
Mereka terus tumbuh merejalela, membuat semuanya menjadi tertutup dan terhapus, meninggalkan kenangan di pulau ini. Kami disini sudah semakin tertekan dengan konsinya, sama seperti yang di katakan dulu. Pulau Kehidupan ini akan ditelan habis oleh kekuatannya sendiri sampai dunia berakhir.
“Kami pulang untuk menemui, Nak…”
“Dimana dengannya? Apa akan baik-baik saja…?”
...(----------------)...
Bagaimanapun caranya, mereka berdua tetap saja tidak bisa melakukan apapun dalam kondisi yang gelap seperti ini. Tubuh mereka mulai dipenuh dengan goresan luka dan darah yang keluar. Arlo dengan sabitnya hanya bisa menebas awang-awang tanpa tau apa yang sebenarnya di tebas.
Sedangkan Eri berdiri di belakangnya, memegang pedang di tanganya terlihat gemetaran, karena benar-banar takutan dengan imajinasinya sendiri sampai Arlo memarahinya.
“Bagaimana bisa? Ini tetap saja menyeramkan...”
“Tutup saja matamu, Nona! Haduh... tidak ada cahaya sama saja, kan? Dengarkan langkah kaki mereka dan tebas saat ada kesempatan!” teriak Arlo di belakangnya.
Entah sudah berapa lama mereka bertarung dengan makhluk-makhluk asing itu, tapi tak kunjung berakhir juga. Sampai akhirnya Arlo benar-benar kehabisan tenaga sepenuhnya. Tubuhnya mulai terasa berat dan lemah, dia mulai kembali menua seperti yang terjadi sebelumnya dan terbaring di sana. Saat-saat seperti ini, Eri semakin kebingungan karena orang di belakangnya menghilang tiba-tiba.
“Arlo! Arlo! Jawab aku... Arlo!” teriak gadis itu, menggenggam kuat-kuat pedang di tanganya dalam kegelapan.
“Maaf Nona… istirahat sebentar…” gumam Arlo yang sudah terbaring di bawah Eri tak sadarkan diri, tertidur pulas.
“Arlo…!”
Teriak Eri bersamaan dengan pedang emas di tanganya yang tiba-tiba bersinar terang dengan sendirinya. Panampakan di sana, perlahan mulai dapat dilihat jelas oleh mata Eri.
“Kesempatan! Yhaa!” teriak Eri, menebas apapun yang ada di depannya.
Dengan pedang emas miliknya, Eri menebas makhluk aneh seperti mayat hudup, manster-monster itu bergeliat dengan bentuk tubuh menyerupai manusia yang tidak lengkap dengan warnanya yang hijau daun. Perlahan tebasannya dapat memotong setiap bagian tubuh mereka, tapi tubuhnya kembali utuh sepenuhnya tanpa bekas luka.
Meski mereka bergerak lambat, tapi Eri cukup kesulitan dengan jumlah mereka yang banyak. Tidak habis pikir kalau tanaman akan menjadi monster yang merepotkan seperti ini. Lagi dan lagi, goresan di tubuh mereka perlahan kembali untuh sesaat setelah Eri menebasnya.
Membuat tubuhnya juga kelelahan untuk bertarung lebih lama lagi. Keringat bercucuran di wajahnya dengan nafasnya yang tidak karuan, menggenggam dengan lemah pedang di tanganya. Perlahan, cahaya yang keluar dari pedang itu mulai pudar kembali dan pandangan mulai memuruk.
__ADS_1
“Ini… ini sudah batasku… aku… sudah tidak kuat lagi….” Nafasnya tak beraturan, Eri berdiri lemas dengan tubuhnya yang gemetaran.
Dia terjungakal dan pedangnya lenyap begitu saja, mengembalikan kegelapan yang ada. Dengan nafasnya yang tidak karuan, samar-samar mendengar langkah kaki mereka mulai mendekat dan akan menyerangnya.
“A-Arlo… cepat bangunlah… tolong lakukan… sesuatu….”
Sesaat setelah kalimat itu berakhir, bersamaan para monster itu melompat ke arah mereka berdua, tentunya untuk menyerang. Secercah cahaya keluar dari dalam tubuh Arlo yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Sebuah bola api yang sangat tidak asing bagi Eri, melesat secepat mungkin, mengarah monster-monster itu dan membakar habis dalam satu terjangan, lalu berhenti sesaat di depan Eri.
Ia tersentak saat melihat Core Api itu berhenti di depannya. Samar-samar, penampakan seorang pria dengan rambut pirang berdiri di depannya, tepat di antara Core itu. Terdengar jelas suara darinya dan ia tersenyum ke arah Eri.
“Saat Tuan Arlo tidak ada, akulah yang akan menjagamu… Nona.” Kalimat yang terdengar sesaat dan Core itu melayang kembali masuk ke dalam tubuh Arlo.
Eri yang masih terkejut, menoleh ke arah Core itu pergi dan menatap penuh rasa penasaran.
“Pria itu… siapa?”
...(----------------)...
Sina yang menindih tubuh Ferdi di bawahnya, menatap tajam dengan wajah cemas pada pria itu. Sampai berakhir dari ucapan kasar Trisia yang ada di belakang, dengan memasang wajah kesal.
Mereka berdua segera bangun dengan pipinya yang sedikit merah merekah di wajahnya. Dibawah pipimpinan gadis itu, mereka pergi untuk melanjutkan perjalanan masuk semakin dalam ke hutan. Berjalan dengan urutan Trisia yang sendirian di depan dan dua gadis itu di belakangnya, lalu Ferdi dan Khira berjalan paling belakang.
Di belakang, Bela terdengar banyak bicara dan cekikian besama dengan Sina yang hanya sedikit menanggapinya. Sedangkan di depan, Trisia terlihat sangat kesal tanpa sebab dengan pipinya sedikit memerah.
“Sejak tadi kita hanya berjalan, bagaimana dengan berburunya?” celetuk Ferdi.
“Sebentar lagi kita akan sampai, jadi diamlah! Dasar, Bibir Murah!” sahut gadis itu dengan nada kesal.
Sampai mereka berhenti di suatu tepat, di mana rumput yang tumbuh setinggi paha. Di depan pandangan mereka, sebuh padang safana yang sangat luas dengan kehidupan para binatang. Rusa-rusa besar yang sedang makan dengan lahap bersama kawanan besarnya, dan beberapa singa yang sedang bermalas-malasan di sana, membuat keempat orang itu terkagum-kagum.
“Cukup melihat-lihatnya, mari kita rusak pemandangan indah ini, hahaha...” tawa aneh Trisia, sedangkan yang lainnya terlihat tidak peduli.
“Apa yang akan kita kejar kali ini?” ucap Ferdi dengan penuh semangat.
__ADS_1
“Tidak perlu, kan? Dengan panah Si Jutek itu, kita bisa dengan mudah mendapatkan mangsa,” sahut Trisia dengan wajahnya menoleh ke arah Sina.
“Apa maksudmu Jutek Hah! bukannya kau sendiri yang jutek!” balas Sina dengan kasar.
“Sudah-sudah, Sina… lebih baik dengarkan saja monster ini…” bisik Ferdi, raut wajah Sina berubah seketika.
“Kau lebih memihak monster ini!” bentak Sina dengan panah sudah ada di tanganya.
“Tidak-tidak... bukan itu maksudku…” Ferdi coba menjelaskan.
“Monster?” Trisia bingung, memiringkan kepalanya.
Selama beberapa saat, Sina hanya terdiam tanpa mendengarkan penjelasan dari Ferdi sedikitpun. Sampai pada akhirnya gadis itu berteriak ke arah pria dengan panah yang sudah di tarik ke arah para binatang itu.
“Baiklah! Baiklah! Terserah apa yang kau katakan! Percumah bicara denganmu, Bibir Murah!” ucap Sina, anak panah langsung di lesatkan ke arah gerombolan rusa-rusa itu.
Secara tidak langsung tentunya kalimat itu menusuk sekali pada Ferdi, hingga ia terlihat sangat terkejut. Di tambah lagi, anak panah itu sengaja tidak mengenai sasarn dan membuat Trisia terlihat kesal.
“Dasar gadis bodoh! Kalau tidak ingin bantu jangan maksa begitu, kau malah membuat mereka kabur!” bentak Trisia tepat di depan wajah Sina yang sama-sama kesalnya.
“Cih! Baiklah, saya mohon maaf, Nona. Akan saya kejar sekarang juga.” Kalimatnya tiba-tiba berubah datar, seakan tidak peduli.
Gadis itu langsung berlari tepat setelah kalimatnya selesai, mendahuli mereka semua. Ferdi berteriak dengan kencang dari belakang, tapi sedikitpun tidak di gubris oleh gadis itu. Mungkin ini pertama kalinya mereka berdua bertengkar setelah sekian lama saling bersama. Tanpa sadar, air mata mengalir begitu saja di pipi Sina selama berlari.
Bersama rusa-rusa itu, Sina terus masuk semakin dalam ke hutan yang gelap dan suram di seberang padang safana. Mereka berempat berusaha mengejarnya, sampai pada akhirnya mereka terlambat dan kehilangan gadis itu di balik hutan yang lebat di hadapan mereka.
“Sial! Kita kehilangannya,” upat Trisia, menatap cemas hutan yang ada di depannya.
“Kenapa aku mengetakan hal konyol seperti tadi, dia sampai memanggilku begitu…”
“Jangan malah berhenti, kita berpencar dan temukan gadis itu. Aku dan Bela akan pergi ke sana, dan kalian berdua lurus saja,” saran Khira sudah berlari ke arah kiri dan masuk kedalam hutan.
“Kenapa membuat keputusan sediri!”
__ADS_1
“Cepat, sebelum sesuatu yang beruk terjadi!”
Terpakasa mereka berdua berlari masuk kedalam hutan suram itu untuk mencari keberadaan Sina. Sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon besar nan lebat yang cukup menghalangi cahaya matahari dari luar. Sedangkan mereka berdua hanya berlari tanapa memperhatikan jejak yang di tinggalkan gadis itu.