
Saat itu juga, Arlo yakin sekali akhirnya gadis itu mati di tangannya. Tapi lagi-lagi, saat itu juga sabitnya di cabut bersamaan dengan lukannya pulih kembali seperti tidak terluka sama sekali.
Arlo merasa frustasi karena lawannya, Gadis itu terus saja maju dengan tombaknya, melompat menusuk ke arah Arlo, Arlo segera menghindar sambil mencoba membalas serangannya.
Gadis itu terus saja menyerang tanpa peduli sekitarnya,menyerang membabat habis tumbuhan dan pohon di sekitarnya.
“Hei.. pohonnya hancur dan meninggalkan sisa pertempuran tau! Ini akan gawat, akan ada yang berpikir ada yang sedang bertarung di sini nanti!” Arlo berbicara dengan nada mengejek dan terus berusaha menghindar.
“Kau pikir aku peduli! Dengar kami para iblis merah akan merasa sangat bangga bila bisa membunuh seorang iblis putih sepertimu. Tapi sayangnya matamu itu, mata itu sama sekali tidak menunjukkan kalau kau adalah iblis putih”
“Iblis!!, seharusnya aku sadar dari awal..” Arlo berfikir cara mengalahkan gadis itu dan teringat sesuatu.
Arlo berlari menuju sebuah pohon yang tersisa satu dahan dan melompat tepat di atasnya. Ia melesat dengan cepat di depan gadis itu dan memukul perutnya namun dengan cepat gadis itu melompat menjauh dari Arlo.
“Hei.. ayolah aku hanya memukul sedikit jangan lari!”
“tentu, silakan bila kau bisa”
Arlo menekan musuhnya mundur di bawah tebing yang menjulang dan dengan sedikit kesempatan, ia menebaskan sabitnya mengenai tebing itu. Membuat longsor seluruhnya. Longsoran itu menutup sebagian jalan sehingga musuhnya terpojok. Arlo melesat di depan gadis itu, menendang kaki kiri dan membabat liontin merah di leher gadis itu.
Liontinya pecah dan terlempar jauh, sedangkan gadis itu terkejut dan memasang wajah penuh amarah. Dia melesat di depan Arlo dan membabatnya dan terlempar jauh. Arlo melesat jauh menabrak pohon, tulangnya patah dan hancur, darah mengalir keluar lewat mulutnya. Arlo terlihat tak sadarkan diri, hal ini menjadi kesempatan bagi gadis itu untuk menghabisi Arlo.
Dengan cepat gadis itu mencoba menusuk Arlo dengan tombaknya. Ketika tepat di depan Arlo tombaknya berhenti seperti terdapat lapisan tipis yang melindunginya. Saat lapisan itu pecah, tubuh Arlo sudah kembali pulih seutuhnya, dengan segera ia menebas musuhnya tanpa ampun hingga ia terpojok lagi.
Tebasan Arlo mengincar lehernya, Sabit melayang tepat di sebelah pundak gadis itu, sabitnya terpental oleh sesuatu seperti ada yang menahannya. Seketika dalam kedipan mata saja, gadis itu di bawa lari oleh seseorang dan pergi menjauh.
__ADS_1
“Oi.. jangan lari..! cih! Pasti itu akan membuat laporan..”
Tubuh Arlo lemas kelelahan, ia duduk di bawah pohon di sekitar sisa pertempurannya. Arlo menutup matanya sesaat sampai ia mendengar langkah kaki, langkah yang begitu cepat seperti orang yang sedang berlarian mencari sesuatu.
“Arlo..! Arlo..! kau di mana?, Arlo” terdengar suara seorang gadis berteriak-teriak di hutan itu.
“Arlo..! oi.. Arlo..!” di susul suara besar seperti seorang pria.
Arlo tidak menjawab panggilan itu dan hanya bangun berjalan mendekati sumber suaranya. Arlo melihat Eri dan Raka berteriak mencari-carinya. Air mata mengalir di pipi Eri dan Arlo cekikian melihat hal itu. Dia tau gadis itu seperti apa, melihatnya menangis membuat Arlo merasa konyol.
“Hei.. aku di sini, kenapa kalian mencariku?. Bukankah aku sudah beritahu kau Raka”
“Iya.., hanya saja aku cemas padamu jadi.."
Eri menabrak tubuh Arlo dan menangis di pelukannya. Tidak peduli siapa pun di sekitarnya, dia menangisi Arlo.
“Siapa yang menangis?, kau pikir aku menangisimu?” Eri mengusap matanya tidak sadar apa yang ia katakan.
Arlo dan Raka tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Sadar dirinya di tertawakan, Eri pergi meninggalkan mereka berdua untuk pulang duluan.
“Eh Nona.. Nona tunggu!, tadi kau mencariku sekarang malah meninggalkanku, bagaimana sih? Hei..!”
Eri sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Arlo dan terus berjalan pulang sendirian.
“Yah.. marah ni.. bakal repot”
__ADS_1
“Kau mengatakan sesuatu Arlo?”
“Tidak..”
“Oh ya.. Arlo hari ini hari terakhir aku di sini, pekerjaanku di sini semua sudah selesai”
“Bagus, cepatlah pergi dari sini. Tempat ini berbahaya kau sendiri tau kan? Aku tidak berharap kau kemari, itu akan merepotkan” Arlo menatap langit dan melangkah pulang duluan.
“Kau ini selalu saja.. ” Raka berjalan menyusul di belakangnnya.
Mereka berdua berjalan kembali dan menyusul Eri. Arlo masih berteriak memanggil Eri yang berjalan terburu-buru, dan menghampirinya. Arlo berusaha membujuknya agar dia tidak marah, tapi Eri tidak mengakuinya.
...(----------------)...
Sore hari di pinggir jalan, Arlo berjalan pulang setelah lelah bekerja seharian. Hari ini ia berencana untuk mengunjungi rumah Pak Harto dan menemui Eri. Tapi sebentar lagi hari akan gelap, di tambah kondisinya sudah sangat lemah. Dia membatalkan ke inginannya dan segera berjalan kembalai ke penginapannya.
“Hari ini Raka sudah pulang, aku rasa penginapan akan terasa tenang”
Arlo berjalan terus sampai sudah agak dekat dengan penginapannya. Dari tempat ia berdiri,terlihat seorang gadis yang berlarian menarik-narik tangan Pak Harto yang baru keluar dari penginapan. Gadis itu terlihat sangat terburu-buru sampai harus menarik tangan orang tua itu. Arlo sudah tidak terlalu peduli dengan hal itu karena ia merasa sangat lelah. Mereka berdua sudah tidak ada di penginapan saat Arlo sampai.
“Arlo.. bagaimana tugas pertamamu?”
“Aku tidak tau. Tapi aku rasa tugas ini cukup merepotkan”
“Bila kau merasa kesulitan, bilang saja aku akan membantumu”
__ADS_1
“Terima kasih”