
Karena kepergian sang nenek ditambah dia sendiri sudah sangat lama tinggal di sini, seharunya dia pergi untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi sesuatu menghalangi langkah kakinya yang menjadi semakin berat, seorang wanita yang di penuhi kesedihan itu akan tinggal sendirian di sana tanpa seorang teman, bila dia benar-benar pergi.
Karena itulah, dia mengurungkan niatnya sampai waktunya dia benar-benar pergi. Sampai waktu itu tiba dalam kondisi yang kurang tepat, kabar buruk yang langsung terdengar di telinganya bahawa para iblis membuka kembali gerbang menuju dunia manusia dan akan membalaskan dendam kepada mereka semua.
Saat itulah Verles mulai goyah, pikirannya sudah kemana-mana termasuk nasip para manusia yang tinggal di seberang lautan ini. Sampai ahirnya dia memutuskan untuk pergi dengan alasan untuk menyelamatkan para manusia.
“Jadi Anda akan benar-benar pergi…?”
“Aku rasa begitu, mungkin saja aku akan kembali. Jadi jangan putus harapan, aku akan kembali secepat mungkin…”
“Baik… saya akan selalu menunggu Anda kembali, Tuan Verles…”
berhari-hari berlalu, ia belum juga kunjung pergi karena alasan tranportasi. Bersama putrinya dia seharusnya segera sampai di seberang dalam waktu yang tidak lama. Di tambah para iblis itu sudah semakin menggila dengan dosa-dosa yang mereka buat. Mereka semakin menguasai dunia manusia apabila yang bertarung hanyalah para pangeran dan bangsawan yang terlatih menggunakan seni bertarung dan sihir.
Sampai suatu saat di ujung utara pulau itu, tiba-tiba tanah berguncang dan merambat ke selatan secara perlahan. Karena merasa sangat cemas, Verles bersama dengan putrinya berlari secepat mungkin ke arah utara tanpa sepengetahuan siapapun bahkan Leira, meski sebelumnya ia sudah meninggalkan pesan kepada wanita itu.
Sampai mereka di ujung pulau, tempat itu sudah terdapat retakan besar di sepanjang pulau yang memisahkan sebagian dari dataran yang ada. Sampai dari bawah retakan itu perlahan uncul tanaman rambat yang mulai bergerak memenuhi sekitar.
“Sebenarnya apa ini?”
__ADS_1
“Apa ini sama dengan permata iblis? Lihat dari sana sesuatu memancar!” sahut Calissto menunjuk sesuatu di bawah retakan itu.
Secercah cahaya merah terang memancar keluar dari dalam retakan dan terus semakin terang. Sampai tanah kembali berguncang saat akar-akar besar mulai bermunculan secara bersamaan. Membuat kedua orang itu kehilangan ke seimbangan dan hampir jatuh ke dalamnya.
“Akar itu bergerak masuk kedalam hutan! Dia menghancurkan banyak pohon di sana! Cepat atasi!” ucap Verles, ia melemparkan sebilah panjang es yang tiba-tiba muncul dari telapak tanganya.
Gadis itu berusaha memotong dan menebas sebagian dari akar-akar yang aneh itu. sedangkan Verles di depan langsung memotong pusat dari akar yang keluar dari dalam retakan dengan bilah es yang sama dengan ukuran yang jauh lebih besar.
Hasilnya di luar perkiraan, akar itu perlahan mencair dan merubah wujudnya menjadi makhluk aneh yang bergeliat dan berusaha membalas serangan dari Verles dan Calissto. Sampai keduanya terpukul mundur dan terluka parah, bahkan kedua senjata yang mereka gunakan langsung hancur berkeping-keping saat di hempas oleh makhluk itu.
“Apa mereka juga iblis?” ucap Verles, ia mengeluarkan bilah es yang sama dan memerikannya pada putrinya bersamaan dengan luka-luka di tubuhnya mulai sembuh, begitu juga dengan Calissto.
Dengan sekuat tenaga mereka berdua menebas dan menghancurkan semuanya hingga tak tersisa. Meski masih ada pertanyaan mendasar dari pikiran mereka masing-masing.
“Kapan ini akan berakhir!”
Karena terus saja mereka pulih dan balik menyerang sampai keduanya benar-benar ke habisan tenaga. Dengan susah payah mereka sekarang hanya bisa bertahan dari serangan makhluk itu tanpa bisa sedikitpun membalas serangan mereka. Sampai akhirnya mereka langsung meneyrang ke sumber utamanya, dari balik retakan itu.
Bongkahan es di lempar secepat kilat masuk ke dalam retakan dan menghantam sesuatu yang ada di dalamnya hingga getaran yang besar terjadi. Secercah cahaya balik keluar dari dalam retakan, menggetarkan tanah yang ada di seitarnya sampai tiba-tiba meledak dengan kencang hingga retakannya melebar.
__ADS_1
Sebongkah tebing perlahan mulai saling terpisah dengan Verles dan putrinya yang ada di atas retakan itu. Sampai keduanya terdorong jatuh bersama dengan tebingnya jatuh ke dalam lautan sampai akhirnya tenggelam di dalamnya. Sesaat kemudian, muncul bongkahan es besar yang membawa keduanya menyembul keluar dari dalam air.
“Sepertinya ini adalah saatnya kita pergi, dorong dengan anginmu Trisia!” teriak lantang Verles bersamaan dengan bongkahan tebing yang melayang jatuh di atas mereka berdua.
Sesaat kemudian, mereka sudah berjalan begitu jauh dari pulau itu dan meninggalkannya. Sedangkan di pulau itu, secercah cahaya mulai terlihat keluar dari dalam bolah merah terang yang terlihat seperti permata, tapi kemudian tertutup di balik rimbunya akar-akar lebat yang menyelimutinya.
Sedangkan di rumah, Leira sudah duduk di teras dengan air mata yang menetes begitu derasnya. Secarik kertas yang ada di pelukannya telah menjelaskan alasan kenapa ia begitu sedih, ngomong-ngomong itu adalah surat terkahir dari Verles sebelum ia tadi pergi.
“Apa kau benar-banar akan segera kembali, Pangeran Verles…” ucap sedu wanita itu sambil memeluk kuat-kuat kertas itu.
Selang beberapa hari, hal buruk mulai merambat dan terjadi pada mereka semua yang tinggal di sana. Seorang pria datang dari jauh denganmembawa kabar bahwa iblis akan datang kemari dan menyerang mereka. Alasan di guanakan untuk mengumpulan dana sebagai keuntungannya sendiri.
Dia mengatakan bahwa uang ini akan membatu banyak temannya untuk melindungi tepat ini dari garis depan, meski sebenarnya itu hanya kayalannya saja. Dia datang besama beberapa orang dan menawarkan bantuan palsu guna melindungi pulau ini dari serangan ibli yang telah datang. Meski sebenarnya para iblis tidak sampai datang kemari atau bahkan menyerang.
Namun para warga mempercayai begitu saja kebohongan yang mereka lakukan dan berhasil merampas begitu banyak harta dengan alasan untuk persenjataan, termasuk Leira sendiri yang sampai menuliskannya di dalam secarik kertas. Tanpa tau hal buruk apa yang sebenarnya akan terjadi, mereka tetap saja berpegang teguh pada kepercayaan masing-masing yang membawa ke hancuran ini.
Sampai selang beberapa bulan kemudian, hal buruk yang sebenarnya mulai terjadi dan langsung menyapu semuanya tanpa tersisa. Kejadiannya sebelunya masih rentan seperti getaran besar yang ada dari dalam tanah dan sebagian hutan yang tiba-tiba menjadi sangat lebat dan gelap. Sampai yang terakhir adalah saat di mana para warga dan kehidupan indah yang ada di dalamnya terlapu habis habis dalam satu malam.
Satu malam itu, telah merubah semua perbukitan, danau, sungai dan rumah-rumah para warga rata, menjadi hutan lebat yang gelap dan suram. Meninggalkan kenangan yang terisa dari baliknya. Sampai secarik kertas itu melayang-layang di udara dan lenyap di balik pepohonan.
__ADS_1
“Ternyata tempat seindah ini juga akan habis dalam satu malam….”