Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 54 - Arah utara.


__ADS_3

Setelah sesaat membaca secarik keretas itu, tiba-tiba kertasnya terbakar dengan sendirinya dan lenyap dari genggaman Arlo. Dia tertengun bukan karena kertasnya menghilang begitu saja, melainkan mempertanyakan kebenaran siapa sebenarnya Pangeran Verles ini. Kenapa dia pernah ada di sini dan kenapa dia juga pergi dari sini dengan meninggalkan kehancuran ini.


Semua itu mulai menyelimuti pikiran Arlo saat itu juga. Tanpa tau siapa sebenarnya Verles sendiri, dia mengikuti perintahnya begitu saja dan pergi.


Dari kejauhan, Eri dengan lantang memanggil dirinya, memecah lamunannya.


“Arlo, apa bisa bantu…! sebentar…! ini cukup, harh…! Cukup sulit!” ucap Eri dengan lantang dari kejauhan.


“Yaa!” sahut Arlo yang masih memikirkan hal yang sama.


Sampai Arlo menyusul bertarung kembali dengan para iblis yang menjaga pohon itu, namun pada akhirnya mereka pulih utuh kembali dan hidup kembali, siap bertarung.


“Ini tidak akan berakhir, Nona! Kita cari kesempatan dan melarikan diri!” teriak Arlo.


“Baik!”


Mereka berdua menyerang dan mencari kesempatan untuk melarikan diri, sebelum mereka sempat pulih kembali dan menyerang. Sampai sebuah kesempatan mengantarkan mereka berlari ke arah utara dan kembali masuk ke dalam hutan. Kembali ke dalam kegelapan dengan di sinari cahaya dari Core Api yang melayang-layang di depan mereka berdua.


“Lalu sekarang kita akan kemana, Arlo?” celetuk Eri, membuka pembicaraan.


“Dengar Nona. Aku tadi menemukan secarik kertas yang mengatakan hal yang sebenarnya terjadi di sini. Yang jelas, pulau ini tertelan oleh kekuatannya sendiri, oleh sesuatu yang berada di ujung utara,” perjelas Arlo, memandang tajam jalan yang ada di depannya.


“Sesuatu apa itu? Apa benda yang di katakan oleh Verles kemarin?”


“Mungkin saja itu terjadi, tapi aku masih belum yakin dengan hal itu….”


...(----------------)...


Kembali di keberadaan para kawanan Arlo di Last Land, mereka berpencar untuk mencari keberadaan Sina yang sedang melarikan diri karena mungkin kesalahan Ferdi. Karena hal itulah yang dia pikirkannya sejak tadi, sembari mencari keberadaan Sina bersama dengan Trisia di dalam hutan lebat itu.


“Apa menurutmu gadis itu akan lewat sini? Ini sudah semakin dalam ke hutan. Bila kita terus saja- ehh!” Trisia belum sempat menyelesaikan kalimatnya di tarik oleh Ferdi karena sesuatu.


“Aku mendengar sesuatu, di depan!” ucap Ferdi, mereka berdua sudah ada di balik semak-semak untuk bersembunyi.


“Itu, kan? kawanan rusa yang tadi, tapi di mana gadis itu?” bisik Trisia dengan lembut tepat di sebelah telinga Ferdi, karena mereka sangat berdekatan.


“Ehh! Tolong jangan terlalu dekat, Trisia. Di sini sangat gerah,” sahut Ferdi, menutupi rasa malunya.


“Hah! bukankah kau yang menarikku! Memangnya apa yang akan kau lakukan untuk menemukan gadis itu!” Trisia memalingkan wajah sembari melipat tanganya dengan pipi yang sedikit merah.

__ADS_1


“Akan ku temukan, itu pasti!” kalimat terakhir yang terdengar di antara mereka berdua.


Mereka langsung berlari melanjutkan pencariannya, sembari berteriak-teriak memanggil nama Sina yang entah di mana keberadaannya saat ini. Di tambah lagi, mereka berdua semakin masuk ke dalam hutan dan hampir sampai di ujung timur. Firasat buruk di pikiran Trisia mulai terlihat melalui wajahnya yang terkejut karena mendengar raungan keras tidak jauh dari mereka berdiri.


“A-apa itu!” ucapnya, sedikit gemetaran.


“Bukankah itu singa? Heh!” Ferdi ikut terkejut dengan gadis di sampingnya yang sudah gemetaran mendengar raungan itu.


“Hei-hei, apa ini? Bukannya kau bisa bertarung? Kau taku- mpp!” mulut pria itu seketika di bungkam oleh tungkak kaki dengan alas egrang di kaki gadis itu.


“Tutup mulutmu, Bibir Murah! Apa kau pikir aku akan ketakutan dengan hal seperti itu!” sahut gadis itu menarik kembali kakinya dari wajah Ferdi.


Ferdi hanya bisa menghela nafas sembari mengusap mulutnya yang kotor, tau-tau monster ini benar-benar punya mulut yang tak terkalahkan. Sampai raungan itu terdengar semakin keras, seakan sumber suaranya tepat di depan mereka berdua.


“Apa itu singa?” celetuk Ferdi menunjuk sesuatu di depan mereka berdua, dengan wajah datar.


Benar saja, dua ekor singa sedang berdiri menatap tajam ke arah mereka berdua.


“Si-singa!” teriak Trisia.


Sontak karena hal itu, salah satu singa langsung melompat ke arah mereka berdua dengan cakar dan gigi-giginya yang sudah siap menggores daging mereka.


Refleksi atau sejenisnya, Ferdi langsung menerjang gadis itu untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi jarak sangat tidak memihak dirinya kali ini, singa itu tepat menggigit lengan kanan Ferdi hingga darah bercucuran di mana-mana.


“Cih! Kau ini benar-benar merepotka-khahk!”


Mereka berdua terlempar di balik semak-semak sesaat sebelum kedua singa itu menemukannya kembali. Saat wajah-wajah dengan nafsu buas itu sudah menatap dengan tajamnya, sontak mereka berdua langsung bangun dan berlari secepat mungkin. Dengan Ferdi ada di depan, menarik tangan Trisia yang melotot ketakutan di belakangnya.


Sampai secercah cahaya memancar di ujung hutan, Ferdi langsung menarik tangan gadis itu untuk melompat keluar, tiba mereka terbaring lemas di tempat baru yang sangat asing. Sedangkan kedua singa itu langsung berhenti bahkan berbalik setelah mendapati mangsanya berada di luar jangkauan, seakan tempat itu tabu untuk di injak.


“Hah… hah… sepertinya kita… arkkh!” Ferdi mengerang ke sakitan dengan luka parah yang ada di lengan kananya.


“Ini sangat merepotkan!” lanjutnya, bangun dengan menahan darah yang keluar dari lengan kanannya.


Sedangkan Trisia masih melamun dengan kedua bola matanya yang terbuka lebar, tak kunjung berkedip. Sampai Ferdi menepuk pundak gadis itu dengan tangannya yang penuh darah.


“Hei! Kau ini kenapa?” celetuk Ferdi yang berdiri di belakang gadis itu duduk, menyangga tubuhnya yang lemas.


“Si-singa! Singa itu…!”

__ADS_1


“Hah?”


“Singa itu… yang memakan ibu… dia memakan ibuku! Aaa!!” teriak gadis itu, tidak karuan.


Dia menggenggam kuat-kuat kepalanya yang acak-acakan dengan terus menatap ke bawah. Matanya yang masih terbuka lebar-lebar, perlahan mengeluarkan air mata dengan derasnya. Ferdi sendiri tidak habis pikir dengan kondisi gadis ini, mungkin dunia manusia memang sedikit berbeda dari pada tanah kematian yang ia tau.


Sampai pada akhirnya, dia duduk di sebelah gadis itu dengan menahan lengan kananya. Lalu dia meraih kepala gadis itu dan menyandarkan di tubuhnya. Sesaat saja, gadis itu menangis dengan tersedu-sedu di dalam pelukan Ferdi yang masih menahan rasa sakit di lengannya.


“Berhentilah menangis, kawan. Ini bukanlah Trisa yang… bukanlah Trisia yang… Trisia yang jutek!” ucap Ferdi, usaha sedikit menghibur.


Namun sama sekali tidak di respon sedikitpun tidak.


“Apa…? Apa memang seburuk itu sebuah kenangan?” lanjutnya, menatap kosong ke arah gadis itu.


Tidak ada sekecap katapun dari mulut gadis itu, untuk setidaknya menjawab kalimat Ferdi. Sampai dia mengangkat kembali wajahnya dan mulai tenang. Sadar-sadar pria di sampingnya sudah berlumuran darah dan tersenyum ke arahnya.


“Hoi! Kau ini bodoh ya! Tanganmu penuh darah seperti ini, apa kau tidak merasa sakit? Kau ini bodoh, ya!” ucap gadis itu sembari merobek kain bajunya dan membungkus luka berdarah pria di depannya.


“Yah, memang seperti itulah yang terjadi….”


Ferdi hanya tersenyum menyembunyikan rasa kesalnya, tau-tau gadis ini sebenarnya sedang berpura-pura atau tidak. Sesaat di sana, suasanya tiba-tiba terasa sedikit canggung. Terutama saat-saat dia sedang membungkus luka di tubuh Ferdi, tiba-tiba saja rasanya sangat memalukan, padahal dia tidak saling mengenal.


“Menurutmu… apa si jutek itu akan baik-baik saja?” celetuk Trisia, menunduk dengan pipinya yang memerah sembari mengikat perban kain yang ada di lengan Ferdi.


“Aku rasa dia akan baik-baik saja, dia itu Sina loo. Haha….” Tertawa lepas begitu saja seakan lukanya tidak pernah ada.


Tawa pria ini terasa sangat hangat. Ku pikir dia akan baik-baik saja, meski luka separah apapun yang akan menggores tubuhnya. apa yang akan terjadi setelah Arlo datang dan mengambilnya kembali?


Sedikit Referensi, ya.


Karena mungkin tidak terlalu jelas sebelumnya, Verles dan Trisia adalah manusia murni tanpa darah campuran, mereka berdua murni adalah seorang manusia.


Untuk Core Api itu, sebenarnya berasal dari Soul Of Dark atas kepemilikan seseorang, tapi kini di ambil alih oleh Arlo. Ceritanya di lain waktu.


Biar lebih jelas, tanah kematian atau dunia iblis itu terbagi menjadi 6 wilayah yang sangat besar, yang salah satunya tentu Soul Of Dark. Wilayahnya terbagi atas kerajaan besar yang terletak di sisi Barat Laut, Utara, Timur, Selatan, Tenggara, dan Barat. Dengan Soul Of Dark yang terdapat di wilayah Tenggara.


Kekuasaan terbagi seperti pada umunya, sang raja iblis yang terkenal. Hanya dua kerajaan yang dipimpin oleh dua ratu, yang merupakan Ratu Alyla Bharat di tenggara dan Ratu **Filora Alice di sisi barat laut, lalu sisanya adalah para raja iblis yang perkasa. Pembagian wilayah itu terjadi karena Core yang muncul di tanah kematian sejak dahulu kala.


~Sekian**.

__ADS_1


__ADS_2