
Dua orang duduk bersantai di bawah pohon di dalam hutan yang sepi. Seorang pria yang duduk tepat di samping gadis cantik yang menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Kemudian pria itu bangun dan berdiri tepat di depan gadis itu mengulurkan tangannya.
“Nona Ely apa kau mau ikut denganku hari ini?” Pria itu berdiri tepat di hadapan gadis itu dan mengulurkan tangannya berharap.
“Mau ke mana?, aku malas Arlo, kau sendiri saja. Selain itu, jangan panggil dengan nona!”
“Ayolah kita pergi di atas bukit itu, di sana ada pohon ada buah yang sangat enak di sana.. Ayolah”
Dengan terpaksa gadis itu meraih tangan si pria dan bangun dari tempat duduknya lalu mengikuti pria itu. Semakin lama cara berjalan gadis itu semakin lemah, langkahnya terasa berat dan kemudian roboh tepat di belakang pria itu. Pria itu sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
(----------------)
“Aku gagal?!, aku gagal?!, AKU GAGAL!. SIALAN MATI KAU!”
Sabit melayang 1membelah leher seorang gadis dengan tanduk dan ekor yang jelas menunjukkan bahwa itu iblis. Seketika kepala dan tubuh gadis itu terpisah satu sama lain. Darah mengalir di mana-mana.
“Arlo! Arlo! tenanglah, tenangkan dirimu teman!”
“Tenang?, tenang?!, kau siapa bisa bilang begitu hah!!” Sabit melayang dan ujungnya berhenti tepat di sebelah leher seseorang pria yang ada di belakang Arlo. Entah dari mana datangnya, Seorang pria berjubah putih melesat dengan cepat dan menahan sabit itu dengan dua lengannya bahkan sampai terdorong mundur.
“Arlo tenangkan dirimu, dia akan kembali tunggu saja!”
“Kembali?, kembali?. Kapan dia akan kembali?, cepatlah jawab!”
“Maka tenanglah dulu, tenang..” Pria itu menurunkan gagang sabit dari depannya dan sabitnya mulai lenyap menghilang dari pandangan.
Tubuh Arlo mulai lemas, semakin lama kesadarannya mulai menghilang. Lalu...
“Bugg” Tubuh Arlo jatuh di tanah tepat ia berdiri. Orang di dekatnya berteriak memanggilnya namun Arlo hanya diam dan matanya mulai tertutup.
(----------------)
Pria berjubah putih itu berdiri di depan pintu bersama orang tua yang baru keluar dari ruangan. Dengan wajah yang tampak sedih dia mengabarkan pada si pria dan mengatakan sesuatu padanya.
“Bagaimana Kondisinya?, apa ada perkembangan?”
“Tidak ada yang mulia, sekarang ini tubuhnya malah semakin lemah”
Dari lorong sebelah terdengar suara langkah kaki berlari sempoyongan dengan air mata menetes tanpa di sadari. Seorang pria berlarian ke arah kedua orang itu dengan tergesa-gesadan berhenti sambil menatap ke dalam ruangan.
__ADS_1
“Bagaimana ayah?!”
“lihat saja sendiri” Pria berjubah putih itu menunduk dan menunjuk ke dalam ruangan. Pria itu langsung saja masuk kedalam ruangan dan melihat seorang gadis yang ia kenal sudah..
“Apa ini ayah?, dia.. bangun Nona..! bangunlah..! buka matamu...”
(----------------)
“Apakah ini takdirku?, melihat ini semua? Aku tak bisa lagi melakukan ini ayah”
Lawan bicaranya hanya diam sambil meneteskan air matanya.
“Apa ayah.. jawab aku?” air mata terus saja mengalir.
“Nak..” belum menyelesaikan kalimatnya, pria itu berhenti dan menatap terkejut melihat kepala putranya itu. Tanduknya yang sudah lama takterlihat, kini muncul kembali dan bersinar terang.
Dalam ruangan yang di tempati dua orang pria menunduk sedih. Di tambah salah satunya menatap luar jendela dan meneteskan air matanya.
Di luar jendela seorang wanita melayang dan tersenyum mengucapkan selamat tinggal untuk selamannya. Pria berjubah putih itu berjalan mendekati si pria dan memeluknya dalam kehangatan. Sinar dari tanduknya mulai memudar dan tanduk kecil itu mulai menyap dari tempatnya.
“Bangun dan tunggu hingga ia kembali, maka kau akan melihat sebuah keajaiban baru. Dan jangan lupakan yang aku ajarkan tentang datang dan pergi”
“Dia akan kembali, tunggu saja..”
(----------------)
“Hah.. hujan lagi, apa aku akan libur saja ya?, lagi pula pak Harto mengajakku jadi aku bisa menghabiskan waktu bersamanya hari ini?”
Arlo duduk di depan penginapan sendirian sambil menatap luar yang sedang hujan. Raka keluar dari dalam pengiapan dan membawa payung yang cukup besar dan hendak meninggalkan penginapan itu. Pria itu kembali dan menghampiri Arlo yang duduk tak bergerak sedikitpun.
“Oi Arlo ayo segera bergerak nanti tuan menunggu, kasihan kan orang tua”
“Kau pikir, aku siapa hah. Ayo!”
Mereka mengambil payung sendiri-sendiri dan segera berangkat langsung menuju rumah Pak Harto. Sampai di sana Eri sudah menunggu di depan rumah sambil cemberut. Sedangkan tuan rumahnya masih belum menampakkan diri. Arlo langsung saja mendekat dan menyapanya bersama dengan Raka yang membuntutinya di belakang dalam diam.
“Nona kenapa kau cemberut seperti itu?, apa ada masalah dengan ini?, apa kau tidak jadi ikut?” pertanyaan dari Arlo dengan wajah nakal.
“Tidak hanya.. hanya saja payungnya rusak, jadi..”
__ADS_1
Pak Harto keluar dari rumahnya dan mengunci pintu rumah kemudian meyapa kedua orang itu di depan rumah. Mereka berdua hanya tersenyum menghargainya.
“Wah.. kalian sudah sampai, mari kita jalan”
“Tapi ayah bagaimana? payungnya rusak”
“gampang saja, Raka kemari” Raka segera mendekat, lalu Pak Harto berdiri di sampingnya dan mereka berada dalam satu payung di bawah hujan yang mulai reda.
“Arlo ini perintah, kau harus memayungi putriku dari sekarang sampai nanti pulang” dengan wajah sok formal pak Harto memerintah Arlo.
“Baik, baik mari nona ini perintah..” Arlo berusaha tersenyum meski terasa berat.
Akhirnya Eri bersama dalam satu payung dengan Arlo sedangkan Pak Harto bersama dengan Raka. Perjalanan mereka terasa sangat singkat padahal mereka sedang menuju tempat yang cukup jauh. Di depan Pak Harto terlihat banyak bicara dan cocok dengan pembicaraan Raka, sedangkan di belakang, mereka berdua hanya terdiam tanpa membunyikan suara apapun hingga sampai di tujuan.
Mereka sampai di sebuah tempat yang cukup besar di tengah kota itu dan segera masuk kedalam. Itu adalah tempat menyimpan barang peninggalan yang bersejarah dan beberapa benda asing atau benda sakral bagi penghuni kota itu. Mereka berempat masuk kedalam dan di dalam ada beberapa orang yang sedang melihat-lihat di sekitar barang-barang itu, tapi beberapa saat mereka langsung keluar dan tempat itu menjadi sepi dengan sambungan suara gemercik air hujan yang tidak kunjung reda.
“Aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini” Arlo berhenti sejenak di depan pintu, lalu melihat sebuah kristal yang tampak familiar.
Di sana ada banyak benda bersejarah yang tersimpan dan beberapa liontin permata milik para iblis. Arlo merasakan sesuatu yang aneh dalam salah satu permata di sana.
Ia mendekat untuk memastikan benda itu. Dari kejauhan sebuah permata yang memancarkan aura yang terasa berat dan penuh kesedihan. Ada sesuatu yang mampu di rasakan oleh Arlo namun sayangnya temannya tidak tau apa-apa kecuali Eri yang juga merasakan kesedihan itu. Tiba-tiba air mata mengalir di pipi Arlo untuk ke sekian tahunnya, setelah itu Eri juga terisak-isak di belakang Arlo. Raka dan Pak Harto hanya bingung dengan yang terjadi dengan mereka berdua.
“Ap.. apa kau juga merasakannya nona Ely?, apa saat kau pergi, kau juga menangis seperti ini?” tanya Arlo, ia hanya menunduk tak berani menatap Eri.
“Apa maksudmu?, rasanya.. kepedihan ini seperti familiar, terasa ada yang pergi meninggalkan seseorang yang dia sayangi” Eri menjawab terisak-isak.
“(Entah kenapa aku ragu tentang ini, tapi aku sudah menunggumu 100 tahun)” dalam batin Arlo yang masih ragu dengan kenyataan ini.
Eri masih berdiri di belakang Arlo sambil masih menangis. Tak tau kenapa benda itu terasa menjadi penghubung mereka dan juga masa lalu Arlo.
Arlo berjalan mendekati benda itu dan terlihat berlian kuning dengan kilatan-kilatan di sekitarnya. Lalu ia mengambilnya dan menggenggamnya dengan erat. Berlian permata itu pecah dan mengeluarkan seercah cahaya yang melayang di atas tangan Arlo. Arlo melayangkan cahaya itu pada Arlo dan cahaya itu langsung masuk kedalam kepala Eri dan memancar pada matanya.
Berlian yang sebelumnya pecah, kembali utuh seperti tidak pernah terjadi sesuatu dan melayang kembali ke tempatnya. Lalu Eri di peluk erat-erat oleh Arlo, tak peduli dengan orang di sekitarnya. Mereka berdua menangis penuh kebahagiaan dan harapan baru tumbuh di dalam diri Arlo.
“Apa kau tau berapa lama aku menunggumu?, apa kau tau seberapa pedihnya saat kau pergi?, aku.. aku tak tau denganmu tapi aku terus menunggumu sampai sekarang. Dan akhirnya..., akhirnya aku bertemu lagi denganmu” Arlo menangis, air mata seperti tak ada habisnya membasahi pipi.
“Entah bagaimana, kapan, dan di mana, aku merasa aku pernah bersamamu untuk waktu yang lama Arlo. Tapi kini rasanya aku sudah mengingat semua hal yang terjadi di antara kita 100 tahun yang lalu”
“Kalau begitu jangan tinggalkan aku lagi, jangan pernah melepaskan tanganku, aku tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi aku harap kau tetap bersamaku”
__ADS_1