
Arlo kembali dengan penyebrangan besar-besaran bersama dengan para pasukan lainnya. Seorang pun tidak dapat mengenalinya, karena artribut Arlo sendiri jauh berbeda dari artribut para pasukan. Perbedaan waktu juga cukup merepotkan, sebelumnya ia ada di sana hari gelap menjadi terang, tapi sekarang malah terang menjadi gelap, dan sekarang sudah benar-benar gelap.
Penyebrangannya juga cukup berbeda mengingat sebelumnya Arlo berpindah melalui pintu aneh di dalam sebah pondok, tapi kini malah di kirim di luar kota yang jaraknya lebih jauh dari titik lokasi sebelumnya, yah seperti biasa Arlo akan mengeluh di sepanjang jalan.
Karena keluhan dan ocehannya, sampai-sampai ia tidak mendengar seseorang memanggil dirinya. Dalam perjalanan, dia harus kembali kekastil lagi dan memberikan laporan sebisa mungkin.
“Ratu! Aku kembali, laporan selesai. Jadi apa yang akan aku lakukan sekarang?” teriak Arlo yang baru masuk ke dalam ruangan singgasana kastil.
“Ohh.. bagus, kita tunggu laporan dari jendral dulu..” ruangan itu sangat sepi, tidak ada seorangpun yang ada di sana kecuali Ratu yang duduk sendirian di tangga sambil melakukan hobinya ‘membaca buku tua.
Beberapa saat menunggu di sana, terdengar langkah kaki dari balik pintu dan perlahan mengetuknya, “Permisi..” Pintunya perlahan di buka dan seseorang yang ada di baliknya adalah jendral Khira.
“Maaf saya terlambat Ratu, ada beberapa urusan” kalimat itu muncul setelah Khira mendekat dan menekuklutut di hadapan Ratu.
“Tidak masalah, anak itu juga baru sampai” Ratu menatap pria yang berdiri disamping Khira.
Khira tersenyum dan menyapa Arlo di sampingnya, tapi kemudian dia langsung melaporkan semua yang terjadi di medan pertempuran, tentu saja juga Pangeran Arlo yang sangat membantu. Kalimat itu tidak di anggap pujuan, dan Arlo hanya membuang muka pada pria di bawahnya.
“Bagus, memang sesuai harapan. Laporkan ini pada seluruh pasukan yang bertempur, mereka mendapat libur kerja 20 hari mulai besok, Dan Arlo! Aku tidak tau apa lagi tugas untukmu. Mungkin besok atau lusa harapanmu bisa terlaksana, sekarang kembalilah karena kau sendiri di tunggu oleh Nona. Bubar!”
Mengangguk dan pamit, mereka pergi meninggalkan ruangan itu bersama kemudian Khira mendepel-dempel pada Arlo dan membisikkan sesuatu, membuat Arlo tidak nyaman dan wajahnya aneh.
“Nona? Apa Tuan akan menikah? Hihi..”
“Apa, tentu saja belum lihatlah! Wajah ini telalu muda untuk cepat menikah” Arlo berjalan mendahului Khira.
“Hah? Ehh Tunggu”
Arlo berhenti dan menatap tajam pria yang ada di belakangnya, “Khira, aku ada urusan sebentar dan mungkin kita tidak bertemu lagi, jadi bisa aku pergi?”
“Ohh! Ma-maaf, saya mengganggu Pangeran Arlo, Saya akan pergi. Permisi..” Khira menunduk takut dan berbalik berjalan ke arah berbalikan dengan Arlo.
“Hah? Pangeran..? Cih!”
...(----------------)...
Seorang pria berjalan melewati lorong-lorong gelap tanpa penerangan. Sampai di suatu tempat pria itu berhenti agak jauh dari ruangan yang akan ia tuju. Samar-samar terlihat bayangan dengan rambut panjang terlihat seperti melayang di depan pintu. Terkejut dengan hal itu, ia segera berlari menghampirinya untuk memastikan.
Sampai disana ia semakin terkejut dengan yang ia lihat, rupanya itu adalah Miku dan Bany yang berdiri di depan pintu dan tersenyum padanya.
“Selamat datang Tuan Arlo..”
“Yah.. dimana Nona?”
__ADS_1
Salah satu gadis itu tersenyum dan menunjuk sesuatu ke arah pintu dengan telunjuknya, memberikan jawaban atas pertanyaan Arlo. Kemudian ia segera mendorong pintu dan masuk ke dalam untuk menemui seseorang. Pintunya masih sedikit di buka, terdengar suara seseorang yang sangat familiar.
“Ehh sudah kembali? Selamat datang..” suaranya selesai saat Arlo telah membuka sepenuhnya pintu itu.
“Yah Aku kembali, Nona.."
Senyuman lebar tergores di bibir Arlo dan ia sudah tidak tahan untuk segera menghampirinya, duduk disebelahnya dan menanyakan banyaka hal. Perlahan langkah Arlo sampai di depannya dan duduk di sebelahnya. Gadis itu tersenyum hangat dan mengangkat tangannya tepat di atas kepala Arlo, menggosok-gosokkannya dirambut seperti peliharaan.
“Arlo, apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu..?”
“Apa?”
Eri menatap serius pria di depannya dan menarik kembali tangannya di atas pangkuannya.
“Ini mungkin sedikit penting.
Arlo! Aku akan mengangkat pedang dan bertarung bersamamu untuk perjalanan selanjutnya! Apa boleh..?”
Arlo tidak berkutik, matanya tertengung terkejut dengan yang baru ia dengar. Kalimat itu membakar kenangan masa kecil Arlo, tatapan seriusnya memang sedikit berbeda dengan yang dulu.
...(----------------)...
Arlo yang masih kecil duduk di bawah pohon besar bersama dengan gadis kecil yang sedang memakan sesuatu di tangannya. Arlo hanya terdiam memperhatikan betapa manisnya gadis itu, makanan yang ia makan sama sekali tidak di tawarkan pada Arlo dan hanya melahapnya sendiri, Arlo tertawa kecil sehingga gadis itu tiba-tiba menoleh.
“Arlo? Kau.. kenapa?”
Wajah gadis itu menunduk dan ceberut menatap Arlo dengan sisa makanan yang ada di bibirnya. Arlo mengambil saput tangan dan mengusapkan pada bibir gadis itu bermaksud membersihkannya.
“Ah.. Arlo,
Anu.. apa kau besok bisa datang? Aku ingin bermain pedang bersamamu dan seterusnya. Apa boleh..?”
“Pedang? Yah, Tentu saja.. aku akan datang dan menjawab undanganmu, kan? Putri..” senyuman hangat di bibir Arlo menggoda gadis itu untuk memeluknya dengan hangat.
...(----------------)...
Arlo yang baru selesai membersihkan diri setelah hampir tiga hari tidak mandi membuat Eri marah-marah karena ketiak baunya. Gadis itu bangun dari duduknya dan mengajak Arlo untuk makan malam karena Ratu sepertinya sudah menunggu mereka sejak tadi, sesuai janji tadi malam dengan Eri. Mereka segera berangkat besama dengan dua gadis yang mengekor di belakangnnya dan mengambil jalan lain untuk menjawab panggilan seseorang atas Arlo.
Di dalam ruang makan, Ratu sudah menunggu di tempat duduknya yang biasa dengan buku tua yang sama yang selalu ia baca. Kelihatannya ia sendirian, tidak ada seorangpun di sana termasuk Raja dan putrinya.
“Ah.. Ibu, dimana yang lain?” Tanya Eri setelah ia duduk di tempatnya.
“Mungkin malam ini mereka tidak datang, atau entahlah. Mereka sendiri tidak bilang jadi tidak perlu di tunggu”
__ADS_1
“(Mereka berdua dekat sekali, panggilan Ibu itu cukup..) Ehh!” Arlo di sodok oleh Eri tanpa alasan dan membuatnya bingung.
Ratu menatap kedua anak yang duduk tepat di depannya dengan tatapan yang serius tidak seperti basanya.
“Nona, apa kau sudah mengatakannya dan menanyakannya?”
“Jawabanya seperti biasa, tentu saja aku boleh. Karena ia sudah menghapus sisa di dalam diriku”
Arlo bingung dengan pembicaraan mereka berdua yang semakin berat saja. Senyuman tipis di bibir itu membuat Arlo merasa takut dan kawatir dengan jawaban wanita di depannya. Kemudian, perlahan Ratu menjelaskan pada Arlo. Tiga siang di sini, Nona Eri telah berlatih berterung dan membuahkan hasil yang lebih hebat di bandingkan Arlo sendiri. Permainan pedangnya jauh lebih hebat dari Ratu yang mengajarinya, meski Ratu sendiri tidak terlalu tau berpedang.
Arlo tidak terlalu terkejut dengan kabar itu, senyumannya memberikan jawaban yang cukup bahwa dia sendiri sudah tau apa yang terjadi pada Nona Eri. Kemudian Ratu mengatakan bahwa akan ada hal besar yang akan membuat Eri membantu Arlo dalam perjalanan selanjutnya, meski sebenarnya Arlo juga tidak tau perjalanan apa yang di maksud.
“Begini Arlo, aku sudah banyak cerita sejak aku tidur pertama kali bersama dengan Nona. Jadi dia sudah tau cukup informasi dari pada dirimu yang sulit di negosiasi"
“Jahat sekali, baiklah.. sekarang ceritakan padaku!”
Yang mengejutkan adalah portal baru di tempat yang sama telah muncul dan hampir merenggut nyawa Nona Eri, tapi pada akhirnya Ratu dan Raja telah membereskanya. Masalah lain adalah, kapasitas energi yang sangat besar terdeteksi di dunia manusia terutama di wilayah yang di kenal sebagai Dangerous Crack dan membuat kekacauan yang besar di sana, jelas Ratu.
"Jadi ini maksudmu memanggil mereka berdua?" Arlo menatap gadis di sampingnya.
"Yah, mereka kan setia pada dirimu.."
Tiba-tiba terdengar langakah kaki kikuk dari depan pintu dengan suara-suara gadis yang terlihat memaksa. Perlahan pintunya di buka oleh seorang gadis dan menatap semua orang yang ada di dalam.
"Kalian berdua! ada apa ini?"
"Maaf Ratu, kami kemari karena panggilan Tuan Arlo.." berdiri dua orang yang tidak asing bagi mereka semua, Ferdi dan Sina.
"Hei Ibu, kau bilang akan ada perjalanan baru, kan? katakan dan jelaskan dengan mereka juga! Kalian berdua masuklah.."
Ratu menghela nafas pasrah atas keputusan mereka berdua setelah mendengar ide itu rupanya dari Eri. Pada akhirnya Ratu menjelaskan semua sedetail mungkin pada ke empat orang itu.
Pada intinya, telah terdengar kabar langsung dari para mata-mata kerajaan dan di laporkan pada Ratu sendiri dan atas persetujuan Raja juga. Bahwa daerah yang di kenal dengan Dangerous Crack telah terdeteksi getaran energi yang sangat besar dalam kurun waktu yang lama.
Perkiraan mereka adalah akan ada gerakan besar oleh iblis karena wilayah itu telah mengalami retakan yang menghubungkan dunia neraka. Titik lokasi dan tujuan sangat jauh dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai di sana sedangkang gelombang energinya sudah bergerak kesekitar dan merusak semua yang ia sentuh.
"Lalu apa pengaruh energi itu padaku?"
"Arlo! setelah jangkauan energi itu cukup luas, maka energinya perlahan akan membentuk portal baru. Mengingat energi itu sudah berkumpul cukup lama, perkiraan kita hanyalah portal besar akan di bentuk"
"Lalu kemana mereka akan bergerak?"
"Kemungkinan besar desa terpencil itu Arlo"
__ADS_1
Mereka semua terkejut dan melongo dengan kalimat Ratu yang jelas sekali ia tidak menahan masalah ini. Arlo sendiri tidak percaya bila mereka sampai akan bergerak sejauh itu.
"Arlo, bila desa itu hancur, penghubung antara dunia manusia dan iblis akan terbuka untuk selamanya dan mengacaukan tatanan. Kalau sampai parah, kehancuran kedua dunia bisa saja terjadi"