
Daniel menebas lengan kiri Eri tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk setidaknya beristirahat. Dia terus mengejar kemanapun gadis itu beranjak pergi. Dengan lengannya berlumuran darah, tubuhnya yang sudah mencapai batas tersungkur di tepi sungai. Sungai yang menggenang darah di seluruhnya. Mata Eri tidak berkedip selama sesaat sampai akhirnya Daniel datang dan hendak mengakhiri semuanya.
Dia melopat dan berdiri tepat di depan Eri, Eri berusaha menjaga jarak dengan menyeret tubuhnya perlahan-lahan menjauh sebisa mungkin dari pria itu, bersama pedangnya yang sudah seakan mati. Dengan senyuman lebarnya, Daniel berjalan perlahan-lahan mendekati gadis itu sambil menyeret pedang besar di tangannya.
“Kenapa kau kau terus lari…? Bagaimana dengan keangkuhanmu sebelumnya, Nona Eri…? bangun dan lawan aku! Atau kau mati dengan tertusuk di dadamu ini…!!” tepat saat kalimat Daniel barakhir, dia menebaskan langsung padang besar itu ke arah Eri.
Eri berteriak memanggil nama Arlo dengan menutup matanya, sesuatu terdengar menghantam di depannya bersamaan dengan pedang besar itu yang tiba-tiba menancap tepat di sampingnya berada. Saat ia membuka mata, lengan kanan Danile sudah terpotong rapi dengan sabit yang menancap tepat di sampingnya berdiri.
“Kau kembali…?” celetuknya dengan menoleh kebelakang.
“Tentu saja. Tugasku, kan belum selesai. Bagaimana? Apa kita mulai lagi…?” celetuk seorang pria dengan jas pendek yang penuh robekan dan luka-luka di tubuhnya yang mulai pulih.
“Baiklah… karena benar-benar memaksa, pertarungan akan segera berakhir. Lebih cepat dari yang kau kira!!” dengan cepat lengan Daniel pulih hingga melesat ke arah pria itu.
Dengan rambut bersebelahan, panjang dan pirang di sebelah kiri. Wajah yang lebih putih dan mata yang lebih lebar sebelah kiri. Tubuh pria itu terselimuti oleh api seluruhnya dan menggenggam kabel sabit di tangan kananya. Itu adalah tubuh Arlo dan Leo yang bergabung.
“Aku sampai ingin tertawa saja, tubuhmu sampai besebelahan dengan Si penampung sampah ini!” Daniel manghantam keduanya dengan pedang besar di tangan kirinya.
Senjata itu tertahan oleh sesuatu yang terselimuti oleh api, belati Arlo yang memanjang karena api itu berbentuk mirip dengan pedang dan benturan itu hanya di tahan dengan tangan kiri. Perlahan apinya menjalar dengan cepat ke arah pedang itu sampai di tangan Daniel. Sontak ia langsung mundur dan menjaga jarak sebelum api itu membakar seluruh lengannya.
“Leo… kenapa kau masih saja mengganggu? Kau yang sudah mati lebih baik pergi dan jangan ganggu urusan orang lain!” bentak Daniel dengan nada kesal.
“Kenapa? Apa kau takut, Pangeran Terbuang…?”
“Cih…!”
Daniel menggenggam kuat-kuat tubuhnya, perlahan ia kembali memulihkan kedua tangannya. Dwngan menggenggam pedang besar di tangannya bersiap memenggal pria iyu. Sesuatu menyala di ujung dahinya dengan aura menguap di atasnya berwarna gelap.
Dia menancapkan pedangnya kedalam tanah dan tanahnya langsung tebelah ke arah pria itu. Belum sempatnya pria itu melompat untuk menghindar, Daniel sudah muncul begitu saja tepat di sebelahnya tanpa tanda. Dia menebaskan pedangnya dan memukul pria itu ke arah lubangnya, namun usaha itu masih sempat digagalkan oleh sabit yang di tarik dari belakang dan mengalihkan perhatian.
Daniel terpaksa mundur dan mengurungkan niatnya, sedangkan pria itu melesat ke arah Eri berada dan berdiri tepat di depannya. Gadis itu masih meringis dengan menahan rasa sakit di tubuhnya dan menatap lemas pria di depannya.
“Nona, ini bukan Tuan Arlo. Saya pelayannya, panggil saja Leo. Saat ini Tuan Arlo tertidur untuk memulihkan tenaganya. Sampai saat itu tiba, saya yang akan mellindungi Anda. Jadi, perintahkan apa saja yang Anda inginkan…” ucap pria itu dengan mengulurkan tangannya pada Eri.
__ADS_1
“Lalu di mana Arlo berada…?”
“Ikhtisari Land, tampat di mana kehidupan dan kematian bertemu secara bersamaan. Sampai Tuan Arlo kembali, kemungkinan luka Anda tidak akan pernah sembuh.” Tutup Leo dengan menarik belati di tangannya.
Sabit dalam genggaman mulai di rayapi oleh api yang sama hingga terselimuti sepenuhnya, dengan kedua senjata itu, Leo sudah menunggu perintah langsung dari Eri.
“Menunggu perintah, Nona!”
“Lakukan saja….”
Dari kejauhan Daniel merayap dengan pedang besarnya, perlahan mendekat dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Leo melesat satu arah dan saling berhadapan satu sama lain dengan berlandasan pedang masing-masing, sampai salah satunya menghempas dan mendrong mudur.
Belati yang terselimuti api tersebut tiba-tiba terlihat redup saat Leo menyadari sesuatu yang terasa berat. Tepat saat mereka saling berhadapan sebelumnya, diam-diam Daniel menghisap daya kekuatan dari api yang menyelimuti belatinya. Itu sudah dapat dilihat dari kondisi tubuhnya yang semakin membara. Dia tertawa lantang saat Loe menyadari itu dan menatapnya dengan tatapan benci.
Saat itu juga, Daniel melesat secara tiba-tiba tepat di depannya. Dia menendang langsung tubuh Leo hingga terlontar di udara, dilanjutkan dengan Leo yang di tebas ke tanah hingga terhempas dengan kencangnya. Dia terbaring lemas di tanah dengan menahan rasa sakit di tubuhnya, sepertinya beberapa tulangnya patah karena benturan.
“Apa ini sudah berakhir, Pelayan…?” celetuk Daniel yang sudah bediri tepat di sampingnya berbaring.
“Bagaimana kalau mencoba mati untuk sekali lagi?” lanjutnya dengan menodongkan pedang besarnya tepat di atas dada Leo.
“Nona!!” suara yang terdengar bersamaan, keluar dari dalam mulut Leo.
“Tuan Arlo!” celetuk Leo.
“Apa? Maaf-maaf, sudah merepotkan mu lagi…” keluar dari dalam mulut pria yang sama.
“Tidak! Ini adalah kewajiban!” jawab tegas Leo.
“Baik-baik… aku mulai, Leo!”
“Baik!”
Tidak sepenuhnya bisa di katakan Arlo telah pulih, setidaknya ia bisa sadar dengan sisa tenaganya. Karena untuk bertarung, dia meminjam tenaga yang sudah tersimpan begitu lama dalam Core api itu. Sedangkan jiwa Core apinya ada di dalam diri Leo. Saat yang besamaan, luka-luka di dalam diri Eri perlahan kembali pulih hingga sepenuhnya kembali normal, namun ia masih belum sadar.
__ADS_1
Dengan kembalinya Arlo, tubuhnya perlahan kembali kewujud semula. Api dalam diri Leo perlahan merambat ke dalam tubuh Arlo hingga sepenuhnya menjadi tenaga, tapi ini mungkin cukup beresiko, batin Arlo.
“Kau selalu merepotkan siapa saja yang kau kenal, Arlo…?” celetuk Daniel dengan berjalan menyeret pedang besarnya.
“Maaf-maaf sekali karena sudah membuatmu sangat kawatir, Daniel.” Arlo langsung saja melesat dengan kedua senjata di tangannya.
Karena semua api yang tersimpan selama ini di dalam dirinya telah di ambil kembali oleh sang pemilik dan di ubah menjadi tenaga, Arlo tidak bisa menggunakan sedikitpun api itu. Dia hanya bisa menggunakan kedua senjata kesayangannya sampai tenaganya pulih sepenuhnya. Untuk semantara, ia mengalirkan sebagian tenagannya untuk memulihkan tubuh Eri dari kejauhan.
Tepat di depannya, Daniel sudah menunggu kembalinya ia bertarung lagi. Dengan senyuman lebar, pria itu balik melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi dan pedang besar di tangannya. Sampai saat keduanya saling mementur dengan sangat kencang, mereka berdua terlontar mundur di udara.
Ini adalah kesempatan yang diambil oleh Daniel untuk menyerang ke arah Arlo. Dengan tombak yang muncul begitu saja di salah satu tangannya, ia melontarkan tombak itu tepat menusuk dada kiri Arlo hingga ia terdorong mundur di tanah. Dengan meringis kesakitan, Arlo mencabut tombak penuh darah itu dan membalikkannya.
Danile dari kejauhan mengamati dan menyadari sesuatu, luka yang mengenai Arlo tidak setetespun ada tanda-tanda untuk pulih. Dia hanya tersnyum tipis sambil meraih kembali tombak yang melesat dengan kencang ke arahnya.
“Arlo! Kau ini bodoh atau memang sedang meremeh, kan ku?” celetuknya dari kejauhan.
Aura gelap perlahan menyelimuti tubuh Daniel dan merasuk kedalam tubuhnya. Api biru terlihat berkobar selama sesaat di balik pupil matanya. Dia menarik sesuatu dari balik tubuhnya, sebuah tombak dengan api hitam yang menyelimutinya, bersiap untuk di lontarkan ke arah Arlo.
“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?”
Lagi-lagi, Daniel melontarkan tombaknya ke arah Arlo dengan di ikuti dirinya sendiri dari belakang. Cara yang sama seperti sebelumnya, Arlo menangkis tombak itu dengan belatinya di susul sabit yang sudah ada di depan tubuhnya. Tepat saat Daniel melayang di depannya, pria itu tertahan kabel sabit Arlo hingga kabelnya terpotong.
Pedang besar itu membabat dada Arlo dan menggores sedikit luka hingga ia sedikit terdorong mundur. Saat sadar setelah ia membuka kedua matanya, tungkak kaki sudah melayang tepat di kepalanya dan menghantam tubuhnya dengan sangat keras hingga terlontar begitu jauh di dekat Eri.
Dengan gemetar Arlo mengangkat tubuh lemasnya dan berdiri dengan tertatih, namun tiba-tiba tubuhnya terasa begitu berat hingga ia kembali terbaring di tanah. Sepertinya energi dari core api memang terlalu beresiko, tubuhnya mulai tampak penuh lebam dan luka bakar.
Dengan lemas terbaring di tanah, perlahan luka di tubuhnya terbuka lebar di susul darah tiba-tiba keluar dari sela-sela tubuhnya. perlahan-lahan, pandangannya mulai buram dan kesadarannya mulai menghilang. Hanya dalam samar, dia melihat Daniel yang beranjak dengan senyuman lebar dan menyeret pedang besar mandekatinya.
Tepat di sampingnya berbaring, Daniel sudah berdiri tegap dengan bersiap menancapkan pedangnya di dada Arlo.
“Apa ini… déjà vu? Aku akan mati lagi… ya?” gumam lembut Arlo dengan berusaha menahan kesadarannya.
Pedang besar itu sudah melesat hendak menusuk dada Arlo, namun tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat kesar tepat di depannya. Samar-samar, sesuatu kekuningan membentur pedang Daneil dan membuatnya terlontar jauh dan menancap di tanah. Arlo menoleh perlahan ke sumbernya dan melihat seseorang yang berdiri membungkuk di sana, berjalan perlahan mendekati mereka berdua.
__ADS_1