
Di hari yang sama sebelum Arlo berangkat ke misinya, Eri bersama Ratu pergi ke sesuatu tempat untuk melakukan sesuatu secara rahasia, terutama dari Arlo. Sesuai dengan perjanjian di malam sebelumnya kalau Eri akan berlatih bertarung bersama dengan Ratu.
“Nona, mungkin waktu kita hanya sedikit. Kemungkinan aku hanya akan mengajarkan dasar dalam bertarung..” Jelas Ratu.
“Tapi apa Anda yakin aku bisa bertarung? Di tambah seperti yang Anda katakan hukumnya di sini sedikit berbeda”
“Karna itu malah akan mempermudah latihan kita Nona”
Malam sebelumnya saat Arlo pergi bersama dengan Raja, Eri tidur semalaman dengan Ratu dan mendengar penjelasan lengkap darinya. Mulai dari siapa dirinya sebenarnya sampai tingkah nakal Arlo saat kecil hingga membuat mereka berdua tertawa.
Ratu menjelaskan bahwa, hukum pertarungan dan persenjataan disini sedikit berbeda dengan dunia manusia pada umunnya. Para kesatria yang bertarung dengan pemberani akan dipilih oleh senjatanya bukan dia yang memilih senjatanya.
Pada dasarnya, senjata akan di dapat pada waktu yang tepat. Dan Ratu merasa dalam beberapa hari ini, Eri akan mendapatkan senjata yang di harapkan untuk membantu perjalanan Arlo.
“Baiklah Nona, kau coba pikirkan senjata yang cocok untuk dirimu sendiri. Senjata akan sesuai dengan kepribadian pemiliknya agar mendapatkan kekuatan ekstra dari emosi penggunanya. Memperkuat setiap pukulan yang di berikan pada lawan-lawan kita”
Eri mengangguk dan mereka segera berangkat ke sesuatu tempat yang di tunjukan oleh Ratu. Mereka berjalan terus saja melewati lorong menembus ke belakang kasti berada. Sebuah tempat yang sangat luas dan indah, dengan empat tiang besar di tengah, menyangga dengan kokoh ruangan itu.
Agak jauh di depan mereka seorang wanita yang berdiri membawa nampan berisi sebuah pakaian berjalan mendekati mereka berdua.
“Selamat datang kembali Ratu, sesuai perintah Anda. Satu set baju pelatohan seorang gadis, siap di gunakan” Ujar wanita itu mengulurkan nampan yang ada ditangannya pada Eri.
“Itu adalah baju khusus untuk pelatihan. Baju itu lentur dan sangat kuat, meski juga sangat ketat. Nona, kau harus memakainya dalam pelatihan ini..” Jelas tegas Ratu pada Eri dan ia pergi meninggalkannya ke sesuatu tempat.
Kemudian wanita itu menunjukkan ruang ganti pada Eri untuk bersiap latihan. Benar saja yang dikatakan oleh Ratu, baju itu memang sangat ketat dan membuat Eri sedikit merasa minder dengan pakaiannya.
“Tenang saja Nona, di sini tidak akan ada seorang pun yang melihat kita berlatih. Nikmati saja latihan kita”
__ADS_1
Eri mengangguk dan mengiyakan kalimat Ratu, ia duduk di salah satu tikar yang di gelar di ruangan itu. Ratu mengulurkan sebuah buku materi pelatihan dasar dan berbagai macam senjata untuk membantu Eri dalam latihan.
Sambil membaca sedikit demi sedikit, Eri mendengar penjelasan sederhana dari Ratu dalam pelatihan dasar. Selain itu, sebenarnya buku itu juga menjelaskan sifat setiap senjata dengan penggunanya untuk mempermudah dalam pencarian. Tapi dalam benak Eri hanya senjata yang bisa mendukung dari belakang saja tanpa peduli peraturannya.
Pada akhirnya, hari sudah mulai beranjak siang. Ratu mempersilakan Eri untuk memilih senjata yang akan ia coba gunakan setelah penjelasan dan materi di lakukan. Bermacam senjata di gantung di dinding ruangan untuk di pilih. Eri sudah mempersiapkan apa yang akan ia pilih pertama, mengingat senjata yang mendukung dari belakang.
Sebuah busur besar yang menggantung bersama anak panah di bawahnya diambil oleh Eri untuk percobaan pertamanya. Dari firasat Ratu sudah mengatakan bahwa itu tidak akan cocok dengannya, dan ditambah ada konsekuensi yang harus di tanggung untuk menggunakan senjata yang tidaklah cocok.
“Apa aku boleh mencoba memanah?”
“Tentu, coba saja..”
Kemudian Eri mulai mencari posisinya, sebuah target pelatihan papan bundar menjadi sasaran untuk anak panah Eri. Tembakan pertama perlahan di tarik dan mengincar titik merah yang ada di tengah. Shats.. anak panahnya melesat dan mengenai garis yang berwarna merah, garis ke tiga bundaran itu.
Tembakan ke dua mulai di melesat, lagi-lagi tembakannya tidak mengenai sasaran dan malah turun ke titik garis ke tujuh. Kemudian tembakan ketiga dilontarkan oleh Eri yang terlihat sedikit terlihat lemas secara tiba-tiba. Anak panahnya tidak mengenai papan bundaran itu dan malah melesat kerah lain.
Melihat hal itu, mata Eri terbelalak dan semakin ketakutan. Tubuhnya mengigil dan semakin lemas sampai pada akhirnya ia pingsan di sana. Ratu sangat kawatir segera memerintahkan pelayannya untuk bergerak. Ia di bopong kembali ke dalam kamarnya.
...(----------------)...
Seorang gadis di ikat erat dengan sebuah kursi dalam lorong panjang yang gelap. Gadis itu kebingungan sembari meronta-rota, berusaha terbebas dari ikatannya. Belum sedikit pun usahanya berhasil, masalah baru telah muncul di hadapannya.
"Siapa?! siapa dirimu..?! dari darimana kau berada..?! Eri!!" suara serak mengiang di lorong gelap itu.
seorang pria yang sama saat sebelumnya Eri lihat. Dengan jubah yang penuh robekan dan tubuh yang berlumuran darah itu. Ia berjalan perlahan-lahan mendekati Eri denagn menenteng dua benda yang sama persis seperti sebelumnya.
Lagi-lagi mata Eri membelalak, tubuhnya gemetar ketakutan, dia semakin meronta-ronta di kursi itu. Tapi percuma saja, bayangan itu terus mendekat dan mendekat, menatap gadis yang ketakutan itu dengan mata kuning bersinar terang. Saat jarak antara mereka berdua sudah dalam jangkauan, pedang berlumuran darah itu di tebaskan.
__ADS_1
"Aah.. hosh.. hosh.." Eri terbangun dari tudurnya di kamar Arlo, bersama dengan dua gadis yang terlihat sangat cemas.
"Nona! ada apa?!" Tanya salah satu dari mereka.
Kemudian Eri menarik napasnya perlahan dan menjelaskan pada keduanya apa yang ia lihat sebelumnya, rupanya tadi hanyalah mimpi selama Eri pingsan. Kuda gadis itu langsung menemani Eri kitika mendengar Tuannya sedang terluka. Kemudian mereka berdua menjelaskan bahwa ia pingsan sampai hari menjadi gelap.
Eri mulai beranjak bangun mengangkat tubuhnya yang lemas. Kedua gadis itu menahanya, tapi ia masih bersikeras bahwa ia baik-baik saja. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetok pintu memanggil nama kedua gadis itu.
"Yah.. silakan masuk.." Teriak Eri membalas panggilan itu.
Pintunya di buka perlahan, rupanya itu adalah Ratu yang memakai baju yang sama dengan yang di pakai tadi malam. Kemudian Ratu menanyakan kondisi tubuh Eri dan mendengar semuannya. Kedua gadis iyu menawari Ratu dan Eri untuk makan, tapi Ratu menolak dan menyuruh Eri saja yang harus makan.
Mengingat tubuhnya yang lemah lunglai, kedua gadis tadi mengangguk dan segera pergi mengambil makanan. Selama meninggu, Eri menceritakan kejadian yang menimpanya sebelum pingsan. Ratu mengangguk paham dan tidak memberi penjelasan apapun meski ia sebenarnya tau apa yang terjadi.
Bebeberapa saat menunggu, kedua gadis tadi kembali membawa nampan berisi makanan kesukaan Eri dan mempersilakan. Di terima nampan itu oleh Ratu dan kedua gadis itu di perintah kembali, tugasnya di anggap selasai hari ini dan boleh istirahat.
Tidak sama dengan Tuannya sendiri yaitu Arlo yang selalu di bantah, kedua gadis inu tidak berani membantah bahkan menatap wajah Ratu saja tidak pernah sekalipun.
"Mari Eri buka mulutmu'' Ratu menodongkan makanan dalam sendok di depan mulut Eri.
''Apa! tidak, aku akan makan sendiri saja. Hehe..''
"Kau sedang sakit, aku yang harus menyuapimu. Cepat buka mulutmu anak muda..''
"Tapi! Mhm.." Eri menerima suapan paksa.
"Nona Eri, aku ini ibumu. Saat anak gadisnya sakit, ibunya akan merawat dan tentu saja menyuapinya''
__ADS_1
Eri menunduk malu bercampur ada senyuman tipis di bibirnya, membuat Ratu tertawa geli.