Perjalanan Keabadian

Perjalanan Keabadian
Jejak 60 - Pengorbanan Kesatria.


__ADS_3

Di tengah perjuangan untuk mendapatan permatanya, tiba-tiba sesuatu muncul dan mengalihkan perhatian mereka berdua, terutama Verles sendiri. Ia berlari menghampiri seorang wanita yang berdiri agak tersembunyi di balik pohon besar di tepi hutan. Sontak saat ia sampai di depannya, tubuh ini langsung terasa lemas karenanya.


Tempat di mana Verles yang tiba-tiba lemas dan menyadarkan diri di pohon itu, seorang wanita berjalan menghadapnya. Dia menatap ke arah pria yang ada di depannya lalu melirik sesuatu yang ada di bawah. Wajah wanita itu sangat pucat, dengan gaun tipis sederhana yang menutupi sebaigan tubuhnya, ia terlihat sedikit menyeramkan.


“Tuan Verles… saya tanyakan sekali lagi… Apa Anda akan tinggal di sini?” ucap Leira dengan raut wajah yang tidak berubah.


Sesaat, pria itu hanya menegakkan tubuhnya dan menunduk sedih. Lalu ia mengangkat kembali wajahnya dengan putus asa, tidak berani menatap mata wanita di depannya, sebab dirinya yang dipenuh rasa bersalah.


“Apa itu yang kau harapkan, Nona…?”


“Itu benar…”


“Baiklah, aku akan tinggal. Lakukan apapun yang ingin kau lak-ahhk!” Verles tiba-tiba mengerang kesakitan, dengan memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


“Korbanan dirimu, untuk membebaskan pulau ini… Tuan Verles.”


Wanita itu sudah menusuk tepat pada perut Verles dengan tangan kirinya dan membuat lubang yang lebar di dalamnya. Ia menarik keluar sesuatu dari dalam perut Verles dan menggenggamnya. Berjalan perlahan, ia pergi ke arah permata itu berada dan meneterskan darah yang ada hingga melelehkan tanaman yang menyelimuti permatanya. Permatanya melayang dengan sendirinya, meraih tangan Leira dalam genggamannya.


Ia kembali dengan membawa permata merah menyala yang sudah dalam genggaman tangan dan menodongkannya ke arah Verles yang masih menahan rasa sakit di perutnya. Seharunya luka di tubuhnya bisa pulih sepenuhnya, persis yang terjadi dengan Arlo yang biasanya. Namun karena sesuatu yang ada dalam genggam wanita itu, ia tidak bisa pulih seperti biasa dan kali ini dia akan benar-benar mati.


Dari kejauhan, seseorang berlari dengan kencangnya. Bersama tombak besar di tangan kanan dan angin yang meluap-luap.


“Sebenarnya…! apa yang terjadi di sini!” Trisia melesat dengan cepat bersama tombak besarnya.


Ia menebas wanita yang bediri tepat di depan Verles, namun tombak itu hanya menembus begitu saja, seakan tidak ada apapun di sana. Sampai saat Trisia hampir terjungkal karena menembusnya, tangan wanita itu sudah menusuk punggung gadis itu dan membuat lubang yang sama di perutnya. Sontak gadis itu langsung memuntahkan darah dari dalam mulutnya dan tersungkur di tanah.


“Trisia...! Tunggu! bebaskan putriku!”

__ADS_1


“Maaf, tapi itu tidak bisa dilakukan, Tuan Verles. Karena kalian berdua sedarah dan darah keabadianmu juga mengalir di tubuh gadis ini, maka kalian berdua harus di korbankan besama...”


“Ark! Apa yang… kau…? Nona Leira, kan? Apa yang sebenarnya terjadi!” berontak Trisia yang masih menahan rasa sakit.


“Ayahmu mengorbankan diri untuk janjinya yang sudah lama, permata ini akan menggantikan permata yang selama ini ada di dalam perut kalian berdua….” Ucap wanita itu, mengangkat permatanya tinggi-tinggi.


Secara bersamaan, tubuh Trisia terangkat dan berpindah dengan berdiri tapat di depan ayahnya. Mereka berdua sejajar dengan luka yang terbuka lebar. Tangan dengan permata merah yang menyala-nyala itu, perlahan bergerak masuk kembali kedalam perut mereka berdua hingga sepenuhnya masuk dan menembus tubuh Verles di belakang.


“Arkk…!” keduanya mengerang dengan kencangnya, besamaan dengan parmatanya yang terang menyala-membara.


“Hentikan! Ku mohon Hentikan….” Ucap seseorang dari kejauhan.


Saat yang bersamaan, Arlo dengan gerombolan besarnya berlari dengan putus asa ke arah mereka berdua. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena sesuatu yang menghadang di tengah jalan. Sebuah bayangan api wanita cantik dengan jubah dan rok pendek yang sebagian menutupi tubuhnya.


“Selamat malam… Pangeran Arlo, lama tidak berjumpa, ya…? Whooh! sepertinya ada hal menarik yang terjadi di sini?” lirik wanita itu dengan senyuman tipis ke arah Arlo.


“Ratu Filora Alice… apa yang kau inginkan!” gertak Arlo dengan tatapan penuh rasa benci.


“Ohh… Ahahaha, tenang saja Pangeran Arlo. Saya hanya di beri titipan pesan dari seseorang yang mungkin Anda kenal, Pangeran Daniel menunggu Anda bersama pasukan besar saya di Dangerous Crakc. Cepatlah, mereka akan pergi ketempat yang paling rapuh… desa terpencil itu, lho… hahaha….”


Wanita itu tertawa dengan lantangnya sambil melirik ke arah Arlo yang sangat geram. Tangan Arlo benar-benar terasa gatal, ia menebas bayangan itu dengan sabit yang membara dan bayangan itu terhapus begitu saja.


Sampai saat bayangan itu terhapus, pemandangan yang tersembunyi dari balik kobaran bayangan itu mulai terlihat kembali, memaparkan hal mengerikan yang telah terjadi. Kedua orang yang bersandari di pohon itu perlahan lenyap, berasamaan dengan wanita di depannya menoleh ke arahnya.


“Tunggu…!” Arlo menatap putus asa, bersama dengan kelima orang di belakangnya.


Perlahan, Leira berjalan menghampiri ke arah Arlo yang sudah terlihat sangat putus asa. Sampai wanita itu berhenti tepat di depan Arlo dan mendekatkan wajahnya di telinga Arlo. Seketika, ia langsung tertengun dan balik menatap wanita itu.

__ADS_1


Setelah itu, Leira menguap dan lenyap begitu saja, meninggalkang mereka semua. Sedangkan Arlo berjalan mendekati Eri lalu berdiri di sampingnya dan membisikkan sesuatu di telingan gadis itu. Sontak karenanya, Eri langsung terkejut dan menatap balas menatap tajam ke arah Arlo di depannya.


“Sepertinya ini akan benar-benar buruk…” ucap Eri menggenggam tangan Arlo.


“Ini memang akan menjadi mimpi buruk.”


Di bawah komando Arlo, mereka melesat ke arah timur dan melompat ke dalam laut. Ombak besar menghempas tebing dan membentuk sebuah kapal besar yang sudah mengambang di lautan. Keenam orang di sana sudah berdiri dengan tegapnya di atas air yang perlahan mulai berubah merah gelap.


Arlo berdiri di titik paling depan dengan senyuman lebarnya, menatap tajam ke arah pulau tujuan. Keempat orang di belakang hanya terdiam dengan memasang wajah cemas bercampur takut. Sedangkan Eri yang berdiri tepat di belakang Arlo hanya menunduk sedih dengan yang di katakan Ratu Filora sebelumnya.


“Nona, bila mungkin kita terlambat, apakah ini memang tidak berhasil…?” celetuk Arlo membalik badannya dengan tatapan serius.


...(----------------)...


Seorang pria dengan tanduk besar di kepalanya, berdiri di tepian tebing laut dengan menatap langit yang hanya di penuhi awan mendung gelap. Sesaat kemudian, seorang wanita dengan jubah dan rok pendek, berjalan perlahan mendekatinya dari belakang. Ia berhenti tepat di sebelah pria itu dengan mempetkan tubuhnya sembari mengelus kepala pria itu.


“Jadi, apa rencanamu sekarang… Daniel…?”


“Kita mikmati saja, Ratu…”


“Kenapa kau tetap saja memanggilku begitu, hihihi….”


Di sebuah dataran luas yang gersang, pasukan besar iblis berbaris dengan rapinya. Portal besar di belakangnya, mengantar lebih banyak lagi para iblis dari dunia lain. Seorang pria yang sama, berjalan perlahan dari dalam barisan itu menuju garis depan. Dengan di ikuti wanita yang sama, mereka bedua berhenti tepat di depan barisan besar itu.


“Ini akan berakhir sekarang….”


...(----------------)...

__ADS_1


“Arlo… tugasmu kali ini, pasti akan gagal….” Bisik lembut Leira di telinga Arlo.


__ADS_2