
Seorang gadis berlari menyusuri lorong kelas, untuk menghampiri Arlo yang tidak mendengar panggilannya. Dengan sengaja, gadis itu menubruknya dari belakang dan menecetus kepala Arlo.
“Apa mau mu?” Arlo menoleh berat dengan tatapan sinis.
“Ee, ahaha. Apa kau punya waktu sebentar?” gadis itu cengengesan sambil menggaruk kepalannya.
“Tidak, aku sibuk.” Tidak ada senyuman atau sapaan.
Arlo langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk pulang, sedangkan gadis itu hanya bisa tertunduk sedih.
Di kastil tempat tinggalnya, Arlo selalu sendirian, apapun itu. Kedua orang tuanya terasa seperti di batasi untuk mengurus anaknya sendiri. Karena keluarga dan kerabatnya yang begitu membenci dirinya. Dia hanya membaca buku, menulis dan berjalan-jalan sambil berbicara sendiri. Tapi semua itu hanyalah aggapan kosong orang lain.
Sering kali Arlo terlihat berjalan-jalan di tepi kastil yang berjejer pepohonan rindang dan sejuk.
“Apa kau tau sesuatu tentang gadis kemarin?” celetuk Arlo melirik kebelakangnya, seakan ada sosok yang berjalan di belakangnya.
“Ada niat tersembunyi Tuan, tapi dia tidak akan melangkah lebih jauh,” seorang wanita membuntuti dengan melayang di belakang Arlo dan tersenyum padanya.
“Bila melangkah lebih jauh, langsung bunuh saja!”
“Sesuai keinginan Anda, Tuan.”
Sore hari saat pulang sekolah dalam kondisi mendung gelap, seorang gadis bersandar di tepi gerbang sekolah sambil melamunkan sesuatu. Arlo dari kejauhan mendapati gadis yang sama yang menemuinya kemarin, langsung berbalik dan mencari jalan memutar dengan berhasil lewat jalan belakang. Dia pikir dia sudah berhasil terhindar dari gadis itu, tapi nyatanya gadis itu malah sudah berdiri dan tersenyum tepat di depannya.
“Hai, apa punya waktu hari ini?” gadis itu tersenyum manis di depan Arlo.
“Tidak, aku sibuk lagi,” jawab dengan nada sinis, menutup matanya.
Dia berusaha menahan diri untuk tidak terpengaruh dari senyuman itu.
Langkahnya tiba-tiba terasa berat karena tangannya di tahan begitu saja. Karena hal itu ia langsung berbalik, mendorong dan memepet gadis itu di tembok, menatapnya tajam dengan penuh ancaman yang mencekam.
“Dengar Nona, aku tidak tau siapa dirimu. Tapi aku tidak sekalipun ragu untuk menyakiti atau bahkan membunuhmu. Jadi, ini adalah peringatan yang terakhir, bila sekali saja kau menemuiku dan menggangguku lagi. Berharaplah tidak akan terjadi perang antara kerajaan.” Tutup Arlo dengan nada kesal dan melanjutkan langkahnya.
Gadis itu langsung lemas dan roboh perlahan, duduk bersandar di dinding.
“Ayah, apa memang benar itu dia?” gumamnya lirih, disusul air mata yang menetes melewati pipinya.
Di waktu yang lain, Arlo sedang duduk di depan perapian, berusaha menghilangkan suhu dingin di tubuhnya. karena saat ini di luar sedang gerimis kerap dan sekarang ini sebenarnya masih fajar.
“Tuan, apa Anda tidak ingin keluar?” bisik seorang wanita merah di belakangnya.
“Tapi ini, kan hujan,” balasnya malas.
“Apa Anda yakin?”
__ADS_1
“Baik-baik, aku akan keluar.” Dengan terpaksa Arlo mengangkat tubuhnya yang masih gemetaran karena dingin, menelangkupkan tudung bajunya. Dia menoleh mencari payung di dekat pintu keluar dan memakainya untuk menutupinya dari hujan.
Dengan di ikuti wanita itu, Arlo berjalan keluar dari kastil dan entah kemana dia akan pergi, karena dia hanya mengikuti kakinya berjalan. Dari kejauhan, dia melihat seorang gadis yang tidak asing sedang berdiri dengan membawa suatu bungkusan di tangannya di depan gerbang kastil yang tanpa penjagaan. Tubuhnya basah kuyup karena hujan, tetap berdiri di sana dan menunggu seseorang dengan penuh harapan.
“Khehh! Sekarang apa lagi, bahkan baru kemarin aku peringatkan.” Gumam kesal Arlo, berjalan mendekati gerbang.
Dia menatap tajam gadis itu dengan tatapan sangat kesal, berharap dia pergi dari sini. Sedangkan gadis itu malah membalasnya dengan senyuman.
“Pangeran, tolong ijinkan aku masuk,” bisiknya lirih, dalam kondisi lemas.
Arlo langsung membuka gerbangnya dengan kasar dan memepet gadis itu di dinding gerbang. Tangannya yang sudah sangat gatal, menggenggam kuat-kuat leher gadis itu hingga dia kesulitan bernafas.
“I-ini… aku bawakan… sesuatu… untukmu, tolong… terimalah….” Gadis itu mengulurkan bungkusan pada Arlo, bersamaan dengan air mata yang keluar.
Arlo semakin kesal dan menepis bungkusan dari tangan gadis itu hingga terlempar cukup jauh. Sama halnya, gadis itu juga di dorong hingga terjatuh di depannya. Dia menyeret tubuhnya yang benar-benar sudah lemas, mendekati bungkusan yang di tepis Arlo sebelumnya. Sampai, dia memaksa untuk berdiri dan lagi-lagi mengulurkannya kepada Arlo.
“Kumohon, terimalah… ini….” Gadis itu tersenyum dengan lemas, matanya sudah seakan menggambarkan bahwa tubuhnya sudah tidak kuat lagi.
Dia jatuh di pangkuan dada Arlo, yang hanya terdiam dan matanya tidak berkedip selama beberapa saat. Sambil secara tidak sadar, dia terus menahan jatuhnya tubuh gadis itu dari dadanya, dengan kedua tangannya.
“Liya, apa ibu juga tau semua ini?”
“Tentu saja, Tuan.”
Di dalam ruangan gelap yang hanya di terangi perapian, Arlo duduk di kursi kecil sambil memakan sesuatu di tangannya dan melemparkannya kedalam perapian. Di belakangnya adalah sofa yang di tiduri oleh seorang gadis yang sama sebelumnya dengan selimut hangat di atasnya. Arlo hanya terus melamun, memandangi perapian di depannya.
“Sudah baikan? Kalau begitu cepat pergilah,” ujar Arlo sambil tetap memakan sesuatu di tangannya.
“Tentu, saya permisi dulu.” Gadis itu tersenyum dan bangun dari duduknya, melangkah perlahan pergi.
Dia melirik sebuah bungkusan yang sama dengan yang ia bawa, tergeletak di dekat Arlo. Tanpa sadar dia tersenyum dan berbalik melanjutkan langkahnya yang tertatih-tatih.
“Tunggu!”
“Hmm?”
“Terima kasih, untuk makanannya….” Ujar Arlo tetap tidak menoleh.
“Tentu saja, Pangeran.” Wajah gadis itu tiba-tiba tersipu dan langsung berlari keluar.
Di lain waktu, gadis itu berdiri di tepi pagar sekolah saat jam sekolah telah berakhir. Sama hal dengan sebelumnya, gadis itu menunggu Arlo lewat dan berbicara dengannya. Sampai waktu yang dia tunggu sudah berakhir, Arlo berjalan dari kejauhan dan hanya menunduk melewati gadis itu begitu saja.
Tapi dia terhenti saat tangannya di raih dari belakang dan memaksa dirinya untuk berbalik. Lagi-lagi gadis itu tersenyum manis menatap Arlo, kali ini Arlo tidak menutup matanya dan menatap gadis di depannya, menampakkan bekas berwarna merah di leher gadis itu. Arlo langsung kembali menunduk dan memejamkan matanya.
“Pangeran, apa punya waktu sebentar?” celetuk gadis itu, masih menahan tangan Arlo.
__ADS_1
“Mau apa?” jawaban berat, dan dia tetap menunduk.
“Kita bicara sebentar.”
Dengan terpaksa karena merasa bersalah, Arlo mengikuti kemana gadis itu pergi. Mereka berjalan keluar dari area sekolah dan beranjak masuk kedalam hutan. Sampai di tempat terakhir kali Arlo ingat dirinya sebenarnya, luka-luka yang sembuh dengan sendirinya tujuh tahun yang lalu.
“Kenapa kau membawaku kemari,” celetuk Arlo menghentikan langkah mereka.
“Aku hanya ingin bertanya padamu, apa benar kau Sang pangeran darah? sama seperti yang di katakan banyak orang,” gadis itu mulai menatap serius.
Arlo tersentak dan diam selama sesaat, menatap gadis itu dan tersenyum pasrah.
“Ohh… ahahaha… hahaha, rupanya mata-mata kerajaan,” Arlo tertawa, tertawa lepas seperti orang gila.
“Aku sampai merasa kasihan pada diriku sendiri, memangnya ada orang atau iblis yang menerima darah campuran.
Kalau hanya itu yang kau minta, bayarannya adalah nyawamu! Hmm?” Arlo tersenyum, senyuman yang mengerikan persisi seperti seorang iblis.
Sesuatu perlahan menguap dan membentuk sabit merah di depan Arlo. Sabit yang sama dengan dua mata pisau yang berwarna merah membara. Di raih olehnya dan siap memenggal kepala gadis itu.
“Itu benar, akulah sang pangeran darah. Aku membunuh dua puluh manusia kotor bersama dwngan dosa-dosanya dan memenggalanya persis seperti yang akan aku lakuakan padamu.” Arlo mengayunkan sabitnya ke arah gadis itu, sampai waktu terasa di perlambat.
Ayah, apa aku akan gagal? Kematianku ini, tidak sama yang kau katakan. Apa nyawaku tidak cukup untuk menghentikan seseorang membunuh dan mengisi kekosongan hatinya?. Suara hati gadis itu terngiang di kepala Arlo dan dia langsung menarik kembali sabitnya.
“Ohh, lagi-lagi… baiklah, aku akan menyerahkan diri. Semoga kau bahagia bersama dengan ayahmu, sampai di sana pasti aku akan di hukum mati, kan?” Arlo menarik kembali sabitnya dan berbalik meninggalkan gadis itu.
“Dan satu lagi Nona, jangan mengorbankan dirimu sendiri untuk menyelamatkan seorang darah campuran yang menjijikan ini. Dahh, selamat tinggal.” Arlo tersenyum dan melambaikan tangannya.
Tanpa sadar, air mata mentes di pipi. Tiba-tiba seakan lingkungan sekitar berubah putih seketika. Cahaya silau memburamkan pandangan gadis itu tentang Arlo. Perlahan-lahan, Arlo mulai tidak terlihat karena silau dari cahaya putih itu.
“Lho, Pangeran? Pangeran…? Pangeran!” gadis itu berteiak sekencang-kencangnya, dengan air mata yang terus mengalir deras.
“Cih! Sebenarnya apa yang kau inginkan!” suara menggetar sekitar, cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan menghilang dan berubah dengan Arlo yang berdiri di depannya.
Gadis itu sontak langsung melompat ke arah Arlo dan mereka berdua terjatuh dengan Arlo yang tertindih di bawah. Wajahnya terlihat suram dengan air mata yang terus menetesi Arlo.
“Aku menginginkanmu! Aku menginginkanmu! Pangeran,”
“Tapi, tugasmu akan ga-”
“Aku tidak peduli! asal bisa bersamamu, aku tidak peduli! Apapun itu.
Bagaimana kalau aku ikut denganmu? Aku akan mati bersamamu, karena sudah tidak ada tujuan, kan?" bibirnya tersenyum pasrah.
“Begitu?” sabit melayang di atas mereka berdua, bersiap memotong kedua leher itu.
__ADS_1
Dalam satu tebasan, mereka berdua pasti akan mati bersama. Karena gadis itu sudah tidak punya tempat untuk tetap disini, tugas dari ayahnya sudah tidak di pedulikan lagi. Sedangkan Arlo sendiri juga berharap mati setelah luka di hatinya sudah sembuh.
“Selamat tinggal….”