat di atas kepala. Pedangnya berhasil menahan sabit Arlo sesaat dan membuatnya harus terpukul mundur. Tiba-tiba dari sisi mereka bertarung, hempasan angin melesat pada mereka berdua dan memotong lengan masing-masing.


Gadis yang sama dengan pedangnya, menebas sembarangan, hingga memotong lengan kanan Arlo dan kedua lengan kiri iblis itu.


“Cih!" Arlo melesat mundur dengan sabitnya yang tergeletak bersama dengan tangan kanannya yang berlumuran darah. Mau separah apapun lukanya, perlahan lengan itu mencair dan menguap, kembali ke tempatnya bersamaan dengan sabit yang sudah di tangan kirinya. Arlo menatap terang pada gadis itu berharap dia tidak melihatnya.


Di sisi lain, iblis itu berjalan mendekati beberapa kesatria yang tergeletak lemas karena ledakannya. Tangannya yang kotor menyentuh satu persatu para kesatria itu dan menyerap daya hidupnya, memulihkan kedua lengannya yang terpotong. Gadis itu tidak terlalu merespon, tau sendiri itu juga iblis.


Pertempuran di lanjutkan dengan serangan terbuka yang di berikan gadis itu, sepertinya dia masih belim sadar kalau tangan Arlo sudah pulih. Arlo terlihat tidak peduli dengan dirinya dan hanya mendukung dari belakang. Setiap tebasan yang di beriakan gadis itu selalu bisa di tahan dan di kembalikan dengan tombaknya. Pada akhirnya gadis itu melesat jauh dan menubruk tembok kota dan terbaring lemas di bawahnya.


“Sampai aku menggunakan artribut sempurna, apa manusia sekuat ini?”


“Kau tau sendiri, kan? Kau tidak akan pernah bisa membunuhku atau bahkan mengalahkanku!” Teriak Arlo, melesat di hadapannya saat lengah, menebas angin yang memotong lengan kiri atasnya.


“Apa kau seyakin itu? aku rasa gadis itu akan cukup untuk mengalahkanmu, kan?” Iblis itu melesat, langsung dimana Eri tebaring lemas.


Dia sudah berdiri tepat di sebelah Eri dan hendak menancapkan pedangnnya. Tidak tau seseorang telah memotong lagi lengan kanannya yang memegang pedang, tanpa tau siapa yang melakukannya. Darah mengalir di mana-mana, dan semakin di perburuk saat Arlo tiba di dekatnya. Matanya melotot tajam dan menebaskan sabitnya tepat di atas kepala.


Saat sudah melayang tepat dan hampir menggores tanduk besar di kepalanya. Sabit Arlo masih sempat tertahan dengan tombaknya dan menghempas Arlo mundur, senyuman menggores bibir pria itu dan tombaknya langsung di tancapakan tepat di perut Eri.


Arlo terdiam di tempat, dengan matanya terbelalak tidak percaya yang ia lihat di depan mata.


“Nona? Nona!” Arlo berdiri di tempat dengan sabitnya yang terbakar hebat.

__ADS_1


“Ohh..” iblis itu malah semakin nancapkan tobaknya di tubuh gadis itu, membuat darah tercecer di mana-mana.


Kedua tangannya kembali utuh setelah dia menyerap seluruh kehidupan di dalam diri para kesatria. Dia tersenyum lebar, kemenangan besar sudah ada di depan mata dan tidak akan terelakan lagi.


__ADS_2